Hawa dingin Kaki Gunung Salak selalu turun lebih cepat sebelum matari benar-benar tenggelam. Tahun 2015, aku masih seorang remaja belasan tahun yang memikul beban seragam putih-biru di Pesantren Bina Insani, sebuah boarding school yang terletak di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Nama saya Aris. Saat itu, aku berada di kelas 3 SMP, masa-masa di mana kecemasan akan Ujian Nasional terasa jauh lebih menakutkan daripada cerita-cerita hantu yang biasa beredar di balik tembok asrama.
Sore itu, hari Kamis Kliwon yang basah usai diguyur gerimis halus. Aku bersama tiga sahabat dekatku—Fahri, Rian, dan Wildan—berdiri di depan koridor asrama putra. Kami mengantongi niat yang sama: mencari ketenangan batin. Di pesantren kami, ada tradisi tak tertulis di antara para santri tingkat akhir. Sebelum menghadapi ujian besar, kami disarankan untuk bertawasul dan berziarah ke makam ulama besar founder yayasan, yaitu KH. Ridwan, yang tak lain adalah ayahanda dari Bu Nyai kami, Hj. Rahma.
"Riz, Yasin kamu bawa berapa?" tanya Fahri sambil membetulkan letak sarung tenunnya yang mulai melorot.
"Ada empat, ri. Cukup buat kita berempat," jawabku sambil menepuk saku baju koko putihku. "Kita harus cepat sebelum Maghrib. Kalau kemalaman, izin dari Ustaz Pengasuh bisa dicabut."
Izin ziarah sore itu kami dapatkan langsung dari Ustaz Anang, Pengasuh Utama Pesantren Bina Insani sekaligus menantu dari almarhum KH. Ridwan. Ustaz Anang adalah sosok yang amat disegani di kampung ini. Usianya pertengahan lima puluhan, bertubuh tegap, berwibawa, dan memiliki suara wibawa yang selalu menggelegar setiap kali memimpin shalat berjamaah. Beliau adalah pilar utama yang menjaga kedisiplinan ratusan santri di Bina Insani.
Makam KH. Ridwan terletak tak jauh dari kompleks pesantren, hanya berjarak sekitar dua ratus meter menyeberangi jalan desa yang diapit oleh kebun bambu dan rimbunnya pohon rambutan. Di seberang kompleks pemakaman keluarga tersebut, berdiri sebuah masjid tua berarsitektur kayu jati tebal milik warga kampung lokal—Masjid Jami' Al-Ikhlas.
Kami melangkah membelah jalan setapak yang penuh genangan air hujan. Langkah kami terburu-buru, menyisakan derit gesekan sandal karet di atas kerikil. Sampai di kompleks pemakaman, aroma bunga kantil dan tanah basah menyergap indra penciuman. Pemakaman itu dikelilingi pagar besi hijau dengan tembok bata setengah tinggi. Di tengahnya, berdiri sebuah bangunan kuncup kayu tempat jasad sang ulama disemayamkan.
Kami berempat duduk bersila di atas lantai keramik dingin di samping pusara berselimut kain hijau bersulam kaligrafi emas. Dengan khusyuk, aku membuka kitab Yasin kecil, lalu mulai memimpin bacaan.
“Yā sīn. Wal-qur'ānil-ḥakīm…”
Suara kami bersahut-sahutan di dalam kuncup makam yang hening. Udara terasa kian tebal dan berat. Di tengah-tengah ayat, angin dingin yang mendadak berembus dari arah perbukitan membuat daun-daun pohon kamboja di atas kami bergesekan kasar. Namun, kami tetap melanjutkan bacaan, mengaitkan seluruh harapan kami kepada Sang Pencipta agar dibukakan pintu kemudahan dalam menuntut ilmu.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.
Ketika kami sampai pada pertengahan surah, tepat di ayat “Inna mā amruhū iżā arāda syai'an ay yaqūla lahū kun fa yakūn”, sebuah suara gemuruh runtuh bersaudara dengan jeritan histeris pecah dari arah luar pemakaman.
---
“Tolong! Tolong! Pak Kiai! Pak Kiai kena!”
Suara teriakan warga memutus keheningan sore. Suaranya datang dari arah Masjid Jami' Al-Ikhlas, masjid tua di seberang jalan. Suara langkah kaki berderap tergesa-gesa memecah kesunyian kampung.
Aku dan teman-temanku saling pandang. Kitab Yasin di tanganku tertutup secara refleks.
"Ada apa itu di luar?" bisik Wildan dengan mata melotot penasaran.
"Kayak suara warga dari masjid seberang. Katanya ada yang pingsan?" pungkasa Rian.
Penasaran mengalahkan kekhusyukan kami. Kami segera mengakhiri doa secara singkat, mencium batu nisan sang ulama, lalu bergegas keluar dari area pemakaman. Saat kami melangkah keluar dari pintu pagar besi, pemandangan di halaman Masjid Jami' Al-Ikhlas sudah sangat kacau. Belasan warga kampung, sepuh maupun pemuda, berkumpul berdesakan di depan pintu utama masjid yang terbuka lebar.
Kami berlari menyeberangi jalan raya kecil tersebut. Sambil menyelinap di antara kerumunan bapak-bapak berkopeah dan bersarung, aku mencoba bertanya pada seorang warga lokal yang tampak panik.
"Pak, ada apa ya? Kok ramai sekali?" tanyaku menepuk lengan pria berkaos oblong yang mukanya pucat pasi.
Pria itu menoleh kaget, napasnya memburu. "Ini neng... eh, Jang! Pak Ustaz Anang! Pak Kiai pingsan di mimbar!"
"Hah?! Ustaz Anang?!" seruku bersamanya dengan tiga temanku.
Jantungku melonjak drastis. Baru satu jam lalu Ustaz Anang menandatangani surat izin ziarah kami di kantornya dengan senyum hangat. Bagaimana bisa beliau pingsan di masjid warga?
Aku mendorong tubuhku menembus kerumunan hingga berhasil melihat ke dalam area utama shalat. Di depan mimbar kayu ukir yang membentang di bagian depan masjid, suasana sangat mencekam. Di sana, Ustaz Anang tergeletak membujur kaku di atas karpet hijau. Wajah beliau yang biasanya segar dan kemerahan kini berubah pucat pasi menyerupai mayat. Matanya terpejam rapat, bibirnya kebiruan, dan dadanya naik turun dengan sangat cepat seolah-olah kekurangan oksigen.
"Tadi Pak Kiai lagi memimpin shalat jenazah buat almarhum Pak Abas," pungkasa warga lain di sebelahku dengan suara gemetar. "Pas takbir terakhir, tiba-tiba beliau roboh begitu saja ke depan. Langsung kaku!"
"Ayo, angkat! Gotong ke dalem pesantren sekarang! Jangan dibiarkan di sini!" teriak seorang tokoh masyarakat lokal.
Empat orang pria berbadan tegap langsung memapah dan menggotong tubuh kaku Ustaz Anang. Kami berempat mengekor di belakang barisan warga dengan perasaan kecut yang membelit perut. Gerimis kembali turun membasahi bumi, seolah-olah langit ikut merasakan keanehan yang mendadak runtuh di kampung kami sore itu.
---
Tubuh Ustaz Anang dibaringkan di atas ranjang kayu tebal di ruang tengah kediaman beliau (dalem), yang berjarak hanya beberapa meter dari kompleks utama asrama santri. Warga bertahap diminta keluar agar suasana tidak terlalu sesak, tetapi berita rubuhnya sang pengasuh menyebar bagai api disiram bensin di area pesantren.
Menjelang azan Maghrib berkumandang, suasana di sekitar dalem mendadak sunyi secara tidak wajar. Tak ada lagi canda tawa santri di depan kamar mandi atau suara hafalan Al-Qur'an bergema nyaring seperti biasanya. Semua santri diselimuti kecemasan mendalam.
Usai shalat Maghrib berjamaah yang dipimpin oleh salah satu ustaz senior dengan suara gemetar, Mbak Anita—putri sulung Ustaz Anang yang juga guru mengaji kami—keluar dari dalem dengan mata sembab dan memerah. Ia berjalan menuju selasar masjid tempat santri berkumpul.
"Anak-anakku sekalian..." suara Mbak Anita bergetar menahan tangis. "Ibu minta tolong dengan sangat. Setelah ini, semuanya masuk ke ruang tengah *dalem*. Ibu mohon bantu baca surah Yasin untuk Bapak. Bapak belum sadar dari tadi sore... badannya dingin sekali."
Tanpa diperintah dua kali, puluhan santri putra dan putri merapat menuju kediaman Ustaz Anang. Ruang tengah yang cukup luas itu seketika dipenuhi oleh shaf-shaf santri yang duduk bersila rapat. Di tengah ruangan, Ustaz Anang terbaring kaku diselimuti kain sarung tebal hingga sebatas dada. Di samping beliau, Bu Nyai Hj. Rahma duduk menangis sembari mengusap kening suaminya dengan air zamzam.
Aku duduk di shaf kedua dari depan, hanya berjarak dua meter dari ranjang Ustaz Anang. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri tegak.
Meskipun pendingin ruangan tidak dinyalakan dan ruangan dipenuhi puluhan orang, napas Ustaz Anang yang keluar berupa embun tipis, seolah-olah suhu tubuh beliau mendadak turun melampaui batas normal. Lebih mengerikan lagi, di leher beliau—tepat di bawah jakun—tampak guratan memar berwarna kehitaman yang perlahan-lahan menjalar naik ke arah dagu, mirip seperti bekas cengkeraman telapak tangan raksasa.
"Buka kitab Yasinnya, kita mulai bersama-sama," bisik seorang ustaz senior.
Gema lantunan Yasin melingkupi ruang tengah. Suara puluhan santri menyatu, membubung tinggi menembus langit-langit kayu rumah tua itu. Aku membacanya dengan air mata yang menetes tanpa sadar. Ada rasa takut yang amat sangat, bukan hanya takut kehilangan sosok guru, melainkan takut pada energi jahat yang terasa sangat tebal mengepung rumah ini.
Setiap kali ayat-ayat penolak kejahatan dibacakan, lampu gantung kristal di tengah ruangan bergetar halus. Kaca jendela berderit seakan-akan ada angin kencang yang menghantam dari luar, padahal daun-daun pohon di halaman tampak kaku tak bergerak sama sekali.
Shalat Isya berlalu, tetapi kami tidak beranjak. Jam dinding kuno di *dalem* berdetik makin lambat. Pukul sembilan malam, ketika bacaan Yasin kami memasuki putaran ketujuh, tiba-tiba tubuh Ustaz Anang di atas ranjang tersentak hebat!
---
“Aghhh! Khakkk!”
Suara erangan berat dan parau meluncur dari tenggorokan Ustaz Anang. Tubuh beliau membusur ke atas, dada terangkat tinggi seakan-akan ada tali tak kasat mata yang menariknya dari langit-langit.
"Bapak! Bapak!" jerit Bu Nyai Hj. Rahma memeluk pinggang suaminya.
Para ustaz senior langsung mendekat dan memegang kedua tangan serta kaki Ustaz Anang. Aku menahan napas, mencekal ujung kitab Yasin di tanganku sampai remuk. Mata Ustaz Anang terbuka lebar, tetapi manik matanya mendelik ke atas, hanya memperlihatkan bagian putihnya yang memerah berurat darah.
“Bismillah... Bismillahirrahmānirrahīm!” Ustaz senior membacakan ayat Kursi tepat di telinga kanan beliau sembari mengusap dadanya.
Selama beberapa menit yang terasa bagai keabadian, pertarungan tak kasat mata itu terjadi di depan mata kepala kami sendiri. Napas Ustaz Anang memburu, dadanya kempas-kempis, hingga akhirnya tubuh tegap itu roboh kembali ke atas kasur dengan helaan napas yang amat panjang dan berat.
Mata beliau pelan-pelan kembali memusat. Manik hitamnya mulai mengenali langit-langit kamar dan wajah sang istri yang terisak di sampingnya.
"Umi..." suara Ustaz Anang terdengar sangat parau, hampir menyerupai bisikan ghaib yang pecah.
"Iya, Pak... Ini Umi. Bapak sudah sadar? Alhamdulillah ya Allah..." Bu Nyai mengusap air matanya.
Seluruh santri menahan napas. Ruangan yang tadinya riuh oleh gema doa mendadak berubah hening total. Hanya terdengar detak jam dinding dan napas Ustaz Anang yang bersahut-sahutan.
Ustaz Anang memegang lehernya dengan tangan yang gemetar hebat. Guratan memar kehitaman di leher beliau masih tercetak jelas, bahkan tampak makin pekat. Beliau memandang sekeliling, menatap kami—santri-santrinya yang masih terduduk rapat dengan kitab Yasin terbuka di pangkuan.
"Bapak... apa yang terjadi sebenarnya di masjid tadi sore?" tanya salah satu ustaz senior dengan suara terabaikan pelan.
Ustaz Anang mencoba mendudukkan tubuhnya dibantu oleh Bu Nyai. Beliau menyandar pada sandaran kayu ranjang, mengambil napas dalam-dalam seolah-olah paru-parunya baru saja terbebas dari himpitan batu berukuran raksasa.
"Tadi sore..." Ustaz Anang memulai kesaksiannya, suaranya serak dan bergetar parau. "Waktu Bapak berdiri di mimbar untuk memimpin shalat jenazah almarhum Pak Abas... semuanya terasa biasa saja saat takbir pertama sampai takbir ketiga."
Beliau berhenti sejenak, memejamkan mata rapat-rapat seakan memanggil ulang trauma dahsyat yang baru saja dilaluinya.
"Tapi... tepat saat Bapak hendak mengangkat tangan untuk takbir keempat..." pandangan Ustaz Anang menerawang jauh ke sudut ruangan. "Tiba-tiba udara di dalam masjid mendadak panas luar biasa. Dari arah belakang... tepat dari balik pintu penyangga mimbar yang gelap itu... ada dorongan ghaib yang sangat kuat! Seperti ada sepasang tangan raksasa yang tidak kelihatan memukul punggung Bapak dengan menghantam sangat keras!"
Beberapa santri terperanjat kaget. Aku bisa merasakan bulu di tanganku berdiri tegak.
"Bapak tersungkur ke depan," lanjut Ustaz Anang dengan napas kian memburu. "Dan belum sempat Bapak bangun untuk membaca doa... sepasang tangan dingin sedingin es langsung mencengkeram leher Bapak dari belakang! Cengkeramannya begitu kuat, mencekik, dan membakar saluran napas Bapak..."
Tangan Ustaz Anang kembali meraba guratan hitam di lehernya. Air mata menetes dari sudut mata sang Kiai—seorang lelaki perkasa yang tak pernah kami lihat menangis sebelumnya.
"Demi Allah..." bisik Ustaz Anang penuh kepiluan. "Di detik-detik saat napas Bapak habis dan pandangan Bapak mulai gelap... cengkeraman itu begitu menyiksa sampai-sampai Bapak membatin di dalam hati: 'Apakah seperti ini rasanya sakaratul maut? Apakah ini saatnya aku dicabut nyawa oleh Izrail?'"
Suasana di ruang tengah *dalem* seketika pecah oleh isolasi tangis halus dari beberapa santriwati di belakang. Mendengar seorang Kiai yang disegani merasa hampir terjemput ajal akibat serangan ghaib yang begitu brutal membuat fondasi keberanian kami runtuh seketika.
---
Malam itu, usai mendengarkan kesaksian Ustaz Anang, kami diminta kembali ke asrama masing-masing. Namun, tidak ada satu pun dari kami yang bisa tidur. Cerita tentang "dorongan di mimbar" dan "cengkeraman di leher" berembus bagai teror liar di setiap kamar santri.
Di kamar asramaku, kami berempat duduk berkumpul di atas kasur lipat. Lampu neon di kamar kami biarkan menyala terang benderang.
"Jadi... itu tadi santet?" bisik Rian dengan nada tak percaya. "Siapa yang berani-beraninya ngirim santet ke Kiai kita sendiri?"
"Dunia luar itu keras, Yan," jawab Fahri sembari merapatkan selimutnya. "Bisa jadi ada orang yang iri, atau ada dendam lama yang nggak kita tahu. Posisi Ustaz Anang sebagai pimpinan pondok dan tokoh berpengaruh di wilayah ini pasti ada aja yang gak suka."
Aku hanya terdiam menatap celah jendela kamar yang menghadap ke arah jalan desa. Bayangan saat kami berziarah di makam sore tadi kembali berputar di otakku. Mengapa serangan itu terjadi justru saat kami sedang membaca surah Yasin di makam sang pendiri yayasan? Apakah itu hanya kebetulan, ataukah bacaan doa kami di makam tua itu yang secara tidak sengaja "menahan" atau "menyingkap" benturan energi jahat tersebut sehingga tidak membunuh Ustaz Anang seketika?
Selama satu minggu setelah kejadian malam Kamis itu, suasana Pesantren Bina Insani tidak pernah sama lagi. Ustaz Anang harus beristirahat total. Leher beliau masih menyisakan bekas memar kebiruan yang membutuhkan waktu lama untuk pudar. Setiap malam Jumat, pengajian Yasin dan Tahlil digelar lebih ketat dari biasanya. Ayat-ayat ruqyah bergema saban hari di selasar asrama.
Kejadian di tahun 2015 itu menjadi salah satu lembaran paling kelam dan penuh misteri dalam sejarah perjalananku menuntut ilmu di tanah Pasundan. Ia mengajarkan kami satu hal penting bahwa di balik tembok tebal dan kesucian sebuah tempat menuntut ilmu, gesekan antara cahaya kebaikan dan kegelapan dendam manusia akan selalu ada.
Kini, bertahun-tahun telah berlalu sejak aku melangkahkan kaki keluar dari gerbang Pesantren Bina Insani. Namun setiap kali aku membaca surah Yasin atau melintasi bangunan masjid tua di pinggir jalan desa, bayangan leher memar sang Kiai dan bisikan parau tentang "sakaratul maut" di mimbar masjid itu akan selalu hadir kembali—mengingatkanku pada sore yang basah di mana kegelapan mencoba memadamkan cahaya guru kami.