"Kalau suatu hari nanti kamu terluka, carilah aku. Aku mungkin bukan lagi orang yang kamu cintai, tapi aku akan selalu mendoakanmu agar bahagia."
Hujan turun perlahan sore itu, membasahi jalanan yang biasa menjadi tempat Karang menunggu seseorang. Dari balik rindangnya pohon angsana, matanya kembali mencari sosok yang selama ini memenuhi isi hatinya—Senja.
Bagi Karang, Senja bukan hanya perempuan cantik dengan senyum yang menenangkan. Ia adalah alasan mengapa setiap pagi terasa lebih berwarna. Sudah hampir dua tahun Karang menyimpan perasaan itu dalam diam. Ia memilih mencintai dari kejauhan, cukup melihat Senja tertawa, cukup memastikan perempuan itu baik-baik saja.
Namun, semakin lama dipendam, perasaan itu justru semakin menyakitkan.
Suatu malam, Karang akhirnya memberanikan diri mengirim pesan.
"Senja, bolehkah aku jujur? Aku sudah lama menyimpan rasa. Aku menyukaimu, bahkan mungkin lebih dari yang bisa kujelaskan."
Beberapa menit kemudian, balasan itu datang.
"Karang... aku bingung. Aku nggak tahu apakah perasaanmu benar atau hanya rasa kagum sesaat."
Kalimat sederhana itu menghantam hati Karang jauh lebih keras daripada penolakan.
Bukan karena Senja tidak langsung menerima cintanya, tetapi karena perempuan itu meragukan ketulusannya.
Sejak saat itu, Karang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
"Mungkin aku memang tidak cukup pantas untuknya."
Ia hanyalah lelaki sederhana yang tidak pandai merangkai kata-kata indah, tidak memiliki kehidupan yang sempurna, dan merasa tak bisa menawarkan apa pun selain hati yang benar-benar tulus.
Hari-hari berlalu.
Karang tetap tersenyum setiap kali bertemu Senja, meski di dalam hatinya perlahan muncul kelelahan. Ia sadar, cinta tak bisa dipaksakan.
Suatu sore, ia mengajak Senja bertemu di taman tempat mereka sering mengobrol.
Langit berwarna jingga, seolah ikut menjadi saksi untuk sebuah perpisahan yang tak pernah mereka rencanakan.
"Aku ingin bicara terakhir kali," ucap Karang pelan.
Senja mengangguk.
"Aku benar-benar mencintaimu, Senja. Tapi aku juga sadar... aku nggak punya hak memaksamu membalas perasaanku."
Senja menunduk. Ada rasa bersalah yang mulai tumbuh di dalam dadanya.
Karang tersenyum tipis.
"Aku capek berharap kamu percaya sama ketulusanku. Mungkin memang aku bukan orang yang kamu inginkan."
"Karang... bukan begitu maksudku."
"Sudah nggak apa-apa."
Suasana menjadi hening.
Karang mengulurkan tangannya.
"Boleh... genggam tanganku sekali saja?"
Senja ragu beberapa detik sebelum akhirnya menggenggam tangan lelaki itu.
Hangat.
Tetapi hangat itu terasa seperti ucapan selamat tinggal.
"Boleh peluk aku... untuk terakhir kalinya?"
Tanpa berkata apa pun, Senja memeluk Karang erat.
Pelukan itu justru membuat air mata Karang jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Aku akan mencoba melupakanmu," bisiknya lirih. "Tapi izinkan aku menyimpan kenangan ini."
Senja ikut menangis.
Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa lelaki di hadapannya benar-benar tulus.
Namun semuanya terasa terlambat.
Karang melepaskan pelukan itu perlahan.
"Lalu... satu permintaan terakhir."
"Apa?"
"Cium keningku."
Senja menatap mata Karang yang mulai memerah.
Dengan tangan yang gemetar, ia mendekat, lalu mengecup kening lelaki itu dengan lembut.
Karang memejamkan mata.
Ciuman singkat itu terasa seperti penutup dari seluruh harapan yang pernah ia bangun.
Setelahnya ia tersenyum.
"Terima kasih... sekarang aku bisa pergi tanpa membencimu."
"Karang, jangan pergi..."
Karang menggeleng.
"Kalau memang takdir kita bukan bersama, aku nggak mau memaksanya lagi."
Ia melangkah pergi.
Satu langkah.
Dua langkah.
Semakin jauh.
Senja hanya mampu memandang punggung lelaki itu hingga menghilang di balik hujan yang kembali turun.
Sejak hari itu Karang benar-benar menjauh.
Nomornya tak pernah aktif lagi.
Media sosialnya tak lagi memperlihatkan kehidupan apa pun.
Seolah ia benar-benar menghilang.
Barulah setelah kehilangan, Senja mengerti bahwa keraguan yang ia pelihara telah membuatnya kehilangan seseorang yang paling tulus mencintainya.
Beberapa bulan kemudian, saat hidup terasa begitu berat dan hatinya dipenuhi penyesalan, Senja membuka kembali pesan terakhir dari Karang.
Di sana tertulis kalimat yang dulu tak begitu ia pahami.
"Kalau suatu hari nanti kamu terluka, carilah aku. Aku mungkin bukan lagi orang yang kamu cintai, tapi aku akan selalu mendoakanmu agar bahagia."
Air mata Senja jatuh tanpa henti.
Ia akhirnya sadar, tidak semua cinta berakhir karena kurangnya rasa. Kadang, cinta berakhir karena keraguan yang datang terlalu lama.
Dan Karang...
Ia telah memilih pergi, membawa seluruh cintanya dalam diam, menyisakan sebuah kecupan di kening sebagai kenangan terakhir yang tak akan pernah bisa Senja lupakan.
#Senjaforyou