Pinokio seri dari Segitiga
Author: jnggalvgaaa
“Mending ambek Niar, No.”
“Mending ambek Caca, No.”
Kata ‘mending’ itu tidak pernah asing di telingaku sejak SMP. Ku akui pertemananku sangat tidak wajar, istilahnya sekarang—di setir circle.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan Ginar. Perempuan yang kutemui saat kelas delapan waktu itu.
Anehnya, sejak dia hadir… kata mending itu tak pernah kudengar.
Raka Avino Lentera namaku yang akrab disapa dengan Vino. Aku punya satu hobi yang sedari kecil sudah ku tekuni, hobi itu adalah sepak bola. Sejak duduk di bangku SD, aku bergabung dengan salah satu club bola, dan disanalah aku dibentuk. Kemahiran itu aku teruskan saat masuk SMP. SMP ku saat ini adalah salah satu SMP yang terkenal dengan futsal dan sepak bola.
Di bangku kelas tujuh, aku sempat jatuh suka pada seorang siswi yang bernama Vinka, perempuan manis dan pintar itu, berhasil membuat hatiku goyah saat menatapnya. Hubungan kami tak begitu lama, hanya berjalan selama tiga bulan.
Selesai dengan Vinka, aku sempat merasa kehilangan seseorang di hidupku. Tapi semua itu hilang, saat Nia datang di kehidupanku. Kedatangan Nia membuatku kembali utuh seperti semula. Selain itu, hubunganku dan Nia bertahan hingga satu tahun.
“Itu bukan aku! Kamu percaya sama mereka?,” suara Nia sedikit keras dan bergetar dan mata nya tergenang air.
“Belum cukup dengan semua bukti ini? Mau apa lagi kamu dengan bukti ini?,” bentakku kepada Nia yang sedari tadi mengelak atas perbuatannya.
“... Maaf. Aku salah, aku tahu semua itu salah. Sekarang mau mu apa?”
“Mau ku? Kita selesai dari sini aja. Selama satu tahun ini, aku baru sadar satu hal. Aku, jatuh cinta sendiri,” ucapku dan meninggalkan Nia yang sedang tertunduk itu.
Dua minggu lalu, sekolah mengadakan acara sekolah yang mengharuskan siswa-siswi nya menginap. Kebetulan Nia juga terpilih untuk mengikuti kegiatan itu. Selama acara, aku mendapatkan kabar kalau Nia dekat dengan laki-laki lain. Bukan hanya satu temanku yang memberi kabar buruk itu, banyak yang memberitahuku. Dan akhirnya, hubungan kami kandas setelah satu tahun berjalan.
❔Oh, Itu
Semua itu berlalu dengan cepat, hingga akhirnya aku naik ke kelas delapan.
Kelas baru, karena sekolah ada sistem rolling setiap kenaikan kelas delapan. Di kelas baru ini, aku tidak pernah menyangka akan satu kelas dengan salah satu siswi yang… pendiam tapi aktif.
“Eh, siapa namamu. Aku pinjam sapu dong,” suara siswi itu pertama kali kudengar saat kami sedang membersihkan kelas. Hari ini hari Jumat, setiap Jumat selalu kerja bakti, dan setiap kelas akan terbagi beberapa tugas. Kebetulan aku kebagian membersihkan kelas.
“Ekhm, ekhm Vino rek. Jok ijo, No wajahmu,” goda teman-teman yang satu tim denganku. Aku hanya membalas dengan lirikan tajam. Ini masih satu minggu setelah rolling, jadi, aku tidak seberapa kenal dengan teman sekelas. Bahkan siswi itu, aku tidak pernah melihat ataupun mendengar namanya saat kelas tujuh.
Sampai akhirnya, setelah tiga minggu, wali kelas mengadakan pemilihan koordinator kelas, yang terdiri dari ketua kelas, wakil ketua kelas, bendahara, dan sekretaris. Dan… aku terpilih menjadi sekretaris kelas bersama Ginar, siswi yang kemarin meminjam sapu, iya, namanya Kevia Ginary Rennatha, tapi teman kelas dan guru memanggil dia Ginar. Bekerja sama dengan Ginar tak buruk, bahkan aku lebih terbantu dengannya. Sejak hari pemilihan koordinator kelas itu, aku semakin dekat dengan Ginar. Hanya sekedar untuk membicarakan siapa saja yang tidak masuk.
Selama itu juga, aku merasa ada yang aneh dari Ginar. Setiap kali kita berdua menuju ruang BK untuk memberi data kehadiran siswa untuk pembagian ompreng mbg, dia selalu menjauh. Entah kenapa.
“Kamu kenapa menjauh gitu sih? Risih kah?,” tanyaku saat berjalan menuju ruang BK untuk mengisi data kehadiran.
“Engga, aku takut,” ucapnya sambil menunduk.
“Takut? Aneh. Aku gak serem, kenapa takut?,” tanyaku heran. Ginar masih setia dengan kepalanya yang menunduk.
“Aku gak takut kamu. Aku takut Nia… nanti marah,” jelasnya membuatku terkejut mendengar itu.
“Hah? Apa hubungannya? Aku sama Nia kan bukan siapa-siapa.”
“Yeuu, itu kan menurut kamu. Nia tuh masih gamon sama kamu, masih memantau siapa saja yang dekat sama kamu. Kalau aku dekat sama kamu, nanti aku disinisin sama dia, di ghibahin sama dia, aku gak mau pertemanan ini retak gegara cowok,” jelasnya. Baru kali ini aku mendengar Ginar mengomel di hadapanku, ya meski dia tidak menatapku.
Aku hanya mengangguk paham mendengar itu. “Aneh, aku gak suka sama perilaku Nia. Terlalu mengusik kehidupanku, apa urusannya denganku? Dia dekat dengan laki-laki lain, aku diam, lantas mengapa dia begitu ingin tahu tentang siapa saja yang dekat denganku. Eh sebentar, emang kita dekat?”
“Engga juga. Tapi kita tuh sering ngobrol, ya meski ngobrol soal kelas. Tapi aku tetap takut anjay.”
“Hahaha, ya sudah lah. Toh kamu mau mempertahankan pertemanan mu sama Nia.”
Kelas delapan ini, aku memang masih satu kelas dengan Nia. Dan ucapan Ginar itu benar ada nya. Karena semenjak hubungan kita selesai, dia selalu mengganggu hidupku. Padahal aku sendiri tak pernah mengganggu nya.
❔Nar…
Setengah semester ganjil ini, aku semakin dekat dengan Ginar. Aku sempat bilang, kalau aku satu kelas dengan siswi pendiam tapi aktif, siswi itu ya Ginar. Dia itu pendiam, tapi dia aktif. Bahkan dia aktif di bidang sastra, gak heran kalau dia jadi murid kesayangan guru Bahasa.
Kedekatanku dengan Ginar sekarang bukan hanya sekadar soal berapa siswa yang tidak masuk. Beberapa kali aku bertanya kepada Ginar tentang soal yang susah bagiku.
Hari ini pelajaran IPA, dan kami sudah memasuki fisika. Saat guru menjelaskan di depan, aku paham. Tapi saat guru memberi tugas mandiri, aku bingung. Banyak kertas yang aku buang karena salah menghitung rumus itu.
Di tengah pusingnya tiga puluh dua kepala yang ada di kelas, aku melihat satu siswi yang terlihat tenang saat mengerjakan itu. Ginar, dia tenang sekali. Aku memutuskan untuk menghampiri dan duduk di belakang Ginar.
“Nar. Hei,” ucapku sambil sedikit menyenggol pundak Ginar.
“Apa sih, fans. Kenapa?,” ucap Ginar.
“Dih? Paham gak? Gimana ngerjainnya?”
“Kamu tanya aku? Aku tanya siapa?”
“Lah. Kamu ngerjain apa itu?,” tanyaku sambil sedikit mencondongkan badan ke meja Ginar.
“Nulis puisi,” suara Ginar seperti tak bersalah telah membuatku kecewa. Aku kira dia mengerjakan tugas IPA, ternyata malah bikin puisi, ini kalau ketahuan guru sudah dimarahi dia.
“Pelajaran apa kok bikin puisi, jir? Aneh kamu.”
“Pelajaran IPA. Tapi ini nyambung kok, aku bikin puisi tentang betapa rumitnya jatuh hati. Kalau IPA kan buah jatuh.”
Aku tertawa mendengar penjelasan Ginar. Bisa-bisanya menyamakan itu semua. “Terserah kamu. Kalau tugasnya dikumpulkan sekarang gimana?”
“Tinggal ngumpulin,” ucapnya santai.
“Tapi kamu belum, nyontek ya?”
“Gak lah. Yang bilang aku belum siapa? Nih lihat,” lanjutnya sambil membuka lembaran yang tertutup oleh kertas puisi.
“Kamu bisa? Gimana cara nya?”
“Gak bisa jelasin, lihat aja,” Ginar memberiku buku tulis IPA yang lengkap itu. Tak kusangka, aku kira dia belum.
“Aku kegocek dua kali,” batinku saat menyalin tugas Ginar.
Kedekatanku dengan Ginar bukan sekali itu saja. Dan aku juga gak selalu tanya tugas untuk ngobrol dengannya. Aku juga sering menjahilinya, hanya sekadar memanggil namanya tanpa sebab.
“Nar,” panggilku saat dia terduduk dengan tatapan kosong di depan kelas.
“Apa?,” tanya nya polos. Sengaja tak kujawab, ku tinggal saja dia. Hehehe, maaf. Kalau ditanya kenapa, aku jawab, karena aku suka melihat wajah polosnya yang menjawab. Kadang dia juga marah, kalau dia marah, aku cukup nyengir dan pergi meninggalkannya.
❔Nomor Dada
Hari Rabu menyapa dengan hangat. Meski hangat, tapi aku benci hari Rabu. Karena hari ini ada empat mata pelajaran dengan buku yang besar, sungguh malas.
Pelajaran setelah istirahat pertama, di isi dengan seni budaya. Seni budaya kali ini, guru memberi tugas menggambar sesuai imajinasi kita, tak lupa di beri warna juga. Sialnya, aku lupa membawa pewarna. Harap maklum, karena tasku sudah penuh di isi dengan buku besar. Menoleh ke sana ke mari melihat adakah siswa yang bisa aku pinjam pewarna nya. Mata ku tertuju pada Ginar dan Dira yang duduk berdua di bangku depan.
“Gabung ya,” ucapku.
“Gak, gak boleh,” sahut cepat Dira.
“Idih, pelit amat. Punya siapa ini?,” tanyaku sembari menunjuk kotak yang berisi lengkap warna.
“Punya Ginar,” jawab Dira sambil menyenggol lengan Ginar.
“Pinjam ya,” ucapku sambil menatap lurus ke arah Ginar yang masih menunduk dan fokus pada gambar nya. Dia tak menjawab, hanya mengangguk. Itu adalah hal biasa bagiku.
Tapi hari ini sedikit tak biasa, Ginar yang selalu menjauh dariku bahkan susah di ajak bercanda, hari ini dia bisa tertawa denganku dan Dira. Ginar dan Dira ini memang cocok kalau jadi satu, sama-sama receh.
“Tahu wisata air panas gak?,” tanyaku pada salah satu dari mereka.
“Tahu, itu di Pacet bukan sih? Aku pernah ke sana,” jawab Dira.
“Bendahara ndi bendahara. Ayo e,” suaraku sedikit keras saat itu.
“Bayar kas lah anjay. Wakmu ae gak gelem bayar kas. Ate numpak opo?,” jawab salah satu bendahara kelas yang mendengar ucapanku.
“Keong, numpak keong,” jawab polos Ginar, membuat tawa teman-teman langsung memecahkan keheningan itu. Bahkan guru yang sedang fokus dengan laptopnya pun tertawa mendengar celetukan Ginar.
Hari demi hari berlalu dengan cepat, hingga dua minggu terakhir Oktober. Hari Senin, menyapa seperti biasa, dan diawali dengan upacara. Selesai upacara, kelas di isi dengan wali kelas untuk pembinaan acara sekolah. Rabu depan, sekolah mengadakan beberapa lomba yang harus diikuti oleh siswa.
“Vino, Zidan, Ginar, sama Ghea kalian ikut musikalisasi puisi ya. Konsepnya tolong habis ini di rundingkan lagi, nanti setelah istirahat kedua saya masuk dan harus sudah ada konsep,” ucap wali kelas kami. Aku dan ketiga siswa yang ditunjuk tadi, hanya sanggup mengangguk.
“Musikalisasi puisi? Apa itu? Asing sekali di telingaku,” batinku sambil mengernyitkan keningku.
Karena jam pelajaran selanjutnya kosong, kami berempat memutuskan untuk mojok di belakang kelas. Merundingkan semua ini.
“Musikalisasi puisi itu apa wek?,” tanyaku.
“Musikalisasi puisi itu puisi yang dijadikan lagu, tapi setahu aku bisa digabung dengan lagu. Paham gak?,” jelas Ginar. Aku, Zidan, dan Ghea serempak menggeleng tak paham.
“Oala. Gini maksudku. Kita nyanyi, terus di sela-sela lagu, diisi dengan puisi. Paham kan.”
“Paham,” jawab kami serentak.
“Sekarang, kita mau pakai puisi siapa? Bagi tugas kah?,” tanya Ghea.
“Kalau puisi, kasih ke Ginar aja. Pasti handphone-mu penuh sama puisi, ya kan,” potongku.
“Boleh. Tapi, tema nya apa? Dan nanti di jadikan lagu atau tidak?”
“Gak usah, susah. Mending lagu campur puisi. Karena puisi udah ada kamu, sekarang yang main alat musik siapa? Dan alat musik apa?,” tanya Ghea. Pertanyaan itu membuat kami saling pandang.
“Aku bisa main gitar,” ucap Zidan.
“Ya sudah, Zidan yang bawa gitar. Terus yang nyanyi siapa? Yang baca puisi… Ginar.”
“Kok aku? Aku kan tulis puisi aja.”
“Di antara kita, yang jago puisi itu kamu. Udah kamu aja. Kita bawain lagu—” perkataan Ghea di potong oleh Ginar.
“Puisi nya dulu tentuin, jangan tiba-tiba lagu.”
“Cinta. Tentang cinta, lucu itu hehehe.”
“Kalau soal cinta tapi patah hati gimana? Aku ada puisi yang mungkin kalian setuju. Dan kalau pakai puisi ini, lagu yang cocok itu Jakarta Hari Ini dari For Revenge.”
“Setuju! Deal atau gak nih?,” tanya Ghea.
“Oke sip, mantap. Zidan gimana? Bisa kah?”
“Aman. Yang nyanyi siapa?”
“Gak tahu. Pikir nanti aja. Nih puisi nya baca lah dulu, kalian cocok gak,” ucap Ginar sembari memberikan handphone nya.
“Yang nyanyi Vino aja. Bagus suara dia tuh,” suara Nia memecahkan keheningan antara kami berempat.
“Vino? Omakk, yakin kau? Aku gak yakin,” ledek Ghea. Ginar dan Zidan hanya tertawa mendengar ledekan Ghea.
“Yee! Gak usah ngeledek kau. Suara gua tuh emas!”
“Ibarat merdu, merusak dunia,” lagi dan lagi celetukan Ginar membuat yang lain tertawa, termasuk aku.
“Ya sudahlah, Vino sama Ginar aja. Aku nanti alat musik. Kita latihan dulu?,” ajak Zidan.
“Yang latihan aku, bukan kau,” ucapku dengan bola mataku yang berputar.
“Sama Ginar, gak sendirian kok.”
Meskipun bersama Ginar, yang lebih latihan itu pasti aku. Ginar hanya sekadar membaca puisi.
Di tengah lirik lagu yang ku nyanyikan,
“Dan sebuah pesan menyapa
Menjelang hari bahagia
Tanpa namaku yang di sana
Temani-mu selamanya
Menyakitkan,” suaraku mendalami lagu itu.
“Aduh, sakit banget, No. Sedih banget,” ledek Ginar dengan ekspresi yang berlebihan. Di tengah intro lagu, baru di isi dengan puisi Ginar. Mendengar dan melihat ekspresi Ginar saat membaca puisi membuatku menganga. Bagaimana tidak? Rasa sakit dari puisi itu tersalurkan dengan mudah ke semua orang.
“Keren! Mantep! Top! Hebat!,” puji Zidan dan Ghea secara bersamaan.
Hari Rabu pun tiba. Kami siap dengan kostum yang sudah direncanakan sejak awal. Kami berdiri dipinggir lapangan, menunggu giliran tampil.
“Vin, sini,” panggil Ginar yang sedikit jauh dariku.
“Apa? Kenapa?’
“Pakai nomor dada ini,” ucap Ginar sambil menyodorkan nomor dada berangka delapan.
“Apa sih ini. Susah banget, pasangin, Nar,” ucapku. Saat Ginar memasangkan nomor dada itu, entah kenapa degup jantungku tidak karuan. Baru kali ini, sedekat ini. Bahkan nafas Ginar terdengar, aku harap degup jantungku tak terdengar oleh Ginar.
“Gini aja gak bisa!,” ucapnya sambil memukul bidang dadaku. Aku hanya sanggup tersenyum melihat itu.
Sembari menunggu giliran, aku menjauh dari Ginar dan mendekati Zidan. Entah kenapa, saat itu rasanya aku ingin berteriak kesenangan. Ingin rasanya bicara,
“GILA! TADI BENERAN? SEDEKAT ITU DENGAN MY FINESHYT?,” batinku.
“Eh? Apa tadi ku bilang? My fineshyt?,” gumamku saat aku tersadar dari itu. Emang, sejak kapan aku jatuh suka pada nya? Sejak hari apa? Sejak detik kapan?
“Wakmu lapo? Mesem-mesem dewe,” suara Zidan membuatku tersadar dari pikiran yang ke mana-mana.
“Gak og. Gak apa.”
❔Di Antara Aroma Kopi
Hari Selasa, aku izin tidak mengikuti pelajaran dikarenakan ada acara di luar. Tepatnya di Mojokerto, sebenarnya acara itu milik kakak sepupuku yang menikah.
Sebelum akhirnya sampai di rumah kakak sepupu, ayah memberhentikan mobilnya tepat di salah satu cafe dekat sana. Dari dalam mobil, aku melihat ada satu perempuan yang kemungkinan aku kenal.
“Ginar? Gak mungkin ah, dia sekolahkan,” batinku seraya membuka pintu mobil.
Dari kejauhan, aku masih merasa kalau perempuan itu Ginar, meski posisi nya saat itu membelakangiku. Semakin aku berjalan mendekat ke arah perempuan itu, ternyata benar dugaanku. Itu Ginar dengan ayah ibu nya.
“Hayo bolos!,” godaku. Melihat ekspresi Ginar yang kebingungan membuatku semakin gemas. Sembari menunggu Ginar sadar bahwa ini aku, aku terlebih dahulu salim ke orang tua Ginar.
“Loh? Vin?”
“Loh? Bolos yeekk.”
“Gak ya! Aku ijin. Kamu ngapain ke sini?”
“Ijin juga, ada keperluan keluarga.”
“Udah berkeluarga ternyata, mana Vinka? Itu istri kamu kan,” goda Ginar. Aku hanya sanggup menyenggol pundak Ginar untuk diam tidak membahas Vinka saat itu.
“Heh, astaghfirullah. Gak gitu konsepnya.”
“Siapa tahu kan,” ucapnya tanpa rasa bersalah.
“Gak jelas.”
“Kayak kamu.”
“Heeughhh,” balasku dengan kedua tangan mengepal gemas melihat ekspresi Ginar yang polos itu.
Selesai ngobrol random dengan Ginar, aku duduk tak jauh dari bangku nya. Meski sedikit jauh, tapi, kami berhadapan. Melihat ekspresi Ginar yang terlihat kesal membuatku semakin gemas lagi.
Aroma kopi di cafe membuatku larut dengan suasana cafe. Kini kami sibuk dengan handphone masing-masing, meski begitu, kepalaku selalu menggambarkan paras ayu Ginar tadi. Entah kenapa wajahnya tergambar jelas di kepalaku. Dan itu membuat bibirku terangkat dengan sendirinya.
Keesokan harinya, aku kembali bertemu Ginar di kelas. Saat dia sendiri, sengaja aku menghampirinya.
“Kemarin ke mana?,” tanyaku sembari menyeret kursi untuk duduk di sebelah Ginar.
“Kepo.”
“Aku cuman pingin tahu aja.”
“Sama aja. Kemarin aku survey sekolah.”
“Hah? Gimana-gimana?”
“Kelas sembilan aku pindah,” jelasnya dengan kepala yang masih menunduk dan jemarinya yang tak berhenti mencoretkan tinta di atas kertas.
“Lohhh! Pindah? Mendadak banget.”
“Engga juga. Kenapa sih? Heboh bener.”
“Itu tandanya ada sesuatu,” ucapku dengan mudah tanpa memikirkan resikonya. Selesai bicara itu, aku meninggalkan Ginar yang masih setia menulis di buku nya.
“Ih! Aku maeng ngomong apa seh!,” gumamku sambil berkali-kali menampar pelan kedua pipiku.
“Loh, Vin. Ojok menganiaya diri sendiri,” goda Deryn yang baru saja datang dan melihatku dengan gelagat aneh tadi.
“Apa seh, melok ae codot ikii.”
❔Pesan Pertama dan Kebiasaan Baru
Hari Sabtu ini, aku merasa ada yang sedikit kosong. Mungkin karena aku sudah mulai jatuh suka pada seseorang, iya, seseorang. Ginar. Entah kenapa sejak kejadian ia memasangkan nomor dada itu, hati dan jantungku mulai gampang bergetar saat di dekatnya.
Vino : Nar. Simpan ya, Vino.
Pesan itu kukirim tanpa pikir panjang. Selama satu kelas dengan Ginar, aku belum pernah chattingan dengannya. Interaksi hanya terjadi di sekolah.
Ginar sekre I : Okeey, fens.
Vino : Iya wis aku fans mu.
Ginar sekre I : Ngaku dia, awokawokawok 🤭.
Vino : Ngomong keong.
Itu pesan pertama yang aku kirim ke Ginar. Dari pesan itu, semua berubah drastis. Ginar yang dulu menjauh dari ku, sekarang dia mulai sedikit mendekat.
“Pinooo, kamu piket kan nanti? Sapu bagian sini ya, aku gak sengaja buang, hehehe,” suara Ginar tepat di belakangku. Dengan mudahnya dia melemparkan senyuman manis nya yang membuatku mabuk kepayang. Melihat senyum manis itu hanya berlangsung lima detik, tapi senyuman itu permanen tinggal di kepalaku.
“Ya udah atuh, tinggal di pungut bentar.”
“Ayo lah, kamu kan koordinator piket hari ini, ya ya, pliss, makasih, Pinokio,” ucapnya dengan memberikan senyuman lengkap dengan sparkling eyes. Lucu gemas, membuatku tidak tega untuk menyuruhnya membersihkan sampah itu, alhasil aku hanya sanggup mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
Saat istirahat, aku menghampiri Ginar yang duduk bersama keempat temannya. “Nanti pulang, tungguin ya,” suaraku pelan berbisik tepat di telinga Ginar. Ginar tersenyum dan mengangguk, tapi sialnya dia tidak menoleh ke arahku.
“Memang wanita aneh. Aneh begitu, aku jatuh suka pada nya,” gumamku seraya meninggalkan Ginar.
Jangan merasa aneh membaca ini, karena percayalah, meski hubungan kami belum benar-benar jelas, tapi ini adalah penghubung ke jelas. Paham kan? Kalau tidak, ya sudahlah.
Sepulang sekolah, Ginar benar menungguku piket. Dia duduk di depan kelas sambil melamun tentunya.
“Wakmu mbe Ginar pacaran a?,” tanya Deka.
“Ape ne. Paling,” balasku dengan senyuman mengejek.
“Modelmu, No. Emang dee gelem?”
“Jangkrek! Ngenyek a? Ngene-ngene cocok ambe dee, asek a?”
“PD men wakmu.”
“Harus!”
Selesai piket, aku menghampiri Ginar yang masih duduk.
“Lama kah? Maaf ya,” ku ulurkan tanganku pada Ginar. Dia hanya menatap lurus pada tanganku tanpa membalas nya.
“Engga. Cuman aku bosen banget nungguinnya,” tanganku benar-benar tak digubris olehnya, yang ada malah disingkirkan.
“Ayo pulang, pasti udah di tungguin. Besok kamu piket kan? Aku tungguin.”
“Iya dehh. Ayo, sekolah udah sepi ini.”
Kami berdua berjalan bersama menyusuri koridor sekolah. Suasana sekolah yang sepi membuatku merasa dunia ini milikku dan Ginar, sayangnya kita belum benar-benar mempunyai hubungan.
Saling menunggu sepulang sekolah, itu selalu kami lakukan. Meskipun kita gak piket, tetap pulang bareng. Bareng keluar sekolah maksudnya, hehehe.
❔Belum Bernama
“Wakmu seneng Ginar, tapi gak ana effort e, No,” celetuk Farel saat aku merenung memikirkan sesuatu.
“Aku sek wedi, Rel. Mbok kiro gampang ngunu?”
“Yo gak seh. Ginar dewe ya… pie ya arek iku. Nak mbe arek lanang friendly tapi due batasan.”
“Iyo. Mangkane aku seneng mbe dee.”
“Wakmu kan sering ngenteni dee pas piket toh, coba ngomong o. Jujur ae, Pin.”
“Coba wis. Mugo iso.”
Kupikir, benar juga ucapan Farel. Dekat tapi kalau tidak ada hubungan, apa tujuannya? Tapi aku takut kalau jujur, dia malah menjauh dariku. Benar-benar dilema untuk kali ini.
“Kalau gak sekarang, nanti di ambil orang. Kalau jujur, memang aku orangnya? Aduh gimana ini! Iya, engga, iya, engga,” mulutku tak berhenti mengomel sendiri.
“Ya sudahlah, coba saja. Kalau misal engga, setidaknya dia tahu kalau aku sempat jatuh suka pada nya,” tenangku. Sepulang sekolah, seperti biasa aku menunggu Ginar di depan kelas.
“Ngenteni sopo, Vin?,” tanya salah satu temanku yang juga piket hari itu.
“My fineshyt.”
“Yo a? Ndi fineshyt mu?”
“Ndek jero kelas lah. Arek kok unik.”
“Hah? Sopo jir?”
“Jok kepo a. Kunu ndang piket.”
Aku rasa, beberapa teman kelas tahu bahwa aku ada sesuatu untuk Ginar. Entah Ginar itu tahu atau tidak. Manusia setidak peka itu.
“Ayo pulang,” Ginar berdiri tepat di sebelahku.
“Loh, Vin? Iki a fineshyt mu? Ngunu a?,” goda Darel yang tadi bertanya padaku.
“Menengo timbang tak sawat tas,” balasku malas.
“Ayo! Malah ngobrol. Capek banget ini.”
“Ayo. Tapi mereka duluan, aku mau ngomong sesuatu,” ucapku sambil menunjuk Ghea dan Riri.
Berjalan berdua kali ini sedikit terasa canggung dari biasanya. Entah kenapa. Mungkin karena aku akan mengungkapkan perasaanku ke wanita cantik ini.
“Aku suka kamu,” aku menunduk saat mengucapkan itu. Jujur, malu sekali.
“Ya Allah jangan asing, jangan asing,” batinku.
“Kamu telat,” jawaban itu membuatku berhenti di tengah jalan. Ah, dia pasti sudah dimiliki oleh laki-laki lain. Sudah tidak ada lagi harapanku untuk menjadi kekasih nya.
“Kamu udah punya pacar?”
“Aku habis ini gak di sini lagi. Kamu mau?”
“Apa salahnya? Kalau sama-sama cinta dan tetap cinta.”
“Ucapan buaya.”
“Aku buktiin. Kalau aku buat satu kesalahan, kamu berhak mutusin aku.”
“Hahaha, terlalu, lebay! Gak dewasa banget, apa-apa putus.”
“Iya sih. Tapi… kamu terima aku? Atau, tidak?”
“Entah. Aku kasih jawabannya kalau aku benar-benar suka sama kamu,” ucapnya. “Ayo jalan! Jangan di tengah lapangan gitu,” tangannya mengulur tepat di depanku. Ingin sekali kuraih tangan itu, tapi tanganku terlebih dahulu bergetar melihatnya.
“Sepakat,” ucapku seraya berlari kecil menghampiri nya.
“Dih?.”
“Jangan ketus dong, neng. Abang takut.”
“Iuh banget, Pinokio,” ucapnya bergidik geli.
“Eh tapi, habis ini jangan asing ya, plis. Aku senang berteman sama kamu.”
“Ya sudah, berteman saja. Nanti asing.”
“Tapi aku mau lebih dari itu. Aku gak maksa juga.”
“Aku paham.”
Obrolan itu membuatku overthinking . Aku takut selepas itu, kita akan asing. Bahkan selama menunggu ia jatuh suka padaku dan memberi jawaban, jantungku selalu berdegup kencang tak wajar saat melihatnya dari jauh. Dari jauh saja aku sudah salah tingkah, apalagi kalau dekat, pingsan aku.
Entah akan diterima atau tidak, yang jelas aku lega karena sudah jujur kepadanya.
Meski kita belum benar-benar mempunyai nama, aku sering menghampiri Ginar saat sendiri, begitu pula sebaliknya.
“Ngapain? Kok melamun,” tegurku saat ia duduk sendiri di depan kelas.
“Engga. Tumben ke sini, gak main sama yang lain?”
“Nemenin kamu aja lah.”
“Modusmu loh, Pinokio.”
Gak hanya itu, kadang saat Ginar bersama temannya, aku juga mampir sebentar.
“Gabung, boss,” ucapku seraya menarik kursi mendekati Ginar.
“Modusmu loh, anjeng. Wakmu i wis pacaran a? Kok cidek-cidek,” tegur Riri.
“Just friend,” timpal Ginar. Aku sedikit terkejut mendengar itu. Bagaimana tidak? Just friend omakkk.
“Ra umum just friend e,” timpal Ghea. Semua tertawa mendengar celetukan itu.
Hampir dua minggu, menunggu Ginar benar-benar jatuh suka padaku, itu sangat lama. Harap-harap cemas aku. Kalau ditolak? Aduh. Tapi gak papa, asal kita gak asing, I’m fine.
“Pinokio! Cemberut bae, masih pagi loh,” sapa Ginar. Entah kenapa dia duduk di depan kelas sendiri pagi-pagi. Tak biasanya dia seperti itu, kalau pagi palingan dia duduk di bangku dan melamun.
“Loh? Tumben duduk di sini. Pasti nunggu aku, fens memang,” godaku.
“Eh, gak ya! Kamu tuh yang ngefans sama aku! Eh aku…”
“Aku apa?”
“Engga. Gak jadi.”
“Aelah. Eh btw, kapan episode kamu jatuh suka sama aku?”
“Hari ini, dan seterusnya,” suaranya pelan sekali, tapi aku dengar. Aku tersenyum mendengar itu. Yes! Hari ini dan seterusnya! Ahaha!
“Terima aku?,” aku mengulurkan tangan kepadanya. Dan kali ini, dia menerima uluran tanganku dengan senyum yakin. Aaahh! Senyum manis itu lagi! Senyum itu hanya untukku! Titik!
“Sayang?,” godaku.
“Gak mau. Jijik aku. Tapi aku tetap sayang kamu,” ucapnya sambil tersenyum tulus padaku. Aduh, Ya Allah, senyum itu, kenapa begitu indah? Engkau menciptakan manusia seindah dan secantik ini.
Sejak hari itu, sekolah yang terasa biasa saja, kini terasa semakin luar biasa. Pagi yang biasanya tidak ada yang menyambutku, kini senyum manis itu selalu menyambut pagiku.
“Pinokio!,” panggilan dari Ginar yang membuatku merasa, itu ganti dari kata ‘sayang’.
Hari ini, aku ada latihan sepak bola. Setiap istirahat pertama dan kedua, pasti aku keluar kelas. Selesai latihan, satu yang kucari, wanita cantik itu.
“Sayang,” nada manja karena lelah itu selalu aku keluarkan.
“Pinokio! Gimana latihannya? Capek ya? Tapi kamu keren, aku tadi lihat,” aku tersenyum mendengar itu. Ternyata, dia melihatku dari kejauhan, betapa bahagianya aku saat tahu tentang itu.
“Duduk sini, atau mau baring di belakang?,” tanya Ginar. “Belakang aja, aku capek banget,” jawabku.
Di belakang, aku hanya sanggup untuk berbaring lelah karena latihan tadi. Bahkan mataku berkali-kali menutup karena kantuk. Di sela lelah itu, tangan hangat Ginar menyentuh rambutku. Dia… membelai rambutku. Aku tersenyum saat Ginar melakukan itu.
“Senyum, ih salah tingkah dia. Hahaha,” ejek Ginar.
“Duh, ketahuan. Tapi emang salah tingkah sih, yang belai aku bidadari soalnya.”
“Ngomong keong kamu tuh,” aku tertawa melihat ekspresinya yang berubah menjadi greget padaku. Lucu!
Sejak saat itu, aku selalu mencari alasan untuk merebahkan kepala di dekat Ginar. Entah kenapa, belaian tangannya selalu berhasil mengusir lelahku. Mungkin benar… aku sudah menjadi kucing peliharaannya.
“Kalau capek, cerita ke aku, Pinokio. Jangan diam aja,” pesan itu selalu aku ingat. Saat itu aku benar-benar percaya, bahwa perempuan ini akan tetap di sampingku sampai nanti. Bahkan aku sampai lupa, bahwa beberapa bulan lagi, jarak akan menguji hubungan kami.
❔Masih Ada Pesan
Senin menyambut dengan upacara pagi dan dilanjut dengan mata pelajaran jam pertama. Hari ini, aku duduk sedikit jauh dari bangku Ginar. Meski jauh, mataku tak pernah lepas untuk memandang indah parasnya. Entah, magnet apa yang ada di dalam dirinya.
“Pinoo, Senin depan, hari terakhir aku sekolah di sini,” perkataan itu bagaikan petir siang bolong.
“Maksudnya? Kamu ke mana?,” pertanyaanku seolah lupa bahwa dia akan pindah ke luar kota.
“Kamu lupa ya? Aku kan pindah,” jelasnya.
“Kenapa cepat banget? Kenapa gak sekalian pembagian rapor?”
“Entah, aku ikut orang tuaku. Kalau mereka pindah Selasa, ya aku ikut. Kalau gak, aku di sini sama siapa? Mbambung masa.”
“Iya sih. Jadi, ini minggu terakhir kamu?,” Ginar mengangguk dengan senyuman yang seolah dia tidak keberatan akan jarak yang ini. Tapi aku tidak tahu lebih tentang hati nya, entah mungkin dia sebenarnya juga sedih atau tidak. Selama menjalin hubungan dengan Ginar, aku masih susah untuk menebak isi pikiran dan hati nya.
“Nanti pembagian rapor, aku ke sekolah lagi kok,” ucapnya sembari mengelus punggung tanganku. Usapan itu begitu hangat.
Mengingat ini adalah minggu terakhir Ginar di sekolah dan sekaligus di Surabaya, aku berniat untuk mengajak keluar. Atau bahkan saat di sekolah, aku selalu meluangkan waktu untuk bersamanya. Seminggu terakhir, satu hal yang selalu aku minta saat kita berdua… dia membelai rambutku, hanya itu.
“Pagi sayaang, tumben lebih telat?,” sapaku.
“Pagi, Pinokio. Iya, aku lambat bangun tadi, hehehe,” jelasnya sembari menurunkan kursi dari mejanya. Aku menyusul duduk di sebelahnya. Seperti biasa, aku merebahkan kepala di sampingnya. Tanpa diminta, Ginar langsung membelai rambutku dengan senyuman yang manis.
“Manja banget, Pinokio,” ejeknya dengan sengaja mengacak-acak rambutku.
Aku tersenyum dengan tingkah Ginar, “kita gak akan tahu. Siapa tahu ini yang terakhir,” ucapku pelan.
“Gak ada yang tahu waktu,” lanjutnya.
Senin yang kutakuti itu datang. Saat istirahat tiba, Ginar menghampiriku yang ada di bangku belakang.
“Kenapa sayang?,” tanyaku. Dia masih berdiri tepat di depanku dan menatapku dengan tatapan tak biasa.
Tangan Ginar tiba-tiba mengacak-acak rambutku dengan sengaja. Aku tahu maksudnya, ini adalah yang terakhir. Karena selanjutnya, kami akan diuji dengan jarak.
“Kamu ada buku paket lebih tidak?,” tanya nya.
“Paket apa?”
“Seni rupa, kalau ada kasih aku satu, plis.”
“Aku ada, besok aku bawain.”
“Aku kerumah kamu aja. Besok aku tinggal kembaliin ke perpustakaan, makasih ya, Pinokio,” lagi dan lagi dia tersenyum indah ke arahku. Senyum itu, pasti akan aku rindukan saat dia sudah tinggal menetap di sana.
“Oke. Mau makan apa? Aku mau ke kantin, sekalian,” tawarku.
“Engga, aku beli sama teman-teman aja.”
“Sayang, untuk terakhir,” aku mengangguk berusaha meyakinkan Ginar. Meski aku tahu apa jawabannya, pasti dia menolak.
“Engga, Pinokio. Kamu kalau ke kantin, ya beli buat kamu. Udah ah, aku mau makan dulu.”
Punggungnya yang membelakangiku seperti memberi isyarat, dia akan pergi dari pandanganku.
Sore menyapa, membuat perasaanku semakin sedih, entah kenapa, rasanya aku ingin memeluk erat Ginar. Tapi apalah daya, Ginar adalah perempuan yang tidak mau berlebihan untuk di pegang, cukup berpegangan.
My girl : Pinokio, habis ini aku ke rumah kamu yaa, aku sama Ghea.
Vino : Okeey, hati-hati, sayaang.
Menunggu kedatangan Ginar, itu adalah kesempatan terakhirku untuk melihat paras ayu nya.
“Kalau Ginar udah pindah, kita main ke sana, sekalian ke rumah mbak Ika,” tenang Ibu saat melihatku merenung di ruang tamu. Ibu tahu apa yang aku renungkan saat itu. Aku hanya sanggup menghela nafas kasar mendengar itu.
“Assalamualaikum,” salam dari luar terdengar. Suara Ginar, suara yang kutunggu. Aku berlari kecil menuju teras untuk menyambut Ginar. Tanpa banyak bicara, aku menggandeng tangan Ginar dan menyuruh nya untuk masuk ke dalam.
“Santai, Pino. Jangan di seret aku.”
Kutemukan Ginar bersama Ibu saat itu juga. “Tante, saya pamit ya. Karena ini hari terakhir saya di Surabaya, terima kasih atas semua, dan maafin Ginar kalau ada salah ya, Te.”
“Iya, Nak. Tante juga minta maaf ya kalau selama ini Tante ada salah, betah-betah ya di sana. Kalau bisa, jaga hubungan kalian dengan baik ya, Nak,” pesan Ibu kepada Ginar. Mendengar obrolan dua bidadari ini, membuatku semakin sedih. Selesai pamit dengan Ibu, sengaja aku mengajak Ginar keluar.
“Kita ngobrol sebentar di luar ya sayang,” ajakku. Dia mengangguk dan tersenyum, aku harap senyum itu akan selamanya milikku.
“Makasih ya, dan maaf untuk semua. Kita masih sama kan?”
“Masih Pinokio. Meski jarak menguji kita, aku harap kamu masih percaya sama aku, dan aku akan percaya denganmu. Intinya, saling percaya dan jujur aja,” ucapan itu keluar dengan mata Ginar yang mulai sedikit berair. Aku heran, kenapa dia tidak sekalian nangis? Kenapa harus ditahan? Kenapa bisa begitu dewasa perempuan ini?
“Udah ya, aku pulang. Kasihan Ghea,” ucapnya seraya berdiri dari kursi. Sebelum dia benar-benar pergi, aku sempat menahannya.
“Peluk. Untuk pertama dan terakhir,” kukira dia akan menolak, ternyata dia membuka lebar kedua tangannya dengan senyuman yang seolah ini untuk pertama dan terakhir. Sialnya, tangisku pecah saat itu.
“Cowok, cengeng ih,” goda Ginar yang masih ada di pelukanku. Aku kira dia tidak menangis, ternyata nangis juga. Aku tahu saat pelukan kita lepas, aneh, dia menangis tapi tidak ada suaranya.
“Kamu juga nangis ya.”
“Hehehe.”
“Kita tetap kita,” aku bertanya sekali lagi. Ginar mengangguk meyakinkanku.
“Babay, sayang,” kata sayang itu pertama kali keluar dari mulut Ginar.
“Babay,” melambaikan tangan untuk terakhir kalinya.
Keesokan hari nya, aku datang ke sekolah seperti biasa. Tapi hari ini, ada yang kurang. Sambutan kata ‘Pinokio' itu tidak lagi kudengar. Hidupku terasa kosong.
“Vin, jok galau ta. Ngko ketemu neh,” goda teman-temanku. Mereka tahu kalau aku sedang di landa galau berat karena Ginar pindah. Bahkan, Farel, dia merekamku yang sedang terduduk merenung di bangku belakang.
“Deloken, Nar. Pacarmu galau, lapo seh wakmu ninggal dee. Sakno, Pino ki loh. Lok’en, merenung arek e, rinio, Nar,” ucap Farel saat merekamku. Ingin rasanya ku ambil handphone itu, tapi sialnya, tanganku tak berdaya lagi. Maaf kalau terlihat lebay, percayalah aku benar-benar mencintainya dan sayang pada nya. Doa ku hanya satu untuk wanita cantik itu, semoga dia betah dan bertemu dengan teman-teman terbaik nya.
Tepat pukul delapan, seorang siswi mengetuk pintu kelas. Dari balik pintu itu, aku mengenali siswi itu. Ginar, dia mampir ke kelas untuk menaruh beberapa tugasnya kepada Ghea. Tak hanya itu, dia juga sekalian berpamitan dengan semua siswi di kelas. Iya, hanya siswi, yang siswa di lewati sama dia, terutama aku. Melihat Ginar berpamitan dengan empat temannya dan menangis bersama, membuatku ikut menangis juga. Entah Ginar melihat atau tidak saat itu.
“Loh, Pin? Jok nangis ta, Pin. Nar pacarmu nangis,” goda Darel di bersamai dengan sorakan teman-teman. Aku yakin Ginar tidak mendengar itu, karena dia benar-benar sedih saat berpamitan dengan empat temannya. Aku tahu kenapa dia lebih sedih saat berpamitan dengan mereka dari pada aku. Karena aku baru saja masuk, sedangkan empat orang itu lebih dulu masuk.
Satu minggu setelah Ginar pindah, aku masih merasa kesepian. Aku masih sering merenung di belakang, mengingat Ginar yang selalu di sampingku dan membelai rambutku.
Vino : (foto mata merah) sayangg, kangen🥺😔.
My girl : Heeii. Jangan nangis terus dong, Pinokio. Aku juga kangen kamuuu😔😘🫰🏻.
Vino : Gak bisaa. Aku benar-benar kangen sama kamu, aku kangen kamu manggil aku ‘Pinokio', aku kangen kamu yang selalu belai rambutku, aku kangen kamuuu!
My girl : Pinokio! Hahaha. Aku juga kangen berantakin rambut kamu tahuu! Udah ah, kamu jangan terlalu sedih gituu.
Vino : 🥺😔 Miss perempuan cantik😔😘.
My girl : (mengirim beberapa foto saat aku merenung di belakang kelas) kayak anak hilang, Pinoo😭🤏🏻.
Vino : Eh, anjir. Siapa yang kirim ituuu, aib akuu😭.
My girl : Biasa, dua kembar koplak itu. Farel sama Darel. Lucu tahuu, tapi kayak anak hilang🤏🏻.
Vino : Kamu sih ninggal aku. Jadinya kayak anak hilang aku😒.
Meski tak bertemu, pesan di antara kita masih terkirim satu sama lain. Sepanjang hari, tiada hari, tanpa pesan dari my fineshyt.
❔ Mulai Berubah
Vino : Siang sayaang, gimana hari inii?
Aku mengirim pesan itu dengan penuh semangat. Karena beberapa hari ini, dia sama sekali tak mengirim pesan untukku. Pikirku, karena dia gengsi untuk mengirim, mungkin.
My girl : Siang. Gak gimana-gimana sih.
Vino : Yaaahh. Gak ada cerita hari ini?
My girl : Engga.
Vino : Kamu lagi dapet ya? Kok cuek banget beberapa hari ini.
My girl : Engga juga. Emang aku cuek?
Vino : Iya, kamu berubah belakangan ini. Aku ada salah ya?
My girl : Gak usah lebay, tiba-tiba tanya ada salah atau gak.
Vino : Siapa tahu, sayang. Aku call ya, aku kangen suara kamu.
My girl : Jangan. Lagi di luar. Nanti aja.
Vino : Oke deh, nanti bilang ya kalau sudah sampai rumah.
Kata ‘nanti aja’ sampai sekarang, tepatnya pukul sembilan malam, tak berakhir juga. Bahkan dia tidak mengabariku. Pesan berakhir saat aku bilang ‘kalau sudah sampai rumah kabarin ya’, sampai sekarang gak ada kabar.
Vino : Sayang, kamu kenapa?
Pesan itu kukirim dengan rasa cemas dan khawatir padanya. Perubahan sikap Ginar itu membuatku semakin resah. Apa salahku? Sampai dia mendiamkan diriku. Terlalu susah untuk menebak isi hati Ginar.
Pesan itu tak di balas sampai pagi tiba. Bahkan hampir pukul dua belas siang, saat di sekolah, pesanku belum di balas. Jangankan di balas, di buka saja tidak.
“Arek iki lapo seh. Kok moro-moro berubah,” aku mengomel dan berkali-kali membuka kontak Ginar.
“Pin, goleki Rara loh,” Dion, temanku dari kelas sebelah, memanggilku.
“Lapo?”
“Loh, kok lapo? Jare foto bareng mbe Rara,” jelasnya. Aku tersenyum mendengar ucapan Dion.
Farel yang sedari tadi di sampingku, dia memukul punggungku dengan keras sekali.
“Wakmu goblok a? Ginar pie, ndeng,” suara Farel membuatku tersentak.
“Dee loh berubah gak jelas. Dee pasti wis due kenalan lanang ndek kono.”
“Koen jok goblok! Arek kok mesti. Yo lak Ginar cidek mbe arek lanang, lak gak? Arek kok colo. Gak usah aneh-aneh wakmu. Dion gak roh a nek wakmu sek mbe Ginar?,” tanya Farel dengan nada marah. Aku tahu maksud Farel, tapi perubahan sikap Ginar itu membuatku tidak yakin dengan Ginar.
“Gak roh.”
“Wakmu jok aneh-aneh loh, Pin. Sampe wakmu tenan iki foto bareng mbe Rara. Hubunganmu ajor mbe Ginar, nyesel wakmu,” Farel tak berhenti mengata-ngatai ku. Setelah puas mengomel, dia pergi meninggalkanku.
Kehadiran Rara di hidupku, membuatku merasa tak sendiri lagi. Aku masih cinta pada Ginar, tapi, dia sendiri yang perlahan memudarkan semuanya. Pesanku yang terkirim sejak 05/04/2026 sampai sekarang 05/05/2026, satu bulan sendiri dia tidak membalas pesanku. Apa maksudnya?
“Pin? Sek mbok terusno?,” tegur Farel yang ternyata sedari tadi mengintip aku yang sibuk bertukar pesan dengan Rara.
“Lapo seh. Deloken, WA ku loh gak di bales, wis sak ulan dewe. Maksud e opo ngene ki? Lagian aku mbe Rara mek konco.”
“Kabeh iku berawal tekan konco, ndeng. Wakmu yo ra nek effort e gae Ginar. Mbok di WA maneh. Arek-arek sing biasane mbanding-bandingno, pas wakmu mbe Ginar, arek-arek setuju toh? Soale Ginar iku ancen cocok mbe wakmu.”
Aku memasang wajah malas mendengar ocehan Farel. Entah kenapa, seolah Farel tak tahu apa yang sedang aku rasakan. Sebenarnya aku juga tidak ingin seperti ini, tapi Ginar… ia malah menginginkan itu semua. Dia yang memulai terlebih dahulu.
Setiap kali notifikasi pesan dari Rara masuk, bibirku terangkat dengan sendirinya.
“Mungkin… hanya butuh seseorang yang benar-benar ada saat aku mencarinya,” gumamku seraya membalas pesan dari Rara.
❔Masihkah Kita?
POV Ginar
01/04/2026 aku masih ingat betul tanggal itu. Tanggal di mana Niyza mengirim screenshot dari status WhatsApp Rara, anak kelas sebelah. Dari gambar itu, Rara memasang story saat telponan dengan Vino. Dengan caption ‘🤫’. Apa maksud caption itu? Atau memang itu niat buruk Rara? Entah lah, aku tak ingin menilai terlebih dahulu.
Ginar : Seriusan itu?
Niyza : Menurutmu aja, Nar.
Tak lama dari Niyza, Ghea mengirim pesan foto, yang entah foto apa itu. Saat kubuka, ternyata itu screenshot dari catatan Instagram Rara. Catatannya begini,
“Sayangnya, masih just friend @lntraavin_” akun itu, akun Vino. Bagaikan petir yang tiba-tiba menyambar tanpa aba-aba, hatiku retak saat itu juga. Bagaimana tidak? Laki-laki yang kupercaya, ternyata telah mengkhianatiku.
Sejak saat itu, setiap kali pesan dari Vino masuk, aku malas untuk membalasnya, jangankan membalas, membukapun aku tak ingin. Tapi aku masih menghargai nya, aku masih belum tahu pasti apakah itu semua benar atau tidak. Meski begitu, bukan berarti aku membalas pesan seperti dulu, yang super panjang dan excited.
06/04/2026 hari itu, Farel memberiku kabar buruk lagi. Farel mengirim screenshot dari status WhatsApp Rara lagi. Di story itu, tampak Rara dan Vino yang sedang foto bareng di lapangan. Dengan posisi Vino merangkul pundak Rara.
“Bangkek! Apa maksudnya? Rara gak tahu kah kalau aku masih ada hubungan dengan Vino? Kenapa semua ini berawal dari Rara? Kenapa semua ini seolah Rara yang menginginkan Vino,” gumamku saat melihat foto itu. Sengaja tak kubalas pesan dari Farel saat itu. Aku sudah tak sanggup untuk mengetik saat itu.
Melihat kontak yang kusimpan ‘Pinokio🙆🏻’, membuatku semakin marah. Pesannya yang dari kemarin sengaja tak kubuka sampai saat ini. Ingin rasanya aku blokir kontak itu.
“Mentolo nomormu tak blokir ae!,” batinku. Tapi aku mengurungkan niat itu, karena menurutku itu terlalu kekanak-kanakan. Aku akan membuka semua ini di waktu yang tepat.
Tepatnya hari ini 06/06/2026, semua laporan foto dari teman-teman sudah terkumpul, dan aku sudah muak dengan perilaku Vino dan Rara ini, apalagi dengan Rara. Kalau aku bertemu dengannya, ku bejeg-bejeg muka nya.
Ginar : (mengirim semua foto Vino dan Rara), masih ingat gak? Kita pernah janji ‘kita saling percaya dan jujur aja’
Pinokio🙆🏻 : Kamu tahu dari teman-teman ya? Kamu gak sadar kah, yang berubah dulu itu kamu.
Ginar : Oh, aku yang berubah. Kamu serius? (Mengirim foto Vino dan Rara yang sedang telponan dengan caption ‘🤫’). Coba lihat tanggalnya.
Pesanku tak di balas oleh Vino.
Ginar : Kok diam? Yang berubah siapa dulu? Aku atau kamu? Aku berubah sejak kapan? Sebutkan.
Pinokio 🙆🏻 : Maaf…
Ginar : Cuman kata maaf? Kamu yakin itu bisa buat aku maafin kamu?
Pinokio 🙆🏻 : Maaf, sayang. Aku salah paham.
Ginar : Salah paham? Kamu salah paham? Harusnya salah paham itu terjadi di tanggal 05/04/2026. Bukan 01/04/2026. Itu terlalu awal untuk salah paham. Kenapa memilih seperti itu? Masihkah ada kita saat ini dan seterusnya?
Pinokio 🙆🏻 : Sayang, maaf. Aku salah. Aku respon Rara karena aku kesepian saat itu. Aku butuh seseorang untuk di sampingku. Maaf sayang.
Ginar : Aku masih di samping kamu kok, meski gak ada wujudnya. Aku bingung, waktu itu Farel bilang, kamu menuduhku dekat dengan laki-laki lain di sini. Kenapa kamu bisa berasumsi seperti itu? Apa kamu ada bukti? Kamu gak tahu aku di sini seperti apa.
Satu jam sendiri pesan itu tak di buka oleh Vino. Entah ke mana manusia itu.
Ginar : Kita… sampai sini? Atau…
Pinokio 🙆🏻 : Maaf sayang. Aku terlalu berpikiran buruk sama kamu. Maaf.
Pinokio 🙆🏻 : Sampai sini? Kamu yakin?
Ginar : Setelah semua ini terjadi, kenapa kamu bertanya aku yakin atau tidak?
Pinokio 🙆🏻 : Maaf. Maaf sekali lagi. Aku tahu kamu gak semudah itu memaafkan aku.
Ginar : Terima kasih dan maaf ya kalau selama ini aku kurang buat kamu. Kalau memang Rara itu bisa buat kamu lebih merasa di sayang, bahagialah kalian.
Pinokio 🙆🏻 : Sayang…
Ginar : Kenapa masih ada kata sayang di antara kita? Kita sudah selesai.
Pinokio 🙆🏻 : Maafin aku. Maaf aku buat kamu kecewa sama aku.
Ginar : Sip. Makasih.
Dan ya, hubungan kami kandas saat itu juga. Kalau di tanya, selama menjalin hubungan, apa aku tidak merasa sayang atau cinta pada Vino. Aku jawab… aku sayang dan cinta padanya, Vino adalah laki-laki pertama yang bisa menjadi kekasihku. Kepergiannya ini, aku ikhlaskan, karena menurutku, datang dan perginya seseorang itu pasti terjadi di kehidupan nyata. Ya meski perginya Vino dengan cara memberi luka dalam untukku.
Aku tak sepenuhnya benci pada Vino, aku tak sepenuhnya menyalahkan Vino juga. Benar kata nya, dia pasti butuh seseorang untuk selalu di sampingnya. Sedangkan aku? Aku sudah jauh dan tidak lagi bisa di sampingnya.
Pinokio 🙆🏻 : Apa bisa kita tetap berteman? Maaf, kalau kesannya aku seperti tidak tahu malu. Tapi itu yang aku ingin saat ini.
Pesan itu kubaca dari layar saja. Aku berniat membalasnya esok hari.
Keesokan harinya, aku membuka pesan itu dan membalasnya.
Ginar : Tentu, Vin.
Selesai.
❔ Ternyata Aku yang Pergi
Pesan Ginar masuk setelah sekian lama mendiamiku. Pesan itu masuk di bersamai dengan foto-foto aku dan Rara. Aku terkejut melihat itu. Aku yakin, pasti dia tidak merasa bahwa dia lah yang berubah lebih dulu.
Vino : Kamu tahu dari teman-teman? Kamu gak sadar kah yang berubah dulu itu kamu.
My girl : (mengirim screenshot status WhatsApp Rara yang saat itu telponan denganku). Coba lihat tanggalnya.
Aku tersadar sesuatu. Tanggal itu…
Vino : Maaf sayang. Aku salah paham.
My girl : Salah paham? Kamu salah paham? Harusnya salah paham itu terjadi tanggal 05/04/2026 bukan 01/04/2026. Itu terlalu awal untuk salah paham. Kenapa memilih seperti itu? Masihkah ada kita saat ini dan seterusnya?
Pesan itu. Aku tak langsung menjawab. Pertanyaannya membuatku semakin takut apa yang akan di katakan oleh Ginar selanjutnya. Sampai akhirnya, pesan yang kutakuti itu terkirim.
My girl : Kita… sampai sini? Atau…
Bagaikan petir siang bolong yang menyambar jantungku. Aku harus kehilangan wanita yang berbeda ini. Keputusan Ginar, tak bisa ku elak. Bagaimanapun, aku memang salah dan kesalahanku tidak pantas untuk di maafkan.
“Tapi aku masih ingin berteman dengannya,” gumamku saat rebahan di kamar malam itu. Aku berkali-kali membuka pesan dari Ginar. Meyakinkan bahwa itu semua mimpi, tapi sayangnya, itu nyata.
“Apa aku jujur aja ya? Kenapa aku jadi gak tahu malu gini? Aku gak jujur waktu itu, kenapa aku sekarang jujur?,” ahhhh! Pikiranku kacau sekali malam itu.
Vino : Apa bisa kita tetap berteman? Maaf, kalau kesannya aku seperti tidak tahu malu. Tapi itu yang aku ingin saat ini.
Aku mengirim pesan itu tanpa sadar, entah apa yang ada di kepalaku. Pesan itu di balas Ginar keesokan harinya.
My girl : Tentu, Vin.
“Vin?,” gumamku saat membaca pesan itu. Aku sadar, panggilan ‘Pinokio' itu tak lagi ada saat ini.
Sejak hilangnya Ginar dari kehidupanku, entah kenapa rasanya aku seperti hilang arah. Aku juga baru sadar, kalau selama ini, yang berubah itu aku, bukan Ginar.
Sore, sepulang sekolah, aku memutuskan untuk mampir ke taman sekolah. Entah kenapa, kepalaku tiba-tiba memutarkan semua kenangan antara aku dan Ginar. Betapa bahagianya aku di pertemukan dengan manusia sedewasa dan se-pengertian dia.
Tentang dia yang selalu mendengarkan keluh kesahku, tentang tangannya yang tak pernah lelah mengusap rambutku, tentang dia yang selalu memanggilku ‘Pinokio'.
Aku rasa, aku tidak akan pernah menemukan Ginar di orang lain. Itu menyakitkan. Tapi yang lebih menyakitkan adalah… aku sendiri yang membuatnya pergi.
❔Senyum Itu Bukan Untukku Lagi
Satu bulan berlalu bersamaan dengan libur semester yang telah berakhir.
Satu bulan juga hubungan ku dan Ginar kandas. Komunikasi kami masih sering, tapi tetap saja aku selalu merasa bersalah saat bertukar pesan dengannya. Di sela obrolan, aku selalu mengirim pesan ini,
“Maaf ya,” dua kata yang selalu keluar saat kami asyik bertukar pesan.
Senin menyapa dengan awan yang mendung. Hari ini tidak ada upacara, jadi langsung masuk ke jam pelajaran. Kelas sembilan ini, temannya masih sama seperti kelas delapan. Duduk di pojok belakang, membuatku teringat dengan Ginar lagi.
Aku seperti terperangkap di era Ginar. Rasa bersalah yang selalu menghantuiku dan rasa rindu yang juga menghantuiku. Entah setan apa yang dulu merasuki, sampai-sampai aku melakukan satu kebodohan besar saat itu. Bisa-bisanya aku menyakiti hati perempuan sesempurna dia.
Seperti kata mereka, penyesalan selalu datang diakhir, dan, nasi sudah menjadi bubur.
“Lapo we meneng ae? Ndi Rara?,” pertanyaan Farel itu seolah sedang mengejek kesalahanku. Benar kata nya, suatu saat aku akan menyesal.
Hawa malam menyelimuti tubuhku yang sedang rebahan dikamar. Aku asyik dengan handphone ku, asyik membuka story WhatsApp teman-teman. Di sela kontak teman-teman, aku melihat story Ginar yang memposting video dengan lagu Saat Saat Itu — Last Child. Di video itu tampak Ginar duduk berdua dengan laki-laki berkulit sawo matang dan hidung mancung, sempurna sekali laki-laki itu.
Senyum itu… dulu, aku kira, senyum itu akan selamanya milikku. Nyatanya… pemilik senyum itu sudah berpindah.
Vino : Anjir, aku ditinggal.
Pesan itu sengaja aku kirim.
Ginar🙆🏻 : Vinka mana Vinka 🧐.
Vino : Mesti. Just friend.
Embel-embel just friend itu selalu aku kirim. Padahal nyatanya, aku sama sekali tidak pernah dekat dengan Vinka. Aku kira dia akan menyebut nama Rara, ternyata Vinka.
Ginar 🙆🏻 : Loh ya sama, cuma teman itu.
Yaaa, itu tidak aneh bagiku. Perempuan ini, mana pernah peka dengan kode-kode seperti itu? Padahal itu sudah jelas, memposting video itu dengan lagu Saat Saat Itu — Last Child.
Vino : Teman mana yang posting pakai lagu yang ada kalimat 'kau buatku jatuh cinta pada pandangan pertama'?
Tebak, saat aku mengirim itu, jawaban Ginar apa?
Ginar 🙆🏻 : Di bilangin ngeyeell.
Yap. Benar. Selamat👏🏻.
Vino : Dia ngode anjer. Kamu tuh, gak pernah peka.
Ginar 🙆🏻 : Heh! Sepeka gua bisa-bisanya bilang gitu😒.
Vino : Nyenyenye. Yang penting, dia bisa bikin kamu ketawa, aku ikut senang.
Ginar 🙆🏻 : Hah?
Dasar perempuan. Mengaku sedikit saja tidak mau.
Vino : Modelan kayak gini, dibilang gak peka, gak mau 😒.
Ginar 🙆🏻 : 🧐. Udah ah, aku mau belajarr.
Vino : Iya deh.
“Siapapun yang menggantikan peranku nanti, semoga dia selalu membuatmu tersenyum. Senyummu, jangan sampai hilang lagi ya, Kevia Ginary Rennatha. Maaf atas semua itu,” gumamku saat memandang story WhatsApp Ginar.
Merelakan adalah bagian dari mencintai bukan?
❔Wisang Namanya
Dua bulan sudah aku sekolah tanpa kehadiran Ginar. Di dua bulan ini, hanya satu kali itu Ginar memposting laki-laki yang entah siapa namanya. Ingin rasanya aku tanya ke Ginar, tapi aku tahu diri. Dia tidak peduli dengan hidupku kenapa aku begitu peduli dan mengurusi hidupnya. Yang ada aku malah jadi Nia versi laki-laki.
Satu minggu akhir Oktober. Kita disibukkan dengan beberapa acara sekolah.
“Pin. Ero gak,” Farel tiba-tiba duduk di depanku dengan wajah yang sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan.
“Nyapo?”
“Wakmu delok sw ne Ginar gak? Sing kapanane iku.”
“Ndelok, nyapo emang?”
“Arek e saiki pacaran ambe arek iku!”
Uhhhh, kabar itu. Antara senang dan sakit mendengarnya. Senang karena akhirnya Ginar menemukan laki-laki yang lebih sempurna dariku, sakit karena aku sendiri masih terperangkap di masa Ginar.
Tak lama dari kabar itu, semua terasa tervalidasi saat Ginar memposting kembali foto mereka berdua. Di postingan itu, tampak foto mata mereka berdua yang berdekatan. Postingan itu dilengkapi dengan caption 'kakakk 🙆🏻’. Aneh, kata Farel, Ginar sudah pacaran dengan laki-laki ini. Atau laki-laki ini berbeda dengan yang kemarin ia posting? Tapi itu mustahil, sedekat nya Ginar dengan laki-laki, tak mungkin dia bisa dekat dengan dua laki-laki dalam waktu berdekatan.
Vino : Loh, bedo neh iki.
Ya maaf kalau kesannya terlalu kepo.
Ginar 🙆🏻 : Enak aja. Sama itu.
Vino : Ya ya ya. Gua, gimana😒.
Ginar 🙆🏻 : Vinka loh mana anjay. Bukannya kamu deket sama Vinka ya?
Vino : Apa seh Vinka teros. Lagian cuma dekat.
Ginar 🙆🏻 : Ya sudah, pepet terus ajak pacaran, mantep.
Vino : Gak ah, aku masih belum selesai.
Ginar 🙆🏻 : Siapa wekk? Vinka apa Nia?
Vino : Mboh, Nar. Males.
Ginar 🙆🏻 : Ya udah sih.
Kesal aku, dia selalu tidak pernah peka dengan semuanya. Tapi, ya sudahlah. Intinya, dia bahagia dengan pilihannya sekarang. Tapi sebentar, kalau mereka sudah pacaran, kenapa caption itu ‘kakakk 🙆🏻’? Aneh.
Beberapa waktu berlalu dengan cepat. Beberapa kali, aku melihat story Ginar yang mulai sering memposting laki-laki itu.
Malam minggu ini, aku masih merasa kesepian. Di tengah sepiku, kuisi dengan berkali-kali membuka tiga aplikasi. Saat membuka WhatsApp, aku melihat Ginar yang baru saja memposting story.
Di story itu, lagi dan lagi Ginar memposting foto laki-laki itu. Kali ini caption bukan lagi ‘kakak🙆🏻’ tapi… ‘Icann🙆🏻’. Oh, nama nya Ican.
Parel slebew : Heeehhhh! Jeneng e Wisang cyaaakkuuu.
Buset, baru saja aku melihat story Ginar, Farel sudah dapat info yang lebih lengkap. Aku kira namanya Ican. Ternyata… Wisang.
Vino : Y, oke.
Parel slebew : Anjir. Jok galau kamu.
Vino : Yekk. Jok kamu kamu. Gilani.
Beberapa saat setelah aku mengirim pesan ke Ginar, yang aku sengaja goda dia waktu itu. Kalau gak salah aku mengirim pesan itu pada tanggal 12/11/2026.
Pagi menyapa dengan sang fajar yang mulai bersinar. Tepatnya pada tanggal 30/11/2026. Pesan dari nomor tak dikenal masuk.
085xxx : Halo, Mas Vino. Aku Wisang.
Astaga! Masih pagi ini. Kenapa tiba-tiba ada pesan yang membuatku ingin pingsan saat itu juga. Pesan itu sengaja aku buka saat di sekolah, aku tidak ingin berangkat dengan perasaan yang campur aduk.
Vino : Wisang sinten?
085xxx : Pacarnya Via.
“Via?,” aku sempat berfikir siapa Via itu. Perempuan mana itu? Perasaan aku tidak pernah menggoda perempuan lain setelah aku selesai dengan Ginar. “Masa Ginar?,” batinku.
Vino : Via? Siapa?
085xxx : Oh iya. Ginar.
Vino : Oala, nggih, Mas.
Jantungku berdegup kencang melihat kontak Wisang yang sedang mengetik. Aku takut, dia melabrak-ku karena aku masih ada di sekitar Ginar.
Wisang : Samean sik mbe Ginar ta?
Vino : Mboten, Mas.
Wisang : Oala, ya wis nek ngunu.
Cuma begitu? Ih? Aku kira dia akan marah dan menyuruhku untuk pergi dan berhenti untuk menghubungi Ginar.
Vino : Mas. Pangapurane ya.
Wisang : Nyapo, Mas?
Vino : Wakdewe podo lanange, Mas. Aku erti og. Pangapurane ya nek aku ganggu hubungane sampean🙏🏻.
Meski Wisang tak membahas itu, tetap saja aku merasakan bersalah dan paham maksud Wisang.
Wisang : Woalah. He’eh. Ndak opo og. Tapi aku oleh ero tentang hubungane sampean pas biyen gak? Sepurane ya nek terlalu kepo.
Vino : Hubunganku biyen mbe Ginar ya biasa, Mas. Aku mbe dee mek jalan sak ulanan.
Wisang : Lak oleh ero, sing medotne sinten, Mas?
Vino : Ginar, Mas. Tapi kui gegara salahku.
Wisang : Oala. Lah sampean wis mari gak mbe Ginar?
Vino : Nek sampean nakok ndek aku, jelase aku gurung mari, Mas. Sepurane ya.
Wisang : Gak usah njaluk sepuro. Sampean ndak salah og. Aku ngerteni kondisine sampean. Tapi nek iso, jok terlalu sering ngehubungi Ginar ya.
Vino : Siap, Mas. Sepurane sing akeh ya.
Aduh, pesan-pesan itu. Membuatku semakin merasa bersalah. Tapi aku salut dengan Wisang. Kenapa dengan mudahnya dia bilang ‘aku ngerteni kondisine sampean’.
Wisang : Suwun ya, Mas.
Vino : Loh?
Wisang : Iyo. Suwun, wis njaga Ginar biyen.
Vino : Loh, Mas? Maksude pie iki? Sampean jok ngamuki Ginar loh, Mas. Arek e gak salah. Sing salah aku.
Wisang : Gak onok opo-opo, Mas. Aku mek matursuwun ae ndek samean. Soale aku sempet ndelok akun kedua e sampean. Ginar ketok seneng ndek kunu.
Vino : Oalaaa, nggih, Mas. Podo-podo. Aku oleh pesen siji gak, Mas?
Wisang : Koyok pesen opo ae, Mas. Pesen opo?
Vino : Jogoen Ginar, Mas. Arek iku bener-bener koyok emas. Jok ngilangno senyume areke ya. Aku dewe ya nyesel waktu iku.
Wisang : Oke siap, laksanakan. Ginar aman mbe aku. Tenang ae sampean, Mas.
Aku tersenyum lega membaca pesan Wisang. Setidaknya, laki-laki yang menggantikan posisiku saat ini, berhasil mengembalikan senyum Ginar.
❔Titip Dia
Satu semester sudah kulewati hampir sempurna. Perlahan tapi pasti, aku mulai mencoba mengikhlaskan Ginar yang kini sudah di pelukan laki-laki lain, yang lebih tepatnya, di pelukan Wisang.
“Wakmu kok tumben gak golek gantine Ginar?,” ya, pertanyaan itu selalu keluar dari beberapa temanku. Seperti yang pernah kubilang dulu, pertemananku tidak wajar. Dulu saat aku masih bersama Ginar, kata mending itu benar-benar hilang dari telingaku. Dan sekarang, saat aku sudah tak lagi dengannya, semua temanku selalu tanya seperti itu. Mentang-mentang aku gampang jatuh suka. Segampangnya aku jatuh suka, tak semua perempuan merasakan cinta dan suka ku yang benar-benar.
Hari minggu ini, aku seharian di rumah. Waktu hanya ku habiskan dengan handphone dan kasur.
Pak Seron : Anak-anak, besok istirahat pertama kumpul di lapangan sama Pak Hidar ya.
Pesan dari grup tim sepak bola dikirim oleh Pak Seron, guru olahraga kami. Dan Pak Hidar adalah coach kami. Mungkin akan ada pertandingan yang entah kapan akan dilaksanakan.
Keesokan harinya, tepatnya hari Senin. Aku dan beberapa teman sepak bola kumpul di lapangan tengah sekolah bersama Pak Hidar.
“Ada yang ngajak sekolah kita buat tanding dengan dua sekolah di luar kota. Dua minggu lagi” jelas Pak Hidar. Tak lama, Pak Seron datang menghampiri kami. “Sekolah Pelita sama Brawijaya. Sekolahnya di Mojokerto, jadi kalian pulang pergi dua hari,” jelas Pak Seron.
“Adoh men iso mencolot ndek Mojokerto,” batinku saat itu.
Dua minggu latihan, membuatku lelah. Tak bisa kubayangkan esok, dua hari, pulang pergi, Surabaya → Mojokerto.
“Tuhan bersama SMP Nusantara,” gumamku. Aku harap selama dua hari itu, hasil baik akan selalu muncul.
Di tengah lapangan saat kami istirahat, matahari terasa tepat di atas kepalaku. Panas sekali. Di tengah teriknya matahari, otakku tiba-tiba mengingatkan satu hal…
“Mojokerto. Ginar. Wisang,” itu. Kalimat itu tiba-tiba terputar di kepalaku. Aku baru teringat kalau mereka hidup di kota Mojokerto, kota yang akan kami datangi.
“Semoga gak ketemu anak dua itu,” batinku.
“Lapo wakmu? Welek ngunu wajahmu,” tegur salah satu temanku yang melihat ekspresiku yang tak biasa.
“Kepencet emot,” aku tertawa geli menjawab itu.
Dua hari sebelum berangkatnya kami ke Mojokerto di pertandingan hari pertama, koordinator supporter sekolah sibuk juga.
“Heh, Pin. Ginar melok loh,” Rezka tiba-tiba muncul di belakangku.
“Hah?”
Dia hanya mengangguk dan mengulang ucapannya, “Ginar melok loh.”
“Oh.”
Jawaban singkat itu tak sesingkat dengan apa yang aku pikirkan. Aku hanya takut, memoriku terbuka lagi. Ya meski belum sepenuhnya tertutup, tapi aku sudah berusaha untuk menutupnya.
“Aduh, semoga ucapan Rezka gak beneran terjadi,” doaku selama dua hari itu. Meski aku tahu Rezka adalah koordinator supporter juga. Jadi besar kemungkinan ucapan itu benar, karena dia yang mendata semua siswa yang ikut mendukung sekolah kita.
Tepat di hari pertandingan. Tim sepak bola dan supporter sekolah bersamaan berangkat ke Mojokerto. Jantungku berdegup kencang, antara grogi untuk tanding, dan grogi kalau Ginar benar-benar datang ke bangku tribun.
“Ini pertandingan terakhir untuk sekolah sebelum aku lulus, kasih yang terbaik!,” motivasiku sendiri di saat rasa grogi itu menyelimuti diriku.
Sesampainya di Mojokerto dan GOR yang sudah ditentukan, aku melihat suasana riuh terlebih dahulu. Karena sekolah Pelita sudah lebih dulu sampai di GOR. Sembari mengusir rasa grogi itu, aku menyempatkan diri untuk berkenalan dengan beberapa teman baru di sana. Di tengah obrolan itu, mataku tertuju pada perempuan yang tak asing dari mataku.
“Ginar? Gak mungkin!,” gumamku saat melihat punggung perempuan itu. Berkali-kali aku meyakinkan diri kalau itu bukan Ginar.
Sampai di akhir pertandingan, sekolah kami menang 3-0 dengan sekolah Pelita. Di akhir pertandingan itu pula, aku masih belum bertemu dengan perempuan yang kukira Ginar.
“Syukurlah. Itu bukan Ginar,” gumamku seraya menepi dari lapangan. Mengusir penat dan lelah. Tiba-tiba Vinka datang menarikku.
“Sini!,” ajaknya sembari menarik tanganku. Di saat itu pula, di depan wajahku sudah terdapat wajah indah Ginar yang selama ini kurindukan. Di saat mata kami bertemu, dengan cepat Ginar memalingkan pandangan itu dan menarik laki-laki yang mungkin aku mengenalnya. Mataku dan laki-laki itu bertemu, membuatku semakin yakin bahwa aku mengenalnya.
“Ayo, kita foto bareng!,” ajak Vinka.
Selesai sesi foto, aku kembali ke tepi lapangan. Duduk merenung dan mengusir rasa lelah. “Pasangannya sudah beda,” gumamku sambil tersenyum.
“Mas Vino?,” suara laki-laki asing dari samping itu terdengar berat. Saat aku menoleh, ternyata itu laki-laki yang tadi foto bareng denganku.
“Iya?”
Dia mengulurkan tangannya lengkap dengan senyumannya. Senyum itu terlihat begitu tulus. “Wisang,” lanjutnya. Aku tercekat mendengar nama itu. Ternyata laki-laki ini yang bernama Wisang. Kuterima uluran tangan itu, tak lama Wisang duduk di sebelahku.
“Pegel ya, Mas?,” basa-basi dari Wisang itu kubalas dengan tertawa pelan.
“Lumayan, Mas.”
“Untung menang ya.”
“Alhamdulillah.”
Sunyi diantara kita. Hanya terdengar riuh suara supporter dan teman-teman lain.
“Mainmu apik, Mas. Puoll malah,” suara Wisang mencairkan suasana canggung antara kami.
“Iso ae sampean, Mas.”
“Loh, tenan iki, ndak ngapusi.”
“Wis, Mas. Sirahku dadi gedhe mengko,” jawabku sambil tertawa sendiri.
“Iso ae sampean iki,” Wisang ikut tertawa saat itu juga. Lagi dan lagi canggung dan sunyi.
“Gugup ya? Podo, Mas,” Wisang menatapku dengan tatapan yang aneh, bukan marah, bukan benci. Aku tak bisa mendeskripsikan tatapan itu.
“Ketokan ya? Yak pie ndak gugup. Tak kiroe sampean marani aku gae ngamuki aku,” jelasku. Wisang tertawa mendengar jawabanku.
“Lah nyapo ngamuki sampean. Wong ndak salah kok di amuki. Lucu sampean.”
“Ya sopo ngertikan.”
“Lagian masalah opo sampe aku ngamuki sampean iku.”
“Ya masalahku kui, Mas.”
Wisang menggeleng dan tersenyum, “gak masuk akal. Mung ngunu tok, mosok aku ate ngamuki sampean. Aku gur pingin ngobrol mbek sampean. Soale jenenge sampean waktu iku sing pertama tak krungu. Ya, aku pingin toh koncoan mbe sampean.”
“Woala,” mendengar penjelas dari Wisang. Lagi dan lagi aku merasa aneh dengan laki-laki ini. Tapi di sisi lain, aku juga bersyukur karena Wisang tak seperti laki-laki lain.
“Kapan sampean onok wektu maneh ndek kene, Mas?,” tanya Wisang.
“Mene, Mas. Terakhir kui.”
“Mene onok wektu lebih gak?”
“Nyapo, Mas?”
“Ayo ngopi. Aku ya pingin ngomong akeh ndek sampean. Lak ndek kene, gak mungkin kan,” aku mengangguk mendengar penjelasan Wisang. Apa yang ingin dibicarakan? Sepanjang apa pembicaraan itu sampai mengajakku keluar untuk ngopi berdua? Ah sudahlah, dia tak langsung marah dan memaki-maki ku saja itu sudah baik. Bahkan ini jauh lebih dari kata baik.
“Insyaallah onok, Mas. Mene tak kabari wae ya,” Wisang mengangguk dan berdiri dari duduknya.
“Ya wis nek ngunu. Aku bali sek ya. Ketemu neh mene,” tangan kami bertemu kembali. Wisang berpamitan denganku, dan senyumnya pun tak hilang sedari tadi. Aku rasa, Wisang dan Ginar ini sangat cocok. Pasangan yang penuh dengan senyum
Memandang punggung Wisang yang perlahan menghilang di balik lorong GOR. Aneh. Pertemuan pertama jauh dari prediksiku. Tak ada bentakan, tak ada tatapan penuh kebencian. Yang ada, kedatangan Wisang membuatku semakin merasa bersalah.
Malam menyapa dengan hawa dingin. Kemarin kukira kita akan pulang pergi Surabaya → Mojokerto dua hari. Ternyata tidak. Malam ini kami menginap di salah satu penginapan dekat sana. Dan kami akan pulang besok malam, ada waktu untuk istirahat sebentar di penginapan. Tapi tidak denganku. Mungkin aku akan istirahat bersama Wisang di tempat cafe tujuan Wisang.
Wisang : Mas. Wis nyampek Suroboyo?
Pesan itu membuat handphoneku menyala.
Vino : Aku nginep ndek cidek GOR, Mas.
Wisang : Woalah ya wis nek ngunu. Mene sido ya berarti?
Vino : Sido, Mas. Rampung tanding tak kabari sampean.
Wisang : Oke, sip. Ketemu ndek kene ya. 📍Lokasi.
Melihat lokasi yang dikirim oleh Wisang. Membuatku merasa dejavu.
“Cafe itu…,” gumamku saat berkali-kali ngezoom tempat itu. Cafe pertama kali aku bertemu Ginar, sebelum dia pindah ke Mojokerto.
“Wisang, Wisang. Bener-bener, ngajak ketemuan di cafe ini. Mau nolak, tapi gak enak. Udah lah, gak apa,” gumamku.
Keesokan hari, hari kedua pertandingan. Dan kami menang dengan skor 1-0, tipis sekali. SMP Brawijaya ini benar-benar hebat bagiku. Selesai tanding, kami kembali ke penginapan, beberapa temanku sudah tepar di kasur mereka masing-masing.
Vino : Mas. Ayo.
Tak lama, Wisang langsung membalas pesanku.
Wisang : Oke. Otw.
Membaca pesan itu, aku bersiap keluar kamar dan menunggu gojek yang kupesan.
“Ape nak ndi, Pin?,” tanya Hendra yang sedang duduk di depan kamar.
“Metu diluk.”
Hendra mengangguk.
Tak lama, bang gojek yang kupesan akhirnya sampai. Cafe itu tak begitu jauh dari penginapan. Mungkin Wisang memilih cafe ini karena tak begitu jauh dari penginapan dan rumahnya. Sesampainya di cafe. Wisang belum datang, aku terlebih dahulu memilih tempat duduk.
Sekitar lima menit kemudian. Wisang datang. Dia duduk tepat di depanku. Basa-basi di antara kami mulai juga. Rasa canggung itu masih ada, bagaimana tidak? Baru satu kali bertemu dan ini kedua kali nya.
“Sampean iseh seneng Ginar ta?,” pertanyaan Wisang membuatku langsung menunduk saat itu juga. Hatiku seperti di tusuk dengan jarum besar.
“Lak aku ngapusi ya percuma, Mas. Aku iseh seneng. Tapi tenang ae aku gak ngorat-ngarit hubungane sampean,” jelasku. Wisang mengangguk paham mendengar penjelasanku.
“Bener omongane Ginar berarti,” lanjut Wisang. Untuk kedua kalinya aku tercekat dengan ucapan Wisang.
“Emange Ginar ngomong opo, Mas?”
“Ginar ngomong, nak sampean urung mari mbek arek e. Tapi pas tak takoki, Ginar ya ragu og pe njawabe. Soale jarene, sampean iku gampang move on.”
Lagi dan lagi aku menunduk. Benar kata Ginar. Dulu, aku adalah laki-laki yang bisa di bilang playboy. Aku tak pernah bangga dengan julukan itu, sejak hilangnya Ginar, kebiasaan burukku itu perlahan ku tinggalkan.
“Aku gak bakal ganggu hubungane sampean. Aku ya wis berusaha gawe nutup kabeh. Yak opo yak opo, sing gawe salah kui aku. Mosok aku ate baleni maneh, gak due isin kui jenenge,” jelasku. Wisang tertawa geli mendengar itu. “Nyeselku telat, Mas,” lanjutku.
“Kabeh penyesalan pasti ndek akhir, Mas.”
Aku tersenyum pahit, bagaimanpun benar juga perkataan Wisang. Semua penyesalan pasti di akhir, mana mungkin di awal.
“Sepurane ya, Mas. Nek selama iki aku sek ndek sekitar e Ginar. Aku ero kok nek sampean cemburu. Mergo sampean ya pasti sayang mbe Ginar.”
“Cemburu kui wajar. Aku ya wis ero hubungane kalian yak pie. Aku paham og, nyapo sampean susah move on mbek Ginar.”
“Pastine sampean paham. Arek iku bedo, Mas. Bedo banget.”
Wisang mengangguk. “Arek e ya pernah cerito awal mula e hubungane dee retak mbe sampean. Tapi masio ngunu, areke gak pernah ngelek-ngelekno sampean,” lanjut Wisang. Entah untuk keberapa kalinya aku tercekat mendengar ucapan Wisang. Mereka berdua… benar-benar manusia yang baik, baik dari segi apapun. Di sini, aku merasa, aku adalah manusia paling jahat di dunia.
“Mas, aku ngajak sampean rene, guduk gawe sampean tambah bersalah. Aku mung pingin ngomong nek Ginar… wis aman, wis bahagia mbe aku. Dadi, sampean ya kudu iso bahagia koyo Ginar. Aku ero betapa susah e sampean wektu iku. Tapi jenenge terjebak ndek masa lalu kui ya ndak apik,” jelas Wisang. Aku terharu dengan kepedulian Wisang terhadapku. Aku mengangguk paham mendengar penjelasan Wisang.
“Suwun ya, Mas. Wis iso ngerteni aku. Aku ya pingin mari tekan iki kabeh.”
“Pie carae ben sampean iso mari? Opo tak temukno Ginar sisan? Terus terang, Mas, aku kadang ya cemburu ndelok dee sek hubungan mbe mantane. Bukan berarti aku ngelarang sampean gae mandek ngehubungi Ginar. Maksudku kui rodo jaga jarak sitik,” lagi dan lagi aku mengangguk paham. Aku paham dengan semua ucapan Wisang saat itu.
“Ya nek sampean gak keberatan. Aku gelem, Mas,” Wisang mengangguk mantap. “Ya wis. Kapan enake ketemuan maneh? Ndek kene wae ya,” jawab Wisang.
“Nek kui, tak kabari nyusul wae, Mas.”
Selesai. Selesai obrolan dalam kami, Wisang mengalihkan topik pembicaraan setelah itu. Menurutku, pembicaraan itu sangat berat, dan mungkin menurut Wisang juga begitu. Berat dan penuh… ah sudahlah, aku bingung menjelaskannya.
Tepat pukul dua siang, aku berpamitan kepada Wisang. Aku juga butuh waktu untuk istirahat di penginapan di jam-jam mepet ini.
“Mas, aku bali sek ya. Jogoen Ginar ya, Mas. Jok gawe dee sakit maneh koyok biyen. Titip Ginar ya,” pamitku pada Wisang. Wisang mengangguk dan tersenyum. “Tak jogo. Ora nganti ilang, sak nyawaku,” jawaban Wisang membuatku lega.
Aku sesekali menoleh ke Wisang yang masih berdiri dan tersenyum ke arahku. Entah kenapa, kali ini aku tak lagi takut untuk meninggalkan Ginar. Karena aku tahu… perempuan itu sudah di tangan yang tepat.
❔ Belaian Terakhir
Beberapa bulan berlalu. Aku masih belum ada waktu untuk kembali berkunjung ke Mojokerto. Karena aku dan mungkin mereka, disibukkan dengan TKA dan berbagai ujian kelulusan.
“Wakmu wingi, ketemuan mbe sopo, Pin?,” tanya Hendra.
“Wisang.”
Hendra mengangguk, entah dia tahu atau tidak siapa Wisang itu.
“AWAKMU KETEMU MBE WISANG?,” suara Farel membuatku terkejut. Entah dari mana dia datang, tiba-tiba nyambung saja seperti bluetooth.
“Jangkrek! Kupingku!,” ucapku sambil menutup kedua telingaku.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Farel hanya nyengir saat itu. “Wakmu tenan?,” tanya nya lagi. Aku hanya mengangguk malas.
Setelah selesai TKA dan ujian, yang di mana kita sudah memasuki minggu terakhir menjadi agit SMP.
“Minggu, aku tak ndek Mojokerto,” gumamku. “Ngomel dewe on,” tegur Farel. Anak ini benar-benar, semua yang kulakukan diperhatikan dengannya. Aku takut.
Sabtu malam menyapa. Jumat kemarin aku sudah mengajak ibu dan ayah untuk berkunjung ke rumah Mbak Ika.
“Yah, ayo ndek rumahe Mbak Ika. Aku kangen Reno,” alasanku. Reno adalah adik Mbak Ika, kita seumuran. Dan tentunya, ayah langsung menyetujui ajakanku itu.
Vino : Mas. Sepurane jektas ngabari. Minggu mene aku ndek Mojokerto.
Aku mengirim pesan itu malam ini.
Wisang : Oke. Ndek cafe wingi ya.
Vino : Sip.
Pesan itu berakhir di aku. Sejujurnya, aku tidak ingin menemui mereka, lebih tepatnya menemui Ginar. Rasa malu dan bersalah itu menghantuiku semalaman. Ingin rasanya ku batalkan semua perjanjian itu.
Suara ayam berkokok pagi itu membuatku terbangun dengan nafas tersengal. Entah kenapa tiba-tiba aku terbangun dengan nafas tersengal itu, sepertinya aku mimpi buruk semalam, tapi aku tak ingat. Yang kuingat, hari ini aku akan bertemu dengan Ginar dan Wisang.
Sesampainya di rumah Mbak Ika, aku terlebih dahulu bermain bersama Reno. Supaya kedua orang tuaku tak curiga dengan ajakanku yang tiba-tiba ini. Hubungan kami yang kandas sudah diketahui oleh ibuku. Dan ya, ibuku menceramahi aku.
“Bagaimana bisa kamu mengecewakan perempuan setulus dan sesempurna Ginar? Di mana letak hati mu? Kasihan dia!,” yaaa, omelan itu yang kudapatkan. Aku hanya sanggup menunduk dan semakin merasa bersalah pada Ginar.
“Ren, melok aku ayo,” ajakku pada Reno.
“Nak ndi?”
“Ndek cafe cidek kene. Aku onok janji mbe arek.”
“Ayo wis.”
Reno masuk ke kamarnya dan mengambil kunci motor. Untungnya kedua orang tuaku dan orang tua Reno tidak bertanya kita akan ke mana.
Vino : Mas. Ayo.
Wisang : Wokey. Otw nyusul Ginar.
Hahaha, kali ini yang menjemput Ginar bukanlah aku lagi, tetapi… Wisang.
Perjalanan ke cafe kemarin, sedikit jauh dari rumah Reno. Sudah dipastikan, Ginar dan Wisang akan terlebih dahulu datang di cafe.
Setibanya di parkiran cafe. Aku melihat Ginar dan Wisang duduk berdua berdampingan. Sudah kuduga, mereka pasti lebih dulu datang. Aku tersenyum melihat Ginar yang tertawa bercanda dengan Wisang. Senyum itu, akhirnya kulihat lagi, meski bukan untukku.
“Hai, Nar, Sang,” sapaku. Wajah polos dan lugu Ginar itu masih sama. Ingin sekali ku cubit pipi nya.
“Eh? Hai, Vin,” sapa balik Ginar. Yap, yang kudengar ‘Vin’ bukan lagi 'Pinokio' yang kudengar.
Sebelum obrolan kita semakin dalam, aku lebih dulu asik berbincang dengan Wisang. Sampai akhirnya Wisang memberi isyarat, sekarang saatnya.
“Maafin aku ya, Nar,” ucapku gugup.
“Hah?”
Aku hanya sanggup menghela nafas panjang dan kasar saat itu, kata-kata ku berantakan saat itu. “Maaf, aku masih ada di sekitarmu, dan masih mengganggumu,” lanjutku.
Ginar hanya bisa menoleh ke aku dan Wisang berkali-kali, wajahnya tampak jelas kebingungan mendengar ucapanku yang secara tiba-tiba ini.
“Kita sudah lama selesai. Tapi, aku belum benar-benar menganggap kita selesai. Maaf jika aku mengganggumu selama ini.”
“Aah. Berarti benar dugaanku? Kamu kenapa berubah, Vin? Aku kenal kamu yang gampang dapetin cewek. Kita gak sampai tahunan, tapi kenapa kamu sesusah itu buat lupain? Giliran Nia yang tahunan, kamu gampang banget lupain,” cecar Ginar.
Aku menggeleng bingung, “aku gak tahu, Nar. Yang jelas kamu beda dari mereka. Meski kenangan kita secuil, tapi aku selalu mengenang itu. Dan asal kamu tahu, aku gak pernah sekalipun dekat dengan perempuan setelah kamu. Bahkan Vinka, aku cuma menjaga komunikasi, bukan dekat kembali seperti dulu,” jelasku.
“Kamu… aneh, Vin. Mana dirimu yang dulu aku kenal?,” pertanyaan itu membuat hatiku terasa aneh. Sebisa mungkin aku menahan tangis ini. Meski mataku yang merah tidak lagi bisa berbohong.
“Hilang. Semua hilang, bersamaan dengan hilangnya kamu dari hidup aku. Aku akan hilang dari hidupmu, kalau kamu…” tak kulanjutkan ucapanku saat itu. Aku menatap lurus ke arah Wisang. Dengan berat hati aku mengucapkan, “apa boleh dia membelai rambutku untuk terakhir kalinya?,” pertanyaan itu ku tujukan pada Wisang. Wisang tersenyum dan mengangguk, kemudian…
“Boleh. Tapi… aku dulu,” balasnya sembari menarik tangan Ginar untuk membelai rambutnya. “Silakan, untuk terakhir kalinya,” lanjutnya. Wajah bingung Ginar masih ada, yang ada di malah lebih bingung saat itu. Tangan Wisang meraih tangan Ginar kedua kalinya, dan untuk kedua kalinya ini, dia meletakkan tangan Ginar ke kepalaku.
Belaian hangat dari tangan Ginar… membuat kepalaku memutar semua memori kita dulu. Di mana aku yang sering mencari alasan agar Ginar membelai atau mengacak-acak rambutku. Dia membelai rambutku tak lama, hanya sebentar. Tapi rasanya… lama.
Selesai dia membelai rambutku. Aku berdiri dengan mata dan hidung yang hampir merah. “Maaf dan terimakasih atas semuanya,” ucapku kepada mereka berdua. “Bahagia terus ya. Dan… Wisang, aku titip Ginar,” kalimat terakhir dan aku pergi meninggalkan mereka.
Perjalanan pulang, saat aku dibonceng dengan Reno, tangisku tak terbendung. Tangisku pecah saat itu juga.
“Woala, Pin. Ikhlasno, Pin, arek e wis bahagia. Lak jarene wong-wong… mengikhlaskan adalah bagian dari mencintai,” nasihat Reno membuatku semakin terasa sakit. Di tengah udara yang menyapu wajahku saat itu, aku hanyut dalam lamunan.
Dulu, aku selalu berharap perempuan itu selalu berjalan di sampingku. Dan aku selalu berharap, senyum itu hanya untukku. Tapi hari ini… semua itu sudah dimiliki oleh laki-laki lain. Sakit. Yang lebih sakit adalah, aku yang memulai semua itu. Aku teringat dengan satu janjiku dulu, ‘kalau aku buat satu kesalahan, kamu berhak mutusin aku,’ kesalahan itu satu dan besar.
Meski semua sudah milik laki-laki lain, aku tak pernah marah ataupun benci. Apa alasan aku marah dan benci pada mereka? Karena semua itu adalah kesalahanku, bukan mereka. Aku hanya berharap, langkah mereka searah, dan tak ada pertengkaran antara mereka. Dan… belaian terakhir itu, akan menjadi kenangan paling indah yang tak pernah kuulang lagi.
Setelah semua mulai mereda dan membaik. Aku memberanikan diri untuk memposting beberapa klip video kenangan kita yang kini tak lagi kita. Di video itu, aku menulis caption ‘belaian terakhir'. Dan Wisang membalas itu.
Wisang : Bahagia selalu dengan pilihanmu yang lain. Gak usah khawatir sama Ginar, dia aman dan ku pastikan dia bahagia dengan ku.
Aku tersenyum membaca pesan Wisang. Aku benar-benar percaya padanya. Bahagialah kalian, dan aku akan menyusul setelah semua ini selesai.
(Gaiss, ikuti saluran WhatsApp aku yukk. Di sana aku bakal upload perjalanan cerpen atau novel yang akan terbit
https://whatsapp.com/channel/0029Vb8jmtCGk1FnLymFsz05
Ikuti yeah🥰😘, terimakasih)