Aku tidak pernah menghapus namamu.
Bukan karena masih berharap, tetapi karena aku belum menemukan alasan untuk melakukannya.
Namamu masih tersimpan di daftar kontak, di antara nomor kurir, teman kantor, dan keluarga. Tidak ada foto. Tidak ada pesan baru. Hanya deretan angka dan sebuah nama yang sesekali membuatku berhenti menggulir layar.
Aneh, ya?
Padahal hidup sudah berjalan cukup jauh. Musim telah berganti. Rambutku mulai lebih panjang. Aku juga belajar tertawa lagi. Bahkan aku sudah bisa menceritakanmu tanpa menangis.
Lebih tepatnya hampir menangis.
Suatu malam, saat sedang mencari nomor seseorang, tanpa sengaja aku melihat namamu lagi.
Jariku berhenti.
Ada pilihan untuk menghapus kontak itu. Hanya satu sentuhan, lalu semuanya selesai.
Aku menarik napas panjang.
"Sudah waktunya," gumamku.
Namun entah kenapa, sebelum menekan tombol itu, aku justru membuka halaman kontakmu.
Isinya masih sama.
Nomor yang tak pernah berubah. Nama yang tak pernah berganti.
Aku tersenyum kecil, lalu mengunci layar ponsel.
"Besok saja," kataku pelan."Besok..."
Mungkin besok aku benar-benar akan menghapusnya.
Atau mungkin....
Aku akan kembali menemukannya di antara ribuan nama, lalu kembali berkata,
"Besok saja."