Cermin di kamarku memang terlihat seperti cermin biasa, tapi siapa sangka jika cermin itu mampu memperlihatkan hal yang tak bisa dilihat oleh manusia biasa sepertiku.
Aku mendapatkan cermin itu dari temanku yang tinggal di rumah tua di dekat rumahku. Menurut cerita ibu, pemilik rumah tua itu adalah penyembah jin yang membuat anggota keluarganya mati mengenaskan satu per satu.
Dea adalah temanku yang tinggal di rumah tua itu bersama ibunya. Sebelum hal-hal aneh terjadi, Dea tinggal bersama kedua orangtuanya, kakek, nenek, paman, bibi dan dua kakak sepupunya.
Namun satu per satu dari mereka di temukan tewas mengenaskan dengan berbagai macam sebab, ada yang tertabrak mobil, jatuh ke jurang, bunuh diri dengan cara menggantung diri dan yang paling mengenaskan adalah ayahnya, Pak Tedi yang meninggal karena jatuh dari atap rumah. Entah bagaimana kejadiannya, peristiwa itu membuat kepala Pak Tedi hampir putus dan sudah pasti meninggal seketika.
Anehnya lagi, kematian dari semua anggota keluarga itu hanya berjarak satu bulan dari pertama kali kematian yang tak wajar itu terjadi.
Sebelum memutuskan untuk pindah, Dea memberiku sebuah cermin.
"Jika kau merindukanku, lihatlah cermin ini maka dia akan membawamu padaku," ucap Dea yang sama sekali tak ku pahami.
Aku hanya mengangguk dan menerima cermin itu.
Akupun memasangnya di kamarku. Entah kenapa seperti ada yang memperhatikanku setiap aku bercermin menggunakan cermin itu. Seperti ada dunia lain yang berada di dalamnya.
Malam itu, seperti biasa, aku menyisir rambutku di depan cermin.
"Andai saat ini kau ada di sini, kita pasti bisa bermain bersama, aku merindukanmu Dea," ucapku sambil menyisir rambut dan memperhatikan pantulan wajahku di cermin itu.
Tiba-tiba pantulan cermin itu berubah, memperlihatkan sebuah lorong gelap yang panjang. Aku bergidik ngeri dan segera menjauh dari cermin itu. Namun samar-samar seperti ada yang seseorang yang berjalan dari ujung lorong itu.
Antara penasaran dan takut, akupun memperhatikannya. Seorang gadis dengan gaun putih yang lusuh, rambut panjang yang seperti sudah lama tidak di sisir mendongakkan kepalanya memperlihatkan wajahnya yang yang sudah rusak.
Entah apa yang terjadi dengannya, darah segar tak berhenti mengalir dari mulutnya yang terlihat robek hingga ke pipi, satu matanya yang sudah berlubang tanpa bola mata itu juga mengeluarkan darah yang begitu amis membuatku sangat mual.
Ingin aku berteriak saat itu, tapi mulut dan badanku terasa kaku tak dapat bergerak sedikitpun sedangkan gadis itu semakin dekat dengan tempatku berdiri.
Tiba-tiba sebuah belaian lembut menyentuh pundakku dan aku membuka mata.
"Tias, ayo ikut ibu ke makam!" ucap ibuku yang entah sejak kapan berada di kamarku.
"Ke makam siapa Bu?"
"Ini kan sudah 7 hari meninggalnya Dea dan ibunya, masak kamu lupa!"
Meninggal? 7 hari?
Aku tak mengerti apa maksud ibu, bukankah baru kemarin Dea berpamitan untuk pindah dari rumah tua itu. Bahkan dia memberiku sebuah cermin yang saat ini masih menggantung di kamarku.
Dan gadis yang ku lihat di mimpi, siapakah dia? Kenapa wajahnya terlihat begitu buruk. Aku kembali bergidik ngeri membayangkan wajahnya yang telah rusak itu ditambah lagi bau amis dari darah segar yang keluar dari wajahnya membuatku kembali mual.
Setelah mandi dan berganti baju, akupun mengikuti ibu dan ayahku ke makam walaupun aku masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sepulang dari makam, ibu dan ayahku menemui laki-laki tua yang sepertinya sengaja menunggu kami di depan makam.
"Mereka sudah habis sampai anak cucunya, sekarang siapa lagi yang akan menjadi target kalian?" tanya lelaki tua itu pada ayah dan ibuku.
"Nanti akan kami kabari setelah kami selesai mengurus surat tanah rumah tua itu," jawab ayahku.