"Kalau suatu hari aku pergi lebih dulu, jangan menangis terlalu lama."
Kalimat itu selalu diucapkan Raka setiap kali Aira memarahinya karena terlalu banyak bercanda.
Aira akan menjawab dengan kesal, lalu memukul pelan bahunya.
"Jangan ngomong sembarangan. Kita akan tua bersama."
Saat itu mereka tidak pernah tahu bahwa semesta sedang menghitung waktu.
Semuanya berubah ketika Raka didiagnosis mengidap kanker stadium akhir. Dokter mengatakan penyakit itu sudah menyebar ke berbagai organ. Harapan untuk sembuh hampir tidak ada.
Sejak hari itu, dunia Aira runtuh.
Ia menangis diam-diam di lorong rumah sakit. Bukan karena tidak kuat, tetapi karena ia tidak ingin Raka melihat perempuan yang selalu ia sebut "rumah" itu hancur.
Raka menjalani kemoterapi demi kemoterapi. Rambutnya mulai rontok. Tubuhnya yang dulu kuat kini hanya tinggal tulang yang dibalut kulit. Napasnya sering tersengal, tetapi setiap kali Aira datang, ia selalu memaksakan senyum.
"Maaf ya... aku jadi jelek."
Aira mengusap kepala Raka yang sudah hampir botak.
"Laki-laki yang kucintai tidak pernah berubah. Yang berubah hanya penyakitnya."
Sejak itu, Aira tidak pernah meninggalkan Raka.
Ia tidur di kursi rumah sakit. Ia menyuapi makan saat tangan Raka gemetar. Ia mengganti pakaian, menyeka keringat, bahkan menggendong tubuh Raka ketika lelaki itu sudah tak mampu berjalan sendiri.
Orang-orang berkata, "Untuk apa bertahan? Dia tidak akan sembuh."
Aira hanya menjawab pelan,
"Karena cinta tidak pernah meninggalkan orang yang sedang kalah."
Hari demi hari berlalu.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam, Raka meminta Aira membawanya keluar rumah sakit menggunakan kursi roda.
Mereka duduk memandangi langit jingga.
"Aira..."
"Iya?"
"Maaf ya... aku nggak jadi memenuhi semua janjiku."
"Jangan bilang begitu."
"Aku janji mau menikahi kamu."
Air mata Aira mulai jatuh.
"Aku janji mau bangun rumah kecil."
Tangisnya semakin pecah.
"Aku janji mau nemenin kamu sampai rambutmu putih."
Raka berhenti bicara karena napasnya sesak.
"Tapi ternyata... Tuhan cuma kasih aku waktu sebentar."
Aira memeluk tubuh Raka yang semakin rapuh.
"Nggak apa-apa... Aku tetap memilih kamu. Berapa pun waktu yang kita punya."
Beberapa hari kemudian, dokter meminta keluarga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Raka hanya memiliki hitungan hari.
Malam terakhir itu terasa sangat sunyi.
Hanya terdengar suara hujan yang jatuh di atap rumah.
Raka memanggil Aira dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Aira... sini."
Aira segera menggenggam tangannya.
Raka mengeluarkan sebuah kotak kecil dari bawah bantal.
Di dalamnya ada cincin sederhana.
"Aku sebenarnya mau kasih ini saat aku sehat."
Tangis Aira pecah.
Dengan tangan yang gemetar, Raka berusaha memasangkan cincin itu ke jari manis Aira.
"Maaf... aku nggak bisa mengucapkan ijab kabul."
Aira menangis sambil mencium tangan Raka.
"Aku nggak butuh pesta. Aku cuma butuh kamu."
Raka tersenyum sangat tipis.
"Terima kasih... sudah membuat sisa hidupku terasa seperti surga."
Beberapa menit kemudian, napas Raka mulai semakin pelan.
Aira memeluknya erat.
"Aku di sini... jangan takut."
Raka menatap wajah perempuan yang paling ia cintai untuk terakhir kalinya.
"Aku mencintaimu..."
"Itu nggak akan pernah berubah."
Kalimat itu menjadi kata-kata terakhir yang keluar dari bibirnya.
Detik berikutnya...
Genggaman tangan Raka perlahan terlepas.
Tubuhnya tak lagi bergerak.
Untuk beberapa saat, Aira hanya diam.
Ia terus mengusap pipi Raka sambil tersenyum, seolah berharap lelaki itu sedang bercanda seperti biasanya.
"Raka... bangun..."
Tidak ada jawaban.
"Sayang... kita pulang, ya."
Tetap sunyi.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Ia memeluk tubuh Raka sambil menangis sekeras-kerasnya.
"Katanya kita mau tua bersama..."
"Katanya kamu mau jadi ayah dari anak-anak kita..."
"Katanya kamu nggak akan ninggalin aku..."
Ruangan itu dipenuhi isak tangis.
Namun orang yang ia panggil tidak akan pernah menjawab lagi.
Hari pemakaman menjadi hari paling berat dalam hidup Aira.
Saat tanah terakhir menutupi makam Raka, Aira berlutut sambil memegang nisan yang masih basah.
"Sebentar lagi kamu pulang, kan?"
Semua orang yang mendengar kalimat itu ikut menangis.
Karena mereka tahu...
Aira belum sanggup menerima kenyataan.
Setiap minggu, ia datang membawa bunga kesukaan Raka.
Ia duduk berjam-jam di samping makam sambil menceritakan kesehariannya.
"Mas... hari ini aku dapat pekerjaan baru."
"Mas... tadi aku lihat senja yang indah."
"Mas... aku kangen."
Tidak pernah ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara angin.
Bertahun-tahun berlalu.
Aira tidak pernah melepas cincin yang dipasangkan Raka pada malam terakhirnya.
Suatu sore, ketika rambutnya mulai dipenuhi uban, ia kembali datang ke makam itu.
Dengan mata berkaca-kaca, ia tersenyum.
"Aku sudah menepati janjiku."
"Aku tetap mencintaimu."
"Aku tetap menunggumu."
"Aku tidak pernah memberikan tempatmu kepada siapa pun."
Ia meletakkan bunga putih di atas pusara.
Lalu berbisik sangat pelan,
"Aku lelah... tapi sebentar lagi kita akan bertemu lagi."
Langit sore berubah jingga.
Angin berembus pelan, menggugurkan kelopak bunga di atas makam.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Aira pulang dengan senyum yang dipenuhi air mata.
Karena ia sadar, ada cinta yang tidak pernah memiliki akhir bahagia di dunia.
Namun justru karena itulah, cinta itu akan hidup selamanya di dalam hati.
Sebab sebagian kisah cinta memang tidak berakhir dengan kata "selamanya bersama."
Sebagian berakhir dengan seseorang yang tetap setia mencintai... bahkan ketika orang yang dicintainya telah lama menjadi penghuni surga.