Rangga tidak pernah menganggap dirinya sebagai pemuda istimewa.
Ia hanyalah pemuda biasa yang tumbuh dari keluarga sederhana. Kehidupannya berjalan apa adanya. Tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak pula mempunyai harta yang bisa dibanggakan.
Namun, Rangga memiliki satu hal yang membuat orang-orang di sekitarnya nyaman berteman dengannya: sikapnya yang ramah dan tidak banyak tingkah.
Suatu hari, Rangga berkenalan dengan seorang gadis dari desa tetangga.
Namanya Uswati.
Gadis itu dikenal sebagai kembang desa. Bukan hanya karena parasnya yang cantik, tetapi juga karena sikapnya yang baik dan sopan. Uswati tidak pernah membeda-bedakan orang ketika berbicara.
Termasuk kepada Rangga.
Sejak perkenalan itu, mereka beberapa kali bertemu. Obrolan ringan berubah menjadi kebiasaan. Rangga semakin sering mencari kesempatan untuk bertemu dengannya.
Bagi Uswati, semuanya sederhana.
Rangga adalah teman.
Namun, bagi Rangga, kedekatan itu perlahan memiliki arti yang berbeda.
Uswati memang selalu bersikap baik kepada Rangga.
Ketika bertemu, ia tersenyum.
Ketika Rangga bercerita, ia mendengarkan.
Ketika Rangga membutuhkan bantuan kecil, Uswati tidak segan menolong.
Sikap itulah yang perlahan membuat Rangga salah mengartikan keramahan Uswati.
Ia mulai berpikir bahwa perhatian itu mungkin lebih dari sekadar pertemanan.
Rangga mulai menunggu setiap kesempatan untuk bertemu Uswati.
Senyum gadis itu terus terbayang di kepalanya.
Tanpa disadari, perasaan Rangga tumbuh semakin dalam.
Sampai akhirnya ia merasa tidak bisa terus menyimpannya sendiri.
Suatu sore, Rangga dan Uswati duduk berdua di sebuah tempat yang cukup sepi.
Rangga tampak gelisah.
"Wat."
Uswati menoleh.
"Iya?"
"Aku mau ngomong sesuatu."
Uswati tersenyum kecil. "Ngomong saja."
Rangga menarik napas panjang.
"Aku suka sama kamu."
Senyum di wajah Uswati perlahan menghilang.
Ia terdiam cukup lama.
Rangga menunggu jawabannya.
"Aku minta maaf, Rangga."
Dada Rangga terasa sesak.
"Aku menganggap kamu sebagai teman. Tidak lebih."
Rangga menundukkan kepala.
Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata apa-apa.
Namun akhirnya ia mengangguk.
"Ya sudah."
Ia berusaha tersenyum.
"Aku ngerti."
Rangga memang kecewa.
Tetapi ia tidak menyalahkan Uswati.
Baginya, penolakan itu adalah sesuatu yang harus diterima.
Ia tidak ingin memaksakan perasaan kepada seseorang yang tidak memiliki perasaan yang sama.
Beberapa waktu berlalu.
Hubungan Rangga dan Uswati tetap berjalan seperti biasa. Setidaknya Rangga berusaha membuat semuanya tetap normal.
Sampai suatu malam, Uswati menghadiri acara reuni di desanya.
Rangga kebetulan mengantarnya pulang.
Setelah Uswati turun dari kendaraan, Rangga hendak kembali.
Namun sebelum benar-benar meninggalkan rumah itu, ia mendengar suara dari dalam.
Suara Ibu Rini.
"Uswati."
"Iya, Bu."
"Ibu mau ngomong sesuatu."
Rangga yang masih berada di luar tanpa sengaja mendengar percakapan tersebut.
"Jangan terlalu dekat lagi dengan Rangga."
Langkah Rangga terhenti.
"Kenapa, Bu?"
"Dia itu tidak punya pekerjaan tetap."
Rangga terdiam.
"Terus masa depannya bagaimana? Ibu tidak mau kamu nanti hidup susah."
Jari-jari Rangga perlahan mengepal.
"Dia memang baik, tapi kebaikan saja tidak cukup untuk membangun rumah tangga."
Rangga menundukkan wajah.
Ia tahu Ibu Rini tidak sedang berbicara langsung kepadanya.
Tetapi setiap kalimat itu terasa seperti ditujukan tepat ke dadanya.
Selama ini Rangga bisa menerima ketika Uswati mengatakan bahwa dirinya hanya dianggap sebagai teman.
Namun ucapan Ibu Rini membuat sesuatu yang berbeda muncul di dalam dirinya.
Rasa tersinggung.
Malam itu, Rangga pulang dengan pikiran yang tidak lagi sama.
Ucapan Ibu Rini terus berputar di kepalanya.
Tidak punya pekerjaan tetap.
Masa depannya tidak jelas.
Tidak cukup untuk membangun rumah tangga.
Rangga tahu dirinya memang bukan orang berada.
Ia juga tahu bahwa dirinya belum memiliki pekerjaan tetap.
Tetapi mengapa Uswati harus dijauhkan darinya hanya karena keadaan itu?
Perasaan kecewa yang sebelumnya bisa ia terima perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Rangga mulai berpikir tentang Uswati.
Bukan lagi sekadar ingin dicintai.
Ia ingin memiliki gadis itu.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu mendapatkan Uswati meskipun semua orang menganggapnya tidak punya masa depan.
Dan tanpa disadarinya, keinginan itu mulai berubah menjadi obsesi.
Sebuah obsesi yang kelak membawanya kepada seseorang yang dikenal memiliki ilmu gaib.
Namanya Mbah Bayu.
Sejak malam ketika mendengar ucapan Ibu Rini, pikiran Rangga tidak pernah benar-benar tenang.
Ia masih sering bertemu Uswati. Namun kini, setiap kali melihat gadis itu, ada keinginan yang semakin kuat dalam dirinya.
Ia ingin Uswati menjadi miliknya.
Bukan lagi sekadar sebagai teman.
Keinginan itu akhirnya membawanya kepada Mbah Bayu, seorang sesepuh desa yang dikenal memiliki segudang ilmu.
Rumah Mbah Bayu berada agak jauh dari permukiman warga. Letaknya di ujung desa, dikelilingi pepohonan tua yang membuat suasananya terasa sunyi.
Rangga datang menjelang malam.
Setelah mengetuk pintu, seorang lelaki tua keluar.
"Mau apa kamu?"
"Saya ingin minta bantuan, Mbah."
Mbah Bayu memandang Rangga beberapa saat.
"Bantuan apa?"
Rangga menarik napas.
"Saya ingin mendapatkan hati seorang perempuan."
Mbah Bayu mengernyitkan dahi.
"Namanya?"
"Uswati."
Mbah Bayu tidak langsung menjawab.
Ia hanya mempersilakan Rangga masuk.
Di dalam rumah, Rangga duduk berhadapan dengan Mbah Bayu.
Rangga menceritakan semuanya. Tentang Uswati, tentang penolakannya, hingga tentang ucapan Ibu Rini yang membuat hatinya tersinggung.
Mbah Bayu mendengarkan tanpa banyak bicara.
Setelah Rangga selesai bercerita, lelaki tua itu bangkit menuju sebuah lemari kayu.
Dari dalamnya, ia mengambil sebuah benda yang dibungkus kain.
Bungkusan itu kemudian diletakkan di hadapan Rangga.
Ketika kain dibuka, tampak selembar kulit kijang.
Di permukaannya terdapat tulisan rajah dengan bentuk yang tidak dipahami Rangga.
"Apa ini, Mbah?"
"Rajah Pemikat Sukma."
Rangga menatapnya lekat-lekat.
"Kalau saya menggunakan ini..."
"Keinginanmu bisa berubah menjadi kenyataan."
Jantung Rangga berdegup lebih cepat.
Untuk pertama kalinya, ia merasa menemukan jalan untuk mendapatkan Uswati.
Sebelum menyerahkan kulit kijang itu, Mbah Bayu memberikan satu pesan yang harus diingat Rangga.
"Ada pantangannya."
Rangga mengangguk.
"Jangan pernah memakan daging dari hati hewan apa pun."
Rangga mengerutkan kening.
"Hanya itu, Mbah?"
"Jangan menganggapnya sepele."
Nada suara Mbah Bayu berubah serius.
"Pantangan itu harus benar-benar kamu jaga."
Rangga memandang rajah di tangannya.
Ia tidak ingin kehilangan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
"Saya akan mengingatnya, Mbah."
Mbah Bayu mengangguk.
"Jangan sampai lupa."
Rangga kemudian membawa pulang kulit kijang tersebut.
Di dalam hatinya hanya ada satu tujuan.
Uswati.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Namun perlahan, Uswati mulai berubah.
Ia semakin sering mencari Rangga.
Jika sebelumnya mereka hanya berbincang ketika kebetulan bertemu, kini Uswati mulai merasa ingin berada dekat dengannya.
Ada perasaan aneh yang tumbuh dalam dirinya.
Ketika Rangga tidak datang, Uswati merasa kehilangan.
Ketika Rangga berbicara dengan perempuan lain, hatinya terasa tidak nyaman.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa.
Bukankah selama ini Rangga hanya seorang teman?
Namun perasaan itu semakin hari semakin kuat.
Rangga tentu saja menyadari perubahan tersebut.
Ia tidak perlu lagi mengejar Uswati seperti sebelumnya.
Justru Uswati yang perlahan mendekat.
Tatapan gadis itu berubah.
Sikapnya berubah.
Dan akhirnya, perasaan yang sebelumnya tidak pernah ada mulai tumbuh dalam diri Uswati.
Rangga merasa keinginannya mulai terwujud.
Hubungan mereka semakin dekat.
Uswati yang dahulu menolak Rangga kini justru membuka hatinya.
Tidak lama kemudian, keduanya memutuskan untuk menikah.
Hari pernikahan itu menjadi hari yang paling membahagiakan bagi Rangga.
Ia akhirnya berdiri di samping perempuan yang dahulu hanya bisa ia impikan.
Uswati pun terlihat bahagia.
Awal kehidupan rumah tangga mereka berjalan lancar.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada masalah yang berarti.
Rangga merasa semuanya telah berubah sesuai keinginannya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa kebahagiaan itu hanya akan bertahan beberapa bulan.
Memasuki bulan keempat pernikahan mereka, sesuatu yang tidak pernah Rangga bayangkan mulai terjadi.
Memasuki bulan keempat pernikahan, Rangga mulai merasakan perubahan pada diri Uswati.
Istrinya menjadi lebih pendiam.
Ketika Rangga mengajaknya berbicara, jawaban Uswati sering kali singkat.
Ketika Rangga duduk di dekatnya, Uswati justru memilih menjauh.
"Wat, kamu kenapa?"
Uswati menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Tapi kamu berubah."
Uswati tidak menjawab.
Rangga semakin sering memperhatikan wajah istrinya.
Tidak ada lagi tatapan hangat seperti beberapa bulan sebelumnya.
Bahkan terkadang Uswati seperti tidak ingin melihatnya.
Rangga tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Ia hanya tahu bahwa perempuan yang dahulu begitu dekat dengannya kini perlahan terasa semakin jauh.
Suatu malam, suasana rumah terasa sunyi.
Rangga duduk berhadapan dengan Uswati.
Ia mencoba kembali membuka pembicaraan.
"Kalau ada masalah, bilang sama aku."
Uswati terdiam cukup lama.
Kemudian ia mengangkat wajahnya.
"Kenapa aku bisa menikah denganmu, Rangga?"
Rangga tertegun.
"Apa maksudmu?"
Uswati menundukkan kepala.
"Aku sendiri tidak tahu."
Rangga semakin bingung.
Uswati menarik napas panjang.
"Padahal dulu aku tidak mencintaimu."
Kalimat itu membuat Rangga seperti kehilangan kata-kata.
Ia teringat masa ketika dirinya pernah menyatakan cinta kepada Uswati.
Saat itu, Uswati dengan jelas mengatakan bahwa dirinya hanya menganggap Rangga sebagai teman.
Lalu mengapa akhirnya mereka menikah?
Rangga tidak mampu menjawab pertanyaan itu.
Sementara Uswati sendiri tampak semakin gelisah dengan perasaannya.
Sejak percakapan itu, hubungan mereka semakin buruk.
Rangga merasa sedih.
Ia tidak tahu bagaimana mengembalikan keadaan seperti semula.
Semakin ia mencoba mendekati Uswati, semakin dingin sikap istrinya.
Rangga mulai kehilangan kesabaran.
Ia lebih sering keluar rumah.
Pulang larut malam menjadi kebiasaannya.
Sesekali ia berkumpul bersama teman-temannya dan minum-minuman untuk melupakan masalah rumah tangga.
Malam demi malam berlalu.
Rangga semakin larut dalam kesedihannya.
Dan di tengah keadaan itu, ia mulai melupakan sesuatu yang sangat penting.
Sesuatu yang pernah diperingatkan Mbah Bayu.
Pantangan Rajah Pemikat Sukma.
Suatu malam, Rangga kembali berkumpul bersama teman-temannya.
Di atas meja tersaji berbagai makanan.
Rangga yang sudah minum beberapa gelas tidak lagi terlalu memperhatikan apa yang dimakannya.
Tangannya mengambil sepotong ati ampela.
Ia memasukkannya ke dalam mulut.
Mengunyahnya.
Menelannya.
Tidak ada yang terjadi saat itu.
Rangga bahkan tidak menyadari kesalahannya.
Namun beberapa saat kemudian, ingatannya tentang Mbah Bayu tiba-tiba muncul.
Jangan pernah memakan daging dari hati hewan apa pun.
Rangga terdiam.
Wajahnya berubah.
"Astaga..."
Ia baru menyadarinya.
Ia telah memakan hati hewan.
Pantangan Rajah Pemikat Sukma telah dilanggarnya.
Setelah malam itu, sikap Uswati semakin dingin.
Jika sebelumnya ia hanya menjaga jarak, kini ia seperti benar-benar tidak ingin berada di dekat Rangga.
Rangga mencoba berbicara.
"Wat, kita bisa memperbaiki semuanya."
Uswati menggeleng.
"Aku ingin bercerai."
Rangga terdiam.
"Kenapa?"
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
Uswati menahan air mata.
"Aku hanya merasa... pernikahan ini bukan sesuatu yang benar-benar kuinginkan."
Rangga merasa dadanya sesak.
Ia mencoba mempertahankan rumah tangga mereka.
Namun Uswati sudah mengambil keputusan.
Di sisi lain, Ibu Rini justru mendukung keinginan anaknya.
Sejak awal ia memang tidak pernah senang dengan Rangga.
Kini ia semakin yakin bahwa Uswati harus meninggalkan suaminya.
Rangga mulai menyadari sesuatu.
Rajah yang dahulu membuat Uswati mendekatinya kini tidak lagi memberinya apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, Rangga benar-benar memahami akibat dari melanggar pantangan yang pernah diperingatkan Mbah Bayu.
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Rangga untuk mempertahankan rumah tangganya.
Uswati tetap pada keputusannya.
Perceraian akhirnya terjadi.
Hari itu, Rangga hanya bisa diam.
Perempuan yang dahulu begitu ingin dimilikinya kini benar-benar pergi dari hidupnya.
Setelah semuanya selesai, Rangga pulang seorang diri.
Rumah yang dulu terasa begitu berarti kini terasa asing.
Tidak ada suara Uswati.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada lagi seseorang yang menunggunya.
Rangga duduk sendirian dalam kesunyian.
Pikirannya kembali kepada masa lalu.
Ia teringat ketika pertama kali mengenal Uswati.
Ia teringat saat Uswati menolak cintanya.
Saat itu, sebenarnya ia mampu menerima.
Seandainya semuanya berhenti sampai di sana, mungkin hidupnya tidak akan berakhir seperti ini.
Namun ia memilih jalan lain.
Malam semakin larut.
Rangga mengambil kulit kijang yang selama ini disimpannya.
Rajah Pemikat Sukma masih terlihat di atas permukaannya.
Ia menatap benda itu cukup lama.
Kini tidak ada lagi rasa bangga karena pernah memilikinya.
Yang tersisa hanya penyesalan.
Rangga teringat bagaimana semuanya bermula.
Ia hanya seorang pemuda biasa yang jatuh cinta kepada seorang perempuan.
Perempuan itu tidak membencinya.
Tidak pula merendahkannya.
Uswati hanya tidak memiliki perasaan yang sama.
Seharusnya Rangga bisa menerima kenyataan itu.
Namun ucapan Ibu Rini membuat hatinya tersinggung.
Ketersinggungan itu berubah menjadi obsesi.
Dan obsesi membawanya kepada Rajah Pemikat Sukma.
Rangga berhasil mendapatkan Uswati.
Mereka bahkan sempat menjadi suami istri.
Tetapi pada akhirnya, ia kehilangan semuanya.
Kini Rangga mengerti.
Memiliki seseorang bukan berarti memiliki hatinya.
Ia pernah memaksakan sesuatu yang seharusnya tumbuh dengan sendirinya.
Dan ketika pengaruh rajah itu berakhir, perasaan Uswati yang sebenarnya kembali.
Rangga menundukkan kepala.
Air matanya jatuh.
"Seandainya waktu bisa diulang..."
Namun tidak ada jawaban.
Tidak ada jalan untuk mengembalikan semuanya.
Rangga hanya bisa hidup dengan penyesalan atas keputusan yang pernah dibuatnya.
Di dalam kesunyian malam itu, ia akhirnya menyadari bahwa cinta tidak seharusnya dipaksa.
Karena ketika seseorang menggunakan cara untuk memikat sukma orang lain, yang mungkin didapat hanyalah tubuh dan pernikahan.
Bukan hati.
Dan itulah harga yang harus dibayar Rangga atas keinginannya sendiri.