Matahari membakar bumi tanpa belas kasihan. Tahun demi tahun berlalu tanpa setetes hujan.Tanah pecah seperti kaca yang retak, sungai mengering hingga menyisakan bebatuan, dan angin hanya membawa debu yang berputar-putar di udara.
Di tengah padang yang mati itu, berdiri sebuah pohon.
Ia adalah satu-satunya yang masih berdaun hijau.
"Kenapa kau belum mati?" tanya angin yang setiap hari menerbangkan dedaunan kering.
Pohon itu bergeming.
Tak lama kemudian, seekor rubah kurus datang berteduh di bawahnya.
"Aku sudah berjalan berhari-hari," katanya dengan napas tersengal."Aku tak menemukan kehidupan di mana pun.Mengapa hanya kau yang masih bertahan?"
Pohon itu menjawab dengan suara lembut.
"Akar tidak pernah mengeluh karena tak terlihat."
Rubah mengangkat kepalanya.
"Semua orang mengagumi daun yang hijau, tetapi tak ada yang melihat perjuangan akar yang terus menembus batu, menahan gelap, dan mencari setetes air."
Rubah terdiam.
"Tidakkah kau pernah ingin menyerah?"
Pohon itu memandang langit yang kosong.
"Sering."
"Bahkan setiap kali satu dahanku mengering, aku merasa mungkin inilah akhirnya.Namun setiap kali itu pula, akar-akar kecilku terus menggali lebih dalam.Selama mereka belum berhenti mencari, aku belum punya alasan untuk menyerah."
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Bulan berganti tahun.
Banyak hewan datang berlindung di bawah pohon itu.Burung membuat sarang di rantingnya.Kelinci bersembunyi di balik akarnya bahkan, musafir yang tersesat menemukan harapan hanya karena melihat sepetak warna hijau dari kejauhan.
Pohon itu tak pernah meminta imbalan.
Ia hanya terus berdiri.
Suatu hari, seorang anak kecil yang kehausan tiba di bawah pohon itu bersama ayahnya.
"Ayah," bisiknya, "mengapa pohon ini masih hidup?"
Sang ayah menatap pohon itu lama sekali.
"Lihatlah ke atas," katanya.
Anak itu mendongak.
"Daunnya indah."
"Lalu lihatlah ke bawah."
Anak itu melihat tanah yang retak.
"Aku tidak melihat apa-apa."
"Itulah jawabannya."
"Kenapa?"
"Karena kekuatan terbesar sering kali berasal dari perjuangan yang tidak pernah dilihat siapa pun."
Beberapa hari kemudian, langit yang selama bertahun-tahun membisu mulai berubah.
Awan gelap berkumpul.
Petir menyambar.
Lalu hujan turun.
Bumi yang telah lama haus akhirnya menangis bersama langit.
Benih-benih yang selama ini tersembunyi mulai tumbuh.Rumput kembali menghijau. Bunga-bunga bermekaran.Kehidupan perlahan kembali memenuhi tanah yang sempat kehilangan harapan.
Di tengah semua itu, pohon tersebut tetap berdiri dengan tenang.
Bukan karena ia paling kuat.
Bukan pula karena ia tidak pernah merasakan sakit.
Melainkan karena ia memilih bertahan, bahkan ketika tidak ada alasan yang terlihat untuk tetap hidup.
Dan sejak hari itu, setiap orang yang melewati padang tersebut selalu mengingat satu pelajaran sederhana:
Jangan pernah menilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan.Sebab, seperti akar pohon, perjuangan terbesar sering kali terjadi dalam diam—tak terlihat, tetapi menjadi alasan mengapa seseorang masih mampu berdiri hingga hari ini.
Tamat.