“Ucup” panggilan emak
“Baru juga berebah tidur siang mak” kataku
Emak manggil buat nyendokin ikan di empang,
Ada yang beli ikan gurame sekilo.
Kerjaan sampinganku sambil sekolah, kadang juga nyambi ikutan cari kodok buat pesanan lauk orang pemakan segala.
Pernah juga aku nyari siput sama keong buat pakan bebek di suruh emak.
Nggak ada harga diri kadang nyebur ke empang, ke parit becek lewat anak cewek senyum-senyum rambut udah nggak ada bentuknya lumut-lumut campur bau lumpur, nggak ada keren-kerennya.
Sejak bapak meninggal, aku ikut bantu emak buat nambah uang sehari-hari.
Uang Pensiun Guru Bapak sebagai Guru nggak cukup buat menafkahi kehidupan kami di jaman serba mahal.
Kakak Perempuanku Ami Kuliah di Jakarta, untungnya Kuliah di Universitas Negeri dapat beasiswa.
Aku anak lelaki satu-satunya, kelas 3 SMP rencananya mau masuk SMK biar cepat keterima kerja.
Adikku yang bungsu masih TK cewek namanya Ani, kebisaannya di rumah main dandanin boneka Barbie harga 5 ribuan ada 4 di belikan Ami waktu pulang liburan.
Itu boneka kadang di kasih bedak sama lispstik emak yang sisa dikorek-korek sama cotton bud, nggak ngerti dia bilang cantic, yang ada kalo aku liat-liat cemong nggak jelas banget.
Di kampung nggak ada yang nggak kenal Ucup remaja serba bisa ini, bisa nyebur sama bisa disuruh-suruh emak, kadang mikir Ucup apa anak pungut ya…gini-gini hilang harga diri.
Emak kadang nyuruhnya pake teriak-teriak radius 1 km dari rumah aja pada dengar.
Yang ada malah ketawa-ketawa.
Ucup itu cuman nama panggilan nggak ada yang tau nama asli.
Saking tiap hari di panggil ucup.
Pernah kurir paket nanya kesana kemari nggak yakin sama alamat rumah,
Yang namanya Surya Setiawan yang mana.
Keren kan nama Ucup.
Iya lah keren….
Bisa-bisanya nama berubah di panggil ucup.
Sebagus itu nama pemberian Almarhum bapak yang fans berat sama Surya Saputra artis pada jamannya pokoknya gagah ganteng banget dah…
Ya beda sih sama aku, kurus tinggi hitam kebanyakan nyebur empang kadang kulit gatal-gatal.
Belom saatnya glow up istilah sekarang mah’, yang penting sekarang bantu emak.
Kasihan…
Emak juga jualan Opak.
Nitip di warung dekat sekolah, jelas siapa lagi kurirnya kalo bukan ucup.
Pokoknya Ucup segalanya deh…
Emak bilang emak nabung buat sekolahin ucup, jatah ucup kerja biasanya emak sisihin buat tabungan.
Ucup nggak tau berapa dan nggak hitung.
Ucup percaya sama emak.
**
“Cup, besok pamanmu datang katanya kamu bisa bantuin dia ngantar bawang kan?” kata emak.
Paman Arif adeknya bapak, dia kerja di koperasi desa punya pick up.
“Bisa mak, cuman senin Ucup ada ulangan” kataku sambil megang buku komat kamit menghafal rumus.
“kalo nggak bisa nggak usah aja, Paman biar cari yang lain” kata emak lagi sambil menaruh teh manis ke meja belajar kayuku.
“memang sampai hari apa mak? Kalo sabtu balik minggu ucup bisa” kataku, susah juga kalau bolos sekolah mana kelas 3. Dengan kemampuan otak yang nggak secerdas enstein ini kadang juga nilai pas-pasan seperti keadaanku sekarang, duileeee cup….
“besok emak tanyain ya” kata emak.
Aku mengangguk iya-iyain aja…yang penting itu baccaan sampai mana tadi.
Lupa.
Tiba-tiba si bocah pake baju hijau datang, langsung duduk pangku.
“Bang ucup bau” kata Ani sambil menutup hidung tapi tetap duduk di pangkuan sambil mengenggam boneka yang katanya cantik rupanya, rambut kepang warna kuning, make up warna warni hijau mendominasi, geleng-geleng kepala.
“Abang emang belum mandi, heeee” kataku sambil ketawa, sudah tau nggak pakai baju keringatan. Celana pendek rumahan yang dapat 100 rb 8 buah ini kan paling top markotop wing semriwing.
“Udah ah bang mandi” kata Ani dia ngeloyor pergi.
“Iya, bentaran” kataku sambil kipas-kipas pakai buku.
**
“Cup, udah sebulan emak sakit, kalau nggak ada perkembangan mending jual rumah sama empang buat biaya berobat” kata Kak Ami.
Aku diam.
Aku sudah nggak berdaya lagi, bolak balik ngantar emak berobat ke RS ditanggung asuransi kesehatan juga banyak obat yang harus nebus sendiri.
Katanya emak kanker tulang, kaki emak mulai kurus, emak nggak bisa jalan.
Sekolahku nggak karuan, sebentar lagi ujian sekolah.
Pikiranku kalut, Ani sudah sering kami titip di rumah Paman Arif, istrinya sering ngeluh soalnya repot anaknya juga masih kecil-kecil 2 orang.
Kalau rumah peninggalan bapak sama empang dijual trus kami hidup usaha apa.
Pensiun bapak juga pas-pasan buat obat-obatan ibu.
Kadang aku sama ani masih makan ikan dari empang buat lauk.
Aku kalut, kadang pulang sekolah aku bisa ikut bantu-bantu nguli ngangkat sayuran ke truck.
Emak sakit harus pulang jagain dirumah Emak nggak bisa apa-apa.
**
“Mak, rumah sama tanah samping tempat empang udah ditawar-tawarin sama Paman Arif” kataku
“Buat apa?” tanya emak lirih
“Buat biaya emak, supaya bisa sembuh ya mak..”kataku air mataku mengalir
“Nggak usah cup….nggak usah emak ngerepotin” emak nangis aku usap air mata emak, emak gemeteran, suara khas emak yang dulu nyaring manggil ucup yang selalu ucup rindukan berganti suara lemah serak yang membuat hati ucup pedih, ani ikutan nangis disamping.
“Ani sayang emak…”
**
Rumah dan Empang terjual ke saudagar Busmi seharga 700 juta dibayar tunai.
Tapi tidak bisa membayar betapa sedihnya kami kehilangan emak sebelum diobati.
Lulus sekolah aku ambil ijasah habis pemakaman emak, nggak ada riuh perayaan, aku juga nggak ikut perayaan kelulusan memilih tinggal diam di rumah Paman Arif.
“Paman, Bibi makasih sudah bantu jagain Ucup sama Ani selama ini” ucap Kak Ami
“Iya namanya keluarga”,kata Bibi Esti istri paman arif
“Ani yang pintar ya di kota” sambungnya sambil memeluk Ani.
Ani menangis.
Kugendong Ani, kami naik mobil travel membawa masing-masing tas dan pakaian.
Kak Ami membeli rumah subsidi di komplek perumahan pinggiran kota dari hasil jual rumah dan empang, sisanya buat uang sekolah dan hidup kami.
Kak Ami bilang dia mau jualan online dari uang itu buat modal usaha.
Buku tabungan sekolahku juga sudah di serahkan ka Ami itu di temukan Ami waktu bongkar isi lemari emak.
Tabungan isinya 12 Juta, atas nama Surya Setiawan.
Nama asli ucup.
Ucup sedih, ucup harus sekolah sesuai yang di cita-citakan emak.
**
Hidup di kota, rumah tipe 36 tanah ukuran 10 x 20, dua kamar tidur, dapur selesai dibangun pakai seng.
Temboknya pada tinggi nggak kenal tetangga kanan kiri.
Ami beli satu motor dan satu sepeda listrik yang aku pakai sekolah sambil ngantar Ani sudah masuk SD.
Kak Ami nyambi jualan makanan online, buat teman kampusnya yang mesan, kalo jauh-jauh kami berdua yang antar.
Kalo dekat aku sendiri yang antar pakai sepeda.
Lumayan buat jajan.
Aku nggak keterima di SMK karena nilaiku kurang.
Jadi keterima di SMA dekat rumah, SMA Negeri.
Masuk jurusan IPS.
Hari ini ada market day di sekolah.
“Ini apa?” tanyaku ke kakak kelas perempuan yang jualan
“lima ribu”
“Ini apa?” maksud menanyakan ini yang dijual apa.
“Lima ribu” yaelahhhhh..ucup kabur nggak nanya lagi.
Entah apa tuh makanan.
Nggak tau soalnya di bungkus warna-warni.
“Surya” panggil Ibu Guru Ella.
“Iya bu” sahutku lalu mengikuti Ibu Guru Ella ke kantor.
“Besok kamu sama Pak Stiven ke Kantor kedutaan ya” kata Ibu Guru Ella.
“Besok bu, tapi…”
“Besok ulangan geografinya di undur” kata Bu Ella
“baik bu” jawabku.
Ngikut aja nambah pengalaman, nggak di kampung dikota selalu di suruh-suruh kemana-mana.
**
“Kak Ami mau menikah dengan Bang Restu” kata Kak Ami
“ Tapi kak…
Kakak kan belum lulus” jawabku
Ani tertidur pulas di kasurnya.
“Nggak apa-apa, Kak Ami kan bentar lagi yudisium. Setelah itu acaranya”
“Lalu gimana dengan kami?” tanyaku.
Karena aku tau Bang Restu kerja di Bogor.
Dan biaya pernikahannya bagaimana, setauku bang Restu yatim piatu juga.
“Kalian berdua tetap dengan kakak, kita pindah ke bogor.soal biaya nikah nanti kakak pinjam 50 juta dari uang kita ya? Soalnya buat nambahin uang Bang Restu” kata Kak Ami
“Kak, uang kemarin yang 20 juta dipinjam Bang Restu udah dibalikin belum?” tanyaku balik
“Kok, kamu hitung-hitungan sih cup?” kata kak Ami dengan nada meninggi
“Bukan begitu kak, itu uang kita bertiga dari orang tua, buat sekolah buat hidup juga.
Lama-lama habis kita belum nyekolahin Ani Kak” kataku mengingatkan
“Aku tau cup, selama ini juga aku usaha. Kita masih nerima gaji bapak buat hidup masih cukup 2 juta itu, aku juga kerja ini.
Masa kamu tega cup, aku ini anak perempuan sudah waktunya menikah,itu aja aku pinjam sedikit nggak banyak acara di sini nanti undang orang dekat nggak usah di Desa paling perwakilan Paman Arif sekeluarga.”kata Kak Ami.
“Kenapa?” Ani menggosok mata terbangun.
Bingung.
Aku diam, kutinggalkan Kak Ami di kamarnya dan Ani.
Masalahnya aku laki-laki sedangkan calon kakak iparku selalu minjam uang dengan kakakku Ami.
Dan uang itu uang kami bertiga.
**
“Nitip Ani ya kak” kusalami Ami dan Bang Restu di Bandara.
Kupeluk Ani.
Ucup berangkat ke Jepang.
Sekolah dapat beasiswa full S-1 di Jepang ilmu Ekonomi.
Nggak terpikirkan buat anak kampung kayak ucup.
Yang mainnya di empang nangkap ikan, cari keong berangkat ke jepang, uang tabungan dari emak aku Tarik kemaren habis sisa nol, buat jaga-jaga hidup disana kutukar dengan Yen.
Uang tabungan dengan kak Ami sisa 200 juta aku bilang pegang baik-baik itu buat sekolah Ani.
**
Kembali pulang ke Indonesia.
6 Tahun tepatnya aku tinggal di Jepang.
Melanjutkan S2, sekarang berkerja di perusahaan air minum.
Kembali pulang menjemput Kak Ami dan Ani ikut serta.
Kak Ami sudah banyak berubah, keceriaan wajahnya hilang dan terlihat menua kerutan di bawah matanya menahan kepedihan dan beban hidup.
Kak Ami korban KDRT Bang Restu.
Setelah menikah Bang Restu merayu Kak Ami membawa kabur bawa uang tabungan kami 200 juta dari Ka Ami.
Mereka hidup dengan pensiun Bapak dan berjualan online.
Bang Restu Nggak tau kemana rimbanya, dicari kemana-mana nggak ketemu entah dia masih hidup atau mati.
Katanya uang tabungan dipinjam buat modal usaha, tapi aku yakin itu cuma bohong belaka.
Ani sudah SMA mau lulus juga.
Karena itulah kembali, Ucup tetap Ucup yang dulu, masih sama hidup untuk menghidupi keluarga.
“Bang ucup….” Teriak Ani sambil melambaikan tangan di luar ruang kedatangan.
Tanpa menggendong boneka barbie murahan, dia mengenggam tangan Kak Ami.
TAMAT