"Selamat ulang tahun."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun setiap kali mengucapkannya kepada Aruna, orang-orang selalu menambahkan satu kalimat lagi.
"Kamu sudah semakin dewasa."
Aruna hanya tersenyum.
Sebab yang bertambah hanyalah angka.
Bukan jiwanya.
Di dinding kamarnya tergantung kalender yang terus berganti setiap tahun.Angka usianya berubah menjadi sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu, hingga dua puluh lima.
Tetapi jauh di dalam dirinya, seorang gadis berusia delapan belas tahun masih tinggal dengan tenang.
Bukan karena ia menolak menjadi dewasa.
Justru karena ia pernah melihat bagaimana banyak orang kehilangan dirinya setelah menjadi dewasa.
Ada yang berhenti tertawa karena merasa itu kekanak-kanakan.
Ada yang berhenti menangis karena takut dianggap lemah.
Ada yang berhenti bermimpi karena berkali-kali diberi tahu bahwa hidup hanyalah tentang bertahan.
Dan ada yang perlahan mengeras, hingga lupa bagaimana rasanya memeluk orang lain dengan tulus.
Aruna tidak ingin menjadi seperti itu.
Bukan karena ia takut bertambah usia.
Melainkan karena ia takut kehilangan bagian paling indah dari dirinya.
Maka ia memilih menjaga gadis berusia delapan belas tahun itu.
Gadis yang masih menyukai hujan pertama setelah kemarau panjang.
Masih memandangi langit terlalu lama hanya untuk mencari bentuk awan.
Masih membeli es krim ketika sedang sedih, seolah rasa manis mampu menjahit hati yang retak.
Masih percaya bahwa setiap orang memiliki sisi baik, meski berkali-kali dikecewakan.
Orang-orang menganggap itu kekanak-kanakan.
Padahal Aruna tahu, ada perbedaan besar antara menjadi kekanak-kanakan dan menjaga hati agar tidak mengeras.
Suatu sore, seorang teman bertanya,
"Kenapa kamu masih seperti dulu?"
"Dulu yang bagaimana?"
"Masih mudah tertawa.Masih mudah kagum. Masih bisa menangis karena hal-hal kecil."
Aruna memandang matahari yang perlahan tenggelam.
"Lalu apa salahnya?"
"Orang seusia kita sudah memikirkan karier, masa depan, dan hidup dengan lebih realistis."
"Aku juga memikirkan semua itu."
"Lalu kenapa kamu masih seperti gadis delapan belas tahun?"
Aruna terdiam cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan,
"Karena aku pernah bertemu banyak orang dewasa yang berhasil memiliki segalanya, tetapi kehilangan dirinya."
"Aku tidak ingin menjadi salah satunya."
Temannya mengernyit.
"Maksudmu?"
"Aku ingin menjadi dewasa dalam cara berpikir, bukan menjadi tua dalam cara merasa."
"Aku ingin belajar bertanggung jawab, tetapi tidak kehilangan rasa kagum."
"Aku ingin belajar menerima kenyataan, tetapi tidak berhenti berharap."
"Aku ingin menjadi kuat, tetapi tetap bisa menangis ketika hati ini memang terluka."
Angin membawa daun-daun kering berputar di atas jalan.
Aruna melanjutkan,
"Gadis delapan belas tahun di dalam diriku mengingatkanku bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu."
"Tetapi juga tentang tetap menjadi manusia."
Ia teringat dirinya saat berusia delapan belas tahun.
Usia ketika dunia tampak begitu luas.
Ketika mimpi terasa lebih besar daripada rasa takut.
Ketika kegagalan masih dianggap pelajaran, bukan hukuman.
Ketika memaafkan terasa lebih mudah daripada membenci.
Ketika percaya kepada kehidupan terasa begitu alami.
Banyak orang berkata bahwa menjadi dewasa berarti berubah.
Namun Aruna menemukan arti lain.
Menjadi dewasa bukan berarti membunuh dirimu yang dulu.
Melainkan membiarkannya tumbuh menjadi lebih bijaksana.
Usia boleh berjalan.
Rambut boleh memanjang lalu dipotong.
Wajah boleh berubah.
Tangan boleh semakin dipenuhi bekas kerja keras.
Tetapi ada bagian dalam diri yang tidak seharusnya mati.
Bagian yang masih bisa berharap.
Masih bisa memaafkan.
Masih bisa percaya.
Masih bisa melihat keindahan pada hal-hal sederhana.
Hari itu Aruna meniup lilin ulang tahunnya.
Seseorang bertanya,
"Apa harapanmu?"
Ia menutup mata sejenak.
"Aku tidak meminta agar usiaku berhenti."
"Aku hanya berharap jiwaku tidak pernah kehilangan gadis berusia delapan belas tahun."
"Bukan karena ia belum dewasa."
"Tetapi karena dialah yang selalu mengingatkanku bahwa kelembutan bukan kelemahan, harapan bukan kebodohan, dan hati yang tetap hidup adalah keberanian terbesar yang bisa dimiliki seseorang."
Lilin padam.
Asap tipis naik ke udara, lalu menghilang.
Usia memang terus berjalan, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir.
Tetapi jauh di dasar sungai itu, selalu ada mata air yang tetap jernih.
Begitulah jiwa.
Ia tidak diukur oleh jumlah ulang tahun yang telah dilewati, melainkan oleh seberapa lama ia mampu menjaga rasa ingin tahu, keberanian untuk bermimpi, dan kelembutan hati.
Sebab menjadi tua adalah kepastian.
Namun menjadi dewasa tanpa kehilangan cahaya dalam diri adalah pilihan yang tidak semua orang mampu pertahankan.
Tamat.