Malam itu hujan turun tanpa henti.
Raka, seorang mahasiswa tingkat akhir yang terkenal paling pelit di kampus, akhirnya menerima tawaran kos paling murah di kota.
Alamatnya sederhana.
Gang Melati No. 13.
Semua orang memperingatkannya.
"Jangan ambil kamar nomor 13."
Raka malah tertawa.
"Yang bikin serem itu tagihan listrik, bukan hantu."
Pemilik kos, seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun, hanya tersenyum sambil menyerahkan sebuah kunci berkarat.
"Ingat, kalau jam dua belas malam ada yang mengetuk pintu tiga kali... jangan dibuka."
Raka mengangguk asal.
Malam pertama berjalan biasa.
Jam 23.59.
Tik.
Tik.
Tik.
Tepat pukul dua belas malam.
Tok...
Tok...
Tok...
Tiga ketukan.
Raka malah membuka pintu.
Tak ada siapa-siapa.
Yang ada hanya seekor kucing gemuk membawa sandal jepit sebelah.
"Hah? Hantunya miskin ya? Nyolong sandal?"
Ia membawa sandal itu masuk.
Besok paginya, sandal itu berubah menjadi sandal milik tetangga kos.
Tetangganya marah besar.
Raka dituduh pencuri.
Padahal ia sama sekali tidak tahu bagaimana sandal itu bisa berada di kamarnya.
Malam kedua.
Ketukan kembali terdengar.
Tok.
Tok.
Tok.
Kali ini Raka mengintip dari lubang pintu.
Ia melihat sosok perempuan berambut panjang.
Tubuhnya putih pucat.
Baju lusuh.
Perempuan itu berdiri diam.
Jantung Raka hampir copot.
Perlahan ia membuka pintu.
Ternyata perempuan itu berkata,
"Mas... WiFi-nya apa?"
Raka bengong.
"Kamu... hantu?"
"Iya."
"Terus ngapain cari WiFi?"
"Kuota mahal."
Raka menutup pintu pelan-pelan.
"Kayaknya aku kurang tidur."
Sejak malam itu, kejadian aneh semakin sering terjadi.
Lemari terbuka sendiri.
Lampu berkedip.
Suara langkah kaki terdengar setiap pukul tiga pagi.
Namun setiap kali Raka mengecek...
Yang muncul selalu hantu-hantu dengan masalah receh.
Ada pocong yang minta dibukakan simpul kainnya.
Ada kuntilanak yang mengeluh karena rambutnya rontok.
Ada genderuwo yang diet karena kolesterol.
Raka mulai terbiasa.
Bahkan ia membuat grup WhatsApp bernama "Penghuni Kos 13".
Anggotanya manusia satu orang.
Sisanya hantu.
Suatu malam listrik padam.
Semua hantu panik.
"Mas Raka!"
"Kenapa?"
"Gelap!"
Raka melotot.
"Lho, kalian kan hantu!"
"Iya... tapi tetap takut gelap."
Hari-hari berlalu.
Hubungan Raka dan para penghuni tak kasatmata semakin akrab.
Mereka sering membantu.
Dompet Raka yang hilang selalu kembali.
Motor yang hampir dicuri tiba-tiba membuat maling pingsan.
Skripsi yang hilang mendadak muncul di meja.
Namun ada satu aturan.
Jangan pernah membuka pintu gudang belakang.
Nenek pemilik kos melarang keras.
Suatu malam rasa penasaran mengalahkan logika.
Raka membuka gudang itu.
Di dalamnya hanya ada cermin tua.
Saat menatap cermin...
Pantulannya tidak bergerak.
Pantulan itu tersenyum sendiri.
Lalu berkata,
"Akhirnya kau datang."
Raka mundur.
Pantulan itu keluar dari cermin.
Wajahnya sama persis.
Bedanya...
Matanya hitam seluruhnya.
"Kau tinggal di kamarku."
Raka berlari sekencang mungkin.
Seluruh penghuni kos ikut panik.
Untuk pertama kalinya semua hantu ketakutan.
Pocong berbisik,
"Itu bukan penghuni sini."
Kuntilanak menangis.
"Itu Penunggu Cermin."
Ternyata selama puluhan tahun, makhluk itu memakan rasa takut manusia.
Semakin orang ketakutan, semakin kuat dirinya.
Semua penghuni kos selama ini justru sengaja membuat suasana lucu agar para penghuni baru tidak terlalu takut.
Karena jika seseorang benar-benar panik...
Penunggu Cermin akan bangkit.
Plot twist pertama.
Hantu-hantu yang selama ini terlihat menyeramkan ternyata justru pelindung manusia.
Mereka rela dianggap menakutkan demi menjaga satu makhluk yang jauh lebih berbahaya tetap tertidur.
Penunggu Cermin mulai mengejar Raka.
Setiap pantulan kaca berubah menjadi wajahnya.
Di sendok.
Di jendela.
Di layar ponsel.
Di genangan air.
Semua memantulkan sosok yang tersenyum menyeramkan.
Raka hampir menyerah.
Namun nenek pemilik kos akhirnya membuka rahasia terbesar.
Beliau bukan manusia biasa.
Beliau adalah cucu pendiri kampung.
Selama lima puluh tahun menjaga cermin itu agar tidak lepas.
Semua penghuni kos yang sudah meninggal memilih tetap tinggal.
Bukan karena penasaran.
Melainkan karena menjaga kampung.
Malam terakhir pun tiba.
Penunggu Cermin berhasil keluar.
Langit berubah merah.
Semua kaca pecah bersamaan.
Namun bukannya bertarung dengan kekerasan...
Raka justru mengajak makhluk itu berbicara.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Makhluk itu terdiam.
Untuk pertama kalinya wajah menyeramkannya berubah sedih.
"Aku... lupa caranya tersenyum."
Ternyata ratusan tahun lalu ia hanyalah anak kecil yang meninggal sendirian tanpa pernah merasakan kasih sayang.
Rasa kesepiannya berubah menjadi amarah.
Amarah berubah menjadi kutukan.
Kutukan itulah yang membuatnya menjadi Penunggu Cermin.
Raka mendekat.
Semua hantu berteriak melarang.
Namun Raka hanya tersenyum.
"Leluconku memang jelek... tapi kalau kau mau, kita bisa ketawa bareng."
Ia menceritakan lelucon paling garing yang pernah ada.
Tak ada yang tertawa.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lalu...
Makhluk itu tersenyum.
Senyum pertama setelah ratusan tahun.
Tubuhnya perlahan berubah menjadi cahaya.
Kutukan pun lenyap.
Seluruh penghuni kos ikut menghilang satu per satu.
Bukan karena kalah.
Tetapi karena tugas mereka telah selesai.
Sebelum menghilang, pocong berkata,
"Mas... makasih ya... akhirnya simpulku dibukain juga."
Kuntilanak tertawa.
"Jangan lupa pakai conditioner."
Genderuwo melambaikan tangan sambil membawa dumbbell.
"Kolesterolku normal sekarang."
Semuanya menghilang sambil tertawa.
Keesokan paginya...
Kos nomor 13 berubah menjadi bangunan biasa.
Tak ada lagi gudang.
Tak ada lagi cermin.
Tak ada lagi penghuni gaib.
Nenek pemilik kos juga menghilang tanpa jejak.
Di meja hanya tersisa secarik surat.
"Manusia sering takut kepada yang tidak mereka kenal. Padahal yang paling menyeramkan bukanlah hantu, melainkan hati yang kehilangan kasih sayang. Terima kasih telah mengajarkan kami tertawa sekali lagi."
Beberapa tahun kemudian, Raka menjadi psikolog.
Ia membuka layanan konseling gratis bagi anak-anak yang kesepian.
Di ruang praktiknya tergantung sebuah cermin tua.
Setiap kali ada pasien yang berhasil kembali tersenyum setelah lama terpuruk...
Sekilas terlihat pantulan seorang anak kecil ikut tersenyum dari balik cermin.
Tak pernah menakutkan.
Tak pernah mengganggu.
Hanya tersenyum.
Seolah akhirnya ia benar-benar pulang.