Dikala sang mentari terbenam, rembulan terbit menampakkan diri, bersamaan dengan jutaan kerlap-kerlip cahaya bintang-bintang.
Segerombolan bintang-bintang itu perlahan bermunculan, menyambut, menemani keberadaan sang rembulan. Dengan cahaya yang di pancarkannya, dan wujudnya yang indah seperti permata diantara bebatuan.
Gelapnya malam yang mencekam, dinginnya suasana pemandangan langit di malam sunyi. Seperti lukisan tanpa warna, yang kini telah di warnai oleh cahaya sang bintang.
Kemudian, salah satu diantara jutaan bintang itu berkata, "mengapa hanya diriku yang paling kecil? dan kenapa aku tidak seterang mereka? bukankah kita semua sama?" katanya, dengan suara lirih.
Di antara jutaan bintang yang bertebaran di langit gelap, yang diberi kehangatan oleh cahaya sang rembulan. Namun kesendirian, kesepian, seakan menghantui dalam jiwa sang bintang itu.
Bintang itu terjebak dalam lingkaran ilusinya sendiri, yang tak pernah berakhir. Dirinya selalu mencoba untuk lari dari bayang-bayang kesepian, namun pada akhirnya, semua sia-sia. Sang bintang terus mencari kebahagiaan, kesenangan, untuk melupakan bayang-bayang itu. Mengejar kefanaan itu, hingga melupakan satu hal penting yang tersimpan dalam jati dirinya.
Sampai suatu hari, ia mulai lelah, tersadarkan. Bahwa pada akhirnya, yang ia kejar bukanlah kebahagiaan, melainkan kehampaan tiada akhir. Dan kekosongan tiada arti yang menyelimuti jati dirinya kini.
Secercah cahaya terang terus ia cari dari jati dirinya sendiri, dengan air mata kepedihan yang terus menitik tanpa henti. Apa sebenarnya yang diinginkan? Kebahagiaan? Pujian? Pengakuan? Atau perhatian? Dirinya sendiri tak tahu, seperti apa dia sebenarnya. Kadang ia berfikir, kita semua ini sama, mengapa nasibnya berbeda?
"Cahayaku kecil seperti manik-manik, wujudku juga tidak seindah permata atau bahkan permadani, apa masih pantas aku mengharap kebahagian? bahkan cinta yang katanya indah?"
Sang bintang terus bicara dalam diam, di kesunyian malam, hatinya selalu menangis tersedu-sedu. Namun jiwanya, tak pernah mengerti, apa yang ditangisi hatinya?
Sang bintang kecil itu, tenggelam dalam ilusi kehampaan, sendirian, kesepian, di tengah ramainya bintang yang bertebaran mengelilinginya.
Sementara bintang lainnya tersenyum dengan kehangatan dan cahaya yang mereka pancarkan, serta mereka dapatkan dari sang rembulan. Kerap kali, Sang bintang kecil itu selalu merasa tersisihkan. Terabaikan, padahal dirinya selalu berusaha dengan kecilnya cahaya yang dimilikinya.
Mungkinkah karena perbedaan yang didapatkan? Bisa saja sang bintang itu kurang bersyukur, atas apa yang ia punya. Atau karena ketidakadilan yang ia terima? Apa pernah sang bintang itu berfikir, bahwa pemikiran dan perlakuannya itu adil di mata sesamanya atau bahkan penciptanya?
Satu wujud dua jiwa, satu lidah berisi ribuan orang yang bisu. Hampa terasa, tersakiti katanya, dan ingatan dalam memori? Hilang dalam sekejap mata. Seperti hembusan angin yang membawa kesejukan itu, bersamaan dengan dirinya.
Kini, hanya secarik kertas dan sebuah pena maya, yang dapat memahami isi hati sang bintang kecil itu. Semua ia tuangkan lewat kata-kata sederhana, yang disusun rapi dengan kata-kata sastra penuh makna. Hati kecilnya masih mengharap akan impiannya yang menjadi kenyataan, bahkan cinta yang tak kunjung datang.
Mencari jalan tanpa ada tujuan, menanti kebahagian tanpa ada impian. Menenangkan hati lewat angan-angan imaji, dan harapan cinta yang datang tanpa henti. Itulah akhirnya, dari sang bintang kecil dengan harapan besar. Meski dalam hatinya masih tersimpan satu buah pertanyaan, yang mengganjal dalam hidupnya.
Jika sang bintang kecil tak mampu berbuat, pantaskah ia disalahkan karena ketidakmampuannya? Atau disalahkan karena cahayanya yang tak seterang bintang lainnya?
Bukankah semua diciptakan sama? Tapi mengapa sang bintang kecil itu berbeda dengan bintang lainnya? Apa karena ia kurang bersyukur? Bukankah ia begitu karena dirinya berbeda dengan bintang lainnya?