Bagian I: Ritus Kesunyian
Suara desis frekuensi statis dari radio VHF tipe Motorola kuno di atas meja kayu itu adalah satu-satunya hal yang membuktikan bahwa Rian belum sepenuhnya tuli.
Di luar kaca jendela setebal lima milimeter, lautan pohon pinus bergelombang dihantam angin pegunungan yang dingin. Dari ketinggian dua puluh lima meter di atas tanah, Menara Pengawas 04 berdiri seperti satu titik pensil yang ditancapkan di tengah hamparan hijau kehitaman Bukit Kelabu.
"Menara 04, masuk. Ini Menara 02. Apakah kau masih bernapas di atas sana, Budak Baru?"
Rian meraup wajahnya yang terasa kaku, lalu meraih mikrofon genggam (*handheld*). Ia menekan tombol PTT (*Push-to-Talk*).
"Menara 04 masuk. Masih hidup, Aris. Hanya hampir mati bosan," jawab Rian. Suaranya serak, khas seseorang yang tidak menggunakannya selama delapan belas jam terakhir.
Kekeh tawa pecah di balik derik radio. "Bosan adalah tanda bahwa tugasmu berjalan sempurna, Rian. Kalau kau mulai merasa seru, artinya ada kebakaran hutan atau beruang memanjat tanggamu. Percayalah, kau tidak menginginkan keduanya."
Rian tersenyum tipis. Ia berdiri dari kursi putarnya yang berdecit, berjalan mendekati jendela besar yang mengarah ke timur laut. Di seberang lembah yang dipisahkan oleh jurang curam, ia bisa melihat samar-samar siluet Menara 02—sebuah rangka besi serupa yang tampak kerdil ditelan kabut sore.
"Bagaimana jarak pandang di tempatmu?" tanya Rian sambil mencatat waktu di *logbook* harian—pukul 17.15 WIB.
"Makin memburuk. Kabut turun dari puncak sejak setengah jam lalu," balas Aris. "Dan kalau ramalan cuaca dari stasiun pusat tidak bohong, kita akan kedatangan tamu agung esok malam. Badai besar dari utara."
"Berapa skala tekanannya?"
"Cukup besar untuk membuat menara kayumu berderit seperti kapal karam," kata Aris terkekeh. "Sudah memeriksa persediaan kayu bakar dan baterai cadanganmu?"
"Sudah siang tadi. Semuanya lengkap."
"Bagus. Jangan sampai kau membeku di minggu pertamamu bertugas. Saya tidak mau repot-repot menggali kuburanmu kalau musim semi tiba."
Rian terkekeh kecil. Interaksi radio dengan Aris selama enam hari terakhir adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak gila dalam kesendirian ini. Aris—pria yang mengaku sudah mengabdi di Bukit Kelabu selama dua tahun—selalu punya cerita untuk mengisi keheningan malam.
Namun, saat Rian hendak mematikan pemancar untuk menyeduh kopi, Aris kembali bersuara.
"Oh ya, Rian. Satu hal lagi."
"Ya?"
"Apakah kau sudah menemukan kotak perkakas milik Hendra di kolong ranjang?"
Rian mengerutkan kening. "Hendra? Penjaga sebelum aku?"
"Ya. Dia meninggalkan beberapa kunci pas di sana. Kalau angin badai mulai mengguncang menara, kau mungkin perlu mengencangkan baut jendela timur. Baut itu suka longgar."
"Oke, nanti aku periksa," jawab Rian.
"Selamat malam, Menara 04. Tetap hangat."
"Selamat malam, Menara 02."
---
### Bagian II: Catatan di Bawah Lantai
Keheningan langsung menyergap kabin berukuran empat kali empat meter itu setelah radio terputus. Rian berlutut di samping tempat tidur lipat besi di sudut ruangan. Di bawahnya terdapat beberapa dus makanan kaleng dan sebuah kotak kayu perkakas. Namun, ketika Rian menggeser kotak kayu tersebut, jemarinya menyenggol sesuatu yang berbeda pada papan lantai kayu.
Salah satu papan lantai di kolong tempat tidur itu tidak terpaku dengan sempurna. Papan itu agak terangkat, menyisakan celah sempit yang tertutup debu tebal. Dengan penasaran, Rian menyelipkan jarinya dan mengungkit papan tersebut.
Di dalam rongga gelap di bawah lantai menara, terdapat sebuah buku catatan berkuarto hitam dengan pinggiran kertas yang sudah menguning. Pada sampul depannya, tertulis sebuah nama dengan tinta hitam yang mulai pudar:
*LOGBOOK RAHASIA — HENDRA (MENARA 04)*
Rian membuka lembaran pertama. Halaman-halaman awal hanya berisi catatan cuaca biasa dan kebosanan rutin. Namun, semakin ke belakang, tulisan tangan Hendra berubah menjadi terburu-buru dan tidak beraturan.
> 14 Oktober
> Pria di Menara 02 itu... dia bukan Aris. Aku menghubungi stasiun pusat lewat jaringan telepon satelit darurat. Mereka bilang Aris sudah mengundurkan diri dan pulang ke kota sejak tiga bulan lalu karena sakit keras. Lalu siapa yang selama ini bicara denganku lewat radio dari Menara 02?
> 18 Oktober
> Dia tahu aku menyadarinya. Setiap malam dia menanyaiku pertanyaan yang sama lewat radio: 'Apakah kau melihat seseorang memanjat tanggamu?' Malam ini, lampu Menara 02 mati total. Tapi aku bisa mendengar suara besi berdetak dari arah tangga menaraku sendiri...
Napas Rian tertahan. Ia membalik halaman berikutnya, tetapi halaman itu telah dirobek secara paksa. Hanya tersisa bercak cokelat kehitaman yang mengering di sudut kertas—bercak yang sangat mirip dengan darah tua.
---
Bagian III: Badai dan Suara Asing
BUM!
Angin badai menghantam dinding luar Menara 04 dengan kekuatan penuh. Lampu gantung di langit-langit kabin berkedip-kedip keras sebelum akhirnya mati total. Kegelapan pekat langsung menyelimuti ruangan, diselingi raungan angin yang membentak kaca jendela.
Rian dengan cepat meraba-raba meja dan menyalakan lampu petromak darurat. Cahaya kuning remang-remang mulai menerangi kabin. Tiba-tiba, pemancar radio berdetak kencang, memecah kesunyian dengan suara *white noise* yang memekakkan telinga.
"Rian... masuk... Rian..."
Suara dari radio itu penuh dengan derik statis. Namun, itu bukan suara Aris yang ramah dan bernada santai. Suara ini terdengar parau, terengah-engah, dan dipenuhi kepanikan yang nyata.
Rian menyambar mikrofon. "Ini Menara 04! Siapa ini?"
"Ini... ini Aris," kata suara parau di radio. "Dengarkan aku baik-baik, Rian. Aku baru saja berhasil menyalakan pemancar cadangan dari stasiun bawah lembah. Jangan... aku ulangi, **jangan percaya pada siapapun yang menghubungimu dari Menara 02!**"
Jantung Rian berdegup kencang. "Apa maksudmu? Aku sudah bicara denganmu selama seminggu!"
"Itu bukan aku!" teriak suara itu di tengah gemuruh angin. "Seseorang telah mengambil alih Menara 02 sejak sebulan lalu! Dia kabur dari fasilitas penjara perbatasan dan bersembunyi di hutan ini. Dia membunuh Hendra saat Hendra mencoba melapor—"
Kalimat itu terputus oleh suara dentuman keras dari speaker radio, disusul suara gesekan logam yang ngilu, lalu hening.
Tepat pada saat itu, dari arah bawah lantai kayu tempat Rian berdiri, terdengar suara berdentang yang familiar.
*TANG... TANG... TANG...*
Seseorang sedang menaiki tangga besi Menara 04 di tengah badai yang mengamuk.
---
Bagian IV: Langkah di Tangga Besi
Rian mematikan lampu petromak. Kabin kembali tenggelam dalam kegelapan malam yang dingin. Dengan tangan gemetar, ia meraih sebuah *flare gun* (pistol suar) darurat dan pisau lipat dari kotak pertolongan pertama di atas meja.
Pintu kabin dibuat dari kayu tebal dengan engsel besi tua. Dari balik pintu, bunyi langkah sepatu boot tebal makin jelas. Langkah itu berhenti tepat di luar ambang pintu.
Gagang pintu perlahan-lahan bergerak turun.
"Rian? Kau di dalam?"
Suara itu terdengar sangat dekat—hanya terhalang selembar papan kayu. Itu adalah suara Aris yang ramah, suara yang sama yang menemaninya ngobrol setiap sore selama enam hari terakhir.
"Aku membawakan baterai cadangan dan minyak tanah untukmu. Angin di luar gila sekali. Buka pintunya, Rian."
Rian berdiri mematung di tengah ruangan, memegang pistol suar dengan kedua tangannya yang mengarah lurus ke pintu. "Siapa kau sebenarnya?" suara Rian bergetar.
Hening sejenak di luar pintu. Gemuruh angin badai seolah berhenti mengudara selama beberapa detik.
Lalu, tawa pelan terdengar dari balik pintu. Tawa yang dingin dan tanpa rasa humor.
"Ah... jadi kau sudah menemukan buku catatan si bodoh Hendra itu, ya?" kata suara di balik pintu. Ramah-tamah dalam suaranya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh nada dingin yang datar. "Padahal aku berharap kita bisa berteman lebih lama, Rian. Sangat kesepian di pegunungan ini."
*Brak!*
Pintu menara dihantam dari luar. Engsel besinya berderit keras.
---
### Bagian V: Konfrontasi dan Fajar
"Dia menolak menyerahkan kunci mobil jipnya," teriak pria di balik pintu sambil menghantamkan bahunya ke kayu. "Hendra pikir dia bisa menjadi pahlawan. Tapi kau, Rian... kau bisa memilih untuk tetap hidup. Cukup serahkan radio satelit dan kunci jip dinasmu!"
Pintu kayu itu mulai retak. Pada pukulan ketiga, kayu di dekat selot pintu hancur. Sebuah tangan berdarah menerobos masuk, berusaha membuka kait dari dalam.
Tanpa berpikir panjang, Rian mengarahkan pistol suar tepat ke celah pintu yang hancur dan menarik pelatuknya.
*DUM!*
Bola api merah membara meledak menembus pintu, menyambar pakaian dan dada pria di luar. Jeritan melengking pecah di tengah gemuruh badai. Sosok itu mundur beberapa langkah, hilang keseimbangan akibat efek kejutan dan dorongan api suar, lalu jatuh melayang melewati pagar pembatas tangga menara yang licin oleh es.
Suara dentuman berat terdengar dari bawah tanah dua puluh lima meter di bawah sana. Setelah itu, hanya ada suara angin badai yang melolong.
---
Rian terduduk lemas di lantai kayu kabinnya yang berantakan, menggenggam dadanya yang naik-turun tak beraturan. Napasnya membentuk kabut tipis di udara malam yang membeku.
Beberapa jam kemudian, badai perlahan menyurut. Cahaya keemasan fajar mulai menyusup melewati sela-sela jendela Menara 04 yang retak.
Rian berjalan perlahan menuju jendela timur. Di balik kabut pagi yang makin tipis, ia menatap Menara 02 yang kini berdiri bisu dan kosong di seberang lembah. Di meja kayu di belakangnya, radio pemancar tua itu mendesis pelan, memancarkan sinyal radio dari tim SAR pusat yang akhirnya berhasil menembus frekuensi:
*"Menara 04, masuk... Ini Tim Evakuasi Pusat. Apakah ada yang selamat di atas sana?"*
Rian memejamkan mata, menghela napas panjang, lalu meraih mikrofon.
-----
Bagian VI: Jejak di Bawah Menara
Suara helikopter evakuasi sayup-sayup terdengar dari arah selatan, memecah keheningan pagi setelah badai berhari-hari runtuh. Rian menggenggam erat mikrofon radio, memastikan koordinat lokasi telah tersampaikan dengan jelas kepada tim penolong sebelum akhirnya mematikan sakelar daya utama.
Kabin Menara 04 kini porak-poranda. Pintu kayu bagian depan hancur berantakan, menyisakan jejak hangus akibat ledakan suar darurat. Bau hangus bercampur aroma minyak tanah mengendap kental di udara dingin yang menerobos masuk tanpa hambatan.
Rian melangkah perlahan menuju ambang pintu yang rusak. Langkah kakinya terasa berat, setiap sendinya kaku akibat hawa dingin dan kelelahan psikologis yang luar biasa. Ia berpegangan pada tiang besi pembatas tangga luar, menatap ke bawah menuju dasar menara.
Di atas tumpukan salju dan dedaunan pinus yang membusuk dua puluh lima meter di bawah sana, terlihat sebuah bayangan gelap tak bergerak. Rian menuruni anak tangga besi satu per satu. Suara sepatu boot-nya bergema melintasi struktur menara yang masih bergetar sisa dihantam angin semalam.
Ketika kakinya menyentuh tanah padat, Rian berjalan mendekati sosok yang terbaring kaku di bawah. Pria itu mengenakan jaket tebal yang terbakar di bagian dada, wajahnya tertutup sebagian oleh tumpukan es. Di dekat jemarinya yang membeku, tergeletak sebuah kunci pemutar otomatis dan pisau lipat berkarat.
Rian berlutut, tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Di saku dalam jaket pria tersebut, terdapat sebuah dompet kulit lusuh. Rian membukanya dan menemukan kartu identitas yang sudah pudar. Foto di kartu itu menunjukkan wajah seorang pria asing bernama Burhan, dengan tanda khusus penanda buronan dari Kepolisian Daerah setempat.
Aris yang asli telah lama pergi, Hendra telah menjadi korban, dan pria asing ini telah memanfaatkan kesunyian hutan untuk bersembunyi sambil memainkan peran sebagai penjaga tetangga. Kesadaran itu membuat tenggorokan Rian terasa kering.
Suara baling-baling helikopter kini terdengar semakin dekat, memutar udara dingin di atas puncak pohon pinus. Angin kencang yang dihasilkan helikopter menerbangkan tumpukan salju di sekitar Rian.
Dua orang petugas SAR turun menggunakan tali baja, mendarat tak jauh dari lokasi Rian berdiri. Mereka segera berlari mendekati Rian, membawa selimut pemanas dan perlengkapan medis darurat.
Salah seorang petugas memeriksa nadi pria di tanah, lalu menggelengkan kepala kepada rekannya sebelum menatap Rian. Petugas itu menepuk bahu Rian dan membantunya berdiri.
Rian menoleh sebentar ke arah puncak Menara 04. Struktur kayu dan besi itu berdiri kokoh menembus kabut tipis pagi, menyimpan rahasia tentang malam paling menegangkan dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rian tidak lagi merasakan bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya. Ketakutan itu telah berganti dengan rasa syukur yang mendalam karena masih diberi kesempatan untuk melihat matahari terbit.
Sambil berjalan menuju helikopter yang siap lepas landas, Rian tahu ia tidak akan pernah kembali ke tempat ini. Namun, ia telah menemukan kembali keinginan untuk terus bertahan hidup.
---
Bagian VII: Interogasi di Markas Pos Utama
Dua jam setelah helikopter evakuasi meninggalkan puncak Bukit Kelabu, Rian mendapati dirinya duduk di sebuah ruangan berdinding papan triplek di Pos Utama Kehutanan Wilayah Tiga. Ruangan itu berbau kopi murah, asap rokok mati, dan kertas-kertas arsip tua yang lembap. Sebuah pemanas listrik kecil meraung pelan di sudut ruangan, mencoba mengusir hawa dingin yang dibawa masuk dari luar.
Di seberang meja kayu penuh noda tinta, duduk seorang pria paruh baya bernama Inspektur Danu. Pria itu mengenakan jaket dinas kepolisian yang kusam dan memiliki garis-garis kerutan mendalam di sekitar matanya. Ia mengamati Rian tanpa suara selama beberapa menit, hanya mendengarkan dentingan sendok Rian yang membentur cangkir seng berisi teh hangat.
Inspektur Danu membuka sebuah map cokelat tebal yang terhampar di meja. Di dalamnya terdapat salinan lembar pendaftaran Rian sebagai penjaga menara, lembar catatan cuaca, serta beberapa foto berukuran besar yang diambil oleh tim forensik di lokasi kejadian Sejam yang lalu.
Kau bilang pria yang jatuh dari tangga Menara Nol Empat itu mengaku bernama Aris, kata Inspektur Danu memulai percakapan. Suaranya serak dan berat, menandakan ia kurang tidur selama badai berlangsung.
Rian mengangguk pelan. Ia memegang cangkir sengnya dengan kedua tangan untuk menyalurkan sisa-sisa hangat ke jarinya yang masih agak kaku. Ya. Selama seminggu pertama bertugas, dia menghubungi saya setiap sore pukul lima. Suaranya sangat tenang, ramah, dan dia tahu banyak hal tentang prosedur keselamatan di menara pengawas. Tidak ada hal aneh dari cara bicaranya.
Danu mengembus napas panjang, mencondongkan tubuhnya ke depan. Tapi kau tidak pernah melihat wajahnya secara langsung sampai malam badai itu terjadi, bukan?
Tidak pernah, jawab Rian tegas. Menara Nol Dua berjarak belasan kilometer dari tempat saya. Dipisahkan jurang dan hutan lebat. Di musim seperti ini, tidak ada penjaga yang akan berjalan kaki menyeberangi lembah hanya untuk bertatap muka. Komunikasi radio adalah satu-satunya jembatan kami.
Inspektur Danu mengetuk-ngetukkan jarinya ke foto wajah Burhan—pria yang tewas di dasar menara. Berdasarkan pencocokan sidik jari cepat yang dilakukan tim kami, nama aslinya adalah Burhan Surya. Dia buronan kasus perampokan bersenjata dan pembunuhan di wilayah selatan sejak enam bulan lalu. Kami kehilangan jejaknya saat dia melarikan diri ke kawasan hutan lindung ini.
Rian mendengarkan dengan seksama. Bayangan suara ramah di radio yang biasa menemaninya setiap sore kini berubah menjadi sosok pembunuh berdarah dingin di dalam kepalanya.
Yang membuat kami bingung, lanjut Inspektur Danu sambil membalik halaman dokumen, bagaimana Burhan bisa tahu cara mengoperasikan radio pemancar frekuensi khusus kehutanan? Dan bagaimana dia bisa tahu detail tugas harian seorang petugas menara?
Rian meletakkan cangkirnya ke meja. Suara dencingan logam itu terdengar nyaring di ruangan yang sunyi. Karena dia membunuh Hendra.
Ruangan itu hening seketika. Inspektur Danu menatap Rian lurus-lurus, mengisyaratkan agar Rian melanjutkan keterangannya.
Saya menemukan buku catatan harian milik Hendra di bawah papan lantai kabin, kata Rian. Hendra sudah curiga sejak pertengahan bulan lalu. Aris yang asli kemungkinan besar sudah meninggalkan posnya atau diserang oleh Burhan di Menara Nol Dua sebelum Hendra menyadarinya. Burhan mengambil alih pemancar, memakai identitas Aris, dan mengawasi Hendra dari seberang lembah.
Apakah kau membawa buku catatan itu? tanya Danu.
Buku itu tertinggal di atas meja kabin saat ledakan suar terjadi. Papan pintunya rusak. Saya tidak sempat menyelamatkannya saat tim SAR menarik saya naik ke helikopter, jawab Rian.
Inspektur Danu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang berdecit. Ia meraih rokok dari sakunya, menyalakannya dengan pemantik gesek, lalu menghembuskan asap ke udara. Kami telah mengirim tim darat kedua menuju Menara Nol Dua dan Menara Nol Empat untuk mengamankan lokasi penemuan barang bukti. Jika catatan Hendra itu benar-benar ada, kasus hilangnya dua petugas kehutanan tahun ini akhirnya menemui titik terang.
---
Bagian VIII: Kenangan di Menara Tua
Sementara menunggu prosedur pemeriksaan administratif selesai, Rian diizinkan beristirahat di kamar tamu Pos Utama. Ruangan itu kecil, hanya berisi satu kasur busa tipis dan satu jendela yang menghadap langsung ke arah jajaran Pegunungan Kelabu di kejauhan.
Dari balik kaca jendela yang buram oleh uap air, Rian menatap puncak-puncak gunung yang kini putih tertutup salju tipis. Di salah satu puncak itulah Menara Nol Empat berdiri.
Pikirannya melayang kembali ke masa lalu, ke alasan utama mengapa ia memilih mengasingkan diri ke tempat terpencil ini. Dua tahun lalu, Rian adalah seorang komandan tim pencari dan penyelamat di daerah perkotaan. Dalam sebuah insiden tanah longsor besar di lereng permukiman, ia membuat keputusan cepat untuk menarik mundur timnya karena ancaman longsor susulan. Decision itu memang menyelamatkan lima anggotanya, namun meninggalkan satu rekannya yang terjebak di dalam runtuhan bangunan.
Selama dua tahun, rasa bersalah itu menggerogoti jiwanya. Suara jeritan di dalam puing-puing selalu terngiang setiap kali ia mencoba tidur di tengah keramaian kota. Pekerjaan sebagai penjaga menara pengawas hutan yang sunyi adalah caranya untuk menghukum diri sendiri, melarikan diri dari keramaian manusia yang hanya mengingatkannya pada kegagalan tersebut.
Namun, kejadian semalam di Menara Nol Empat mengubah sudut pandangnya. Di tengah kegelapan, di dalam kabin kayu sempit yang diguncang badai, Rian tidak lagi melarikan diri. Ia terpaksa bertarung demi mempertahankan hidupnya sendiri. Saat ia menembakkan pistol suar ke arah pintu yang hancur, ia tidak sedang bertindak atas dasar ketakutan semata, melainkan keinginan yang sangat kuat untuk melihat esok hari.
Pintu kamar tamu diketuk pelan. Seorang petugas muda masuk sambil membawa nampan berisi sup hangat dan sepotong roti tebal.
Permisi, Pak Rian. Ini ada makanan dari dapur pos, kata petugas muda itu ramah.
Terima kasih, balas Rian sambil tersenyum tipis.
Petugas itu berdiri sejenak di dekat pintu, seperti ragu-ragu hendak mengatakan sesuatu. Pak Rian... orang-orang di pos sedang membicarakan kejadian semalam. Mereka bilang sangat ajaib Anda bisa bertahan di Menara Nol Empat saat badai kategori empat menghantam puncak. Menara itu sudah tua, banyak struktur kayunya yang peluk.
Rian menatap sup panas yang mengepul di meja. Menara itu memang tua dan berderit, tapi strukturnya memegang janji. Kalau kita tahu bagian mana yang harus dipegang erat, kita bisa bertahan dari badai apa pun.
Petugas muda itu tersenyum mengangguk, lalu mengundurkan diri dan menutup pintu pelan-pelan.
---
Bagian IX: Penemuan di Lembah Terlarang
Tiga hari kemudian, cuaca di Pegunungan Kelabu akhirnya benar-benar cerah. Angin kencang telah surut, menyisakan langit biru bersih dan udara segar yang menusuk hidung. Inspektur Danu kembali menemui Rian di pos utama dengan membawa berkas baru yang lebih tebal.
Tim darat kami telah kembali dari penyisiran di Menara Nol Dua dan lembah di bawahnya, ujar Danu sambil duduk di seberang Rian.
Rian memperbaiki posisi duduknya. Apa yang kalian temukan di sana?
Danu menarik satu napas panjang sebelum menjelaskan. Perkiraanmu tepat. Di Menara Nol Dua, kami menemukan jejak bahwa tempat itu telah dijadikan markas persembunyian Burhan selama hampir dua bulan. Dia memanfaatkan perbekalan makanan darurat yang tersimpan di gudang menara. Dan yang lebih menyedihkan... kami menemukan jenazah Aris yang asli di sebuah gua kecil tak jauh dari dasar Menara Nol Dua.
Rian memejamkan mata sejenak, memberikan penghormatan bisu bagi pria yang belum pernah ia temui namun suaranya sempat ia dengar dalam rekaman darurat terakhir.
Bagaimana dengan Hendra? tanya Rian kemudian.
Di dasar jurang antara Menara Nol Dua dan Menara Nol Empat, tim kami menemukan bangkai jip dinas yang tertimbun longsoran salju tua. Di dalam kendaraan itu ada jenazah Hendra. Tampaknya Hendra berusaha melarikan diri menggunakan jip untuk melapor ke pos utama setelah tahu identitas Burhan, namun Burhan mengejarnya dan menyebabkannya jatuh ke dalam jurang.
Danu kemudian meletakkan sebuah buku berkuarto hitam yang sudut-sudutnya agak hangus di atas meja. Buku itu ditempatkan di dalam kantong plastik transparan khusus barang bukti.
Ini buku catatan Hendra yang kau sebutkan. Tim kami menemukannya di lantai kabin Menara Nol Empat, persis di dekat bekas ledakan suar. Halaman-halaman terakhirnya mengonfirmasi seluruh cerita yang kau sampaikan. Tulisan tangan Hendra menjadi bukti kunci yang mengikat seluruh rangkaian kejahatan Burhan di kawasan hutan ini.
Rian menatap buku hitam di dalam kantong plastik itu. Buku yang awalnya menjadi sumber ketakutannya di tengah malam badai kini telah menjadi saksi bisu yang mengembalikan kebenaran bagi orang-orang yang telah hilang.
Kau adalah saksi utama dan satu-satunya penyintas dari peristiwa ini, Rian, kata Inspektur Danu. Pihak dinas kehutanan dan kepolisian telah menutup investigasi lapangan. Kau bebas untuk kembali ke kota kapan saja kau siap.
---
Bagian X: Langkah Pertama di Tanah Datar
Pagi berikutnya, sebuah mobil jip dinas kehutanan siap mengantar Rian menuju stasiun kereta api terdekat di kota kecamatan. Rian berdiri di halaman pos utama, membawa satu tas ransel kain berisi barang-barang pribadinya yang berhasil diselamatkan dari menara.
Kepala Pos Kehutanan, seorang pria tua bertubuh tegap bernama Pak Gunawan, berjalan mendekati Rian untuk melepaskannya.
Rian, kata Pak Gunawan sambil menjabat tangan Rian dengan hangat, atas nama seluruh jajaran dinas kehutanan, saya minta maaf atas ketidaknyamanan dan bahaya luar biasa yang harus kau hadapi di minggu pertama bertugas. Kami tidak pernah membayangkan ada buronan yang bersembunyi di pos terpencil kami.
Ini bukan kesalahan siapa-siapa, Pak, jawab Rian. Burhan hanya memanfaatkan celah isolasi yang ada di hutan ini.
Pak Gunawan mengangguk pelan. Jika kau masih berminat bekerja di dinas kehutanan, kami bisa menempatkanmu di pos staf administrasi di kota. Kau tidak perlu kembali ke menara pengawas lagi.
Rian menatap ke arah jalan berbatu yang membentang keluar dari area pos kehutanan, menuju lembah hijau yang terhubung dengan dunia luar.
Terima kasih atas tawaran Bapak, kata Rian pelan namun mantap. Tapi saya rasa saya sudah cukup menyendiri. Saya ingin kembali ke kota, mencari pekerjaan yang membuat saya berada di antara banyak orang lagi.
Pak Gunawan tersenyum paham. Ia menepuk bahu Rian dua kali. Semoga beruntung, Rian. Kau telah membuktikan dirimu tangguh di tempat yang paling sunyi.
Rian naik ke kursi penumpang depan jip dinas. Pengemudi menyalakan mesin, dan kendaraan roda empat itu mulai bergerak perlahan melintasi jalan berkerikil. Dari kaca spion samping, Rian melihat siluet Pegunungan Kelabu semakin menjauh dan mengecil di garis cakrawala.
Menara Nol Empat telah menjadi babak kelam dalam hidupnya, namun di saat yang sama, menara itu menjadi tempat di mana Rian menemukan kembali keberaniannya untuk menghadapi masa depan. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas bebas, dan membiarkan angin pagi berhembus masuk lewat jendela mobil yang terbuka setengah.