— Kalau semua boleh pergi, aku juga boleh kan?
—✧`--------
Dari manusia untuk manusia, di kehidupan yang sementara ini. Bisakah kau memiliki sedikit saja... Kebaikan?
----
Di dunia ini, apa yang tampak begitu indah justru bisa menjadi yang paling buruk. Namun, tidak semua yang indah itu tampak buruk. Mengapa? Karena yang indah akan tetap dianggap menawan meski berada di tempat yang paling kumuh, dan yang buruk akan tetap dinilai buruk meski berdiri di tempat yang megah.Begitu pula dengan manusia.
Jika bertemu sosok yang berparas indah, mereka akan langsung memujanya. Bahkan saat sosok berparas indah itu melangkah di jalan yang menyimpang, orang-orang akan tetap mencari pembenaran atas keindahannya. Mengapa begitu? Karena seburuk apa pun sikapmu, jika kau berparas indah, dunia akan tetap memujamu sebagai sosok yang sempurna.
Sebaliknya, jika mereka bertemu dengan sosok yang buruk rupa, mereka akan langsung menghakiminya. Ngerinya, meski sosok yang buruk itu melangkah ke jalur yang benar, manusia lain akan tetap memandangnya penuh curiga. Kenapa? Karena mau sebaik apa pun hati, jalan, dan sikapmu, jika mereka menemukan satu saja titik celah burukmu, mereka akan selamanya melabelimu sebagai manusia yang buruk.
Dunia ini terlalu munafik untuk mereka yang masih mendekap takut pada jiwa kecilnya. Dan dunia ini terasa begitu indah bagi mereka yang tega menghancurkan jiwa orang lain.
-----
Mengapa semua ini terasa begitu... tulus dalam kepalsuannya?
Karena kesucian yang benar-benar murni telah runtuh hanya karena setitik noda. Sementara keburukan yang nyata justru menyombongkan diri hanya karena menerima sedikit pujian.
____
Ini bukan sebuah cerita, namun juga bukan sebuah berita. Ini adalah sebuah ungkapan hati untuk semesta. Agar siapa yang membacanya tersadar dan mengerti.
Mereka yang salah harus berubah dan mereka yang benar tetaplah berada di jalur yang benar.
"Pernahkah kau sadar bahwa manusia memiliki lebih dari satu wajah?"
"Bagaimana bisa begitu?"
"Sungguh makhluk yang begitu murni..." Kerutan di dahinya runtuh bersama kekehan pelan.
"Mengapa kau tertawa?" Ia memiringkan kepalanya sambil mengerjap polos.
"Karena kau begitu polos. Istilah yang dipahami seluruh isi bumi pun, kau tak tahu."
"Lalu, apa maksudnya?" Ia kembali memiringkan kepala, menuntut penjelasan.
"Meski manusia hanya lahir dengan satu wajah, mereka bisa memakai topeng yang berbeda pada setiap sosok yang mereka temui. Contohnya aku."
"Kau? Bagaimana bisa?"
"Di hadapanmu, aku bisa menjadi sosok yang begitu baik. Namun, beberapa orang yang pernah kutemui pasti akan menceritakan kisah yang berbeda. Ada yang menyebutku licik, jahat, suram, pendiam, pemarah, atau bahkan berbahaya."
"Lalu, mengapa sampai disebut bermuka lebih dari satu?"
------ `~•—
"Karena..." Ia menjeda kalimatnya, menatap lurus.
"Dari ribuan orang yang mengenalku, tak ada satu pun yang benar-benar tahu bagaimana sosok asliku. Itulah mengapa manusia disebut bermuka banyak."
Intinya, jangan terlalu cepat percaya pada manusia yang tampak indah. Bisa jadi, mereka hanya menawan di depan, namun siap menikammu dari belakang.
------
— ★ and just like the moon, we must go through phases of emptiness to feel full again.
—✧`~
(Warn, ini semua berdasarkan karangan sayaa jangan di anggap serius. Kalo di anggap serius juga boleh kok... Eheheh)
Origin by Nattadecoco