Kalo kalian suka, bisa baca novel nya ya
Di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan usia dan semprotan air laut, terpajang selembar foto tua yang kian memudar warnanya. Di dalamnya, terlihat sosok anak laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri tegak di samping seorang pria bertubuh gagah, berjaket kulit lusuh, dengan sebilah pedang terselip di pinggang dan senyum yang penuh kebanggaan mengukir di wajahnya. Pria itu adalah ayahnya. Bajak laut yang namanya dulu pernah membuat para penguasa laut merinding, namun kini telah tiada, meninggalkan anak tunggal dan cerita yang tak kunjung usang.
Izumi berdiri mematung di hadapan foto itu, jemarinya yang kasar perlahan menyentuh permukaan kaca yang menutupi wajah ayahnya. Cahaya remang dari lilin yang hampir habis menari-nari di matanya, memantulkan kilauan yang tak bisa dibedakan antara pantulan api atau sisa air mata yang tertahan sejak lama.
"Ayah..." suaranya terdengar rendah, bergetar pelan di ruangan kecil yang berbau garam dan kesepian itu. "Kau tahu... dunia di luar sana ternyata tidak seindah ceritamu dulu, ya?"
Ia menarik napas panjang, lalu menghela-nya perlahan, seolah mencoba mengusir beban yang terus menekan dadanya sejak sembilan tahun silam. Saat itu, di usia sepuluh tahun, ia berdiri di samping ayahnya dan berseru dengan suara lantang penuh keyakinan: "Aku ingin menjadi seperti ayahku! Seorang bajak laut yang sangat hebat!" Kala itu, matanya bersinar terang, seolah lautan luas hanyalah halaman rumahnya sendiri, dan cakrawala hanyalah batas tempat ia bermain. Ia melihat sosok ayahnya begitu perkasa, begitu berwibawa, seolah tak ada satu pun gelombang yang berani membungkukkan punggungnya.
Namun waktu terus berjalan. Cahaya perlahan memudar, dan kenyataan yang kelam mulai menyapa satu per satu.
Sembilan tahun berlalu. Ayahnya telah pergi ke lautan yang tak akan pernah kembali. Izumi tumbuh menjadi pemuda yang hampir menginjak usia dua puluh lima tahun, hidup sebatang kara di gubuk sederhana di tepi desa nelayan yang sunyi. Wajahnya masih menyimpan jejak kepolosan masa kecil, namun kini tertutup bayang-bayang pengalaman yang dipaksakan datang. Matanya yang dulu berbinar cerah kini tampak lebih tenang, lebih dalam, seolah menyimpan samudra rahasia yang belum sempat terungkap.
"Aku janji padamu..." bisiknya kembali, kali ini lebih pelan namun jauh lebih berat dan teguh. Jemarinya mengepal erat di sisi meja, buku-buku jarinya memutih. "Dunia lautan memang tidak ramah bagi orang lemah... aku sudah mulai merasakannya. Tapi aku tidak akan mundur. Aku janji... aku akan menjadi raja di antara mereka!"
Saat kalimat itu terucap, di dalam dadanya yang sempit itu, sesuatu yang kuat dan tak tergoyahkan akhirnya terjalin menjadi tekad. Bukan sekadar impian anak-anak yang tak pernah menyentuh air laut — melainkan sumpah yang diucapkan di hadapan bayang-bayang ayahnya, di hadapan kesepian sembilan tahunnya, dan di hadapan lautan luas yang kini menantinya dengan mulut terbuka lebar.
Izumi melangkah keluar dari gubuk itu. Angin laut menyambutnya dengan tiupan yang dingin dan tajam, menerpa rambut hitamnya yang berantakan. Dari bukit kecil tempat desanya berada, ia memandang ke bawah, ke arah hamparan air yang berkilauan kebiruan di bawah sinar matahari pagi. Terlihat damai, namun Izumi kini mulai paham: di balik permukaan yang tenang itu, tersembunyi kedalaman yang gelap dan mengerikan.
Di dunia tempat ia berpijak ini, kekuatan adalah segalanya. Siapa yang memegang kekuatan, dialah yang menentukan mana benar dan mana salah. Harta pula demikian — tumpukan emas dan perak mampu membelinya hampir apa saja. Bahkan nyawa manusia pun bisa ditukar dengan kepingan logam berkilau itu dengan mudahnya. Hukum? Kata itu hanyalah aturan yang ditulis oleh mereka yang kuat untuk melindungi kepemilikan mereka sendiri. Di ujung pedang dan di kedalaman lautan, tak ada hukum yang berlaku selain kehendak yang menang.
Banyak pemuda sebayanya di desa itu akhirnya memilih jalan yang dianggap lebih aman. Mereka berlayar menjadi anak buah kapal dagang, atau mendaftarkan diri menjadi Marinir dan Penjaga Pantai. Mendengar itu, Izumi sering kali hanya tersenyum getir. Ia tahu, di balik seragam yang gagah dan bendera keadilan yang mereka kibarkan, tersembunyi busuk yang tak kalah pekatnya. Uang berpindah tangan, kebenaran dibeli dengan harga murah, dan mereka yang seharusnya menjaga hukum justru menjadi pelindung bagi para penindas yang kaya raya. Korupsi merajalela di setiap jengkal jabatannya, menyusup ke celah-celah sistem hingga tak ada lagi tempat yang benar-benar bersih.
"Lautan memang kejam," gumam Izumi pada angin yang melintas. "Tapi setidaknya... di atas kapal bajak laut, takhta itu diperebutkan dengan kekuatan sendiri, bukan dengan tumpukan emas milik orang lain."
Ia tidak pergi menjadi Marinir. Ia tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang penuh kepalsuan itu. Sebaliknya, ia memilih jalan yang jauh lebih berbahaya, jauh lebih gelap, dan jauh lebih bebas.
Namun seiring tekad yang mengeras itu, seiring pandangannya menembus cakrawala yang tak bertepi, keraguan kecil perlahan merayap masuk ke dalam hatinya. Ia mengakui, ia belum benar-benar mengerti seberapa luas dunia ini. Ia belum tahu seberapa dahsyat badai yang bisa menghancurkan kapal-kapal besar dalam sekejap mata. Ia belum tahu seberapa kejam para penguasa lautan yang sudah puluhan tahun mengayuh pedang dan menumpuk kekuatan di atas tumpukan mayat lawan-lawan mereka. Ia belum tahu... apakah pundaknya yang masih muda ini cukup kuat memikul beban impian yang begitu berat.
Akankah ia sanggup menembus segala kegelapan yang bersembunyi di balik permukaan laut yang indah itu? Akankah ia tetap berdiri tegak meski ombak setinggi gunung menghantamnya berkali-kali? Atau... akankah suatu hari nanti, di tengah perjalanan yang jauh itu, ia akan jatuh lelah, berlutut di atas papan kayu yang rapuh, dan akhirnya menyerah pada kehendak lautan yang tak pernah peduli pada siapa pun?
Tak ada yang tahu jawabannya.
Izumi menarik napas dalam-dalam, menghirup bau garam yang menyengat hingga memenuhi paru-parunya. Lalu, perlahan namun pasti, ia melangkah turun menuju pantai. Langkahnya belum sepenuhnya mantap, namun matanya tak pernah berpaling dari garis cakrawala tempat langit dan laut bertemu. Di sana, di ujung dunia yang belum pernah ia kunjungi, entah rintangan apa yang sedang menantinya.
Namun satu hal yang ia yakini sepenuh hati: ayahnya dulu pernah berdiri di tempat yang sama, merasakan ketakutan yang sama, namun tetap melangkah maju tanpa pernah menoleh ke belakang. Dan itulah yang akan ia lakukan.
"Kita lihat saja nanti, Ayah..." gumamnya pelan, senyum tipis perlahan terukir di bibirnya, sama persis seperti senyum yang dulu terukir di wajah pria dalam foto itu. "Aku akan melangkah. Aku akan terus melangkah. Sampai aku menemukan jawabannya... atau sampai lautan ini mengakui bahwa aku adalah rajanya."
Matahari semakin tinggi, menyinari punggung pemuda itu yang berjalan menjauh dari desa tempat ia dibesarkan. Di belakangnya, gubuk tua dan kenangan masa kecil perlahan hilang dari pandangan. Di hadapannya... lautan luas yang penuh bahaya, penuh keindahan, dan penuh misteri yang tak terhitung jumlahnya.
Apakah ia akan sanggup menaklukkan semuanya? Atau ia hanyalah satu dari sekian banyak pemuda berapi-api yang akhirnya lenyap ditelan ombak, tak pernah terdengar namanya lagi?
Waktu yang akan menjawab. Namun hari ini, di tepi pantai yang berpasir putih itu, sebuah perjalanan baru saja dimulai. Sebuah janji yang diucapkan kepada mendiang ayahnya, kini telah menjadi pelayar tunggal yang akan membawanya menembus segala gelap dan gelora, menuju takhta yang entah seberapa jauh jaraknya dari tempatnya berpijak saat ini.
Izumi mengangguk pelan pada dirinya sendiri, lalu melangkah tegas menuju perahu nelayan yang terparkir di pasir basah. Ia tahu, perjalanan ini tak akan mudah. Ia tahu, banyak kegelapan yang menantinya di sana. Tapi biarlah lautan sekejam apa pun — ia telah berjanji. Dan bajak laut sejati, tak pernah mengingkari janji yang telah diucapkannya.