Aku termasuk orang yang nggak percaya adanya hantu, apalagi arwah gentayangan. Menurutku kalau orang mati ya mati aja, nggak ada yang namanya gentayangan. Itu sih menurutku, jika tidak menurutku ya itu masalahmu bukan masalahku.
Namaku Garra. Malam ini aku sedang berkutat dengan laptopku, karena enggak ada kerjaan ya aku iseng-iseng cari artikel mengenai hal-hal mistis. Masa iya sih ada permainan yang bisa memanggil hantu? Misalnya, Jailangkung. Hanya dengan sebuah mantra sederhana lalu ajaibnya makhluk halus hadir. O ya?
Apakah barang-barang sederhana bisa dijadikan sarana untuk memainkan permainan tersebut? Entahlah. Lalu, aku pun mencobanya. Ini sih hal konyol yang kali pertamanya aku lakukan. Silakan jika ingin tertawa.
Sebuah kertas berukuran A4 aku letakkan dilantai. Kemudian aku mengambil tongkat bisbol dan berjalan setengah berlari menuju kamar mandi untuk mengambil ---gayung! Lalu aku kembali ke kamar, dan mengikat tongkat bisbol dan gayung dengan tali sepatu yakni gayung sebagai kepalanya sedang tongkat bisbol sebagai badannya. Lantas spidol hitam ku simpan di atas kertas. Ritual konyol pun mulai kulakukan.
Aku duduk bersila sambil memegang tongkat bisbol dalam posisi berdiri diletakkan di atas kertas putih. Aku menghela tarikan napas dan memejamkan mata.
"Jailangkung, jailangkung. Disini ada pesta kecil-kecilan. Datang tak dijemput, pulang tak diantar."
Mantra itu kubacakan sebanyak tiga kali. Selang beberapa lama akupun membuka mata, dan ... tidak terjadi apa-apa. Lagi! Aku mengulangnya. Kupejamkan mata dan membaca mantra sebanyak tiga kali, tapi hasilnya nihil. Aku menghela napas. Mungkin benar dugaanku, ini semua hanya omong kosong.
Masih jam 8 malam dan perut ini sudah meminta untuk diisi. Aku mengambil jaket dan memakainya, lalu pergi keluar rumah menuju ujung komplek untuk membeli sate. Udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin sisa dari hujan sore tadi.
Kulihat di depan ada seseorang yang sedang berjalan, nampaknya dia wanita. Langkahku sedikit lebih cepat sehingga dapat mendahului wanita itu. Sekilas kulihat dia terus menunduk dan jalannya pun sangat lamban, apalagi kuperhatikan wajahnya sangat pucat. Tapi, aku terus berjalan ke ujung komplek. Perut ini benar-benar tidak bisa kompromi.
Usai membeli sate, aku pulang dan tiba-tiba wanita itu menepuk pundakku.
"Iya, Mbak. Ada apa ya?"
Lalu, wanita itu menunjukkan sebuah dompet. Aku berkerut dan memeriksa saku belakang. Benar saja dompetku tidak ada.
"Tadi dompetnya jatuh," ucap wanita itu terdengar parau.
"O, makasih Mbak. Mbak ini darimana ya? Soalnya saya belum pernah liat mbak di sini."
"Saya sudah lama berada disini, mungkin mas yang nggak pernah lihat saya."
Aku hanya mangut-mangut saja. "Iya kali, ya. Kalau gitu mbak mau ke mana sekarang? Sebagai tanda terimakasih aku antar mbak."
"Saya mau pulang."
"Ya udah, mari saya antar."
Wanita itu berjalan lebih dulu, lantas aku mengikutinya. Karena jalan mulai gelap karena tidak ada penerangan, aku pun menyalakan lampu sentet dari ponselku. Aku berkerut saat wanita itu berjalan menuju tanah lapang dan berhenti.
"Kenapa berhenti, Mbak?" tanyaku penasaran.
"Rumah saya disini, Mas. Sekarang sudah kosong karena kena gusur. Terimakasih sudah mengantar saya."
Seketika itu si wanita pelan-pelan membayang kemudian ... menghilang. Aku menelan saliva, degup jantungku mulai tidak seirama. Nampaknya ada yang tidak benar.
SELESAI