Hai, aku seorang wanita yang sudah menikah. Namun, Allah belum memberikan kepercayaan untukku menjadi seorang ibu.
Sempat hamil, tapi aku gak tau kalau saat itu sedang hamil. Kenapa? Karena 1 minggu sebelum Allah menentukan hal yang terbaik untukku, aku sempat nyoba testpack tapi hasilnya negatif.
Skip. Beberapa minggu sebelum haid, aku bermimpi bertemu anak kecil, entah itu anak perempuan, bayi perempuan, anak laki-laki, atau bayi laki-laki. Yang dimana ketika masih gadis tidak pernah aku alami.
Saat malam itu tiba, sebelum tidur aku selalu membaca doa tidur. Beberapa menit setelah aku pejamkan mata, aku tiba-tiba telah berdiri di suatu ruangan besar, bahkan cukup besar dengan warna polos.
"Dimana aku ini?"
Aku melangkah, melihat sekeliling. Dan aku baru menyadari tempat dan suasana itu seperti zaman dulu, zaman Belanda.
"Hmmm...hmmmmm," suara anak menangis.
Aku samperin anak itu, anak yang sedang berjongkok. "Kenapa dek? Mamaknya mana?" tanyaku sambil cilengak-cilinguk.
Anak kecil itu hanya menggeleng. Sedangkan aku sedikit menunduk mencoba menenangkannya, tapi apa yang selanjutnya terjadi.
Anak itu menunjukkan wajahnya, tidak ada garis tengah antara hidung dan mulut. Aku yang terkejut dengan santai berjalan, dan pergi meninggalkan anak itu.
Aku tidak bisa menceritakan semuanya. Aku hanya bisa menceritakan beberapa saja. Dan ini untuk mimpi kedua kalinya di bulan yang berbeda dan sebelum haid selanjutnya.
Ketika aku mulai memejamkan mata, aku tiba-tiba berdiri di dalam ruangan yang gelap. Di sana ada tiga orang wanita memakai baju kebayak atau baju-baju zaman dulu dengan rok kain jarik khas zaman dulu. Wajahnya tidak jelas, tapi rambut mereka di sanggul.
"Uwek...uwek!" Suara bayi dalam bedongan berjarik merah.
"Bayi itu menangis, dan kemana ibunya?" Tanyaku kepada tiga wanita itu.
"Ini adalah anakmu suatu hari nanti," kata wanita yang memakai baju bercorak cokelat tua, ia menggendong bayi itu. "Nah, gendonglah. Dia sangat lucu," ucap wanita itu sambil menyerahkan bayi itu kepadaku.
"Anakku?" batinku, tapi kedua tangan menerima bayi itu. Aku ingin melihat wajahnya, namun tidak bisa yang aku lihat samar. Begitu juga dengan ketiga wanita itu.
....
Masih banyak lagi dengan versi berbeda setiap bulan. Tapi, aku hanya bisa memberikan dua mimpi saja.