Malam itu, angin pegunungan terasa dingin menusuk tulang. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara jalan setapak berbatu membentang panjang menuju kawasan yang semakin sunyi.
Namun, seorang perempuan bergaun merah marun tetap berjalan tanpa ragu.
Namanya Greesella Vianca.
Orang-orang terdekatnya memanggilnya Gre.
Gaun panjang yang dikenakannya menyapu permukaan tanah setiap kali ia melangkah. Sepatu hak tinggi yang sebenarnya tidak cocok digunakan untuk berjalan di jalan setapak berbatu menghantam kerikil satu demi satu.
Tak ada obor di tangannya.
Tak ada lentera.
Bahkan tidak ada seorang pun yang berjalan di sampingnya.
Hanya dirinya sendiri.
Dan keyakinan yang sejak lama tersimpan di dalam dada.
Tok.
Tok.
Tok.
Bunyi langkahnya terdengar teratur di tengah kesunyian.
Bagi orang lain, berjalan seorang diri di tengah hutan pada malam hari mungkin terdengar seperti keputusan yang gila.
Namun Gre tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang gila.
Ia hanya sedang menjalani perjalanan yang sudah dipilihnya.
Ia tidak sedang melarikan diri dari masa lalu.
Ia sedang berjalan menuju masa depan yang ingin ia ciptakan dengan tangannya sendiri.
Gre berhenti ketika jalan di hadapannya mendadak berubah.
Sebuah cahaya keemasan turun dari langit.
Cahaya itu membelah awan hitam dan jatuh tepat di hadapannya, membentang panjang di atas jalan setapak. Warnanya begitu megah hingga menyerupai karpet emas yang sengaja dibentangkan oleh semesta.
Gre mengangkat wajah.
Tidak ada rasa takut di matanya.
Di atas sana, ribuan bintang bertaburan.
Tetapi hanya satu yang menarik perhatiannya.
Bintang tertinggi.
Bintang paling terang.
Bintang yang sejak kecil selalu menjadi tujuan pandangannya setiap kali hidup terasa terlalu berat.
Bintang itu seolah mengetahui semua yang pernah dilalui Gre.
Air mata yang tidak pernah diperlihatkannya.
Kegagalan yang ditelannya sendirian.
Peluh yang jatuh selama bertahun-tahun.
Dan semua rahasia yang terlalu berat untuk diceritakan kepada dunia.
Gre menatapnya lama.
"Aku akan sampai ke sana," bisiknya.
Suaranya nyaris hilang ditelan angin.
Namun bagi Gre, janji itu tidak membutuhkan seorang saksi.
Ia hanya membutuhkan dirinya sendiri.
Dagu Gre terangkat.
Kemudian kakinya kembali bergerak.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Ia masuk ke dalam lingkaran cahaya emas.
---
Di ujung jalan setapak, seorang pria berdiri dalam diam.
Tristan Wistara.
Setelan gelap membalut tubuh tegapnya. Ia berdiri di antara pepohonan dengan tatapan tajam yang sejak tadi tidak pernah lepas dari sosok Gre.
Tristan tahu siapa perempuan itu.
Ia tahu perjalanan panjang yang telah ditempuh Gre.
Ia tahu bahwa perempuan itu pernah mengalami penolakan.
Pernah hampir menyerah.
Namun setiap kali dunia mendorongnya jatuh, Gre selalu menemukan alasan untuk berdiri lagi.
Itulah yang membuat Tristan tidak pernah menganggap Gre sebagai perempuan biasa.
Gre tidak menunggu seseorang menyelamatkannya.
Ia tidak menunggu pintu dibukakan.
Jika pintu tertutup, ia akan mencari jalan lain.
Jika jalan terputus, ia akan membuat jalan baru.
Bagi Tristan, Gre bukan perempuan yang sedang menunggu takdir.
Gre adalah seseorang yang sedang berjalan menjemput takdirnya sendiri.
"Dia benar-benar tidak pernah menoleh ke belakang," gumam Tristan.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Tristan kemudian melangkah keluar dari kegelapan.
Ia hendak mendekati Gre.
Namun sesuatu terjadi sebelum jarak mereka sempat benar-benar tertutup.
Hawa dingin tiba-tiba menerpa.
Lebih dingin daripada sebelumnya.
Pepohonan bergoyang meskipun angin seolah datang dari segala arah.
Tristan berhenti.
Matanya menyipit.
Kabut putih mulai muncul dari sela-sela pepohonan.
Awalnya hanya tipis.
Kemudian semakin tebal.
Kabut itu bergerak cepat.
Menggulung seperti tirai raksasa yang turun dari langit dan menutup jalan.
"Gre?"
Tristan mempercepat langkah.
Cahaya emas yang tadi menerangi jalan mulai meredup.
"Gre!"
Tidak ada jawaban.
Tristan berlari.
Namun kabut sudah lebih dahulu menelan semuanya.
Dalam beberapa detik, sosok perempuan bergaun merah yang tadi terlihat jelas di hadapannya menghilang.
Tristan berhenti di tengah jalan.
Matanya menyapu ke segala arah.
Kosong.
Gre tidak ada.
"Gre!"
Kali ini suaranya terdengar jauh lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
---
Di sisi lain kabut, Gre berdiri seorang diri.
Ia tidak lagi melihat cahaya emas.
Tidak ada Tristan.
Tidak ada jalan.
Tidak ada pepohonan yang bisa dijadikan penanda.
Kabut begitu pekat hingga ujung gaunnya sendiri nyaris tidak terlihat.
Gre menarik napas panjang.
Untuk sesaat, dadanya berdebar lebih cepat.
Namun ia segera memejamkan mata.
Panik tidak akan membantunya.
Ia mengatur napas.
Pelan.
Teratur.
Kemudian membuka mata kembali.
Kegelapan dan kabut masih sama.
Tetapi Gre tidak berubah.
Ia mengangkat wajah.
Seolah mencoba menembus lapisan kabut yang menggantung di atas kepalanya.
Bintang itu masih ada.
Ia tidak melihatnya.
Tetapi Gre tahu bintang itu tidak pernah pergi.
"Kalau aku tidak bisa melihat jalan, bukan berarti jalannya hilang."
Gre mengucapkannya perlahan.
Ia menatap lurus ke depan.
Kabut mungkin mampu membutakan mata.
Tetapi tidak akan pernah mampu mengambil tujuan dari seseorang yang benar-benar tahu ke mana ia hendak pergi.
Gre mengangkat satu kaki.
Melangkah.
Kerikil menusuk sol sepatunya.
Ia tidak berhenti.
Langkah kedua.
Ketiga.
Keempat.
Setiap langkah terasa seperti sebuah penegasan.
Ia tidak akan menyerah hanya karena jalan berubah menjadi gelap.
Ia tidak akan membiarkan ketakutan menentukan arah hidupnya.
Dan jauh di dalam dirinya, Gre bisa merasakan sesuatu.
Ada kecemasan lain di balik kabut.
Seseorang sedang mencarinya.
Tristan.
Gre yakin pria itu tidak akan diam.
Tetapi ia juga tahu, jika mereka berdua bergerak sembarangan, keadaan justru bisa semakin buruk.
Maka Gre memilih tetap tenang.
Ia menjadikan ingatan tentang bintang tertinggi sebagai jangkar.
Bukan cahaya yang terlihat oleh mata.
Melainkan tujuan yang tersimpan dalam batinnya.
Ia terus berjalan.
---
Di luar sana, Tristan tidak berhenti mencari.
Ia menyusuri jalan yang sama berulang kali.
Menembus kabut.
Memeriksa setiap sudut.
Memanggil nama Gre berkali-kali.
"Gre!"
Tidak ada jawaban.
Tristan berlari lebih jauh.
Sepatu boot-nya menghantam tanah berbatu.
Napasnya semakin berat.
Namun rasa lelah tidak sebanding dengan kecemasan yang memenuhi dadanya.
Beberapa puluh langkah.
Hanya beberapa puluh langkah.
Itulah jarak mereka sebelum kabut turun.
Bagaimana mungkin seseorang menghilang dalam waktu sesingkat itu?
Tristan berhenti.
Ia memandang sekeliling.
Logikanya menolak menerima apa yang terjadi.
Manusia tidak mungkin menghilang begitu saja.
Namun kenyataan di hadapannya tidak memberi ruang untuk penjelasan sederhana.
Pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan.
Apakah ini sekadar kabut?
Apakah ada sesuatu yang tidak terlihat sedang bermain di tempat ini?
Apakah hutan ini menyimpan sesuatu yang selama ini tidak diketahui manusia?
Atau jangan-jangan takdir memang sengaja mempertemukan mereka hanya untuk kemudian memisahkan keduanya?
Tristan mengepalkan tangan.
Tidak.
Ia tidak mau berpikir sejauh itu.
Apa pun yang terjadi, ia harus menemukan Gre.
Ia menatap kabut yang masih menggantung di hadapannya.
"Kalau takdir ingin bermain-main..." katanya pelan.
Rahangnya mengeras.
"...aku tidak akan membiarkannya menang."
Tristan menarik napas panjang.
Semua keraguan yang tadi sempat menguasai pikirannya perlahan disingkirkan.
Ia tidak tahu apa yang menunggu di balik kabut.
Ia tidak tahu apakah jalan di depannya benar atau salah.
Tetapi ia tahu satu hal.
Greesella Vianca ada di suatu tempat.
Dan ia akan menemukannya.
Tristan melangkah maju.
Satu langkah memasuki kabut.
Lalu langkah berikutnya.
Sementara di sisi lain, tanpa mengetahui bahwa pria itu sedang mendekatinya, Gre terus berjalan dengan pandangan tertuju pada langit yang tidak terlihat.
Dua manusia.
Satu tujuan.
Namun sebuah kabut misterius telah memisahkan mereka.
Malam yang awalnya menjadi perjalanan Gre menuju bintangnya kini berubah menjadi permainan takdir yang belum mereka pahami.
Dan di antara gelapnya hutan, dinginnya kabut, serta cahaya bintang yang tersembunyi di balik awan, perjalanan mereka baru saja dimulai.
Kabut semakin tebal ketika Tristan terus melangkah.
Setiap langkah membuat jarak pandangnya semakin pendek. Hanya beberapa meter ke depan yang masih bisa terlihat, itu pun dalam bayangan putih yang bergerak perlahan seperti memiliki kehidupan sendiri.
Tristan mengangkat tangannya untuk melindungi wajah.
"Gre!"
Suaranya menggema.
Namun bukannya jawaban, ia justru mendengar suara lain.
Pelan.
Jauh.
Seperti bisikan yang datang dari berbagai arah.
Lewati.
Tristan berhenti.
Keningnya berkerut.
"Apa?"
Lewati seribu lorong...
Suara itu terdengar lagi.
Lebih jelas.
Tristan menoleh ke kiri dan kanan.
Tidak ada siapa-siapa.
Kemudian kabut di depannya bergerak.
Perlahan, jalan setapak yang tadi dikenalnya berubah.
Tanah berbatu menghilang.
Pepohonan lenyap.
Sebagai gantinya, muncul sebuah lorong panjang yang dindingnya berwarna hitam pekat.
Tristan berdiri di mulut lorong itu.
Ia tidak tahu apakah yang dilihatnya nyata atau hanya permainan pikirannya.
Namun satu hal membuatnya yakin.
Ini bukan lagi tempat yang sama.
"Gre..."
Nama itu kembali keluar dari bibirnya.
Tristan melangkah masuk.
Di tempat lain, Gre juga menyadari perubahan yang sama.
Kabut yang sejak tadi mengelilinginya perlahan mengeras.
Bukan lagi sekadar udara putih yang menghalangi pandangan.
Kabut itu berubah menjadi dinding.
Dinding hitam.
Tinggi.
Panjang.
Membentuk lorong yang bercabang ke berbagai arah.
Gre berdiri diam di tengahnya.
Ia menatap jalan di depan.
Kemudian ke belakang.
Tidak ada jalan untuk kembali.
"Jadi ini permainanmu?"
Gre berbicara kepada sesuatu yang tidak terlihat.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang berputar di antara lorong.
Gre menarik napas.
Ia bisa saja takut.
Namun semakin ia melihat labirin itu, semakin ia merasa bahwa tempat tersebut justru sedang menunggu dirinya mengambil keputusan.
Ia tidak akan memberikan kepuasan kepada apa pun yang menciptakan semua ini dengan melihatnya menyerah.
Gre mengangkat ujung gaunnya sedikit.
Kemudian melangkah.
Satu lorong.
Belok kiri.
Kemudian kanan.
Ia tidak menghitung berapa banyak persimpangan yang dilewati.
Karena semakin lama, jumlahnya tidak lagi masuk akal.
Lorong yang sama muncul berulang kali.
Dinding yang sama.
Batu yang sama.
Udara dingin yang sama.
Namun Gre terus berjalan.
Ia tidak lagi menggunakan mata sebagai satu-satunya petunjuk.
Ia mengingat bintang.
Bintang tertinggi.
Arah yang sejak kecil selalu menjadi tujuan pandangannya.
Setiap kali merasa ragu, ia mengangkat wajah.
Tidak ada langit.
Tidak ada bintang.
Tetapi dalam pikirannya, titik cahaya itu tetap menyala.
Dan anehnya, setiap kali Gre memusatkan pikiran pada bintang tersebut, salah satu lorong di depannya terasa berbeda.
Lebih hangat.
Lebih ringan.
Gre memilihnya.
Sementara itu, Tristan menghadapi hal yang sama.
Lorong pertama membawanya ke persimpangan.
Ia memilih kanan.
Beberapa menit kemudian, ia kembali ke tempat semula.
Tristan berhenti.
Matanya menyipit.
Ia mencoba mengingat setiap detail dinding.
Sebuah retakan kecil di sebelah kiri.
Batu yang menonjol di bawah.
Garis seperti bekas cakar pada dinding.
Semuanya sama.
"Ini bukan labirin biasa."
Tristan mengusap wajahnya.
Ia mulai menyadari bahwa tempat ini tidak hanya mengacaukan arah.
Tempat ini sedang menguji pikirannya.
Ia kembali berjalan.
Kali ini tanpa terburu-buru.
Ia tidak tahu berapa lama harus bertahan.
Satu jam?
Semalaman?
Atau lebih lama?
Yang ia tahu hanya satu.
Gre ada di luar sana.
Dan ia tidak boleh berhenti.
Suara bisikan kembali terdengar.
Seribu lorong menunggu.
Tristan mengepalkan tangan.
"Kalau seribu, akan kulewati seribu."
Ia melangkah.
Waktu seakan kehilangan makna.
Gre terus berjalan.
Gaun merahnya yang semula bersih mulai terkena debu.
Ujung kainnya terseret tanah.
Sepatu hak tingginya mulai terasa berat.
Tetapi ia tidak berhenti.
Di salah satu lorong, Gre mendengar suara.
"Gre!"
Ia langsung menoleh.
Tristan?
Suara itu terdengar begitu nyata.
"Tristan?"
Tidak ada jawaban.
Gre mempercepat langkah.
"Tristan!"
Suara itu terdengar lagi.
Namun kali ini dari arah berlawanan.
Gre berhenti.
Ia memahami sesuatu.
Tempat ini sedang menggunakan sesuatu yang paling ingin ia dengar untuk memancingnya.
Ia menutup mata.
"Kalau memang Tristan, aku tidak perlu mengejarnya dengan panik."
Gre membuka mata.
"Dia juga sedang mencariku."
Ia kembali berjalan.
Bukan menuju suara.
Melainkan menuju arah yang diyakininya benar.
Tristan juga mengalami hal serupa.
Di salah satu lorong, ia mendengar suara Gre.
"Tristan..."
Langkahnya langsung berhenti.
"Gre?"
Suara itu terdengar lagi.
"Tristan..."
Untuk sesaat, ia hampir berlari.
Namun kemudian Tristan menahan diri.
Suara itu terlalu sempurna.
Terlalu dekat.
Padahal ia tahu, tempat ini bisa saja memutarbalikkan persepsinya.
Ia menutup mata.
"Gre yang sebenarnya tidak akan memintaku menyerah pada ketakutan."
Tristan membuka mata.
Lalu memilih jalan yang berlawanan dari suara tersebut.
Di dalam labirin, Gre mulai menemukan sesuatu.
Setiap kali ia melangkah, ujung gaunnya sesekali memantulkan cahaya emas yang sangat tipis.
Awalnya hanya sekejap.
Kemudian muncul lagi.
Gre berhenti.
Ia menatap kain merah di tubuhnya.
Cahaya itu tidak berasal dari luar.
Ia muncul dari jejak yang ditinggalkannya.
Gre tersenyum tipis.
"Jadi ini jalannya."
Ia mulai berjalan lebih mantap.
Setiap langkah meninggalkan kilau tipis di atas tanah.
Bukan cahaya yang cukup terang untuk menerangi seluruh labirin.
Namun cukup untuk menjadi penanda.
Jika Tristan berhasil sampai ke tempat ini, ia akan tahu bahwa Gre pernah melewati jalan tersebut.
Gre terus berjalan.
Di dalam hatinya, ada keyakinan baru.
Tristan sedang mencarinya.
Dan jika pria itu benar-benar berhasil melewati labirin ini, ia akan menemukan jejak yang ditinggalkannya.
Gre tidak tahu apakah mereka akan bertemu.
Namun setidaknya sekarang ia tidak lagi merasa sendirian.
Tristan tiba di sebuah persimpangan yang jauh lebih besar.
Ada begitu banyak lorong hingga ia hampir tidak bisa menghitungnya.
Ia menatap satu per satu.
Kiri.
Kanan.
Depan.
Kemudian matanya menangkap sesuatu.
Sebuah kilau.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Tristan mendekat.
Di atas tanah, terdapat jejak cahaya keemasan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia mengenal cahaya itu.
"Gre..."
Tristan berlutut dan menyentuh permukaan tanah.
Cahaya tersebut bergetar sebentar di bawah ujung jarinya.
Kemudian padam.
Namun itu sudah cukup.
Gre pernah berada di sini.
Tristan berdiri kembali.
Untuk pertama kalinya sejak kabut memisahkan mereka, harapan kembali muncul.
Ia mengikuti jejak tersebut.
Satu demi satu.
Tidak peduli seberapa panjang lorong yang harus dilalui.
Tidak peduli berapa banyak persimpangan yang menunggunya.
Ia terus berjalan.
Sementara di kejauhan, Gre juga merasakan sesuatu.
Getaran hangat yang sejak tadi hanya samar tiba-tiba menjadi lebih kuat.
Ia berhenti.
Untuk pertama kalinya, bibirnya melengkung.
"Tristan..."
Mereka belum bertemu.
Belum bisa melihat satu sama lain.
Tetapi untuk sesaat, dua jiwa yang terpisah oleh labirin itu seolah berada pada satu arah yang sama.
Dan di antara mereka, cahaya emas kembali menyala.
Lebih terang daripada sebelumnya.
Cahaya emas yang ditemukan Tristan semakin sering muncul di sepanjang lorong.
Namun setiap kali ia merasa sudah semakin dekat, labirin kembali berubah.
Dinding-dinding hitam bergeser tanpa suara.
Lorong yang tadi lurus mendadak bercabang.
Jalan yang baru saja dilewati menghilang di belakangnya.
Tristan berhenti.
Ia tidak lagi mencoba memahami tempat itu dengan logika biasa.
Satu hal yang ia pahami sekarang: labirin tersebut tidak sekadar menghalangi langkahnya. Labirin itu sedang menguji keteguhan hatinya.
Tristan menatap cahaya tipis di tanah.
"Kalau ini benar-benar jejakmu, Gre, aku akan mengikutinya sampai ujung."
Ia kembali berjalan.
Di sisi lain, Gre mulai merasakan sesuatu yang berbeda.
Getaran hangat yang sebelumnya hanya samar kini semakin kuat.
Ia berhenti di tengah lorong.
Untuk beberapa detik, Gre memejamkan mata.
Tidak ada suara.
Tidak ada langkah kaki.
Namun ada sesuatu yang terasa begitu dekat.
Tristan.
Gre tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Bukan suara.
Bukan pula bayangan.
Hanya perasaan bahwa seseorang yang sangat ia kenal sedang berada di balik dinding yang memisahkan mereka.
Gre menempelkan telapak tangannya pada dinding hitam.
Dingin.
Sangat dingin.
Tetapi dari balik permukaan itu, ada getaran kecil.
Tok.
Tok.
Seperti ketukan dari sisi lain.
Gre menahan napas.
"Tristan?"
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk dinding.
Tok.
Tok.
Beberapa detik kemudian...
Tok.
Tok.
Balasan.
Mata Gre membesar.
Untuk pertama kalinya sejak terjebak di tempat itu, ia tahu bahwa Tristan benar-benar masih ada.
Mereka hanya dipisahkan sesuatu yang belum bisa mereka pahami.
"Jangan berhenti," bisik Gre.
Ia tidak tahu apakah Tristan bisa mendengarnya.
Namun ia tetap mengatakannya.
"Aku juga tidak akan berhenti."
Gre menarik tangannya dari dinding.
Kemudian kembali berjalan.
Tristan mendengar ketukan itu.
Ia langsung berhenti.
Matanya menatap dinding di sebelah kiri.
Tok.
Tok.
Suara itu terdengar lagi.
Tristan mendekat.
Tangannya terangkat.
Ia menyentuh permukaan hitam tersebut.
"Gre?"
Dari sisi lain terdengar ketukan.
Tok.
Tok.
Tristan tersenyum tipis.
Bukan karena keadaan sudah aman.
Justru karena sekarang ia tahu bahwa harapannya bukan khayalan.
Gre masih ada.
"Jangan bergerak terlalu cepat," katanya.
Ia menekan telapak tangannya lebih kuat pada dinding.
"Aku akan menemukan jalan."
Namun setelah kalimat itu selesai, dinding di hadapannya tiba-tiba bergetar.
Suara gemuruh terdengar dari dalam labirin.
Tristan mundur beberapa langkah.
Retakan mulai muncul.
Satu.
Dua.
Kemudian puluhan.
Dinding hitam di hadapannya pecah.
Tetapi bukan menjadi jalan keluar.
Dari balik retakan itu justru muncul kegelapan yang jauh lebih pekat.
Tristan menatapnya.
Untuk sesaat, ia merasa seperti sedang melihat dasar jurang tanpa akhir.
Kemudian terdengar suara gaib.
Jika ingin menemukannya, lewati seluruh jalan.
Tristan mengepalkan tangan.
"Baik."
Tidak ada keraguan dalam jawabannya.
"Aku akan lewat."
Gre juga mendengar suara yang sama.
Namun kali ini suara itu datang dari seluruh penjuru.
Jika ingin keluar, lepaskan apa yang paling kauinginkan.
Gre terdiam.
Ia tahu apa yang dimaksud.
Tristan.
Tempat itu ingin membuatnya memilih.
Mungkin meninggalkan harapan untuk bertemu Tristan akan membuat jalannya lebih mudah.
Namun Gre justru tersenyum tipis.
"Kalau memang itu syaratnya..."
Ia menatap lorong gelap di hadapan.
"...maka aku tidak akan keluar."
Suasana mendadak hening.
Gre melanjutkan langkah.
"Aku tidak akan meninggalkan sesuatu hanya karena dunia mengatakan aku harus memilih."
Gaun merahnya kembali menyapu tanah.
Jejak cahaya emas muncul di belakangnya.
Satu demi satu.
Semakin jelas.
Tristan mengikuti cahaya itu.
Semakin jauh ia berjalan, semakin terang jejak yang ditinggalkan Gre.
Namun labirin juga semakin ganas.
Dinding-dinding hitam mulai bergerak.
Beberapa bagian lantai retak.
Suara gemuruh terus terdengar dari kejauhan.
Tristan berlari.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia mulai merasakan bahwa waktu mereka terbatas.
"Gre!"
Kali ini teriakannya menggema lebih jauh.
Dan dari kejauhan, terdengar jawaban.
"Tristan!"
Ia berhenti.
Matanya membesar.
Suara itu benar-benar suara Gre.
Bukan tipuan.
Bukan bisikan labirin.
Gre juga mendengarnya.
Mereka sama-sama berlari menuju suara masing-masing.
Lorong demi lorong dilewati.
Persimpangan demi persimpangan.
Cahaya emas di tanah semakin terang.
Sampai akhirnya...
Tristan melihat sesuatu.
Sebuah bayangan merah.
Sangat samar.
Di balik dinding tipis yang terbuat dari cahaya putih.
"Gre!"
Sosok itu berhenti.
Gre mengangkat wajah.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa melihat Tristan.
Tidak jelas.
Tidak sempurna.
Namun cukup.
Mata mereka bertemu melalui batas yang tidak terlihat.
Gre tersenyum.
Tristan mengangkat tangannya.
Mereka bergerak mendekat.
Selangkah.
Selangkah lagi.
Namun ketika jarak mereka tinggal beberapa jengkal, dinding cahaya itu tiba-tiba berubah menjadi sangat terang.
Gre menutup mata.
Tristan mengangkat lengannya untuk melindungi wajah.
Suara ledakan terdengar.
Cahaya emas memenuhi seluruh labirin.
Kemudian...
Semuanya lenyap.
Ketika Gre membuka mata, ia sudah berdiri di bawah langit terbuka.
Kabut telah hilang.
Dinding hitam tidak ada.
Labirin lenyap.
Di atasnya, langit malam perlahan berubah warna.
Gelap mulai memudar.
Ufuk timur menunjukkan semburat cahaya.
Fajar.
Gre menoleh.
Tristan berdiri tidak jauh darinya.
Hanya beberapa jengkal.
Mereka benar-benar berhasil keluar.
"Tristan..."
Gre hendak melangkah.
Tristan juga bergerak.
Namun sesuatu terasa aneh.
Mereka saling memandang.
Tidak ada senyum.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada kata-kata.
Karena mereka menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Tangan Tristan melewati tubuh Gre.
Seperti melewati udara.
Gre tersentak.
Ia mencoba menyentuh lengan Tristan.
Tangannya juga menembus tubuh pria itu.
"Tristan..."
Suara Gre bergetar.
Tristan menatap tangannya sendiri.
Kemudian kembali memandang Gre.
Mereka berdiri sangat dekat.
Tetapi tidak bisa saling menyentuh.
Tidak bisa benar-benar merasakan keberadaan satu sama lain.
Mereka telah keluar dari labirin.
Namun ternyata belum benar-benar kembali ke dunia yang sama.
Fajar semakin terang.
Cahaya keemasan mulai menyinari puncak pegunungan.
Gre menatap Tristan dengan mata berkaca-kaca.
Pria itu juga tidak mampu menyembunyikan kepedihan di wajahnya.
Mereka sudah melewati kabut.
Melewati lorong-lorong gelap.
Melewati ketakutan.
Namun takdir masih menyisakan satu penghalang terakhir.
Mereka berada di tempat yang sama, tetapi di dimensi yang berbeda.
Gre mengangkat tangannya.
Tristan melakukan hal yang sama.
Telapak tangan mereka berhenti hanya beberapa sentimeter satu sama lain.
Dekat.
Sangat dekat.
Tetapi tetap tidak bisa bertemu.
Dan ketika sinar matahari pertama menyentuh puncak gunung, sebuah pertanyaan muncul dalam hati keduanya:
Jika jarak mereka hanya beberapa sentimeter, tetapi dunia memisahkan mereka dalam dua dimensi... siapa yang akan lebih dulu menemukan jalan untuk menembusnya?