PENJUAL MI AYAM PINGGIR JEMBATAN
Bab 1 — Gerobak di Bawah Lampu Jalan
Malam telah turun di Desa Sukamerta.
Hujan yang sejak sore mengguyur desa baru saja berhenti. Jalanan terlihat basah dan mengilap diterpa cahaya lampu kendaraan. Air hujan mengalir dari pinggir jalan menuju selokan, membawa daun-daun kering dan lumpur kecil.
Di ujung desa terdapat sebuah jembatan tua.
Jembatan itu sebenarnya tidak terlalu panjang. Hanya sekitar lima puluh meter dan berdiri di atas sungai yang membelah desa. Pada siang hari, jembatan tersebut terlihat biasa saja. Anak-anak sekolah melewatinya setiap pagi. Para pedagang sayur menggunakan jalan itu untuk menuju pasar. Motor dan mobil juga melintas tanpa masalah.
Namun ketika malam tiba, suasananya berbeda.
Terutama setelah pukul sebelas malam.
Lampu penerangan di jembatan hanya ada dua. Salah satunya sering berkedip, sedangkan lampu lainnya cahayanya sangat redup. Di bawah jembatan terdapat sungai yang airnya cukup deras. Di musim hujan, suara air terdengar keras sampai ke jalan.
Warga desa mempunyai banyak cerita tentang jembatan tersebut.
Ada yang mengatakan pernah melihat seseorang berdiri di tengah jembatan pada tengah malam.
Ada yang mendengar suara anak kecil menangis dari bawah jembatan.
Ada pula yang mengaku mencium aroma makanan, terutama aroma mi ayam, meskipun tidak ada pedagang di sekitar mereka.
Tetapi semua cerita itu selalu dikaitkan dengan satu nama.
Pak Darma.
Pak Darma adalah seorang penjual mi ayam.
Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah putih di beberapa bagian. Wajahnya kurus dan penuh garis-garis usia. Tubuhnya tidak lagi sekuat ketika muda, tetapi ia masih mampu mendorong gerobak mi ayam setiap malam.
Gerobaknya berwarna hijau tua.
Catnya sudah banyak mengelupas.
Pada bagian depan terdapat tulisan:
MI AYAM DARMA
Tulisan itu sudah hampir pudar.
Namun gerobaknya selalu bersih.
Mangkok-mangkok tersusun rapi.
Sendok dan garpu selalu dicuci bersih.
Daun bawang disimpan dalam wadah tertutup.
Ayam cincang ditempatkan dalam kotak khusus.
Dan kuah kaldunya selalu berada di dalam panci besar yang mengepulkan uap.
Pak Darma biasanya mulai berjualan sekitar pukul sembilan malam.
Ia selalu memilih tempat yang sama.
Persis di pinggir jembatan.
Tidak pernah bergeser.
Tidak pernah mencoba mencari tempat yang lebih ramai.
Padahal ada banyak tempat lain yang jauh lebih menguntungkan.
Pasar malam misalnya.
Alun-alun desa.
Terminal.
Atau jalan utama yang selalu dipenuhi kendaraan.
Namun Pak Darma tetap memilih jembatan.
Ketika orang bertanya mengapa, jawabannya selalu sama.
"Di sini saya sudah punya pelanggan."
Jawaban itu terdengar sederhana.
Tetapi sebenarnya tidak.
Malam itu, seperti biasa, Pak Darma mendorong gerobaknya menuju jembatan.
Roda gerobaknya berbunyi pelan.
Krek...
Krek...
Krek...
Ia berhenti di bawah lampu jalan.
Kemudian membuka penutup gerobak.
Ia mengeluarkan kompor kecil.
Memasang tabung gas.
Menyalakan api.
Api biru langsung menyala.
Pak Darma kemudian mengangkat panci besar berisi air dan meletakkannya di atas kompor.
Ia mulai mempersiapkan bahan makanan.
Mi.
Ayam.
Sawi.
Daun bawang.
Bawang goreng.
Sambal.
Kecap.
Dan minyak ayam.
Semuanya sudah disiapkan dari rumah.
Ketika air mulai mendidih, Pak Darma mengambil mangkuk.
Ia menambahkan minyak ayam dan bumbu.
Kemudian menunggu.
Tidak ada pelanggan.
Sepuluh menit berlalu.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Jalan masih sepi.
Pak Darma tidak terlihat gelisah.
Ia hanya duduk di bangku kecil di belakang gerobak.
Sesekali ia memandang sungai.
Tatapannya selalu lama ketika melihat ke bawah jembatan.
Seolah-olah ia sedang menunggu seseorang.
Tepat pukul sepuluh malam, suara sepeda motor terdengar dari kejauhan.
Sebuah motor berhenti di depan gerobaknya.
Pengendaranya adalah seorang pemuda bernama Rian.
Rian berusia dua puluh lima tahun.
Ia bekerja di sebuah bengkel di kecamatan sebelah.
Setiap hari ia pulang cukup malam.
Ia sebenarnya baru beberapa kali membeli mi ayam Pak Darma.
Namun sejak pertama mencobanya, ia menyukai rasanya.
"Pak."
Pak Darma menoleh.
"Ya?"
"Masih buka?"
Pak Darma tersenyum.
"Selama apinya masih menyala, berarti masih buka."
Rian tertawa.
"Kalau begitu satu, Pak."
"Dengan sambal?"
"Sedikit saja."
"Siap."
Pak Darma langsung berdiri.
Ia mengambil mi.
Memasukkannya ke dalam air mendidih.
Tangannya bergerak cepat.
Walaupun sudah tua, ia memasak seperti orang yang sudah melakukannya selama puluhan tahun.
Rian memperhatikan.
"Pak."
"Hmm?"
"Ini resep sendiri?"
Pak Darma tersenyum.
"Resep istri saya."
Rian diam sebentar.
"Istri Bapak masih ada?"
Tangan Pak Darma berhenti.
Hanya sebentar.
Kemudian ia kembali memasak.
"Sudah lama tidak ada."
Rian merasa salah bicara.
"Oh... maaf, Pak."
Pak Darma menggeleng.
"Tak apa."
Ia menuangkan kuah.
Menambahkan ayam.
Daun bawang.
Sawi.
Bawang goreng.
Kemudian mangkuk tersebut diberikan kepada Rian.
"Nih."
Rian menerima.
"Terima kasih."
Ia meniup kuah panas.
Kemudian mencicipinya.
Matanya langsung membesar.
"Enak banget."
Pak Darma tertawa kecil.
"Benarkah?"
"Iya. Kuahnya beda."
Pak Darma memandang sungai.
"Dulu istri saya selalu bilang, makanan yang enak itu bukan cuma soal bumbu."
"Terus?"
"Perasaan orang yang memasak."
Rian tersenyum.
"Berarti Bapak masak pakai perasaan?"
Pak Darma tertawa.
"Kalau tidak pakai perasaan, pelanggan bisa kabur."
Mereka tertawa.
Namun setelah itu suasana kembali sunyi.
Rian makan perlahan.
Pak Darma duduk sambil memandang jalan.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada manusia.
Hanya suara air sungai.
Rian tiba-tiba bertanya,
"Pak, kenapa jualan di sini?"
Pak Darma tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah bawah jembatan.
Kemudian berkata,
"Tempat ini banyak kenangan."
Rian mengangguk.
Ia tidak bertanya lagi.
Namun sejak malam itu, ia mulai memperhatikan sesuatu.
Setiap kali Pak Darma berbicara tentang istrinya, matanya selalu terlihat sedih.
Dan setiap kali jam mendekati tengah malam, ia selalu menyiapkan mangkuk tambahan.
Malam pertama Rian mengira itu kebiasaan.
Malam kedua ia masih tidak terlalu peduli.
Tetapi pada malam ketiga...
Rian mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
Bab 2 — Tiga Mangkuk
Malam itu Rian datang lebih awal.
Jam baru menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas.
Pak Darma sudah berada di tempatnya.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di atas meja terdapat tiga mangkuk.
Rian menghampiri.
"Pak."
Pak Darma menoleh.
"Ya?"
"Sudah ada pelanggan?"
"Belum."
Rian menunjuk meja.
"Lalu itu untuk siapa?"
Pak Darma melihat tiga mangkuk tersebut.
"Sebentar lagi ada yang datang."
Rian tertawa.
"Jam segini?"
Pak Darma mengangguk.
"Iya."
"Siapa?"
Pak Darma tidak menjawab.
Ia hanya kembali menyiapkan bahan makanan.
Rian duduk.
"Kalau pelanggan datang sebanyak itu, saya bantu, Pak."
Pak Darma tersenyum.
"Boleh."
Rian kemudian ikut membantu membersihkan mangkuk.
Malam semakin larut.
Pukul sebelas.
Tidak ada pelanggan.
Pukul sebelas lewat tiga puluh.
Tidak ada pelanggan.
Pukul sebelas lewat lima puluh.
Jalan mulai benar-benar sepi.
Rian melihat jam di ponselnya.
23.57.
Ia mulai menguap.
"Pak, saya mungkin pulang sebentar lagi."
Pak Darma tidak menjawab.
Ia sedang melihat sesuatu di ujung jembatan.
Rian mengikuti pandangannya.
Tidak ada apa-apa.
Hanya jalan yang basah.
Kemudian...
Lampu jalan berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rian menatap ke atas.
"Kenapa lampunya?"
Pak Darma berdiri.
Wajahnya tiba-tiba berubah serius.
"Rian."
"Iya?"
"Jangan melihat ke belakang."
Rian tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
Nada suara Pak Darma tidak seperti biasanya.
Rian akhirnya diam.
Kemudian ia mendengar sesuatu.
Suara langkah.
Dari arah bawah jembatan.
Krek...
Krek...
Krek...
Rian menelan ludah.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang berjalan menaiki tangga batu.
Krek...
Krek...
Semakin dekat.
Rian mulai merinding.
Ia ingin menoleh.
Namun teringat pesan Pak Darma.
Jangan melihat ke belakang.
Langkah itu berhenti.
Tepat di belakang Rian.
Ia bisa merasakan udara dingin menyentuh tengkuknya.
Kemudian terdengar suara perempuan.
"Pak Darma..."
Pak Darma menjawab tenang.
"Iya."
"Pesan satu."
Rian membeku.
Pak Darma mengambil mi.
Ia mulai memasak.
"Seperti biasa?"
"Seperti biasa."
Rian mendengar suara kursi ditarik.
Sreeet...
Sreeet...
Seseorang duduk di belakangnya.
Padahal beberapa detik sebelumnya tidak ada siapa-siapa.
Rian menahan napas.
Ia tidak berani bergerak.
Pak Darma memasukkan mi ke dalam air.
Suara air mendidih terdengar.
"Pedas?"
"Sedikit."
"Baik."
Pak Darma terus memasak.
Rian mencoba menatap ke depan.
Tetapi rasa penasaran membuatnya perlahan menoleh.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Dan ia melihat sesuatu melalui sudut matanya.
Seorang perempuan.
Rambutnya panjang.
Basah.
Menutupi sebagian wajah.
Pakainya berwarna putih pucat.
Tubuhnya terlihat seperti baru keluar dari sungai.
Namun yang paling membuat Rian hampir berteriak adalah kakinya.
Perempuan itu tidak menyentuh tanah.
Kakinya menggantung beberapa sentimeter di atas permukaan jalan.
Rian langsung kembali menghadap depan.
Jantungnya berdetak sangat keras.
Ia ingin lari.
Tetapi tubuhnya tidak mau bergerak.
Perempuan itu berbicara lagi.
"Pak..."
"Iya?"
"Sudah lama."
Pak Darma diam.
Kemudian ia menjawab,
"Iya."
"Masih jualan di sini?"
"Masih."
"Kenapa?"
Pak Darma menunduk.
"Menunggu."
Perempuan itu tidak menjawab.
Pak Darma meletakkan semangkuk mi ayam di depannya.
Perempuan itu mengambil sendok.
Anehnya, suara sendok tidak terdengar ketika menyentuh mangkuk.
Ia makan.
Satu suapan.
Dua suapan.
Tiga.
Rian tidak berani melihat.
Namun tiba-tiba perempuan itu berkata,
"Enak."
Pak Darma tersenyum.
"Resepmu."
Perempuan itu tertawa kecil.
Kemudian suara tawanya berubah seperti suara seseorang yang sedang menangis.
Rian merasakan tubuhnya semakin dingin.
Beberapa menit kemudian, suara sendok berhenti.
Perempuan itu berdiri.
"Terima kasih."
Pak Darma mengangguk.
"Sama-sama."
Kemudian terdengar langkah.
Krek...
Krek...
Krek...
Suara itu menjauh.
Kemudian menghilang.
Rian menunggu beberapa detik.
Barulah ia berani menoleh.
Kursi itu kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun mangkuk di atas meja masih ada.
Dan bagian dalamnya kosong.
Tidak ada mi.
Tidak ada kuah.
Tidak ada sisa makanan.
Rian berdiri.
"Pak..."
Pak Darma tetap tenang.
"Kamu melihatnya?"
Rian mengangguk pelan.
"Siapa dia?"
Pak Darma menatap sungai.
Kemudian berkata,
"Istri saya."
Rian merasa seluruh tubuhnya dingin.
"Namanya Maya."
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Hanya suara air sungai yang mengalir di bawah mereka.
Bab 3 — Kisah yang Disembunyikan
Rian tidak langsung pulang.
Ia duduk di kursi sambil mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Pak Darma menutup panci.
Malam sudah lewat tengah malam.
"Pak..."
"Iya?"
"Kalau boleh saya bertanya..."
"Tanya saja."
"Istri Bapak meninggal bagaimana?"
Pak Darma menarik napas panjang.
Ia menatap jembatan.
"Dua puluh tiga tahun lalu."
Rian diam.
"Pada waktu itu, jembatan ini belum seperti sekarang."
Pak Darma mulai bercerita.
Dua puluh tiga tahun lalu, jalan menuju jembatan jauh lebih sempit. Lampunya bahkan belum terpasang. Pada suatu malam hujan deras, sebuah bus membawa rombongan warga menuju kota.
Di dalam bus terdapat banyak penumpang.
Ada orang tua.
Ada anak-anak.
Ada pedagang.
Ada pekerja.
Dan di antara mereka ada Maya.
Istri Pak Darma.
Maya sedang dalam perjalanan pulang.
Malam itu Pak Darma sebenarnya ingin ikut.
Namun mereka bertengkar.
Pertengkaran mereka bermula dari masalah kecil.
Masalah uang.
Pak Darma ingin membeli gerobak baru.
Maya tidak setuju.
Maya ingin menggunakan uang tersebut untuk memperbaiki rumah.
Keduanya sama-sama keras kepala.
Akhirnya Maya pergi sendirian.
Pak Darma mengatakan sesuatu yang kemudian ia sesali seumur hidup.
"Kalau mau pergi, pergi saja."
Maya benar-benar pergi.
Ia naik bus.
Pak Darma tidak pernah menyangka itu menjadi percakapan terakhir mereka.
Ketika bus sampai di tikungan sebelum jembatan, hujan turun sangat deras.
Jalan licin.
Sopir berusaha mengendalikan kendaraan.
Namun bus tergelincir.
Menabrak pembatas.
Kemudian jatuh ke sungai.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat.
Puluhan orang meninggal.
Beberapa berhasil diselamatkan.
Namun Maya tidak ditemukan.
Tim pencari melakukan pencarian selama berhari-hari.
Tidak ada hasil.
Pak Darma ikut mencari.
Ia menyusuri sungai.
Bertanya kepada warga.
Menunggu di rumah sakit.
Namun Maya tidak pernah ditemukan.
"Sejak saat itu," kata Pak Darma, "saya selalu merasa dia belum benar-benar pergi."
Rian bertanya,
"Karena jasadnya tidak ditemukan?"
Pak Darma mengangguk.
"Dan karena saya belum sempat meminta maaf."
Ia menunduk.
"Saya masih ingat kata-kata terakhir saya kepadanya."
Rian tidak berkata apa-apa.
Pak Darma melanjutkan.
"Selama bertahun-tahun saya menunggu."
"Di rumah?"
"Di sini."
Ia menunjuk tempat gerobaknya.
"Saya mulai berjualan mi ayam di sini beberapa bulan setelah kecelakaan."
"Kenapa?"
"Karena Maya suka mi ayam."
Rian menatap gerobak.
"Dia yang mengajari Bapak?"
"Iya."
Pak Darma tersenyum.
"Dulu kami jualan bersama."
"Berarti gerobak ini..."
"Gerobak lama kami."
Rian baru menyadari sesuatu.
Tulisan MI AYAM DARMA yang pudar itu ternyata bukan sekadar nama usaha.
Itu adalah bagian dari kehidupan mereka.
"Setiap malam saya datang," lanjut Pak Darma, "saya berharap dia kembali."
"Dan kemudian?"
"Pada malam ketujuh..."
Pak Darma berhenti.
"Apa yang terjadi?"
"Saya mendengar suara."
"Suara Maya?"
Pak Darma mengangguk.
"Dia memesan mi ayam."
Rian merinding.
"Sejak saat itu dia datang setiap beberapa malam."
"Sendirian?"
"Awalnya."
Pak Darma kemudian menjelaskan bahwa setelah beberapa tahun, bukan hanya Maya yang datang.
Korban lain mulai muncul.
Ada yang datang sekali.
Ada yang datang berkali-kali.
Ada yang hanya duduk.
Ada yang meminta sesuatu.
Ada yang tidak menyadari bahwa mereka telah meninggal.
Pak Darma tidak pernah mengusir mereka.
Ia melayani mereka seperti pelanggan biasa.
Karena menurutnya, mereka juga pernah menjadi manusia.
Mereka pernah lapar.
Mereka pernah tertawa.
Mereka pernah mempunyai keluarga.
Mereka pernah mempunyai rumah.
Dan mereka juga pernah mempunyai harapan untuk pulang.
Rian terdiam cukup lama.
Malam itu ia pulang dengan perasaan berbeda.
Ia masih takut.
Tetapi rasa takutnya bercampur dengan rasa kasihan.
Ia mulai berpikir bahwa mungkin Pak Darma bukan penjual mi ayam biasa.
Ia adalah seseorang yang selama puluhan tahun menjaga pintu antara kenangan dan kenyataan.
Bab 4 — Pelanggan Tengah Malam
Sejak malam itu, Rian mulai sering datang.
Ia tidak selalu makan.
Kadang hanya duduk.
Kadang membantu Pak Darma.
Ia mulai mengenal kebiasaan aneh di tempat tersebut.
Jika angin tiba-tiba berhenti, biasanya seseorang akan datang.
Jika lampu berkedip tiga kali, Maya akan muncul.
Jika terdengar suara anak kecil tertawa, berarti ada korban lain yang datang.
Dan jika seluruh suara malam tiba-tiba menghilang...
Pak Darma selalu mengatakan,
"Mereka sudah dekat."
Rian awalnya sulit mempercayai semua itu.
Namun ia melihat sendiri.
Pada suatu malam, seorang lelaki tua muncul.
Pakaiannya basah.
Ia berdiri di dekat gerobak.
"Pak..."
Pak Darma menoleh.
"Ya?"
"Saya mencari cincin."
"Cincin apa?"
"Cincin kawin."
Pak Darma bertanya,
"Terakhir kamu ingat?"
Lelaki itu menunjuk sungai.
"Di dalam air."
Pak Darma menghela napas.
Rian memberanikan diri bertanya,
"Boleh saya bantu?"
Pak Darma menatapnya.
"Kamu yakin?"
Rian mengangguk.
Mereka mengambil senter.
Turun ke bagian bawah jembatan.
Tanah sangat licin.
Air sungai dingin.
Rian hampir terpeleset beberapa kali.
"Di sini?" tanyanya.
Lelaki itu menunjuk.
Rian mengarahkan senter.
Tidak ada apa-apa.
Mereka mencari selama hampir setengah jam.
Kemudian Rian melihat sesuatu berkilau di antara batu.
"Coba lihat."
Pak Darma mengambil tongkat.
Ia menarik benda tersebut.
Sebuah cincin emas.
Lelaki tua itu tersenyum.
"Terima kasih."
Kemudian tubuhnya perlahan memudar.
Rian terpaku.
Pak Darma hanya berkata,
"Satu lagi sudah selesai."
"Selesai?"
"Urusannya."
Malam itu Rian menyadari sesuatu.
Mungkin para arwah bukan datang untuk mengganggu.
Mereka datang karena masih membawa urusan.
Ada yang belum selesai.
Ada yang belum sempat meminta maaf.
Ada yang belum menemukan barang.
Ada yang belum bertemu seseorang.
Dan ada yang belum tahu bahwa mereka telah meninggal.
Pak Darma selama ini menjadi orang yang membantu mereka menyelesaikan semua itu.
Namun Rian mulai menyadari bahwa ada satu urusan terbesar yang belum selesai.
Urusan Pak Darma dengan Maya.
Dan mungkin...
itulah alasan Maya masih terus datang.