Pernahkah kau mencium aroma hujan sebelum ia turun?
Konon, di sebuah kota kecil yang dikelilingi kebun melati, hiduplah seorang gadis bernama Aruna.Orang-orang menyebutnya gadis terwangi.Bukan karena parfum mahal yang ia pakai, melainkan karena kehadirannya selalu meninggalkan aroma bunga yang lembut.Anak-anak senang berada di dekatnya.Orang tua merasa tenang saat berbicara dengannya.Bahkan angin seolah membawa harum namanya ke setiap sudut kota.
Tak ada yang tahu dari mana aroma itu berasal.
Aruna pun tidak pernah menyadarinya.Ia hanya hidup sederhana dengan menyapu halaman, membantu tetangga, membaca buku di bawah pohon tua, dan tersenyum kepada siapa pun yang ditemuinya.
Namun suatu hari, aroma itu menghilang.
Bukan hilang perlahan, melainkan berganti.
Ke mana pun Aruna melangkah, orang-orang menutup hidung.
"Baunya tidak enak."
"Ada apa dengannya?"
"Bahkan udara ikut berubah."
Aruna bingung.Ia mandi berkali-kali. Mencuci pakaian, mengganti sabun, bahkan berhenti keluar rumah selama beberapa hari.Namun ketika ia kembali, bau itu tetap ada.
Semakin ia berusaha menghilangkannya, semakin tajam baunya.
Akhirnya ia memutuskan pergi meninggalkan kota.
Dalam perjalanan, ia bertemu seorang kakek penjaga hutan.
"Apa yang kau cari?" tanya sang kakek.
"Aku ingin kembali menjadi gadis terwangi."
Kakek itu hanya tersenyum.
"Lalu, sejak kapan kau berhenti menjadi dirimu sendiri?"
Aruna terdiam.
Ia baru sadar, sejak dipuji sebagai gadis terwangi, ia mulai hidup demi pujian.Ia takut membuat kesalahan.Ia tersenyum karena ingin dianggap baik.Ia membantu karena takut mengecewakan.Ia menjaga citra, bukan lagi menjaga hati.
Harumnya dahulu lahir dari ketulusan.
Baunya sekarang lahir dari kepura-puraan.
"Tahukah kau?" kata sang kakek."Bunga tidak pernah mencium aromanya sendiri.Orang lainlah yang merasakannya. Begitu pula manusia.Ketika terlalu sibuk memastikan dirinya harum, justru saat itulah ia mulai kehilangan wanginya."
Aruna menangis.
Bukan karena bau itu.
Melainkan karena akhirnya ia mengerti.
Ia pulang tanpa membawa parfum, tanpa membawa ramuan, tanpa membawa jawaban selain keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.
Hari-hari berlalu.
Ia kembali menolong orang tanpa berharap dipuji.Ia meminta maaf ketika salah.Ia mengakui saat lelah.Ia tertawa tanpa berpura-pura bahagia.
Perlahan, orang-orang berhenti menutup hidung.
Bukan karena mereka mencium bunga.
Melainkan karena mereka kembali merasakan ketulusan.
Sejak saat itu, tak ada lagi yang memanggil Aruna sebagai gadis terwangi ataupun gadis terbau.
Mereka hanya memanggilnya dengan namanya.
Dan ternyata, itulah aroma paling indah yang bisa dimiliki seseorang—bukan harum yang melekat di tubuh, melainkan kebaikan yang melekat di hati.
Tamat.