Sejak kecil, aku mengira cinta pertama adalah kisah yang dimulai di sekolah. Aku membayangkan seseorang yang ditemui di bangku kelas, saling mengenal, lalu saling menyukai. Begitulah yang kupahami selama bertahun-tahun.
Suatu hari, aku menonton sebuah film di aplikasi video. Di sana aku mendengar kalimat yang membuatku terdiam, "Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya."
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Aku mulai berpikir, "Kalau begitu, mungkin aku hanya perlu lebih menyayangi Ayah. Mungkin jika aku mencintainya dengan tulus, kasih sayang itu akan kembali kepadaku."
Aku mencoba berharap. Berharap hubungan kami akan hangat seperti yang sering kulihat dalam cerita. Berharap ada pelukan, perhatian, atau sekadar kata-kata yang membuatku merasa dicintai.
Namun, harapan tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan.
Hubungan kami tidak menjadi seperti yang kubayangkan. Aku justru sering merasa sedih dan terluka. Ada saat-saat ketika aku merasa kasih sayang yang kuharapkan tidak pernah benar-benar datang. Aku mulai menyadari bahwa tidak semua orang memiliki pengalaman yang sama dengan ayahnya. Ada yang tumbuh dengan kasih sayang yang melimpah, tetapi ada pula yang harus menerima kenyataan bahwa hubungan itu penuh luka.
Butuh waktu lama bagiku untuk memahami bahwa aku tidak bisa memaksa seseorang menjadi seperti yang kuharapkan. Aku juga belajar bahwa kekurangan kasih sayang dari seseorang bukan berarti aku tidak berharga.
Kini aku memilih untuk tetap menghormati ayahku sebagai orang tua, sambil berusaha menjaga diriku sendiri. Aku percaya bahwa cinta yang sehat tidak membuat seseorang kehilangan harga dirinya, melainkan membuatnya merasa aman, dihargai, dan bertumbuh.
Mungkin cinta pertama setiap orang memang berbeda. Bagi sebagian orang, ayah adalah pelabuhan yang paling hangat. Bagi sebagian yang lain, hubungan itu justru menjadi pelajaran paling awal tentang bagaimana mereka ingin membangun kasih sayang yang lebih baik di masa depan.
Dan aku memilih agar luka yang pernah kurasakan tidak berhenti padaku, tetapi menjadi alasan untuk kelak memberikan kasih sayang yang lebih baik kepada orang-orang yang kucintai.