*BAB 1: "Mas Vino Yang Baik"
Bulan bersinar menyapa gelapnya malam.
Di ruang makan, seorang laki-laki tua duduk tenang di kepala meja. Di sebelahnya ada Ibu yang sedang memegang sendok sayur, tapi belum disuapkan. Sedangkan Kak Dion, entah menunggu kedatangan seseorang dengan muka dinginnya. Jemarinya mengetuk meja. Tok. Tok. Tok.
Semua diam. Terlalu diam untuk makan malam keluarga.
Sampai pintu ruang makan terbuka.
"Maaf saya telat. Tadi ada urusan mendesak," Vino masuk. Berpakaian rapi. Kemeja putih, jas hitam. Senyumnya tulus sembari menunduk sopan. Senyum yang sama dari 15 tahun lalu.
"Tidak nak, kita baru saja akan makan setelah menunggumu datang," ucap sang Ibu. Nadanya lega. Tapi tangannya masih gemetar.
"Terima kasih Bu. Selamat makan," ucap Vino sembari tersenyum.
Dia duduk. Bukan di kursi kosong sebelah Bapak. Tapi di ujung meja. Paling jauh dari kepala meja. Seperti dulu.
Makan malam dimulai. Sendok beradu dengan piring. Tidak ada yang bicara soal kerjaan. Tidak ada yang bicara soal utang.
Karena semua ada di meja itu. Duduk. Diam.
Vino makan pelan. Sesekali dia melirik Kak Dion. Sekilas. Senyumnya tidak berubah.
Dan di bawah meja... tangannya menggenggam erat buku tua di pangkuannya.
Sendok terakhir ia letakkan.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Bu. Saya permisi," ucapnya, sembari berjalan keluar.
Namun sebelum kakinya melangkah, Ibu memanggilnya.
"Tunggu, Nak," suara Ibu ragu. "Apakah tidak ingin mengobrol dulu dengan Bapak atau Kakakmu, Nak?"
Tanpa banyak kata, Vino pun menjawab. Matanya tidak menoleh.
"Maaf, Bu. Lain kali saja. Permisi."
Tanpa menunggu lagi, ia melangkah pergi.
Bapak, Ibu, dan Kak Dion hanya diam. Tidak ada yang mencegahnya pergi.
---
*diruang kerja vino. Pukul 20.00.*
Bintang terlihat menemani sang rembulan yang kesepian.
Vino duduk di balik kaca yang menghadap langsung ke luar, menatap indahnya malam itu. Jasnya ia lepas dan diletakkan di sebelahnya. Tangannya masih menggenggam buku kusam berwarna coklat. Dibukanya perlahan.
Di halaman pertama, ada tulisan tangan anak SMP yang miring:
> 1. Bapak
> 2. Ibu
> 3. Kak Dion
> 4. Vino = Pecundang
Ditatapnya tiga nama paling atas yang sudah ada garis silangnya. Garisnya rapi. Penuh perhitungan.
Mata Vino berhenti di nama keempat: _Vino = Pecundang_. Ia menatap nama itu sangat lama.
Lalu perlahan... ia mengambil pensil yang ia selipkan di sela-sela buku itu. Tapi ia tak menyilang namanya. Ia hanya mengusap kata "Pecundang" dengan ibu jarinya. Sampai tintanya sedikit luntur.
Bibirnya bergerak. Tersenyum tipis. Ia berkata pelan, "Sudah bukan."
Lalu menutup buku itu kembali. _Tak._
Dan ia tersenyum. Tulus. Sama seperti di ruang makan tadi.
Hanya saja, kali ini... tidak ada yang melihat.
---
*BAB 2: "Pecundang"
15 tahun lalu dimeja makan yang sama
"Raportmu mana?"
Satu kalimat itu cukup bikin Vino terdiam.
Akhirnya, ia meletakkan map di meja. Tepat di depan Bapaknya.
Bapak membuka map itu. Hening sedetik. Lalu...
_SLAPP!!_
Raport itu mendarat di muka Vino. Ujungnya menggores pipinya. Darah tipis mengalir.
"Apa ini!! Kenapa nilaimu tidak seperti kakakmu!! Matematika 8, Bahasa Inggris 8,9!" Bapak meraung. Mukanya merah padam. "Malu-maluin! Lihat kakakmu, nilainya sempurna! Sedangkan kamu!!!"
Kak Dion bersandar di kursi. Menonton. Sambil tersenyum sinis.
"Dasar otak pecundang."
Ibu hanya diam. Menunduk. Tidak membela sama sekali.
Bapak menunjuk muka Vino. Jarinya gemetar marah.
"Untuk makan sebutir nasi pun kamu tidak pantas!"
Bapak menyambar piring di depan Vino. Membantingnya.
_Prak!_
Nasi berceceran di lantai. Butirannya kotor. Sama seperti harga diri Vino malam itu.
Anehnya... Vino tidak menangis.
Ia mengusap darah di pipinya dengan punggung tangan. Pelan. Lalu menatap Bapak. Menatap Ibu. Menatap Kak Dion. Satu per satu.
"Ya. Kalian benar," suaranya datar. Tapi menggema. "Aku hanyalah pecundang di rumah ini."
Lalu ia pergi. Diam. Tanpa menoleh.
---
*Di kamarnya. Pukul 20.12.*
Vino duduk di pinggir kasur. Di tangannya ada buku tulis lusuh. Halaman pertama masih kosong.
Dengan tangan gemetar menahan kecewa, ia menulis:
> 1. Bapak - _Yang selalu menuntut_
> 2. Ibu - _Yang selalu diam_
> 3. Dion - _Yang selalu meremehkan_
> 4. Vino = Pecundang
Ia menggenggam bolpen itu terlalu kuat. _Krek._
Bolpennya patah. Tintanya bercucuran di telapak tangannya. Hitam. Lengket.
Di kepalanya hanya ada satu tujuan.
Dengan wajah datar dan suara yang dingin, ia berkata pada jendela yang gelap:
"...Lihat. Giliran kalian nanti."
Ia berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap hujan di luar dengan mata penuh amarah yang tidak lagi ia sembunyikan.
*[AKHIR BAB 2]*
---
*BAB 3: "Tuan Rumah"*
*Pukul 19.40. Ruang Makan Utama. Rumah Wijaya.*
Meja marmer 12 kursi. Tapi yang duduk cuma 4 orang. Terlalu kosong. Terlalu bising.
---
Bapak. Tangan gemetar pegang gelas air putih. Rautnya lelah. 15 tahun jadi pecundang dalam semalam.
Ibu. Riasan seadanya. Mata bengkak. Udah nangis sebelum makan dimulai.
Kak Dion. Jas murah. Diem. Melamun ke piring kosong.
Di ujung sana.
_Tok. Tok. Tok._
Pintu kebuka.
Vino masuk.
Jas Brioni hitam. Jam tangan yang harganya bisa beli mobil Bapak.
Ia senyum. Senyum yang sama 15 tahun lalu.
"Selamat malam, semuanya."
Tidak ada yang jawab.
Ia jalan pelan. Berhenti di kursi paling pojok. Kursi pelayan dulu. Kursi yang gak pernah berubah.
Ia duduk.
"Silakan makan."
Pelayan datang. Sajikan wagyu. Tuang wine 1982. Suara tuangannya doang yang kedengeran.
Belum ada yang nyentuh sendok.
Bapak berdehem. Suaranya serak.
"Vino... soal perusahaan Dion. Bisakah kamu... menyuntikkan dana 50M? Kalau tidak, perusahaan akan bangkrut."
Vino gak angkat muka. Ia cuma naruh sendoknya.
_Clink._
Suara itu bikin semua orang nahan napas.
Ia baru mendongak. Senyumnya masih ada.
"50M? Anda tidak salah minta ke saya?"
Ia menatap Bapak. Lurus.
"Tak lupa apa yang dulu Bapak bilang ke saya?" bisiknya. "Apa perlu saya ingatkan, Pak?"
Ruang makan berhenti.
Bapak diam. Membisu.
Ibu langsung pecah. "Nak... Ibu minta maaf..."
Vino menoleh ke Ibu. Tanpa belas kasihan sedetik pun.
"Bisa Ibu diam?" katanya pelan. "Seperti dulu Ibu diam saat aku dihina?"
_BRAK!_
Kak Dion banting gelas. Air nyiprat ke taplak meja.
"SIALAN KAMU! MAU BALAS DENDAM KE ORANG TUA SENDIRI?! DASAR GAK TAU DIRI!!!"
Vino tidak marah. Ia malah tertawa. Pendek. Meremehkan.
Sama persis kayak tawa Dion 15 tahun lalu.
"Yang gak tau diri di sini siapa?" tanyanya. "Aku yang pecundang... atau kamu?"
Ia berdiri. Jalan muterin meja. Pelan. Sengaja.
Berhenti tepat di belakang kursi Bapak.
Ia membungkuk. Bisik di telinga Bapak.
"Gimana, Pak? Rasanya... jadi beban di meja makan sendiri?"
Bapak terpaku. Gak berani noleh.
Vino balik ke kursinya. Tepuk tangan sekali.
"Masuk."
Asistennya bawa map hitam. Tebal.
_BRAK!!_
Vino lempar map itu tepat ke muka Bapak. Jatuh ke piring. Kuah nyiprat.
Sama persis. Seperti yang Bapak lakuin ke dia dulu.
"Di dalam ada dua surat," katanya dingin. Tangan masuk kantong.
"Surat pertama: Sita semua aset PT Wijaya milik Kakak. Utang lunas. Tapi perusahaannya... sekarang milik saya."
Kak Dion ternganga. Napasnya putus.
"Surat kedua..." Vino diam. ia tatap mereka satu-satu. "Sertifikat rumah ini. Yang Bapak gadaikan 15 tahun lalu buat nutup judi. Sekarang... atas nama saya."
Ia dorong map itu. Cuma 10cm. Sengaja. Sampai di tengah meja.
"Ambil," tantangnya. "Kalau kalian merasa pantas."
Ia ambil serbet. Usap bibir pelan. Berdiri.
"Terima kasih untuk makan malamnya."
Ia jalan ke pintu.
Sunyi.
Sampai terdengar suara Bapak. Putus asa. Hancur.
"Tunggu!"
Vino berhenti. Gak menoleh.
"Jadi... kita harus bagaimana?"
Vino diam 2 detik.
"Lain kali saja."
_Klik._
Pintu ketutup.
Meninggalkan 3 orang di meja makan.
Map hitam masih di tengah meja. 10cm dari jangkauan mereka.
Dan mereka... bahkan gak sanggup ngambil.
Karena orang yang dulu mereka sebut pecundang...
Sekarang adalah Tuan Rumah yang sudah bicara.
---
*BAB 4: "Sisa Hutang"*
*Pukul 19.44. Neraka dimulai.*
_Klik._
Pintu ketutup.
Map hitam masih di tengah meja. Belum ada yang berani nyentuh.
---
Sunyi.
10 detik. Tidak ada yang berani bernapas kencang.
Sampai...
_Pyaarrrr!!_
Kak Dion nyambar botol wine 1982. Melemparkannya ke dinding.
Botol pecah. Isi merahnya nyiprat ke mana-mana. Kayak darah.
"ANJING!! SIALAN!!" ia meraung. "KITA DIJEBAK DARI AWAL!! MAKAN MALAM INI BUKAN MAKAN MALAM! INI PERANGKAP SIALAN!!!"
Ibu menjerit. Menutup telinga dengan kedua tangan.
Bapak tidak bergerak. Tidak berkedip.
Ia cuma menatap kosong ke kursi paling pojok. Kursi Vino tadi.
" Dion," suara Bapak datar. "Angkat kursi itu."
Kak Dion menoleh. "Apa?"
"ANGKAT. KURSI ITU. SEKARANG."
Dengan tangan gemetar, Kak Dion mengangkat kursi kayu itu.
Ia menengok ke bawahnya.
Di sana. Terukir kecil. Pakai pisau.
`VINO = PECUNDANG`
Dunia Kak Dion runtuh di tempat.
"Itu... itu tulisan yg ku ukir dulu..." bisiknya.
"YA!" Bapak membentak. Berdiri. "Anak itu duduk di kursi itu 15 tahun lalu! Dan sekarang... kita yang duduk di atas kursi pecundang ini!"
Bapak tertawa. Tertawa getir. Gila.
"Dia balas dendam dengan sempurna!!"
Ibu mengambil map hitam itu. Tangannya gemetar membuka halaman pertama.
Surat Sita. TTD Vino. Cap basah. Legal. Sah.
Di pojok kanan bawah... ada coretan pensil kecil.
> 1. Bapak ✓
> 2. Ibu ✓
> 3. Kak Dion ✓
> 4. Vino = Pecundang
Dan di bawah nama Vino... satu kalimat. Tinta emas.
`HUTANG LUNAS.`
Ibu menjerit. Merobek kertas itu sekuat tenaga.
"TIDAK!! TIDAK!!"
Sobekan itu jatuh ke lantai marmer. Tak bersuara. Tak ada artinya.
Bapak berjalan pincang ke jendela. Menatap keluar.
Mobil Vino sudah tidak ada.
Yang ada cuma gerbang besi tinggi. Dingin. Bertuliskan:
`V. WIJAYA`
Bapak menempelkan jidatnya ke kaca yang dingin.
"Dia tidak mengambil rumah ini dari kita..." gumamnya. Napasnya mengaburkan kaca. "Dia... mengambil kembali rumahnya."
_Clink._
Sendok perak jatuh dari tangan Ibu.
Gemerincingnya doang yang kedengeran di rumah miliaran itu.
Karena sekarang...
Mereka bukan lagi keluarga Wijaya.
Mereka cuma... sisa hutang yang belum ditagih.
---
BAB 5 : "Nama Keempat"*
*Pukul 19.47. Ruang Makan.*
*Tidak ada yang berdiri.*
---
Sobekan map hitam berserakan di lantai.
Kak Dion jongkok. Pelan.
Jarinya ngambil satu kertas yang paling utuh.
Di atasnya tertulis rapi:
> 1. Bapak ✓
> 2. Ibu ✓
> 3. Kak Dion ✓
> 4. Vino = Pecundang
Nama Vino tidak dicoret.
Di bawahnya, ada tulisan lain. Tinta emas.
`HUTANG LUNAS.`
Ibu merebut kertas itu dari tangan Dion.
"Kenapa... hanya namanya yang gak dicoret?"
Tidak ada jawaban.
Bapak berdiri. Kaku.
Ia jalan ke kursi pojok. Kursi yang dulu selalu dipakai Vino.
Ia balik kursinya.
Di bawahnya terukir: `VINO = PECUNDANG`.
Ukiran pisau anak SMP. Kasar. Dalam.
_Srek._
Bapak menggaruknya. Kuat.
Debu kayu rontok. Jarinya terluka. Berdarah.
Tapi tulisannya tidak hilang.
Malah semakin jelas.
"Gak bisa..." bisiknya. Lirih. "...gak bisa dihapus, Pak..."
Kak Dion melihat itu.
Ia pegang ukiran kayu itu juga.
Di telapak tangannya... bekas ukiran itu nempel. Merah.
Seperti luka bakar.
Dialah yang mengukir kata `PECUNDANG` 15 tahun lalu.
Sekarang, bekasnya ada di tangannya sendiri.
Ibu menatap tinta emas `HUTANG LUNAS`.
Ia dekatkan ke wajahnya.
Di pantulan tinta emas itu... ia melihat dirinya.
Muka Ibu. Sang Pecundang.
Yang dulu hanya diam saja.
Ia melempar kertas itu.
_Flap._
Kertas itu melayang. Mendarat tepat di kursi kosong Vino.
Kursi pojok.
Sunyi.
Jam dinding berdetak. 19.48.
Di rumah ini...
Tiga orang dewasa.
Kalah.
Oleh satu nama yang dulu mereka sebut pecundang.
Nama keempat.
Yang sudah tidak ada di ruangan itu.
Tapi namanya... terukir di dinding, di kursi, di tangan.
Dan tepat di muka mereka.
Selamanya.
---
*EPILOG: "Tuan Rumah Kosong"*
*5 Tahun Kemudian. Pukul 19.40.*
---
Rumah dengan nama `V. WIJAYA` di gerbangnya.
Setelah malam di ruang makan itu... Bapak, Ibu, Kak Dion pergi.
Sekarang, di ujung meja marmer yang besar...
Hanya ada Vino.
Jas Brioni. Jam mahal. Steak wagyu. Wine 1982.
Ya. Dia menang.
PT. Wijaya kini miliknya. Rumah ini miliknya.
Nama Bapak, Ibu, Kak Dion... sudah ia coret dari dunia bisnis.
Pelayan berdiri di pojok. Tanpa suara.
Hanya ada denting garpu dan pisau.
_Srek._
Ia menyuap makanan mewah itu.
Hambar.
Matanya melirik ke kursi pojok.
Kursi kayu tua. Sengaja tidak ia buang.
Kursi bertuliskan `PECUNDANG` itu ia jadikan pajangan.
Ia mengangkat gelas wine.
"Untuk kemenangan," bisiknya. Pelan.
Sunyi.
Tidak ada jawaban. Tidak ada sorakan.
Tidak ada yang mengangkat gelas untuknya.
Hanya dia. Merayakan kemenangannya... sendirian.
Ia meneguk wine itu. Matanya tidak lepas dari pintu.
Dulu, tiap 19.40, pintu itu selalu terbuka.
Bapak yang berteriak. Ibu menyiapkan makanan. Dion yang meremehkan.
Menyakitkan. Tapi rame.
Sekarang...
Hanya suara napasnya. Dan suara AC.
Ia meletakkan gelas.
Mengambil pulpen emas.
Di buku kulit coklat tua, ia tulis:
> 1. Bapak ✓
> 2. Ibu ✓
> 3. Kak Dion ✓
> 4. Vino ✓
Semua ia coret. Termasuk namanya sendiri.
Kali ini... semua benar-benar lunas.
Ia menatap coretan itu. Lama.
Lalu ia tertawa. Pelan.
Tertawa yang sakit di hati.
Ia menang.
Dengan kemenangan paling mahal...
Ia menang melawan orang... yang sudah tidak mau duduk satu meja lagi dengannya.
Ia mendorong piringnya. Penuh.
Berdiri. Jalan ke balkon.
Dari atas, ia melihat ke bawah.
Semua gedung. Semua perusahaan. Semua rumah.
Miliknya.
Tangannya menggenggam pagar besi yang dingin.
"Aku menang..." katanya. Suara kosong. "...Sang pecundang ini menang."
Entah kenapa... kemenangannya terasa sepi.
Di belakangnya.
Meja besar. Makanan mewah. Wine mahal.
Dan satu Tuan Rumah...
Makan malam.
Sendirian.
Selamanya.
*[TAMAT]*