Zainudin dan Hayati, kukira hanya sebatas sebuah karya cerita fiksi, ernyata hal itu kualami sendiri.
Masih jelas terngiang janjimu kepadaku ketika itu. Mengatas namakan Tuhanmu, kau bersedia bersanding denganku. Dan aku pun berikrar kan mencintaimu karna Tuhanku.
Namun rupanya badai yang menerpa perahu kecilku, membuatmu enggan bertahan dalam nahkodaku. Berulang kali dirimu ingin terjun untuk menyelamatkan diri, dan berulang kali kau kuhalangi.
Namun apalah daya, diriku hanya seorang nelayan di atas perahu yang kecil. Yang tak mampu bertahan ketika badai dan ombak menerjang. Akhirnya dirimu memilih terjun untuk menyelamatkan dirimu sendiri.
Memang berat rasanya ketika perahu yang kemarin ramai akan nuansa canda tawamu, kini sepi kembali menyisakan diriku sendiri yang tetap memegang kemudi. Meskipun sudah tiada semangat dan tenaga lagi.
Kecewa, tentu diriku kecewa. Sakit, tentu diriku sakit. Apalagi ketika kutahu, kau terjun memilih sampan bambu untuk mengarungi lautan ganas ketimbang perahuku yang kecil ini.
Bukan hanya membahayakan dirimu sendiri, tapi dirimu juga membahayakan bunga kecil kita.
Aku pun tak habis pikir, akan arah dan tujuanmu. Dirimu jauh lebih percaya dengan nelayan sampan bambu yang melintas, daripada diriku yang nelayan perahu kecil.
Aku pun hanya bisa tersenyum waktu itu, ketika melihatmu mengarungi ganasnya lautan dengan sampan kecilmu itu.
Dan akhirnya yang ku khawatirkan pun terjadi, sampan kecilmu tak cuku kuat menghadapi gempuran gelombang ombak yang mengganas.
Apalagi di atas sampanmu, dirimu tak bisa berpegangan pada pegangan. Dan alhirnya dirimu terombang ambing terluka.
Aku yang melihat sampanmu yang telah rusak dari kejauhan, cuma bisa berdo'a saja. Semoga dirimu selamat sampai tujuan.