Part 5
Jeding genz
Jam 5 pagi, mobil Fortuner hitam milik Papahnya Victor udah parkir depan gang. Bayu dateng pake jaket kulit padahal panas, “Biar sangar, bro.” Egil bawa koper segede gaban, isinya 80% ciki dan 20% baju.
Deka datang terakhir, napas ngos-ngosan sambil gendong body pillow bergambar karakter rambut biru. “Dia harus ikut. Namanya Aqua. Dia nggak bisa sendirian di kos.”
Mike cuma ngelirik, lalu balik baca buku _Sapiens_. Valen udah siap dengan kacamata hitam dan caption IG: _“Vitamin Sea with the boys ”...
Saat diperjalanan hampir 1jam ..
Tiba-tiba Bayu teriak, “Berhenti! Kencing! Kencing!” Victor panik, “Di rest area lah Yu!” Bayu: “Udah di ujung, Vic!!!..
Deka sepanjang jalan nulis fanfic di HP: _“Hari ini aku dan suamiku, Mike, pergi ke pantai...”_ Mike yang duduk di sebelahnya nggak sengaja lirik, langsung merinding. “Deka. Hapus. Sekarang.” Deka: “Ini cuma fiksi, Bung.”
Valen jadi DJ. “Guys, what song do you want? I can sing Ed Sheeran or bring you some 2000s vibes.” Victor: “Setel aja yang penting nggak bikin ngantuk. Gue nyetir nih.”
2 jam kemudian, mereka nyampe. Pantai Semilir beneran kayak surga. Pasir putih, air biru, sepi, cuma ada warung kelapa sama villa kayu di tepi pinggiran jalanan pantai ..
Victor sibuk check-in dan langsung borong 2 meja seafood di warung. “Makan dulu. Tenaga harus full kalau mau maen asik.”
Deka naruh Aqua di kursi pantai, dipakein kacamata. “Sayang, lihat tuh sunset-nya indah ya. Nanti kita foto ya.” Mike yang lewat langsung pura-pura budek.
Sore itu ada turnamen voli dadakan. Bayu + Egil vs Victor + Valen. Mike jadi wasit, Deka jadi cheerleader buat Aqua. Bayu smash-nya nggak ada akhlak, pasir sampai terbang ke muka Valen.
Valen: “Bayu! Are you trying to kill my face? This face is an asset!”
Bayu: “Asset apaan, Len? Asset negara?”
Egil ketawa keguling-guling sampe kecebur laut.
Mike yang dari tadi diem akhirnya turun main pas skor 20-20. Sekali spike, langsung menang.
Dan dalam babak terhakir selesai permainan mike kembali ke tempat duduknya dan membuka bukunya kembali.
Malamnya, Victor nyalain api unggun. Egil bawa gitar, fals tapi pede. Bayu mulai cerita dan mike asik dengan sate satean didepan api unggunya
Valen nunjuk langit, “Look, the stars. In London, you can’t see this.” Egil nyeletuk, “Di London ada kamu, Len. Bintangnya pindah ke muka lu semua.” Ngakak lagi satu pantai.
Malam ini terhakir dipantai , mereka bikin lingkaran di pasir. Egil: “Oke, aturan main: nggak boleh bohong. Satu-satu ngomong apa yang kalian syukuri dari grup ini.”
Bayu: “Gue bersyukur punya kalian. Gue nakal, sering bikin masalah. Tapi kalian nggak pernah ninggalin gue.”
Egil: “Gue bersyukur karena kalau gue lawak, kalian ketawa. Kalau gue sedih, kalian juga ketawa... eh maksudnya ngehibur.”
Deka: “Aku... aku bersyukur karena walau aku aneh dan suka sama 2D, kalian tetap anggep aku manusia. Aqua juga titip salam.” Semua: “WOY!”
Valen: “I’m grateful because you guys make me feel... normal. Di luar aku harus jaim, harus perfect. Di sini aku bisa kentut sembarangan.”
Semua: “ANJIR LEN!”
Mike: “Kalian berisik. Tapi tanpa kalian, sepi.” Itu pujian tertinggi dari Mike.
Terakhir Victor. Dia diem lama. “Gue dari kecil diajarin bisnis. Untung rugi. Tapi dari kalian gue belajar... nggak semua harus dihitung. Ada hal yang dikasih aja, tanpa mikir baliknya. Kayak liburan ini. Kalian itu... investasi terbaik gue.”
Hening. Terus Bayu teriak, “ANJIR VIC BAPER!” Langsung perang pasir dimulai.
Pas pulang, mobil bau asin, kaki pada item, HP pada kemasukan pasir. Dompet Victor jebol, tapi mukanya puas. Deka tidur sambil meluk Aqua dan oleh-oleh gantungan kerang. Mike dapet inspirasi buat esai. Valen dapet 300 foto buat feed sebulan. Egil suaranya habis. Bayu... Bayu tidur ngiler di bahu Mike, dan anehnya Mike nggak nolak.
Sampe rumah, Victor nge-chat di grup: _“Next liburan ke mana? Semua gue yang atur. Syarat: harus tetep maen asik.”_
Grup itu emang isinya beda-beda. Ada yang wibu, ada yang pendiam, ada yang tajir, ada yang receh. Tapi justru itu yang bikin pas. Kayak puzzle. Beda bentuk, tapi kalau disatuin, jadi gambar paling indah.
Dan Pantai Semilir bakal inget: pernah ada 6 anak absurd yang ketawa paling kenceng, main paling asik, dan pulang dengan hati paling penuh.