Pada masa ketika tanah Jawa masih berada di bawah naungan kerajaan-kerajaan besar, hiduplah seorang gadis bernama Ken Dahayu, seorang pembuat gerabah yang hasil karyanya terkenal hingga ke desa-desa tetangga.Setiap pagi, sebelum matahari menampakkan sinarnya, ia telah menyusuri tepian sungai untuk mengambil tanah liat terbaik.
Suatu pagi, jalanan yang basah oleh hujan membuat kakinya terpeleset.
"Aduh...!"
Keranjang berisi tanah liat terlepas dari pundaknya dan menggelinding menuju sungai.
"Tidak... itu semua pesananku!"
Sebelum keranjang itu hanyut, seorang pria berlari cepat, melompat ke tepian sungai, lalu menangkapnya tepat sebelum terbawa arus.
Pria itu menghampiri Ken Dahayu sambil mengangkat keranjang tersebut.
"Ini milikmu."
Ken Dahayu menghela napas lega.
"Syukurlah... Terima kasih banyak."
Pria itu hanya mengangguk.
"Lain kali, berhati-hatilah."
"Tunggu..."
Pria itu berhenti melangkah.
"Siapa namamu?"
Ia tersenyum kecil.
"Nanti saja."
"Lho? Memangnya nama juga rahasia?"
"Bukan rahasia."
"Lalu?"
"Belum waktunya."
Sebelum Ken Dahayu sempat bertanya lagi, pria itu telah pergi meninggalkannya.
Hari-hari berlalu.
Aneh, setiap kali Ken Dahayu mengalami kesulitan, pria itu selalu muncul.
Saat tungku pembakaran gerabah retak...
"Boleh kulihat?"
"Kau bisa memperbaikinya?"
"Aku akan mencoba."
Beberapa saat kemudian, tungku itu kembali kokoh.
Ken Dahayu tersenyum kagum.
"Kau memang pandai."
"Aku hanya pernah belajar sedikit."
"Sedikit? Hasilnya seperti ini?"
Pria itu hanya terkekeh pelan.
Di lain hari, saat Ken Dahayu kesulitan mengangkat tempayan besar.
"Berat?"
Ken Dahayu menoleh.
"Kau lagi..."
"Bukankah lebih baik aku membantu daripada melihatmu kesusahan?"
"Tapi nanti aku jadi terbiasa bergantung padamu."
Pria itu mengangkat tempayan itu dengan mudah.
"Kalau begitu, jangan terbiasa."
"Lalu kenapa kau selalu datang?"
Ia terdiam beberapa saat.
"Mungkin... karena takdir sedang rajin mempertemukan kita."
Jawaban itu membuat pipi Ken Dahayu menghangat.
Waktu terus berlalu.
Setiap pagi, tanpa sadar Ken Dahayu mulai mencari sosok itu di antara pepohonan.
Saat ia tak muncul, ada perasaan kosong yang sulit dijelaskan.
Suatu sore, Ken Dahayu sengaja duduk lebih lama di tepi sungai.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar.
"Kau menungguku?"
Ken Dahayu terkejut.
"Siapa bilang?"
Pria itu tersenyum.
"Kalau begitu aku yang salah."
"Bukan..."
"Hm?"
"Aku hanya... ingin mengucapkan terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya."
Pria itu menatap aliran sungai.
"Tak perlu."
"Kenapa?"
"Menolongmu bukan sesuatu yang perlu dibalas."
Ken Dahayu menatap wajahnya.
"Kau selalu menghilang setelah membantu."
"Apa itu mengganggumu?"
"Sedikit."
"Kenapa?"
"Karena aku bahkan tidak tahu siapa orang yang selalu menolongku."
Pria itu tersenyum tipis.
"Kalau suatu hari kau tahu namaku, apa yang akan berubah?"
Ken Dahayu terdiam cukup lama.
"Aku juga tidak tahu."
"Lalu kenapa ingin tahu?"
"Karena..."
Ia menggenggam ujung kain jariknya.
"...aku ingin punya sesuatu untuk kupanggil selain 'orang baik'."
Pria itu tertawa pelan.
"Itu sebutan yang aneh."
"Tapi benar."
Beberapa hari kemudian, desa mengadakan pesta panen.
Alunan gamelan menggema di pendapa, obor-obor menerangi halaman, dan warga berkumpul mengenakan pakaian terbaik mereka.
Di bawah pohon beringin tua, Ken Dahayu kembali melihat pria itu.
Kali ini ia berjalan menghampirinya tanpa ragu.
"Kau datang."
"Aku datang."
"Jangan pergi dulu."
"Aku tidak akan pergi."
Ken Dahayu menarik napas panjang.
"Sudah berkali-kali kau menolongku."
"Itu bukan masalah."
"Bagiku, itu sangat berarti."
Pria itu terdiam.
"Kalau malam ini pun kau tidak mau memberitahuku..."
Ken Dahayu tersenyum kecil.
"...setidaknya biarkan aku berhenti memanggilmu 'orang baik'."
Pria itu memandang wajah Ken Dahayu cukup lama.
Tatapannya lembut, seolah selama ini ia memang menunggu saat yang tepat.
Akhirnya ia menghela napas pelan.
"Kalau begitu..."
Ia tersenyum.
"Namaku..."
Ken Dahayu menahan napas.
Pria itu menatap langsung ke matanya.
"Lingga Sri."
Tamat.