Di bawah naungan langit malam Jakarta yang pekat dan lembap, angin asin dari arah pelabuhan membawa aroma minyak mentah, karat, dan kemiskinan yang membusuk. Di sebuah bengkel kontainer terbengkalai di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, suara hantaman besi beradu dengan daging terdengar berulang kali.
"Cuma ini kemampuan kroco-kroco suruhan Frans?"
Suara itu serak, dingin, dan diakhiri dengan tawa kecil yang terdengar lebih menyeramkan daripada desis ular piton.
Di tengah remang lampu pijar yang berkedip-kedip, Shantyana berdiri memegang sebuah kunci inggris berukuran jumbo yang kini berlumuran darah kental. Di sekelilingnya, enam pria berbadan tegap dengan tato naga dan pistol otomatis terkapar tak berdaya. Ada yang tulang rusuknya patah, ada yang rahangnya bergeser, dan ada yang pingsan dengan mata melotot ketakutan.
Shantyana—atau kini lebih dikenal di dunia bawah tanah dengan sebutan The Bleeding Smile—melangkah menuju cermin retak yang terikat di tiang besi. Ia memandangi bayangannya sendiri tanpa ada rasa penyesalan.
Dulu, Shantyana adalah seorang perempuan tomboy yang memimpin geng motor jalanan biasa. Ia tangguh, pandai memperbaiki mesin, berbaju kaus oblong longgar, dan punya prinsip kehormatan jalanan yang kuat. Namun, kebaikan dan kepolosannya dihancurkan secara brutal tiga bulan lalu. Frans, seorang gembong mafia perdagangan manusia dan penguasa jaringan kasino gelap, membantai seluruh anggota gengnya, membakar bengkel milik mendiang ayahnya, dan menyiksa Shantyana hingga sekarat. Frans menyayat kedua sudut bibir Shantyana dari pipi hingga mendekati telinga—sebuah "piala" kejam yang dirancang untuk mempermalukannya selamanya.
Namun, Frans melakukan satu kesalahan fatal: ia membiarkan Shantyana tetap hidup.
Rasa sakit fisik yang luar biasa melahirkan kehancuran mental yang sempurna. Shantyana tidak mati; jiwanya yang lama tersapu habis, digantikan oleh entitas baru yang liar, tak terprediksi, dan penuh dendam. Ia melukis mukanya dengan riasan putih tebal dari bedak panggung murahan, mewarnai lingkar matanya dengan warna hitam pekat yang berantakan, serta memoles luka sayatan lebar di bibirnya dengan pewarna bibir merah darah yang mencolok. Ia mengenakan mantel kulit hijau rumput yang kumal, celana kargo loreng yang terkoyak, dan sepatu boot militer bertali baja.
Ia adalah perwujudan dari rasa sakit yang berubah menjadi kekacauan murni—sebuah monster yang lahir dari ketidakadilan kota.
"Frans ingin bermain game?" Shantyana tertawa lagi. Tawanya melengking tinggi, memecah kesunyian malam, lalu mendadak berhenti menjadi tatapan mata yang sangat dingin dan kosong. "Mari kita beri dia pertunjukan yang tak akan pernah dia lupakan."
---
Malam itu, target Shantyana adalah sebuah misi tunggal yang mematikan: menyusup dan meratakan The Velvet Vault, sebuah kelab malam eksklusif sekaligus markas utama transaksi pencucian uang dan penjualan senjata ilegal milik Frans yang berlokasi di lantai basement sebuah gedung pencakar langit di pusat kota.
Misi ini bukan sekadar tentang membunuh Frans, melainkan tentang menghancurkan seluruh kekaisaran bisnisnya dari dalam, menyiksa psikologis para anak buahnya, dan merebut kembali berkas rahasia Project Cerberus—dokumen pencucian uang senilai triliunan rupiah yang menjadi kunci kekuatan Frans.
Jam menunjukkan pukul 01.30 WIB. Rain tebal mulai mengguyur jalanan beton. Shantyana menunggangi sepeda motor Custom Chopper tanpa knalpot yang menderu seperti raungan binatang buas. Di punggungnya, terikat dua buah parang berbilah gerigi dan sebuah tas ransel taktis berisi berbagai bom racikan sendiri berbasis bahan kimia bengkel.
Ia menghentikan motornya tepat di depan pintu masuk belakang *The Velvet Vault*. Tiga penjaga bersenjata lengkap dengan pakaian setelan jas rapi langsung mengarahkan senapan submesin ke arahnya.
"Hei! Siapa kamu? Dilarang berhenti di sini!" bentak salah satu penjaga.
Shantyana mematikan mesin motornya. Ia perlahan turun, menegakkan tubuhnya yang tinggi ramping, lalu mendongak. Di bawah lampu neon biru yang redup, wajah "Joker" Shantyana terpapar jelas. Senyum merah menyala yang terukir dari sayatan luka di pipinya menyeringai lebar.
"Permisi, Mas-Mas tampan," kata Shantyana dengan nada manis yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kegilaan murni. "Aku bawa hadiah untuk Bos Frans."
"Ini si cewek gila yang dicari Bos! Tembak—"
Sebelum penjaga itu sempat menekan pelatuk, Shantyana bergerak cepat seperti bayangan. Ia melemparkan sebuah bom asap rakitan bercampur bubuk cabai dan bubuk besi langsung ke wajah penjaga pertama.
*BANG!*
Asap merah meredam pandangan mereka seketika. Suara batuk dan jeritan kesakitan pecah. Dalam kegelapan asap tersebut, Shantyana menarik dua parang bergeriginya.
*CRASH! CRASH!*
Tanpa ragu dan tanpa belas kasihan, Shantyana menebas pergelangan tangan penjaga kedua hingga senjatanya jatuh, lalu memutarkan tubuhnya dan menancapkan bilah parangnya tepat ke lutut penjaga ketiga. Gerakannya presisi, brutal, dan penuh perhitungan dari pengalaman bertarung di jalanan sejak remaja. Penjaga pertama yang masih mengusap matanya yang perih langsung dihantam dengan tendangan sepatu boot besi Shantyana hingga terlempar menabrak pintu besi penutup basement.
Shantyana mengambil senapan submesin MP5 dari tangan penjaga yang terkapar, memeriksa magazinenya, lalu tersenyum puas.
"Ronde pertama selesai," bisiknya pada diri sendiri. Ia menarik kait granat asap kedua, melemparnya melewati pintu yang jebol, dan melangkah masuk ke dalam sarang musuh.
---
Suasana di dalam *The Velvet Vault* mendadak berubah dari pesta hedonis menjadi neraka dunia. Ketika Shantyana menerobos masuk ke area ruang dansa utama, ia tidak langsung menembak kerumunan. Ia menembak lampu gantung kristal raksasa di langit-langit.
*DOR! DOR! DOR!*
Lampu kristal seberat setengah ton itu jatuh menghempas meja-meja VIP dan lantai dansa, menimbulkan ledakan percikan api dan kepanikan massal. Pengunjung kelab yang terdiri dari para pejabat korup dan penjahat kaya berhamburan berlarian menuju pintu keluar.
"Panggil pasukan utama! *The Bleeding Smile* ada di sini!" teriak seorang komandan keamanan Frans melalui walkie-talkie.
Dari balik bayang-bayang tiang beton, Shantyana muncul sambil menari-nari kecil mengikuti irama musik dugem yang masih berkumandang secara otomatis. Pakaian hijau menyalakan figurnya di tengah asap dan tembakan rambang.
Sekelompok tentara bayaran berpakaian pelindung tubuh lengkap muncul dari dua sisi lorong VIP, membuka tembakan beruntun.
*TATATATATATATA!*
Peluru menembus dinding dan sofa-sofa kulit. Shantyana berguling di lantai kaca, berlindung di balik meja biliar tebal dari kayu jati. Peluru memantul dan memecahkan botol-botol minuman mahal di belakangnya.
"Cuma itu yang kalian punya? Kalian menembak seperti nenek-nenek terkena rematik!" teriak Shantyana diiringi tawa histerisnya.
Dari balik meja biliar, ia melempar dua buah botol minuman beralkohol tinggi yang sudah dipasangi sumbu menyala—Molotov cocktail rakitan ala bengkel. Botol itu meledak tepat di tengah barisan tentara bayaran, membakar tubuh dua prajurit seketika. Ketakutan menyebar cepat seperti wabah.
Memanfaatkan kekacauan itu, Shantyana melompat dari balik meja biliar. Dengan kecepatan luar biasa, ia menutup jarak antara dirinya dan musuh. Ia tidak menggunakan senjata api untuk jarak dekat; ia menggunakan seni bertarung jarak rapat yang kotor.
Ia menusukkan ujung kunci inggris tajamnya ke tenggorokan seorang prajurit, merebut pisau komando milik musuh, lalu memutarnya untuk menyayat paha musuh lainnya. Setiap gerakan Shantyana dipenuhi rasa dendam yang tertahan selama berbulan-bulan. Wajahnya yang berlumuran cat putih dan darah menciptakan teror psikologis yang membuat para prajurit terlatih pun gemetar.
"Dia bukan manusia! Dia iblis!" jerit seorang prajurit yang melemparkan senjatanya dan mencoba kabur.
Shantyana melempar pisau komando ke arah punggung prajurit yang melarikan diri itu dengan akurasi mematikan. Prajurit itu roboh seketika.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, lantai utama kelab malam yang tadinya megah kini berubah menjadi medan pembantaian yang sunyi, diselimuti asap tebal dan bau darah yang menyengat.
---
Shantyana melangkah menaiki tangga melingkar menuju lantai paling atas—area penthouse tempat Frans bersembunyi di balik pintu baja anti-peluru.
Di depan pintu tersebut, berdiri dua tangan kanan Frans yang paling mematikan: dua saudara kembar pembunuh bayaran asal Thailand yang menguasai seni bela diri Muay Thai dan pertarungan pisau.
Tanpa basa-basi, kedua pembunuh itu menerjang Shantyana secara bersamaan. Tendangan keras membentur tulang rusuk Shantyana, membuatnya terlempar menabrak dinding kaca hingga retak. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, namun alih-alih merintih, Shantyana justru menyapu darah dari bibirnya yang tersayat dan melontarkan tawa yang makin menjadi-jadi.
"Iya! Itu baru namanya pukulan! Lagi! Beri aku rasa sakit yang lebih banyak!" jerit Shantyana dengan mata membelalak gila.
Kegilaan Shantyana merusak mental bertarung kedua pembunuh tersebut. Ketika salah satu dari mereka mencoba menusuk dada Shantyana, Shantyana sengaja membiarkan pisau itu menggores bahunya agar ia bisa mencengkeram pergelangan tangan lawan dengan erat. Dengan sisa tenaga dan teknik kuncian kasar, Shantyana mematahkan lengan pembunuh pertama hingga terdengar bunyi *KLEK* yang mengerikan.
Pembunuh kedua yang panik mencoba menyerang dari belakang, namun Shantyana dengan cepat menarik bom rakitan kecil dari saku mantelnya, mengaktifkannya, dan memasukkannya langsung ke dalam mulut pembunuh pertama yang sedang mengerang, lalu mendorong tubuhnya ke arah pembunuh kedua.
BOOM!
Ledakan jarak dekat itu menumbangkan keduanya seketika. Dinding dan pintu penthouse hancur terpental dari engselnya.
---
Shantyana melangkah melewati puing-puing pintu yang hancur. Di dalam ruangan penthouse bernuansa emas yang mewah, Frans berdiri di balik meja kerjanya. Wajah gembong mafia yang dulunya selalu tampak congkak dan tak tersentuh itu kini pucat pasi. Tangannya yang memegang pistol Revolver emas gemetaran hebat.
"Sh-Shantyana..." bisik Frans dengan suara bergetar. "K-kamu seharusnya sudah mati di selokan tiga bulan lalu..."
Shantyana berjalan pelan, menyeret parangnya di atas lantai marmer, menciptakan suara gesekan besi yang memilukan telinga. Ia merapikan rambut hitam pendeknya yang berantakan, menatap Frans melalui cermin rias mewah di sisi ruangan.
"Mati?" Shantyana memiringkan kepalanya. Tawanya pelan dan dalam. "Oh, Frans sayang... Shantyana yang dulu tomboy, yang percaya pada keadilan dan kebaikan, memang sudah mati malam itu. Kamu yang membunuhnya."
Shantyana menunjuk lukisan senyum merah di wajahnya sendiri dengan jari yang berdarah.
"Tapi sebagai gantinya, kamu melahirkan karya seni ini. Kamu memberiku senyuman abadi, Frans! Dan malam ini, aku datang untuk memastikan kamu juga tersenyum bersamaku."
Frans yang ketakutan setengah mati mengangkat senjatanya dan menembak secara acak.
DOR! DOR! DOR!
Satu peluru menggores pinggang Shantyana, namun Shantyana bahkan tidak berkedip. Ia terus melangkah maju tanpa memperdulikan rasa sakit. Dengan satu gerakan cepat, Shantyana merebut pistol emas Frans, mematahkan jari telunjuk Frans yang berada di pelatuk, lalu menghantamkan kepala Frans ke meja kaca hingga pecah berantakan.
Frans tersungkur di lantai, menangis ketakutan seraya memohon ampun. "Tolong... ambil semua uangku! Ada brankas berisi lima puluh juta dolar di belakang lukisan itu! Ambil semuanya, tapi biarkan aku hidup!"
Shantyana berlutut di samping Frans yang terkapar tak berdaya. Ia mengambil flashdisk berisi dokumen *Project Cerberus* dari atas meja, menyimpannya di saku mantelnya, lalu menatap wajah Frans dari jarak yang sangat dekat.
"Uang?" Shantyana berbisik lembut, mengelus pipi Frans dengan jemarinya yang dingin dan kotor. "Monster tidak butuh uang, Frans. Monster hanya butuh panggung untuk menunjukkan kepada dunia betapa rapuhnya kalian yang merasa berkuasa."
Shantyana menarik pisau belatinya. Dengan gerakan cepat dan dingin, ia mengukir luka sayatan yang sama di kedua sudut bibir Frans—membuat bentuk senyuman abadi yang merembaskan darah segar.
Frans menjerit kesakitan, menahan wajahnya yang kini hancur seperti wajah Shantyana tiga bulan lalu.
"Sekarang, kita kembar," kata Shantyana seraya berdiri dan menyulut sebuah korek api kayu.
Ia melemparkan korek api menyala itu ke tumpukan berkas dan karpet yang telah ia siram dengan bensin dari tangki motornya sebelum masuk tadi. Api dengan cepat menyambar isi penthouse mewah tersebut, membakar segala bukti kekayaan dan kejahatan Frans.
Shantyana tidak membunuh Frans secara langsung. Ia membiarkan pria itu merangkak di antara kobaran api, merasakan ketakutan dan keputusasaan yang sama seperti yang dirasakan korban-korbannya selama ini.
---
Suara sirine polisi raksasa mulai meraung-raung di luar gedung, mendekati lokasi kejadian.
Dari atap gedung pencakar langit tersebut, Shantyana berdiri di tepi pembatas beton. Angin malam yang kencang mengibarkan mantel hijau kotornya. Di belakangnya, api membumbung tinggi menembus langit malam Jakarta, menerangi wajahnya yang putih dengan lukisan senyum merah yang mengerikan.
Misi utamanya telah selesai. Kekaisaran kejahatan Frans hancur total, dokumen rahasia telah ia amankan untuk menyebarkan kekacauan di tingkat elite koruptor kota, dan dendam pribadinya telah terbalaskan dengan tuntas.
Shantyana menatap ke bawah, ke arah ribuan lampu kota yang kelap-kelip. Ia tahu, polisi dan seluruh jaringan dunia bawah tanah kini akan memburunya sebagai penjahat nomor satu. Namun, di balik topeng kegilaan dan wajah Joker-nya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Shantyana merasa benar-benar bebas.
Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke udara malam.
"Kota ini butuh pembersihan..." gumam Shantyana seraya tertawa lepas ke arah kegelapan malam. "Dan pertunjukan baru saja dimulai."
Dengan satu lompatan berani ke arah kabel peluncuran darurat di gedung sebelah, Shantyana menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan kota yang kini bergetar ketakutan atas lahirnya sang legenda baru: The Bleeding Smile.