"Tiga...!"
"Dua...!"
"Satu!"
"Siap atau tidak, aku datang!"
Seorang anak laki-laki berlari kecil mengitari taman. Matanya menyusuri area sekitar, mencari teman-temannya yang bersembunyi di balik batang-batang pohon besar.
Tiba-tiba, seorang gadis kecil menampakkan diri dari balik perosotan sambil tertawa tertahan.
"Kau kena!" seru anak laki-laki itu.
Namun, bukannya berganti peran menjadi penjaga, anak laki-laki itu justru merangsek maju dan mendorong tubuh si gadis kecil dengan kuat dari atas perosotan.
"HUH!"
Bastian tersentak bangun. Napasnya memburu, dan dahinya basah oleh keringat dingin. Ia mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi buruk yang terasa begitu nyata.
Lampu ponselnya berkedip. Bastian meraih benda pipih itu dan membaca sebuah pesan singkat dari manajernya.
“Bastian. Jika kau terlambat lagi hari ini, gaji pokokmu akan kupotong!”
Bastian menghela napas berat. Ia bergegas turun dari tempat tidur, namun langkahnya langsung terhenti saat merasakan sesuatu yang aneh di telapak kakinya. Ketika menunduk, ia terkejut melihat ceceran tanah kering dan beberapa bagian yang masih basah mengotori lantai kamarnya.
"Uh, menjijikkan sekali. Dari mana datangnya tanah basah ini?" gumamnya heran.
Bastian mengerutkan dahi sejenak. "Apakah kemarin malam hujan? Sepertinya aku yang membawa tanah ini dari luar... tapi kapan?" Rasa pusing mendadak menyerang kepalanya, membuat Bastian memutuskan untuk mengabaikan keanehan itu. "Ah, lupakan saja. Aku harus cepat-cepat berangkat kerja."
Setelah menyapu lantai dengan terburu-buru, ia segera mandi dan bersiap pergi.
Dalam perjalanan menuju kantor, langkah Bastian terpaksa melambat saat melewati sebuah gang sempit. Tiga orang ibu-ibu tampak berdiri berkerumun di tengah jalan, asyik bertukar bisikan.
"Apa kau tahu? Nona Lela hilang!" ujar salah satu ibu dengan ekspresi heboh.
"Tentu saja tahu. Dia kan aktris terkenal," sahut ibu kedua, melipat tangan di dada.
"Benar. Tapi anehnya, dia dinyatakan hilang tanpa meninggalkan jejak sama sekali," timpal ibu ketiga.
Ibu kedua mendengus remeh. "Alah, paling dia cuma sedang bersembunyi untuk istirahat. Berita hilang itu pasti cuma bualan media."
"Tapi Jeng, kita semua tahu kota kita ini sedang tidak aman," bantah ibu pertama, suaranya merendah penuh misteri. "Ada sosok anonim yang suka menculik orang. Korbannya acak, mulai dari pejabat pemerintah sampai artis. Aku jadi curiga kalau Nona Lela adalah salah satu korban si Anonim itu."
"Benar juga, sih... Lagipula, aku dengar gosip kalau Lela itu punya masa lalu yang buruk. Dulu dia suka merundung orang di sekolah, dan setelah dewasa, dia jadi simpanan pria hidung belang."
"Hush! Jaga mulutmu," tegur yang lain sembari terkekeh.
Mendengar omong kosong itu, Bastian terus berjalan lurus tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun. Namun, bisikan berikutnya yang mampir ke telinganya mendadak membuat langkahnya kaku.
"Eh, kalian hati-hati sama anak muda yang lewat itu," bisik ibu kedua sambil melirik sinis ke arah Bastian.
"Kenapa memangnya?"
"Kalian tahu Nona Salma, kan? Kemarin dia sempat dekat dengan anak itu. Eh, tidak lama kemudian dia hilang misterius. Aneh, kan?"
Bastian mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dasar ibu-ibu tukang sebar fitnah," umpatnya dalam hati.
Setibanya di kantor, Bastian langsung duduk di meja kerjanya dan menyalakan komputer. Belum sempat ia menyentuh papan ketik, Fikri, sahabat dekatnya, sudah menggeser kursi mendekat.
"Sst... sst... Bas, kamu sudah dengar kabarnya belum?" bisik Fikri penuh selidik.
"Hmm... dengar apa?" jawab Bastian malas.
"Teman sekolahmu dulu. Si Lela, dia—"
"Sudah dengar. Tadi ibu-ibu di gang sudah heboh menggosokkannya pas aku berangkat ke sini."
Fikri membelalakkan mata. "Wih, tumben cepat dapat informasi. Bagaimana, kamu senang, kan?"
Bastian mengernyitkan alis. "Senang apanya? Orang hilang kok malah senang."
"Loh, tentu saja! Dia kan dulu yang merundungmu habis-habisan sampai kamu masuk rumah sakit. Untung saja kepalamu yang dipukul pakai—"
"Sudahlah, Fik. Itu sudah jadi masa lalu," potong Bastian cepat, tidak ingin mengingat rasa sakit di kepalanya.
"Tapi beruntung juga si Anonim menculik dia," lanjut Fikri, mengabaikan teguran Bastian. "Hitung-hitung mengurangi orang bermasalah di kota ini. Gara-gara kelakuan orang-orang seperti Lela, berita kriminal jadi marak di mana-mana."
Bastian terdiam sejenak sebelum bertanya, "Jadi... menurutmu Anonim itu adalah seorang pahlawan?"
"Bisa dibilang begitu," sahut Fikri mantap. "Kau tahu sendiri, seminggu yang lalu dia menculik seorang anggota pemerintah yang korup. Lalu, dia mengungkap semua kejahatan pejabat itu langsung di layar televisi. Hebatnya, tidak ada satu pun polisi yang bisa melacak siapa si Anonim ini. Apa yang dia lakukan itu—"
PLAK!
Sebuah map tebal tiba-tiba dihantamkan ke atas kepala Bastian. Bastian meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri, lalu menoleh ke belakang. Manajernya sudah berdiri di sana dengan wajah masam.
"Hmm... terlambat tiga menit, dan sekarang kau malah bersantai sambil bergosip di sini," sindir sang manajer ketus.
Bastian tidak menjawab. Ia hanya terdiam dan buru-buru menggerakkan jemarinya di atas keyboard. Manajer itu kemudian mengempaskan map tebal tadi ke meja Bastian.
"Hari ini semua laporan ini harus selesai. Kalau tidak... kau kupecat!" ancamnya sebelum berbalik pergi menuju ruangannya.
Bastian menatap map itu dengan pandangan benci. "Manajer korup," umpatnya dalam hati. "Aku harap Anonim menangkapnya dan membeberkan semua kejahatannya ke publik. Bukan hanya aku yang jadi korban pemotongan gaji sepihak di sini, tapi..."
"Siti, ke kantor saya sekarang!" terdengar teriakan manajer dari ambang pintu ruangannya.
Bastian menoleh. Ia melihat Siti, seorang gadis berkacamata, berjalan dengan tubuh gemetar dan wajah pucat memasuki ruangan sang manajer.
Fikri menyenggol lengan Bastian lagi. "Bas... coba tebak. Kira-kira Siti bakal keluar dari ruangan itu dengan ekspresi seperti apa nanti?"
"Aku tidak peduli," jawab Bastian dingin.
"Ayo berbaik hati sedikit, Bas. Siti pasti akan dimanfaatkan oleh manajer, entah dengan dalih kenaikan gaji atau ancaman pemecatan."
"Hal seperti itu sudah biasa terjadi di kantor ini," sahut Bastian datar. "Makanya banyak karyawan perempuan yang memilih berhenti setelah beberapa kali dipanggil ke ruangan itu. Datang dengan nama baik, pergi dengan membawa beban di perut mereka."
Fikri menggeleng-gelengkan kepala. "Coba bayangkan kalau kita, para karyawan pria, yang dipanggil dan diberi perlakuan aneh..."
Bastian langsung memotong dengan wajah jijik. "Apa? Apa yang kau pikirkan? Kita ditusuk? Kau gay, ya?!"
"Ya tidaklah, kocak! Maksudku diperas uangnya!" seru Fikri tak kalah kesal.
"Sudah, sana balik ke mejamu sendiri. Nanti aku kena pukul map lagi gara-gara kamu," usir Bastian. Fikri pun akhirnya mengalah dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Bastian yang mulai tenggelam dalam pekerjaannya.
Malam harinya, Bastian berjalan kaki menyusuri trotoar menuju jalan pulang. Suasana kota terasa lebih mencekam dari biasanya. Melalui pengeras suara publik, terdengar imbauan berulang-ulang dari pihak berwenang, melarang masyarakat untuk beraktivitas di luar rumah hingga larut malam.
Saat ini, kepolisian sedang memperketat patroli besar-besaran untuk memburu sosok misterius yang sangat ditakuti kota itu: "Anonim". Seorang penculik dan pembunuh berdarah dingin yang mengeksekusi korbannya tanpa kenal ampun.