KISAH NYATA:
"Semua orang menghadiri pemakaman Rian seminggu yang lalu... tapi setiap pukul 23.00, aku masih melihatnya mengetik di meja kerjanya."
Awalnya aku mengira hanya kelelahan.
Namun malam demi malam, sosok itu selalu datang.
Selalu di jam yang sama.
Selalu menghadap layar komputer.
Dan yang paling aneh...
Laporan yang belum kuselesaikan selalu sudah rapi keesokan paginya.
---
Namaku Dimas. Sudah lima tahun aku bekerja satu divisi dengan Rian.
Ia bukan karyawan paling pintar, tetapi dialah orang paling tulus yang pernah kukenal.
Setiap ada pekerjaan berat, ia selalu berkata,
"Sudah, biar aku saja."
Setiap ada lembur, ia orang pertama yang mengangkat tangan.
Kami sering bertanya mengapa ia tidak pernah menolak.
Suatu malam ia hanya tersenyum sambil memperlihatkan foto seorang wanita tua.
"Itu Ibu. Selama beliau masih jualan sayur di pasar, aku belum boleh capek."
Tidak ada yang tahu, ternyata itulah alasan ia rela menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kantor.
---
Malam terakhir sebelum semuanya berubah, kami lembur hingga hampir tengah malam.
Saat turun ke parkiran, Rian menepuk pundakku.
"Mas... kalau suatu hari aku nggak masuk kerja, jangan lupa sampaikan salam buat Ibu."
Aku tertawa.
"Besok juga ketemu lagi."
Ia hanya tersenyum.
Lalu pergi.
Beberapa menit kemudian...
Telepon dari kantor berbunyi.
Rian mengalami kecelakaan.
Ia meninggal sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.
---
Seminggu berlalu.
Aku masih belum sanggup melihat meja kerjanya.
Mug kopi kesayangannya.
Foto ibunya.
Jaket yang masih tergantung di kursi.
Semuanya seolah menunggu pemiliknya kembali.
---
Karena tenggat pekerjaan, aku harus lembur sendirian.
Jam digital menunjukkan pukul 23.00.
Tiba-tiba...
Monitor komputer di meja Rian menyala sendiri.
Padahal kabel listriknya sudah dicabut sejak hari pemakamannya.
Layar itu menampilkan file laporan yang sedang kukerjakan.
Kursor bergerak sendiri.
Satu demi satu angka terisi.
Kalimat yang belum sempat kutulis muncul tanpa ada yang menyentuh keyboard.
Lalu terdengar suara...
Tak... tak... tak...
Aku perlahan menoleh.
Di balik cahaya monitor...
Rian duduk seperti biasa.
Tangannya mengetik.
Wajahnya tenang.
Ia bahkan sempat menoleh sambil tersenyum kecil.
"Jangan sampai telat kirim laporan, Mas..."
Air mataku langsung mengalir.
Aku tahu...
Itu benar-benar Rian.
---
Aku memberanikan diri melangkah mendekatinya.
Semakin dekat...
Suara keyboard semakin jelas.
Namun ketika tinggal satu langkah lagi...
Seluruh lampu kantor padam.
Ruangan menjadi gelap gulita.
Beberapa detik kemudian listrik kembali menyala.
Rian menghilang.
Yang tersisa hanya layar komputer.
Di sana tertulis satu kalimat.
"Masih ada janji yang belum sempat kutepati..."
---
Keesokan harinya, HRD membuka laci meja Rian.
Di dalamnya ditemukan sebuah amplop tebal dan surat yang belum pernah dikirim.
Tulisan tangannya membuat seluruh ruangan terdiam.
"Bu... kalau uang ini cukup, Ibu berhenti jualan ya. Rian ingin Ibu istirahat. Maaf selama ini lebih sering pulang malam daripada menemani Ibu."
Tidak ada satu pun dari kami yang mampu menahan air mata.
Hari itu juga kami mengumpulkan bantuan dan mengantarkan seluruh tabungan Rian kepada ibunya.
Wanita tua itu memeluk surat tersebut sambil menangis.
"Dia selalu bilang... nanti kalau sudah cukup uangnya, dia mau pulang lebih cepat dan makan malam sama Ibu."
Kalimat itu membuat kami semua tertunduk.
Ternyata...
Keinginan yang paling sederhana pun belum sempat terwujud.
---
Malam berikutnya aku kembali lembur.
Jam menunjukkan pukul 23.00.
Monitor di meja Rian kembali menyala.
Namun kali ini tidak ada sosok siapa pun.
Hanya sebuah dokumen kosong.
Perlahan muncul beberapa huruf.
"Terima kasih... Ibu sudah tersenyum."
Tulisan itu menghilang dengan sendirinya.
Bersamaan dengan itu, aroma kopi hangat memenuhi seluruh ruangan.
Hangat.
Tenang.