Bel istirahat baru saja berbunyi ketika lorong sekolah mulai dipenuhi siswa yang berlarian ke kantin. Di tengah keramaian itu, hanya ada satu orang yang berjalan pelan sambil memeluk beberapa buku tebal di dadanya. Namanya Naya, gadis berkacamata dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya. Ia bukan murid yang terkenal. Bahkan, bisa dibilang keberadaannya sering luput dari perhatian. Setiap hari ia menghabiskan waktu di perpustakaan, membaca novel atau mengerjakan tugas. Tidak ada teman dekat, tidak ada geng, dan tentu saja tidak ada yang pernah mengajaknya mengobrol lebih dulu.
Berbeda jauh dengan Arga, ketua tim basket yang menjadi idola hampir seluruh siswi di sekolah. Tinggi badannya di atas rata-rata, senyumnya ramah, prestasinya membanggakan, dan sifatnya mudah bergaul. Ke mana pun ia berjalan, selalu ada yang menyapanya. Banyak yang mengira Arga adalah tipe cowok yang hanya akan berteman dengan orang-orang populer. Namun, tidak ada yang tahu kalau perhatian Arga diam-diam selalu tertuju pada seseorang yang bahkan tidak pernah menatapnya.
Suatu siang, ketika Naya sedang berjalan melewati lapangan basket, sebuah bola melambung terlalu tinggi dan menghantam bahunya. Tumpukan buku di tangannya langsung jatuh berserakan ke lantai.
"Astaga! Naya, kamu nggak apa-apa?" terdengar suara panik dari arah lapangan.
Naya yang masih sedikit terkejut hanya mengusap bahunya pelan. "A-aku nggak apa-apa..."
Beberapa detik kemudian, seseorang berlari menghampirinya dan langsung berjongkok membantu memunguti buku-bukunya.
"Maaf ya... serius, ini salahku. Teman-temanku lempar bolanya terlalu keras, terus aku juga telat nangkep. Harusnya tadi aku lebih hati-hati. Bahumu sakit nggak? Kalau sakit bilang aja, nanti aku antar ke UKS."
Naya langsung membeku saat menyadari siapa orang yang sedang berbicara di depannya.
Arga.
Ia buru-buru mengambil salah satu bukunya yang dipegang Arga.
"N-nggak... nggak sakit kok. Cuma kaget aja."
Arga tersenyum lega.
"Syukurlah. Aku kira tadi kena kepalamu. Kalau sampai kenapa-kenapa, aku bisa dimarahin satu tim. Oh iya... ini bukumu banyak banget. Kamu kuat bawanya?"
"Iya... udah biasa."
"Kalau gitu, biar aku bantu sampai kelas."
"Nggak usah, beneran..."
"Nggak apa-apa. Anggap aja ini bentuk permintaan maafku."
Sejak hari itu, Arga mulai sering menyapa Naya. Awalnya hanya sekadar mengucapkan selamat pagi ketika berpapasan. Lama-kelamaan, ia sengaja datang ke perpustakaan hanya untuk meminjam buku yang sebenarnya tidak ia baca.
Suatu sore, Naya sedang merapikan buku di rak paling atas perpustakaan. Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, ia harus berdiri di atas bangku kecil agar bisa menjangkau rak tersebut. Tanpa sadar, bangku itu sedikit bergeser hingga tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Sebelum sempat terjatuh, seseorang menahan pinggangnya dari belakang.
"Hati-hati."
Naya refleks menoleh.
Arga lagi.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Naya buru-buru turun dari bangku dengan wajah yang sudah merah padam.
"M-maaf..."
Arga justru tertawa kecil.
"Kenapa malah minta maaf? Yang hampir jatuh kan kamu."
"Aku... malu."
"Malu kenapa?"
"Soalnya... kamu sering nolong aku."
Arga memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil menatap Naya dengan senyum tipis.
"Kalau aku bilang aku senang nolong kamu, gimana?"
Naya terdiam.
"Aku juga senang ngobrol sama kamu, walaupun kamu jawabnya pendek-pendek. Aku senang lihat kamu baca buku sampai lupa waktu. Aku senang lihat kamu senyum sendiri pas bagian novelnya lucu. Bahkan... aku hafal jadwalmu ke perpustakaan."
Naya mengangkat kepalanya perlahan.
"K-kamu... hafal?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Soalnya aku sering merhatiin kamu."
Jantung Naya seakan berhenti berdetak sesaat.
"M-merhatiin... aku?"
"Iya."
"Ta-tapi... kenapa harus aku?"
Arga menghela napas pelan sebelum tersenyum lagi.
"Karena dari pertama kali masuk sekolah, mataku selalu nyari kamu."
Naya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Beberapa hari kemudian, sekolah mengadakan festival tahunan. Setelah pertandingan basket selesai dan tim Arga berhasil menang, seluruh siswa berkumpul di lapangan untuk menyaksikan pembagian hadiah. Semua orang mengira Arga hanya akan memberikan ucapan terima kasih seperti biasanya.
Namun, setelah menerima piala, Arga justru meminta mikrofon.
"Aku boleh ngomong sebentar? Nggak lama kok."
Suasana langsung hening.
"Aku tahu mungkin ini bakal bikin banyak orang kaget. Selama ini kalian mungkin mikir aku bakal suka sama cewek yang populer, cantik, aktif di organisasi, atau yang sering muncul di media sosial sekolah. Jujur... dulu aku juga nggak pernah nyangka kalau orang yang bikin aku deg-degan justru seseorang yang selalu duduk di pojok perpustakaan sambil baca novel."
Seluruh siswa mulai saling berpandangan.
Arga tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan.
"Aku suka sama seseorang yang mungkin bahkan nggak sadar kalau dirinya sering diperhatiin. Aku suka cara dia selalu mengucapkan terima kasih ke siapa pun. Aku suka cara dia tetap jadi dirinya sendiri meskipun orang-orang sering mengabaikannya. Aku suka senyumnya, walaupun dia jarang tersenyum. Dan yang paling aku suka... dia nggak pernah berusaha menjadi orang lain cuma supaya disukai."
Tatapan Arga perlahan mencari satu sosok di tengah kerumunan.
"Naya."
Semua kepala langsung menoleh ke arah gadis berkacamata yang berdiri dengan wajah panik.
Arga turun dari panggung dan berjalan menghampirinya.
"Naya, aku tahu mungkin ini terlalu tiba-tiba. Aku juga tahu kamu nggak suka jadi pusat perhatian. Tapi kalau hari ini aku nggak ngomong, mungkin aku bakal nyesel seumur hidup. Jadi... izinin aku jujur sekali ini aja."
Naya hanya bisa menatap Arga tanpa berkedip.
"Aku suka sama kamu. Bukan karena penampilanmu. Bukan karena kamu pintar. Aku suka sama semua hal sederhana yang ada di diri kamu. Setiap kali lihat kamu, rasanya capek latihan basket langsung hilang. Setiap kali kamu senyum, walaupun cuma sedikit, aku ikut senang seharian. Aku nggak butuh kamu berubah jadi orang lain. Tetaplah jadi Naya yang sekarang. Yang aku pengen cuma satu... boleh nggak aku jadi orang yang nemenin kamu, dengerin cerita kamu, jalan pulang bareng kamu, dan bikin kamu sadar kalau kamu jauh lebih berharga daripada yang selama ini kamu pikir?"
Mata Naya mulai berkaca-kaca. Selama bertahun-tahun ia merasa dirinya terlalu biasa untuk dilirik siapa pun. Namun, ternyata ada seseorang yang diam-diam memperhatikan setiap hal kecil tentang dirinya.
Dengan pipi yang memerah dan senyum malu-malu, Naya menganggukkan kepala pelan.
"Iya... aku mau."
Tepuk tangan dan sorakan langsung memenuhi lapangan sekolah. Beberapa siswi memang kecewa karena idola mereka akhirnya memiliki kekasih. Namun, saat melihat cara Arga memandang Naya dengan penuh ketulusan, mereka sadar bahwa cinta memang tidak pernah memilih siapa yang paling populer.
Kadang, cinta justru datang kepada seseorang yang selama ini merasa dirinya tak pernah terlihat. Dan sejak hari itu, gadis culun yang selalu duduk di pojok perpustakaan tak lagi berjalan sendirian. Di sampingnya, selalu ada ketua basket yang tak pernah bosan menggenggam tangannya dengan bangga.