Wangi bunga mawar di taman sekolah.
Sore ini.
Reuni.
Kuingat di bangku kayu taman sekolah,
Bunganya belum sebanyak sekarang.
Jelas...
Itu lama sekali
10 Tahun lalu
Di bangku SMA
Bunga-bunga asoka pun sudah berganti dengan mawar dan melati jepang.
Sekolah yang sama namun nuansanya beda.
Kulangkahkan kaki kesini setelah sepuluh tahun berlalu.
Beberapa orang sudah berkumpul di Aula
Saling bercengkrama.
Aku sesekali tersenyum melihat sekitar.
Rupa kami sangat jauh berbeda.
Kami menggunakan dress code putih menambah suasana menjadi semakin sempurna, panitia menggunakan seragam SMA.
Aku Andini, menggunakan dress putih katun dengan renda. Sepatu heels burgundi dan tas senada.
"Ya ampun din.... Masih kayak dulu aja" Kata isyana
"Ah... Biasa aja is.. Kamu juga" Kataku.
Isyana tidak banyak berubah hanya badannya lebih berisi. Katanya dia habis melahirkan anak kedua, dengan seragam SMA tentunya dia panitia.
Aku duduk sendiri di deretan belakang, teman-teman lain berkelompok sesuai kelasnya. Teman sekelasku belum datang, aku sepertinya yang paling pertama.
Niatku membuka HP tiba-tiba seorang ibu dengan pakaian batik duduk di sebelahku.
Aku sedikit terkejut.
Kupikir guru.
"Bu duduk di depan" Saranku
"Nggak nak, ibu di sini saja" Jawab ibu itu sambil meremas-remas tali tas kainnya.
"Anak ibu di kelas ini dulu" Sambungnya
Oh, dalam hatiku orang tua siswa juga..
Panitia mengundang orang tua siswa.
"Siapa ya bu? " Tanyaku
"Indra, anak saya indra" Mengatakan nama itu dia menatapku, aku terkejut tentu saja aku kenal indra.
"Hmmm... Iya bu saya kenal" Ucapku.
Teman-teman yang lain sudah banyak yg datang, bangku terisi penuh dan suasana reuni menjadi menyenangkan dengan berbagai penampilan seni.
Sungguh membuat mengingat masa lalu di SMA kembali sejenak...
"Din, tadi sebelah kamu mamanya indra kan? "
"Iya" Jawabku pada Isyana
"Sukses acaranya keren" Kataku
Lalu berpamitan.
Di depan gerbang aku sudah di jemput Mas Arya dan putriku Cantika.
Kulihat Ibunya Indra berjalan kaki juga ke arah gerbang lalu masuk mobil hitam lebih dulu pergi.
---
Di perjalanan pulang aku sempat berfikir, entah kenapa aku dipertemukan setelah sepuluh tahun tidak mendengar kabar dari indra.
Aku sempat menyalahkannya.
Setelah kami upacara kelulusan kami semua melanjutkan kuliah.
Saling berjanji saling mengabari satu dan yang lain.
Tapi dia paling sepi,tidak pernah ada kabar.
Tidak pernah menjawab chat maupun telepon lagi.
Apa dia marah.
Dia benci.
Dia tidak suka aku melanjutkan kuliah di kota lain.
Dia tidak ada kabar bagai tenggelam.
Kutanya kabar ke yang lain juga tidak tau.
Tidak ada kabar.
Dan reuni sekolah setelah 10 tahun berlalu.
Ibunya datang duduk di sebelah.
Bahkan orang yang tidak sempat kukenal.
Buat apa hadir.
Kenapa hadir di wakilkan.
Sedetikpun aku tidak berniat bertanya.
Sampai rasanya mengingat segala kenangan SMA dengannya saja tidak sudi.
Aku digantung, bahkan tidak juga putus hubungan.
Dia menghilang.
---
"Kok melamun, ketemu mantan ya?" Tanya mas arya bercanda sambil merangkul aku dari belakang, sedang membuat segelas susu buat putri kami Cantika.
"Mana ada... Nggak kok mas... " Jawabku.
---
Ibu Indra datang, mewakili anaknya
10 Tahun lalu putranya meninggal kecelakaan mobil menuju bandara.
Tidak ada yang pernah tau dan tidak ada yang menanyakan keberadaannya karena HPnya rusak.
Di tengah depresi berat melanda orang tua Indra mereka pindah ke luar negeri, akhir tahun kemarin mereka kembali ke rumah lama.
Saat itulah bertemu dengan mantan ketua Osis Airlangga yang penasaran keberadaan indra. Barulah mereka terbuka, dan berharap kalau berkenan anggota keluarga yang ada bisa hadir dalam acara reuni tersebut.
---
Akhir acara reuni...
"Karena ini sudah malam, teman-teman yang mau masih lanjut sampai pagi boleh janjian dimana..
Acara kita sudah selesai... " Kata Airlangga di sahut decak tawa.
"Selamat bertemu kembali, saling mengenal lagi karena rupa kita tentunya beda dari yang dulu jelas lebih tampan, cantik, dan semuanya mapan" Lanjutnya..
"Terimakasih semuanya atas kehadiran kita semua, sebelum acara kita tutup...salam terima kasih buat guru-guru yang bisa hadir dalam reuni ini"
Disambut tepuk tangan.
"Dan disana... Iya di belakang sana... " Airlangga menunjuk ke arah Ibu yang duduk di sampingku, lalu ibu itu berdiri.
"Penghargaan besar juga bagi kami semua ibu dari sahabat kami...
Dia sangat pandai, siapa angkatan kita yang tidak mengenal anak paling pintar. indra" Ibu mengangguk berdiri sambil memegang dadanya kulihat matanya berkaca-kaca.
Riuh tepuk tangan dan semuanya menoleh ke belakang...
"Silahkan kedepan bu" Kata Airlangga di susul beberapa teman mengantar ke depan, aku masih mematung di tempat dudukku.
"Terimakasih sudah mau datang menggantikan indra kesini, saya percaya indra juga hadir di sini. Reuni ini salah satu janji saya dan indra dulu, 10 tahun kita adakan reuni"
"Sahabat kita indra sudah dulu pergi dari kita, 10 tahun lalu tidak lama setelah kelulusan, tidak banyak yang tau"
Ibu indra mengangguk pelan di atas panggung lalu memeluk Airlangga.
Guru-guru ikut berdiri tanda prnghormatan.
"Terimakasih bapak, ibu guru...
Teman-teman putra saya, kalian masih mengingat putra saya. Dia sudah bahagia disana...
saya hadir untuk melihat betapa anak-anak ini bertumbuh sama seperti putra saya, saya sangat bahagia".
---
Tamat.