Segitiga
Author: Jingga Mega
Hai, aku Kevia Ginary Rennatha, akrab dipanggil Via. Siswi SMP yang sedang duduk di bangku kelas sembilan. Aku adalah siswi pindahan dari salah satu SMP negeri yang ada di Surabaya, aku pindah ke salah satu SMP negeri yang ada di Mojokerto.
Hari pertama masuk sekolah. Aku bercermin dan bicara pelan,
“Semua akan baik kepadaku. Cinta, teman, dan lingkungan akan berbuat baik kepadaku,” gumamku seraya tersenyum.
Aku menyusuri koridor sekolah menuju kelas sembilan F dengan didampingi guru di sebelahku. Rasa gugup kembali menyelimutiku, sebisa mungkin aku tepis semua ketakutan itu. Sampai akhirnya, guru yang mendampingiku tadi, menyuruhku untuk memperkenalkan diri.
“Hai semua, perkenalkan namaku Via. Aku pindahan dari Surabaya. Aku harap kita bisa berteman baik selama satu tahun ini,” ucapku sambil tersenyum.
“Kamu duduk di bangku yang kosong ya, Via,” perintah guru, aku hanya mengangguk paham dan segera mencari bangku yang kosong.
Sialnya di hari pertama ini, aku duduk dengan siswa laki-laki berkulit sawo matang dan potongan rambut taper fade.
“Haii, salam kenal ya. Aku Nisa,” ucap siswi yang ada di depanku.
“Eh haii, salam kenal.”
“Kamu pindahan dari sekolah mana?”
“Dari SMP Negeri Nusantara.”
“Kenapa pindah ke desa? Kan enak di kota.”
“Kebetulan aku juga pindah rumah. Dan aku netap di sini,” jelasku panjang lebar.
“Oalaa. Kamu kalau susah paham sama materinya, bisa tanya ke aku. Aku gak seberapa pintar, tapi sebisa mungkin aku bantu kamu.”
“Eh iyaa, makasih ya tawarannyaa.”
“Iya sama-sama, kita berteman ya?”
“Dengan senang hati,” ucapku sambil tersenyum ke arah Nisa.
Hari ini kami belum ada pelajaran. Hanya diisi dengan wali kelas. Satu hal yang aku tahu, ternyata kelas ini adalah kelas rolling kelas 7. Maksudku, kembali ke kelas dulu, karena kelas delapan di rolling. Jadi kita sama-sama adaptasi di sini.
“Kepada seluruh siswa kelas sembilan, dari kelas sembilan A sampai G silahkan menuju ke perpustakaan untuk mengambil buku tahun pelajaran 2026-2027,” suara dari speaker sekolah terdengar jelas.
“Ayo, sama aku,” ajak Nisa.
“Ayoo.”
Di depan perpustakaan, saat kita sedang menunggu giliran. Salah satu siswi menyenggol lenganku.
“Hai, kamu Via kan?,” ucap siswi itu dengan wajah penuh semangat.
“Hai, iya aku Via. Salam kenal.”
“Salam kenal, aku Citra. Kamu pindahan dari sekolah mana?”
“Dari SMP Negeri Nusantara.”
“Ohhhh, I know. Yang menang futsal di liga tendang bola itu kan? Keren banget sekolahmu,” ucap Citra dengan girang.
“Aah iya, tahun kemarin menang. Kebetulan sekolahku memang terkenal dengan futsal nya.”
“Kenapa pindah? Padahal kalau di lihat, itu sekolah bagus banget.”
“Aku juga pindah rumah sih.”
“Aihh, paham paham. Eh btw, aku salfok sama mata kamu,” ucapnya sambil menatap lurus ke mataku.
“Kenapa? Kena tinta kah? Atau tipe X?”
“Mata kamu memang besar ya? Kamu pakai kacamata loh padahal, tapi masih kelihatan lengkukan mata nya. Bagus banget, cantik bangett. Aku suka,” ucapnya seraya tersenyum.
“Aduh biasa aja, Citra. Mataku memang besar, nurun ayahku.”
“Aihh, cantik sekali.”
“Aduh, makasih cantik.”
“Sama-sama cantikk.”
“Kamu gampang akrab ya?,” ucap Nisa yang sedari tadi memperhatikan obrolan kami.
“Tergantung lingkungannya sihh.”
“Di sini enak kok, kita juga sama-sama adaptasi.”
“Enak bangett,” ucapku. Tak lama ada salah satu siswi yang kembali menyenggol lenganku.
“Haii, salam kenal. Aku Tata.”
“Eh hai, aku Via.”
“Asik banget kalian, aku jadi pingin ikut gabung, hehehe.”
“Via emang asik banget anaknya,” ujar Nisa.
Antrean perpustakaan itu tak terasa karena kami terlalu asik untuk ngobrol. Banyak hal yang dibahas, mulai dari lingkungan, teman, bahkan guru.
“Energi ku disini diserap sama mereka, gila sih, capek banget,” gumamku saat duduk di bangku sendirian.
Saat istirahat, aku dan ketiga temanku tadi memutuskan untuk keliling sekolah. Satu hal yang membuatku terkejut, kantin di sekolah ada tapi tidak buka. Kayak hah? Kenapa di sediakan kantin kalau tidak ada yang jual?
“Kita beli bakso yuk,” ajak Tata.
“Ayo.”
Kami berempat memutuskan untuk langsung ke pagar depan dan memesan semangkuk bakso. Saat menunggu antrean, beberapa siswi melihatku dengan tatapan aneh. Dan aku memaklumi itu semua, karena aku anak baru.
“Eh, Din. Ini loh anak baru yang aku maksud kemarin,” ucap Tata.
“Eehh, kamu? Salam kenal ya, aku Dina,” ucap siswi itu sambil mengulurkan tangannya.
“Salam kenal, aku Via.”
“Aku Niar.”
“Aku Vika,” ketiganya memperkenalkan diri kepadaku. Dan aku dengan senang hati menerima semua itu.
“Kita dari kelas sembilan E. Semoga betah ya di sini. Temen-temen nya baik kok.”
“Hehehe iya, baik banget malah.”
Selesai makan bakso dan mengembalikan mangkuk. Aku memilih untuk diam di kelas.
“Di sini energiku keserap sama mereka,” gumamku. Di kelas aku tidak sendiri, ada satu siswa yang duduk di pojok. Entah siapa namanya.
“Via, boleh kenalan?,” ucap siswa itu menghampiriku sambil mengulurkan tangannya.
“Eh boleh, siapa namamu?,” tanyaku sambil menyalami tangannya. Kami mengobrol panjang sekali, dan dari situ aku menyimpulkan bahwa dia adalah laki-laki yang friendly. Namanya Candra.
“Eh, mau tanya,” ucapku.
“Apa?”
“Siswa sebelahku ini namanya siapa?”
“Wisang namanya,” jelasnya. Aku hanya mengangguk paham mendengar itu.
“Bagus banget namanya.”
“Ha? Sebagus itu?”
“Iya bagus banget, aku suka.”
“Kamu suka Wisang?,” celetuknya membuatku terkejut.
“Engga lah, ya kali. Baru day one sekolah ini.”
“Hahahah, siapa tahu kan,” ucapnya, aku hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
♥ Wisanggeni
Selesai istirahat, kelas mulai berisik karena suara siswa yang sudah masuk. Meski tidak ada guru semua siswa masuk kelas, tidak ada yang keluar.
“Eh, boleh tanya gak?,” suara laki-laki di sebelahku itu terdengar asing.
“Boleh boleh.”
“Kamu paham ini?,” ucapnya sembari menyodorkan buku yang berisi catatan sejarah.
“Ohhh tahu-tahu. Jadi ini tuh gini—,” jelasku panjang lebar kepadanya. Laki-laki itu hanya menatap lurus ke arahku sambil mendengarkan ucapanku.
“Oh iya-iya, paham sudah. Makasih ya.”
“Iya, sama-sama. Eh btw, nama kamu siapa?,” tanyaku.
“Wisang,” ucapnya. Aku hanya diam dan memperhatikan name tag yang ada di bajunya. Terlihat jelas nama panjangnya Nayanika Wisanggeni A.
“Nayanika? Mata? Wisanggeni? Wow, bagus banget.”
“Bagus banget?”
“Iya, kesannya kayak kuno gitu. Aku suka nama kuno gitu. A itu apa?”
“Agalaksono,” jelasnya sambil menunjuk name tag nya.
“Wihhh, keren nya. Orang tua mu suka Mahabarata ya?”
“Engga. Keluargaku memang masih suka pakai nama kuno aja. Baru kali ini ada orang yang takjub banget sama namaku.”
“Gak mungkin, pasti banyak yang takjub juga selain aku. Btw, nama panggilan kamu Wisang?”
“Iya, Wisang.”
“Ohh,” ucapku disusul dengan anggukan.
“Sang,” suara laki-laki terdengar dari belakangku, membuatku ikut menoleh juga ke arahnya. Di depan kelas ada satu siswa yang berdiri memanggil Wisang.
♥ Ican dan Yaya
Pagi menyapa terus menerus. Tak terasa sudah dua minggu aku sekolah.
Istirahat kali ini ada MBG atau biasa disebut Makan Bergizi Gratis progam Pak Prabowo. Saat aku berjalan untuk mengambil satu ompreng, salah satu tangan laki-laki itu menyodorkan dua ompreng sekaligus.
“Nih,” ucap Wisang.
“Banyak banget,” ucapku heran.
“Sama aku lah, tolong ya,” lanjut Wisang.
“Oke oke.”
Tak lama Wisang kembali duduk di bangkunya. Kami sempat mengobrol tapi tidak melihat satu sama lain.
“Kenapa pindah?,” tanya nya sambil asik mengunyah makanan.
“Rumahku di sini.”
“Oala.”
“Panggilan mu, Sang?,” tanyaku sesekali mengaduk nasi.
“Wisang, bukan Sang.”
“Tapi kemarin temanmu manggil Sang,” ucapku seraya menoleh ke arah Wisang yang sedang makan. Matanya juga masih fokus ke nasi yang ada di ompreng.
“Itu pendeknya.”
Aku mengangguk paham dan menjawab, “kenapa gak Ican?”
“...” Wisang hanya diam dan menoleh ke arahku dengan raut wajah bingung.
“Kenapa? Ada yang salah?,” tanyaku sambil melambaikan tangan di depan muka Wisang.
“Ican dari mana?”
“Dari nama kamu. Isang, Ican. Baguskan?”
Lagi dan lagi dia hanya diam dan masih berusaha mencerna ucapanku tadi. Sampai akhirnya raut wajahnya berubah, yang semula bingung kini menjadi senyum yang menghiasi wajahnya.
“Bagus. Kamu mau panggil itu?”
“Kalau boleh, aku panggil kamu… Ican.”
“Boleh.”
“Kalau teman-teman ikut manggil Ican?”
“Gak papa,” ucapnya. Aku hanya mengangguk paham mendengar penjelasan itu.
Satu hari ini aku habiskan bersama teman-teman lain. Waktu berjalan dengan cepat, tak terasa sudah memasuki waktu pulang. Bel pulang berbunyi cukup nyaring.
“Kamu bawa motor sendiri?,” tanya Wisang saat aku mengangkat bangku.
“Iya.”
“Berani?”
“Kenapa engga? Jalannya aja sepi.”
“Ya siapa tahu kamu takut,” jawabnya disusul dengan suara tertawanya yang pertama kali aku dengar.
Di parkiran motor, terlihat Wisang juga sedang mengambil motornya yang terparkir di sebelah motorku.
“Aduh anak kecil bawa motor sendiri, bahaya ini,” goda Wisang.
“Ngomong keong.”
“Mana sih orang tua nya? Kok ngebiarin anak SD bawa motor sendiri.”
“STOP ya, Can. Lihat badge kelas gua,” ucapku sambil menunjuk ke badge yang terpasang di sebelah kanan.
“Oh iya iya, merah ya? Kelas sembilan ya?”
“Iyaaa. Haduhh.”
“Jangan marah dong, Yak.”
“Yak? Nama siapa?”
“Kamu. Via, aku singkat jadi Yaya. Gampangnya, aku panggil Yak. Hehehe.”
“Anjir, kepikiran banget.”
“Boleh kan?”
“Yaudah iya boleh. Udah ah, bye. Mau pulang dulu.”
“Iya deh, hati-hati ya anak kecil.”
“Shut up!”
Wisang hanya tertawa mendengar ucapanku tadi. Sialan. Bisa-bisanya dia bilang aku anak kecil, padahal kita sekelas. Mentang-mentang tingginya 170 sedangkan aku 148, heuh.
♥ Cerita Lama
Hari ini kuawali seperti biasa, sekolah, belajar, pulang.
Hari ini juga tidak ada pelajaran, karena guru sedang ada rapat. Aku hanya bisa mencoret-coret buku dan menggambar di buku juga, karena hp kita sedang dikumpulkan. Berbeda dengan Wisang, ia asik bicara dengan teman yang ada di bangku belakang. Sampai akhirnya batrei Wisang melemah. Terlihat dia hanya diam dengan tatapannya yang kosong.
“Hei,” ucapku sambil melambaikan tangan. “Bengong, hahaha,” lanjutku.
“Engga, mengisi energi ini,” jawabnya.
Kami lanjutkan dengan obrolan seperti biasa, dan seperti biasa pula kami tidak pernah melihat satu sama lain.
“Kita kalau ngobrol gak pernah lihat wajah ya?,” ucapku dengan mata yang masih fokus ke buku yang penuh gambaran itu.
“Iya, enak gini.”
“Aneh.”
“Kamu juga.”
“Absurd banget, hahaha.”
Saat jam istirahat tiba, Candra menghampiriku yang masih duduk di sebelah Wisang.
“Haai, udah lama kita gak ngobrol bareng,” sapa Candra.
“Eh, haii. Iya ya, terakhir kapan ya? Lupa aku, hehehe.”
“Terakhir… hari pertama kali masuk kelas ini sih.”
“Ahh iya, benar.”
“Kamu kenal anak ini?,” tanyanya sambil menunjukkan akun IG seseorang.
“Ah, aku tahu. Vino itu. Teman kelasku dulu.”
“Oalaa, tapi kenapa nama akunnya Lentera?”
“Nama panjangnya, Raka Avino Lentera. Dulu aku sempat dekat sama dia.”
“Sebagai teman?”
“Iya lah, gak mungkin sebagai pacar.”
“Ahh, mustahil.”
“Kenapa mustahil?”
“Jaman sekarang, cewek?”
“Yaampunnn, kalau cewek gak pernah pacaran, itu wajar dan masih bisa di maklumi. Kalau cowok, baru mustahil, hehehe,” jelasku panjang lebar.
“Gak, itu Wisang,” ucapnya membuatku langsung menoleh ke arah Wisang yang sedari tadi sibuk dengan gambarannya.
“Serius, Can?,” tanyaku sambil menyentuh sedikit lengannya.
“Can?,” tanya Candra heran.
“Iya, nama dia sekarang Ican. Bukan Wisang, hehehe.”
“Aihh, di ubah? Bagus sih.”
“Iya, aku gak pernah pacaran,” jawab Wisang.
“Keren,” balasku antusias.
♥ Dia dan Cerita Lamanya
POV Wisang
Hari ini kelas kami kedatangan siswi baru. Namanya Via, gak begitu tinggi, warna kulitnya sawo matang, dan dia manis kalau tersenyum. Aku bilang begitu, karena sepanjang perkenalan bibirnya tak berhenti untuk tersenyum.
“Dia kalau ngomong sambil senyum? Aneh,” gumamku.
Dua minggu aku duduk dengannya, membuatku sadar. Dia friendly banget, sehari sudah dapat tiga teman, sedangkan yang lain? Mereka masih adaptasi dengan kelas yang baru saja di rolling. Dan satu hal yang aku sadari, bibirnya memang selalu senyum saat ngobrol sama orang. Itu semua membuatku merasa… dia berbeda.
“Cand, ngeroso gak?”
“Opo?”
“Arek iku beda gak seh?”
“Siapa jir?”
“Via, beda.”
“Oalaa, emang seh. Seru arek e. Manis sisan, poh maneh pas mesem, behh ngalahi gulo jir.”
“Biasa ae nek muji, Cand. Tapi emang seh.”
“Yo kan, arek e yo pinter terus melek politik.”
“Bener. Ben aku nakok ndek dee, jawabane mesti ‘aah aku tahu ini’ keren.”
“We… naksir?”
“Ora, mek notice. Tapi aku kepikiran mbe sing jenenge Vino kui.”
“Nyapo kepikiran?”
“Masa lalu bos.”
“Jaremu mek notice, kok sampe gowo masa lalu?”
“Ya pie ya.”
“Tapi… menurutmu, dee pacaran gak mbe Vino?,” tanyaku kembali ke Candra.
“Aku ora iso mastekno seh. Tapi, mustahil nek Via gak pernah pacaran. Deloken, dee manis, terus seru, gak mungkin nek gak onok sing naksir mbe dee. Pasti onok.”
“Bener seh.”
“Wis wis, ra sah galau. Pepeten ae, optimis.”
“Iyo wis, apa salahnya nyoba dulu.”
“Tapi yo ojok di gae dulinan atine.”
“Gendeng, gak lah.”
Obrolanku bersama Candra membuatku malah menjadi kepikiran.
♥ Aku Cuman Kangen
Hari ini, aku memilih untuk menyendiri di taman sekolah. Sengaja, karena sudah banyak energi yang aku keluarkan sebelumnya.
“Haii, jangan menyendiri dong. Nanti di kiranya kamu gak ada teman,” suara Citra membuat lamunanku buyar.
“Eh, engga kok, aku lagi pingin sendiri aja. Lagian, semua orang juga tahu kok, kalau aku banyak teman di sini.”
“Kamu introvert ya?”
“Fifty fifty.”
“Ahh, ambivert?”
“Betull.”
Kedatangan Citra membuatku kehilangan lamunan yang sedari tadi menyelimutiku.
“Eh, udah dulu ya. Aku mau ke kelas E sebentar,” ucap Citra.
“Oh iya iya.”
Dan yap, aku sendirian lagi. Aku tidak pernah keberatan jika tidak ditemani. Karena sesungguhnya itulah lingkungan yang aku suka. Tapi aku juga suka dengan lingkungan positif seperti ini.
“Nih,” ucap laki-laki dari belakangku, lagi dan lagi membuatku terkejut. Ia juga menyodorkan handphoneku.
“Loh? Kok diambil?,” tanyaku kepada Wisang sembari mengambil handphoneku yang ada di tangannya.
“Habis ini kan ada pelajaran TIK.”
“Oh iya deh, lupa aku. Males banget.”
“Kenapa males? Kamu kan pintar,” balas Wisang dan dia duduk tepat di sebelahku.
“Dari mana?”
“Wajah kamu,” balas Wisang sambil jari telunjuknya menyentuh ujung hidungku.
“Hei! Aneh, lihat kepintaran dari wajah. Aku cuman suka sama sejarah sama bahasa Indonesia juga,” ucapku sambil mengalihkan telunjuk Wisang.
“Ketahuan. Kamu juga penulis kan?,” ucapan Wisang membuatku refleks menoleh.
“Kok tahu? Tapi aku masih penulis biasa sih.”
“Tetap keren. Dari tadi di sini ngapain? Galauin Vino?”
“Ngomong keong.”
“Aku tanya loh…”
“Pertanyaanmu tuh. Tiba-tiba banget galauin Vino. Aku sama dia gak ada hubungan. Lagian aku galauin temen-temen yang ada di Surabaya…”
“Emang temennya di sini kenapa?”
“Gak kenapa-kenapa sih. Aku cuman kangen sama suara mereka, candaan mereka, ceplosan mereka.”
“Hahahaha, sesayang itu kamu sama mereka, sampai suara mereka kamu ingat.”
“Iya, aku sayang. Bahkan aku abadikan di karyaku.”
“Berarti Vino juga?”
“Aku gak ada hubungan sama dia, kenapa harus abadi?”
“Masa gak ada hubungan?”
“Aku gak pernah anggap dia sebagai mantan, aku anggap dia tetap menjadi teman,” ucapku. Terlihat wajah Wisang yang terkejut mendengar ucapanku tadi.
“Oala, tapi kamu kenang?”
“Engga. Aku lebih kenang teman-teman lain.”
Ucapanku itu tak digubris oleh Wisang. Yang ada dia malah meninggalkanku, entah ke mana. Tak lama, dia menyodorkan es krim kepadaku.
“Buat aku?,” tanyaku. Wisang hanya mengangguk dan tersenyum ke arahku.
“Makasih,” balasku tersenyum.
“Sama-sama, adik.”
“Sial, kakak deh.”
“Hahahaha. Udah ya, gak usah galau, aku pengganti temanmu.”
“Dua tahun…”
“Shutt,” potong Wisang, jari telunjuknya tepat di depan mulutku. “Aku tahu itu berat, tapi hidup harus selalu berjalan bukan?,” lanjut Wisang.
“Iya, bener.”
♥ Foto di Sorotan
POV Wisang
Minggu ini aku habiskan bersama teman-teman. Nongkrong di suatu cafe terdekat.
Suara gelas beradu dengan sendok itu membuatku larut dengan suasana hangat di cafe.
“Deloken,” ucap Candra sambil menunjukkan layar handphonenya. “Akun kedua e Vino,” lanjut Candra.
Aku masih fokus menggeser foto yang terpampang di layar handphone Candra. Semakin aku geser, semakin aku merasa aneh.
“Aku ero og, Via gak anggap mantan ae,” ucapku sambil menaruh handphone Candra.
“Iyo? Wakmu gak cemburu?”
“Menurutmu ae, Cand.”
“Jok galau ta, iso iso.”
“Gak yakin aku.”
Foto yang kulihat tadi, adalah foto Via bersama Vino yang masih di posting di sorotan Vino.
Baru saja kemarin dia bilang, ‘aku anggap dia teman’ sekarang malah dikasih fakta mencengangkan ini. Aku juga baru tahu satu hal, Vino ini atlet. Susah. Yang ada aku malah kepikiran.
“Kenapa aku mikir sampai kesitu?,” batinku sambil mengerutkan kening.
“Aku cuman notice dia, jangan terlalu dibawa perasaan. Tapi ini susah banget, Ican!,” gumamku.
Saat di kamar, aku berkali-kali mampir ke akun kedua Vino. Memastikan, akun itu aktif atau tidak. Sorotan terakhir si Januari kemarin. Tapi gimana kalau sampai detik ini mereka masih punya hubungan? Aaahh! Aku benci pikiran buruk itu.
Saat memandangi akun Vino, terlintas satu ide yang sedikit bahaya di otakku.
“Tanya langsung ke dia kali ya?,” gumamku sambil men-screenshot akun Vino.
Aku buka kontak yang kuberi nama ‘Yaya’ itu.
Aku mengirimkan screenshot akun itu, tanpa memberi sepatah kata.
Yaya : Woipp, dapat dari mana?
Wisang : Dari Candra. Kata nya gak pernah ada hubungan.
Yaya : Aku udah bilang bukannya? Aku gak anggap dia mantan, aku anggap teman.
Wisang : Teman…
Yaya : Kenapa si, Can?
Wisang : Gak papa, aku cuman penasaran.
Via tak membalas pesan itu, dia hanya memberikan reaction emoji ‘😒’.
Lagi dan lagi, itu semua membuatku overthinking. Gimana cara nya biar dia tahu? Gimana!
♥ Aku atau Puisi?
Mapel pertama hari ini adalah olahraga. Aku suka, kalau tidak ada yang namanya roll depan itu. Praktek itu membuat image ku berantakan! Gak suka!
Selesai olahraga dan istirahat, pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia, favorit aku!
“Kenapa gitu?,” tanyaku kepada Wisang yang sedari tadi menatapku.
“Engga.”
“Ada yang aneh?”
“Ada.”
“Apa?”
“Kamu beda,” ucapnya dengan mata yang masih terkunci menatapku.
“Apa nya?”
“Gak tahu, yang jelas beda.”
“Aneh,” ucapku kesal. Aku kembali fokus ke guru yang sedang menjelaskan materi di depan. Dan Wisang? Dia masih menatapku, entah apa yang ia lihat.
“Baik anak-anak, tugas kalian hari ini membuat puisi ya, temanya bebas,” ucap guru setelah menjelaskan materi puisi. Aku tersenyum sumringah mendengar tugas itu.
“Adik puitis ini mau bikin puisi buat siapa?,” goda Wisang.
“Buat…”
“Vino, ah iya Vino.”
“LAGI?”
“Hehehe, iya maaf.”
“Gak aku maafin kali ini.”
“Jahat, maafin aku dong, adik,” ucap Wisang dengan wajah memelas sok imut.
“Aku emang jahat! Lagian dari kemarin Vino Vino terus.”
“Ya… aku tahu nya cuman Vino.”
“Lama-lama aku temuin juga kamu sama Vino.”
“Boleh.”
“Diem, Can! Berisikkk!”
“Iya deh, maaf maaf.”
Aku kembali fokus dengan tugas yang baru saja guru berikan. Hanya butuh waktu sebentar untuk mengerjakan tugas puisi itu.
“Cepet banget,” ucap Wisang sambil melihat ke arah kertasku.
“Kecil ini mah.”
“Kayak kamu.”
“Heii! Gak sopan.”
“Puitis, ajarin dong, dik.”
“HEY! Adik terus.”
“Aku kakak kamu kan?”
“Gak, kamu suka banget ngejek adiknya.”
“Itu normalnya adik kakak.”
“Iya sih.”
“Udah ah, ajarin aku,” ucapnya sambil menggeser posisi bangkuku.
“Gak sopan! Jangan dekat-dekat,” ucapku sambil menggeser kursiku.
“Aku gak gigit.”
“Tapi nelen. Ya kan?”
“Iya, nelen hati kamu.”
“Hah?”
“Udah ajarin sini. Jangan hah hoh.”
“Heii!”
“Heii!,” nada Wisang mengikuti nada bicaraku. Terus saja mengejekku.
♥ Mereka Ribut, Aku Malu
Citra : Vii, besok berangkat sekolah, aku bareng yaa.
Via : Okeeey.
Pesan itu masuk saat aku ingin menutup mata. Satu hari ini energiku kekuras 100%. Tapi seru, eheheh.
Matahari menyapa dengan sinar nya, kuawali hari dengan sarapan sesudah sholat shubuh. Selesai makan, ku keluarkan motor yang terparkir di dalam rumah itu.
“Aku berangkat, assalamualaikum,” salam ku sebelum keluar rumah.
“Waalaikumsalam, hati-hati,” sahut ibu.
Biasanya aku langsung ke sekolah, tapi kali ini tidak. Aku mampir ke rumah Citra terlebih dahulu, gak begitu jauh, bahkan rumah Citra melewati rumah Wisang. Sialnya aku ketemu dia juga yang sedang memanaskan mesin motor.
“Pagi adikk,” suara Wisang kerasa sekali. Malu aku!
Tak lama, aku sampai di rumah Citra. Menunggu Citra keluar, sembari aku menoleh ke belakang, mengingat suara Wisang tadi, membuatku malu setengah mati.
“Pagi, maaf ya ngerepotin,” ucap Citra sambil menepuk pundakku.
“Pagi. Gak ngerepotin kok, malah enak ada temennya,” balasku sambil tersenyum.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku dan Citra tak berhenti untuk bicara. Kami berdua saling bertukar cerita dan tawa.
Sesampainya di parkiran sekolah, aku melihat Wisang dan teman-temannya yang masih duduk di sekitar situ.
“Adik, tadi kok gak balas sapaan kakak?,” goda Wisang. Wajah teman-teman Wisang yang kulihat mereka menahan tawa.
“Bacot, ih,” balasku tanpa menoleh ke arah Wisang. Kulanjutkan langkahku bersama Citra menuju kelas.
“Kamu adiknya Wisang?,” tanya Citra polos, seperti tak tahu apa-apa.
“Citraa, bukaan. Aku bukan adiknya. Wisang sendiri itu, mentang-mentang dia lebih tinggi dari aku!”
“Hahahah, lucu banget anjir. Belakangan ini aku lihat kamu deket banget sama Wisang. Kataku sih gak cocok ya kalau jadi adiknya, cocoknya mah jadi ceweknya,” celetuk Citra membuatku berhenti di tengah jalan.
Aku mendengus kesal mendengar ucapan Citra, “Apalahh, dia seusil itu, jadi kakak-ku aja aku gak mau,” jawabku sambil menyusul langkah Citra yang lebih dahulu.
“Suatu saat juga mau. Perempuan mana yang gak mau sama Wisang? Yang ada mah Wisang yang pilih-pilih.”
“Pilih-pilih? Masa?”
“Iya, kamu tuh cewek pertama yang digodain Wisang, cewek pertama yang deket sama Wisang,” jelas Citra membuatku lagi dan lagi melongo.
“Masa sih? Dia friendly loh.”
“Menurut kamu aja kali. Sebenarnya dia tuh dingin banget!”
Mendengar ucapan Citra, membuat alis-ku terangkat. Perasaan Wisang itu friendly, masa gak pernah dekat sama cewek? Mustahil.
Mata pelajaran pertama dimulai tepat pukul tujuh. Hari ini terasa cepat sekali, tiba-tiba sudah istirahat saja. Baru hari ini aku tak bicara dengan Wisang. Hari ini dia juga diam saja, tapi masih sering menoleh ke arahku.
Istirahat kali ini, aku makan bakso bersama Citra, Tata, dan Nisa.
“Eh, Vi. Kamu jadian sama Wisang?,” tanya Tata. Hampir saja tersedak kuah karena pertanyaan Tata.
“Rumor dari mana itu?”
“Aku nebak aja, soalnya kalian deket banget.”
“Ya kan! Mereka deket banget. Aku duduk di depan Via, aku sering lihat Wisang tuh ngisengin Via!,” timpal Nisa.
“Tadi pagi aja digodain sama Wisang di parkiran depan, di giniin ‘adik, tadi kok gak balas sapaan kakak?’ gitu jir, awokawokawok,” timpal Citra.
“Citra! Jangan ceritain yang ituu, aku maluu.”
“Hahahah, lucu banget. Btw kamu keren, Vi.”
“Keren? Apa nya, Ta?”
“Wisang itu anaknya dingin. Kamu cewek pertama yang meluluhkan dinginnya Wisang.”
“Ngaco! Dia tuh komedian, gak mungkin dingin.”
“Awokawokawok, komedian gak tuh. Eh kamu tahu gak? Aku udah lama banget pingin ngomong ini, tapi takut,” ucap Nisa.
“Apa, Nis?,” tanya kami serempak.
“Itu, Zeo dari kelas sebelah, temennya Wisang. Aku kan temanan sama dia juga, dia tuh bilang kalau Wisang tuh lagi ngincer temen sekelasnya. Pas aku tanyain, Zeo juga gak tahu. Pokoknya dia duduk sama Wisang, itu kamu!,” ucap Nisa dengan nada semangat.
“Nisa, jangan keras-keras. Malu akuu! Itu mungkin karangan si Zeo.”
“Karangan dari mana? Nih lihat,” ucap Nisa sembari menunjukkan screenshot chattingan Wisang dan Zeo.
“Uwikkk, gas lah, Vi. Cakep itu, mayan,” balas Tata.
“Ngomong keong kamu, Ta. Udah ah.”
Setengah hari kulewati penuh dengan ejekan teman-teman. Bahkan saat pulang, aku tak lepas dari ejekan itu.
Saat di parkiran sekolah, terlihat Wisang dan teman-temannya sudah ada di sana, memenuhi tempat parkir.
“Iki a, Sang?”
“Iki sing nyeluk, Ican?”
Allahuakbar, rasanya aku ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini. Citra? Dia yang ada menahan tawa di pojok.
♥ Kabar Lama
Hari ini aku berangkat ke sekolah sendirian, mengendarai motor sendiri juga.
Dari dua hari terakhir, perasaanku campur aduk, tak bisa aku jelaskan. Intinya aku hanya ingin sendiri dan nangis.
Tangis yang aku pendam selama dua hari terakhir, akhirnya pecah saat perjalanan menuju sekolah. Di parkiran, aku berusaha menutupi sisa tangisku.
Tetapi… mata dan hidungku tak bisa berbohong. Sesampainya di depan kelas, aku memilih untuk duduk di depan dulu sebelum masuk. Aku larut dalam lamunan.
“Kenapa nangis?,” tanya seseorang yang berdiri di depanku.
“Gak papa.”
“Ayo masuk,” ajak Wisang.
“Duluan aja.”
“Sini tas mu,” ucap Wisang sambil mengulurkan tangannya.
“Buat?”
“Sekalian aku taruh di bangku.”
“Makasih,” ucapku seraya melepas tas yang masih ada di bahuku.
Tak lama Wisang datang lagi, bahkan sekarang dia duduk di sebelahku.
“Vino?”
“Ngapain.”
“Kangen sama teman kamu?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Gak tahu. Dua hari terakhir ini ada yang ganjel, tapi gak tahu apa.”
“Nilai rupiah melemah? Harga semua barang naik? Pertamax juga naik? Gak usah terlalu dipikir. Mereka yang di atas kita aja gak mikir, kenapa kamu mikir?”
“Sialan, malah bahas politik.”
“Ya kamu kan melek politik.”
“Gak gitu, Ican.”
“Udah ah, jangan terlalu dipikir. Hidup ini memang berat. Nangis gak papa, tapi jangan sampai ngelamun kayak tadi, gak baik.”
“Iya deh.”
“Ayo masuk,” ucap Wisang. Tak sempat aku menjawab, tanganku lebih dulu di gandeng untuk masuk ke kelas.
Saat di kelas, perasaanku masih sama. Bahkan aku lebih banyak melamun dari biasanya. Entah apa yang aku pikirkan, yang jelas aku merasa kosong.
“Heh, jangan ngelamun!,” tegur Wisang.
“Engga.”
“Bohong.”
Seharian aku lewati bersama perasaan yang tak bisa aku jelaskan. Bahkan saat bel pulang, aku baru beranjak dari kursi saat teman-teman sudah keluar. Saat berjalan pun yang kurasa seperti tak tahu arah.
“Kamu gak papa? Bawa motor sendiri, jangan melamun,” ucap Wisang yang masih ada di parkiran.
“Gak papa.”
“Kamu tuh aneh. Udah jelas kenapa-kenapa, tetep aja bilang gak papa.”
“Tahu dari mana aku kenapa-kenapa?”
“Dari mata kamu tuh. Udah ah, kalau pulang aku buntutin dari belakang. Biar gak kenapa-kenapa di jalan.”
“Gak usah, nanti di kira apaan lagi.”
“Yang mikir aneh-aneh aku tampar.”
“Kamu lama-lama aku tampar juga, Can.”
“Jangan dong. Mau pulang sekarang?”
“Tahun depan.”
“Sempet-sempetnya asbun.”
Aku tak menggubris perkataan Wisang tadi. Sepanjang perjalanan, Wisang menepati janji nya. Bahkan sampai aku tiba di rumah, dia masih di belakangku.
“Makasih ya.”
“Sama-sama, adikk.”
“Dasar, ngeselin. Makasih kakak,” ucapku sambil tersenyum.
“Hahahaha gitu dong senyum, jangan cemberut aja. Kan kelihatan Via nya.”
“Gimana gimana?”
“Via yang aku kenal itu selalu senyum.”
“Ahh, jadi tadi bukan Via ya?”
“Bukan. Gak tahu tadi siapa.”
“Hahaha, aku juga gak tahu tadi siapa.”
“Udah ah, di sini malah bercanda mulu. Aku pulang dulu ya.”
“Iya, hati-hati kakak.”
“Siap adikk.”
Hahaha, moodku kembali saat itu juga. Benar kan perkataanku? Wisang itu komedian, bisa-bisanya teman-teman bilang dia dingin. Mustahil.
Hawa malam menyelimuti tubuhku yang berada di kamar. Malam ini aku tak sendirian, teman-teman dari Surabaya semua mengirimkan pesan untukku.
Di suatu grup yang berisi lima orang itu selalu ramai.
Girls
Riri : Haaaii.
Niyza : Malamm semuaa. Bagaimana kabarnya Ginar?
Via : Aku baikkk. Gimana kaliaan?
Ghea : Baik bangett.
Rezka : Baik heeyy. Eh, Gin, tahu gakk.
Via : Tahu kayaknya.
Rezka : Vino galau tahu.
Via : Ngomong keong.
Riri : He iya jirr. Kamu gak kasihan sama Vino ta?
Via : Kamu gak kasihan sama aku, Ri?
Ghea : Tadi di cariin Vino tahu. Pokoknya semenjak kau pindah, dia galau banget. Kalian tuh udah mantan atau masih ada hubungan sih?
Via : Udah jadi teman.
Riri : Jir, teman.
Rezka : Ginar emang gitu, semua dianggap teman. Bahkan Vino dianggap teman.
Via : Loh, katanya Surabaya semua teman?
Niyza : Gak gitu juga anjeng.
Via : Hehehe, ya maaf.
Niyza : Eh denger- denger, kamu deket sama cowok ya? Kasihan Vino.
Via : Semua kasihan sama Vino. Aku engga? Jahatt😔.
Ghea : Mulai deh.
Riri : Balik sana sama Vino. Baru di kasihani.
Via : Ri, kamu jahat banget. Udah selesai, Ri.
Ghea : Yang selesai tuh lu. Bukan Vino. Tapi ya itu hak kamu sih.
Via : Hak gua kan? Ya sudah, kalian diam.
Niyza : Buat Via gamon sama Vino gais.
Via : Jahaatt😒.
Gak di rumah, gak di sekolah. Nama ‘Vino’ itu selalu muncul. Kenapa sih? Kenapa harus Vino?
♥ Sebelum Aku Pindah
Kelas delapan semester akhir ini, terasa berbeda.
“Nanti kelas sembilan, kamu pindah,” ucapan ibu selalu memenuhi isi kepalaku.
Sejujurnya, aku tak mau untuk pindah. Aku ingin lulus di sekolah ini, bukan lulus di sekolah orang lain. Aku khawatir dengan lingkungan baru dan teman baru.
Tapi semua kekhawatiran itu perlahan menghilang saat aku survey sekolah.
Hari Senin menyapa dan diawali dengan upacara bendera.
“Kelas sembilan aku pindah gais,” ucapku pelan, bahkan hampir tak terdengar.
“Pindah ke mana, Nar?,” tanya Riri pelan sambil memegang tanganku.
“Mojokerto.”
“Hah?,” suara mereka serentak.
“Santai bos.”
“Jauh banget,” timpal Niyza.
“Tiba-tiba banget!,” timpal Ghea.
Respon dari mereka membuatku kembali sedih. Tapi sekuat dan sebisa mungkin aku tidak larut dalam suasana sedih itu.
Hari selasa ini, aku memutuskan untuk ijin tidak masuk sekolah karena akan survey sekolah untuk pertama kali nya.
Perjalanan Surabaya → Mojokerto membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah.
Sesampainya di sekitar Mojokerto, keluargaku memutuskan untuk beristirahat sejenak di suatu cafe. Kamu makan dan minum di sana, dan membuang semua lelah perjalanan panjang itu.
“Hayo bolos!,” suara laki-laki dari belakang, suaranya familiar. Saat aku menoleh, yang ada aku merasa aneh melihat nya. Gimana engga? Dia pakai hoodie hitam dan celana gombrong, wajahnya tertutupi oleh topi hitam juga.
Saat mata kita bertemu, aku baru tahu siapa itu. “Loh? Vin?”
“Bolos yeekk.”
“Gak ya! Aku ijin. Kamu ngapain?”
“Ijin juga, ada keperluan keluarga.”
“Udah berkeluarga ternyata. Mana Vinka? Itu istri kamu kan.”
“Heh astaghfirullah. Gak gitu konsepnya.”
“Aku kira kamu udah berkeluarga hehehe.”
“Gak jelas.”
“Kayak kamu.”
“Heeughhh,” ucap Vino sambil kedua tangannya mengepal seperti greget melihatku.
Keesokan harinya, Rabu. Aku kembali bertemu Vino di kelas. Baru saja aku menaruh tas, Vino sudah di sebelahku.
“Kemarin ke mana?,” tanya nya.
“Kepo.”
“Aku cuman pingin tahu aja.”
“Sama ajaa. Aku kemarin survey sekolah.”
“Ha? Maksudnya?”
“Kelas sembilan aku pindah.”
“Hahh? Gimana gimana?,” suara Vino keras sekali. Sampai membuatku terkejut.
“Ih, Vin. Jangan keras-keras.”
“Semendadak ini?”
“Iya. Gak ndadak sih.”
“Bagimu, bagiku ya jelas mendadak.”
Sejak dari itu, kedekatanku dengan Vino semakin dekat. Bangkuku bahkan tak pernah kosong, selalu diisi oleh temanku atau bahkan Vino.
Suatu hari sepulang sekolah, aku piket. Tak seperti biasanya, Vino nunggu di depan. Entah siapa yang di tunggu, mungkin Vinka?
“Akhirnya selesai, ayo pulang,” ajakku.
“Ayooo,” jawab Riri dan Ghea.
Saat berjalan keluar kelas, tampak Vino duduk sendiri di papan pengumuman, biasa disebut papan catur.
“Nungguin siapa, Vin?”
“Kamu lah.”
“Hah?”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
“Di sini atau?”
“Sambil jalan gak papa, tapi mereka duluan,” ucap Vino sambil menunjuk Riri dan Ghea.
Akhirnya aku dan Vino berjalan di belakang Riri dan Ghea. Jantungku berdegup kencang, melihat raut wajah Vino yang tampak bingung, membuatku semakin takut apa yang akan ia ucapkan.
“Aku suka kamu,” tiga kata yang keluar dari mulut Vino. “Aku gak maksa, tapi aku harap kamu terima aku,” lanjutnya.
Seperti disambar petir siang bolong, aku bingung menjawab apa.
“Kamu telat,” jawabku.
“Kamu udah punya pacar?”
“Aku habis ini gak di sini lagi. Mau emang?”
“Apa salahnya? Kalau memang tetap cinta?”
“Masa sih. Ucapan buaya.”
“Aku buktiin. Kamu terima aku gak?”
“Heumm, gak tahu.”
“Kok gitu?”
“Aku kasih jawabannya dua hari lagi.”
“Lama banget anjer.”
“Yaaa, mau gak? Nunggu nya.”
“Ya mau lah. Yaudah, aku tunggu kabar baiknya.”
“Kocakk, ya udah bye. Aku mau pulang dulu.”
“Mana ibumu?”
“Tuh.”
“Ya udah aku ikut.”
Aku kira Vino bercanda, ternyata beneran. Dia ikut dan salim kepada ibuku. Tapi memang sih, semenjak pertemuan kemarin, aku akrab dengan ibu Vino, sebaliknya juga begitu, Vino akrab dengan ibuku.
Dua hari itu tiba. Di kelas yang masih sepi, Vino kembali menghampiriku.
“Gimana?”
“Iya.”
“Iya?”
“Engga nolak.”
“Kamu terima akuu?”
“Iya, Vino.”
Alasan aku terima Vino? Ya karena memang dari dulu aku sempat memendam rasa kepada nya. Semenjak tahu dia dekat dengan Vinka, aku berusaha untuk melupakan rasa itu.
Hariku kini berubah, Vino selalu datang ke bangkuku hanya untuk manja kepadaku.
“Sayang, capek.”
“Tidur, istirahat.”
“Aku tidur di dekat kamu ya?”
“Iya, Vinoo.”
Saat ia berbaring, bukannya tidur yang ada dia malah cerita panjang dan random.
“Kemarin aku latihan fisik, capek banget sayang.”
“Kamu tahu gak? Kemarin malam kakiku kram semua karena latihan.”
Celotehan nya hanya kurespon dengan anggukan. Selain itu, tanganku tak berhenti untuk membelai rambutnya. Sesekali aku jawab “Oh iya?” Atau “Sabar, Vin.” Kenapa aku gak panggil ‘sayang’? Karena aku gak suka sama kata itu, aku tetap sayang tanpa melontarkan kata ‘sayang’.
Hubungan kami terjalin selama satu bulan. Sampai akhirnya hari di mana aku pindah ke Mojokerto itu tiba. Dua minggu di Mojokerto, aku masih menjalin hubungan dengan Vino. Sampai akhirnya, aku dan Vino memutuskan untuk menghentikan hubungan ini. Alasannya? Simpel, karena kita sudah tidak pernah ketemu. Ya walaupun sesekali kita ketemu saat Vino ke rumah neneknya yang sedesa dengan rumahku.
Vinoo : Kita sampai sini? Kamu serius?
Via : Aku tergantung kamu. Kalau kamu memang mau mempertahankan ini, boleh, tapi…
Vinoo : Aku paham maksud kamu. Tapi bisa gak? Setelah ini kita tetap menjadi teman yang masih sering memberi kabar? Jangan asing, jangan lost contact.
Via : Tentu bisa, Vin.
Pesan itu, selalu aku ingat hingga saat ini. Mau aku ingat sampai kapanpun, aku harus tetap melupakan semua, karena hidup ini harus tetap berjalan.
♥ Di Balik Sorotan
POV Vino
Ginar : Apa kita perlu sampai sini? Atau kamu mau mempertahankan ini?
Pesan itu masuk saat aku istirahat di lapangan. Bagai petir yang menyambar siang bolong.
Vino : Kenapa harus berakhir?
Ginar : Kita udah gak pernah ketemu. Bisa sih bangun kepercayaan, cuman…
Vino : Kita sampai sini? Kamu serius?
Ginar : Aku tergantung kamu. Kalau kamu memang mau mempertahankan ini boleh, tapi…
Vino : Aku paham maksud kamu. Tapi bisa gak? Setelah ini kita tetap menjadi teman yang masih sering memberi kabar? Jangan asing, jangan lost contact.
Ginar : Tentu bisa, Vin.
Membaca pesan itu membuat kepalaku memutar semua memoriku saat bersamanya. Betapa bahagianya aku dipertemukan dengan manusia sedewasa dia, se-pengertian dia.
Tentang dia yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Tentang tangannya yang tak pernah lelah mengusap rambutku saat aku berbaring di sebelahnya. Tentang dia yang tak pernah memanggilku ‘sayang’, tapi selalu membuatku merasa di sayang.
Aku rasa, aku tidak akan pernah menemukan Ginar di orang lain.
Satu minggu setelah pesan itu, aku masih sering kontekan dengan Ginar.
Malam ini, aku masih belum benar-benar melupakan semua tentang Ginar. Setiap kali aku rindu, aku selalu membuka akun IG kedua-ku. Yang di mana aku pernah memposting foto kita berdua saat masih mempunyai hubungan.
“Aku hapus akunnya, tapi fotonya… biarin,” gumamku saat memandang indah foto itu.
Foto di sorotan itu sewaktu-waktu bisa aku hapus. Yang tidak bisa dihapus hanya… orang yang di dalam foto itu.
♥ Adik, Peka Ya
POV Wisang
Memendam semua rasaku untuk Via, membuatku overthinking parah. Banyak yang harus di pikir lagi sebelum aku benar-benar mendekati nya. Mulai dari diriku yang mungkin tak sebanding dengannya. Dia pintar, sedangkan aku? Aku butuh dia, baru aku pintar.
“Heh! Jok ngelamun bae,” suara Candra membuatku tersadar dari lamunan.
“Opo ae codot iki.”
“Mayak cak. Galaui sopo seh? Via ta?”
“Gundulmu.”
“Ngaku. Tak bantu nek iyo.”
“Pie carae?”
“Wakmu kan cidek mbe dee, postingen vidiomu gawe lagu favorite Via.”
“Iso ngunu?”
“Iso.”
Sore menyapa dengan sinar matahari yang berwarna jingga. Indah sekali.
“Apa aku coba aja ya?,” gumamku saat melamun memikirkan ucapan Candra tadi pagi. Beberapa kali aku menggeser video yang tersimpan di galeri.
“Cuman ada dua video, yang bagus yang mana?,” batinku.
Setelah memilih dua video yang layak untuk aku posting, akhirnya aku memutuskan untuk memposting video saat kita kerja kelompok tugas TIK Jumat kemarin.
Wisang : Yakk, lagu favorit kamu apa?
Pesanku terkirim, entah apa yang terlintas di kepalaku. Dengan mudahnya aku mengirim pesan itu kepadanya.
Yaya : Saat-saat Itu—Last Child. Kenapa?
Wisang : Okee.
Yaya : Buat apa, Can?
Wisang : Buat kamu.
Yaya : Ha?
Wisang : Udah diem.
Selesai mencari lagu yang Via maksud, akhirnya aku memposting dan sengaja tag Via. Dengan caption “TIK with adikk🙆🏻”.
Yaya : Oh my God! Aku repost ya.
Wisang : Iyaaaa. Eh aku boleh tanya gak?
Yaya : Apa?
Wisang : Akun yang kemarin aku kirim, itu aktif?
Yaya : Setahu aku sih engga. Kenapa? Foto itu lagi?
Wisang : Ohhh, jadi yang tersisa cuman kamu?
Yaya : Aku?
Wisang : Iya kamu. Kalau gak paham ya sudah lah, jangan dipikir.
Yaya : Aneh kamu.
Aku tersenyum membaca pesan itu.
“Hari ini gagal, aku coba lagi besok dan seterusnya,” gumamku. Entah Via itu benar-benar tidak paham atau hanya sekedar pura-pura.
♥ Cuma Video, Kan?
Pesan masuk dari nomor Wisang. Yang aku lihat bukan huruf, melainkan video yang telah ia posting di story nya.
“Eh? Lucu banget, jir. Pakai lagu itu lagi,” gumamku seraya tersenyum dan me-repost itu dengan caption ‘kakakk🙆🏻’ hahaha, untuk kali ini aku tak mengelak untuk di panggil adik. Dan untuk kali ini aku juga tidak marah.
Tak lama, beberapa pesan masuk bersamaan setelah aku memposting itu. Dan rata-rata dari teman yang ada di Surabaya.
Girls
Rezka : Narrr, story mu hapus! Burem.
Niyza : Tau, buremm.
Riri : Aduh aduh, udah punya pengganti dia.
Ghea : Vino di lupain, eh engga.
Niyza : Ghe, ngawur😭. Tapi bener sih.
Riri : Dia masih galau, bener-bener lu ye, Nar.
Via : Ngomong keong jir. Cuman teman.
Rezka : Andalann, just friend.
Riri : Andalan😭.
Ghea : Aku jadi broken home jir. Ginar sama Vino gak balik🥹.
Via : Berisik bangkekk, Vino itu temen. Dia bilang sendiri.
Riri : Mana ada temen yang selalu mengelus rambut?
Via : Bacot, Ri.
Ghea : Mama jangan marah. Tapi aku setuju kok kalau papa baru nya yang itu.
Rezka ; Awokawokawok.
Riri : Ye maaf, Nar. Tapi gua setuju juga.
Niyza : Jangan percaya Riri. Dia di pihak Ginar ❤️ Vino 😭😭😭.
Riri : Kompor lu anjeng.
Ghea : Awokawokawok😭.
Membaca semua pesan itu, perasaanku yang ada kesal dan lucu. Kesal saat Riri selalu menyebut dan bilang seperti itu, lucu saat Ghea bilang gitu. Tak lama dari pesan itu berakhir, pesan dari Vino masuk.
Vino : Anjir, aku di tinggal.
Via : Vinka mana Vinka🧐.
Vino : Mesti. Just friend.
Via : Loh ya sama, cuman teman itu.
Vino : Teman mana yang posting pakai lagu yang ada kalimat, ‘kau buatku jatuh cinta pada pandangan pertama’?
Via : Di bilangin ngeyeell.
Vino : Dia ngode anjer. Kamu tuh, gak pernah peka.
Via : Heh! Sepeka gua, bisa-bisanya bilang gitu😒.
Vino : Nyenyenye. Yang penting, dia bisa bikin kamu ketawa, aku ikut senang.
Via : Ha?
Vino : Modelan kayak gini, dibilang gak peka, gak mau😒.
Via : Aneh, Vinn.
Vino : Kamu yang aneh, aku mah normal. Kamu tuh kalau di kasih kode selalu ngelakk.
Via : 🧐. Udah ah, aku mau belajarr.
Vino : Iya deh.
♥ Merah, Kan?
Keesokan harinya, aku mulai seperti biasa. Memulai hari dengan mata pelajaran yang hampir semua tidak aku sukai.
Di parkiran motor sekolah, terlihat Wisang sedang duduk di atas motor, seperti tukang parkir saja, hahaha.
“Pagi,” sapa Wisang dengan nada yang tak seperti biasanya. Aku hanya sanggup mengernyitkan dahiku dan menahan tawa. Kenapa dia? Aneh.
“Pagi, Wisang.”
“Ican, bukan Wisang.”
“Sama aja.”
“Beda. Ican buat kamu,” ucapnya membuatku langsung menoleh ke arah Wisang dan mengangkat satu alisku.
“Wisang? Buat orang lain?”
“Iya.”
“Aneh kamu. Tumben banget.”
“Ini aku yang asli. Gak usah terlalu di anehkan,” jelasnya, membuatku tertawa geli mendengar itu.
Di titik ini sudah terlihat aneh dari gelagat Wisang. Gak biasanya dia begitu.
Saat jam istirahat tiba, aku memutuskan untuk di kelas sambil makan bekal. Hari ini MBG, program presiden, tidak datang, entah kenapa.
“Haii,” sapa Candra. Seperti biasa, energinya selalu full saat menghampiriku.
“Haiii.”
“Kamu repost itu kan?”
“Ah, iya. Lucu aja sih.”
“Kamu sadar gak? Dari postingan itu, ada satu niat yang tersembunyi dari Wisang.”
“Niat? Kode maksudnya?”
“Kamu sadar? Wihh!”
“Tapi aku ragu. Ya kalau beneran, kalau engga? Malu sendiri sih, hahah.”
“Gak bohong, beneran itu! Plis, tes dia.”
“Maksudnya tes? Gimana jir.”
“Wisang tuh kalau ngode dibuletin sama dia, coba kamu kasih secuil perhatian buat dia, muka nya pasti merah.”
“Semakin itu kamu?”
“Aku temannya, dia cerita ke aku.”
“Iya juga,” ucapku pelan sambil mengaduk pelan nasi yang ada di tepak bekalku.
Setelah bicara itu, Candra tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Yang ada tempat Candra berdiri sudah diganti oleh Wisang.
“Sejak kapan berdiri di situ?,” tanyaku kaget.
“Barusan, kenapa? Kaget banget.”
“Gimana gak kaget? Tampilan-mu tuh, kayak habis tawuran.”
“Gak ah, orang habis main bola bentar. Mana ada tawuran.”
“Bajumu tuh compang-camping, rambut juga berantakan banget.”
“Hehehe, bentar aku rapihin.”
Ia berjalan ke bangku deretan belakang dan membetulkan seragamnya. Tak lama ia berbalik badan dan berjalan menuju bangkunya yang tepat di sebelahku. Dengan senyumnya yang aneh seperti tadi pagi, “kayaknya iya omongannya Candra,” batinku.
“Udah ganteng belum?”
“Udah.”
“Udah?,” ucapnya dengan raut wajah yang heran tapi seperti senang juga.
“Dih? Senyum dia. Udah makan tuh bakso, nanti dingin.”
“Eh iya, sampe lupa kalau mau makan.”
“Moduss.”
Selagi Wisang makan, entah kenapa mataku seperti terkunci untuk menatapnya.
“Kenapa?,” tanya nya heran.
Aku hanya diam dan tersenyum kemudian tanganku merapikan sehelai rambut Wisang yang masih berantakan.
“Yak? Kamu sadar kan?,” raut wajahnya tampak terkejut.
“Sadar kok, gak usah kaget gitu, maaf aku lancang.”
“Gak papa, aku ijinin, asal kamu yang lakuin,” ucapnya, aku hanya membalas dengan senyuman.
“Senyum kamu… kenapa beda?”
“Beda? Aneh maksud kamu?”
“Engga. Malah bikin aku salah tingkah.”
“Kelihatan! Muka kamu tuh, merah, hahaha.”
“Masa kelihatan? Aduh, malu aku,” ucapnya sambil menutup wajah dengan kedua matanya.
“Kamu tuh, bisa malu ya? Maksud story kamu apa?,” tanyaku kepadanya membuat muka Wisang makin memerah.
“Kamu paham sama lagu nya kan? Ya itu maksud aku.”
“Sejak pandangan pertama? Masa?”
“Ehhh! Udahh, jangan di bahas sekarang. Aku makan dulu, nanti bakso nya dingin.”
“Hahaha, iya iya. Makan dulu gih.”
♥ Aku Jadi Salah Tingkah
“Besok, berangkat sama aku ya,” ajak Wisang saat pelajaran matematika.
“Terus, pulangnya? Aku teleport gitu?”
“Aku antar lah, lucu juga kalau teleport.”
“Nanti aku ijin dulu, malam aku kasih kabar.”
“Oke.”
Malam tiba dengan cepat, saat asik scroll IG, notifikasi pesan masuk dari Wisang.
Ican : Boleh atau tidak?
Aku membaca pesan itu dari layar dan baru sadar kalau tadi pagi dia mengajakku untuk bareng.
“Ibuu! Di manaa?,” teriakku dari kamar.
“Di depan! Kenapa sihh.”
Aku berlari kecil menghampiri ibu yang ada di teras rumah.
“Besok, aku bareng temenku boleh?”
“Siapa? Citra?”
“Bukan, Ican.”
“Cowok? Pacarmu? Ihhh,” ucap ibu dengan nada mengejek. Ibu emang gitu, kalau menyebut nama cowok, mesti reaksinya begitu.
“Bukan! Temen itu. Boleh gak?”
“Boleh, tapi besok temuin ibu, ijin ke ibu sendiri.”
“Dih?”
“Dah dih dah dih.”
“Hehehehe, yaudah deh. Makasih bay.”
“Bay, kayak mau ke mana aja.”
Aku berlari kecil menuju kamar dan mengambil handphone ku yang tergeletak di kasur.
Via : Boleh, Cann.
Ican : Okeee, sampai jumpa besok pagi.
Via : Tumben, wkwkwk.
Ican : Diam.
Matahari menyapa dengan sang fajar yang bersinar terang masuk ke kamar. Sebelum berangkat, hampir saja aku mengeluarkan motorku yang masih terparkir di rumah.
“Katanya dijemput cowokmu?,” ucapan ibu membuatku berhenti untuk mengeluarkan motor.
“Cowokku? Siapa?”
“Hadeuh, Ican itu siapa? Pacarmu kan.”
Aku baru sadar saat ibu menyebut nama Ican, hari ini kan aku bareng dia, “bukan pacar aku ibu! Allahuakbar!”
Tak lama dari itu, motor Wisang sudah terparkir di depan rumah.
“Tuh, katanya mau ketemu sama, Ican?,” ucapku sambil menunjuk Wisang yang masih melepas helm nya. Tak lama, Wisang menghampiri ibu dan menyalami ibu.
“Assalamualaikum bu. Saya Wisang. Hari ini Via bareng saya, te. Nanti pulang juga saya antar kok.”
“Waalaikumsalam, Wisang apa Ican ini? Kemarin Via bilangnya Ican.”
“Ican itu panggilan dari Via, te.”
“Oala iya iya. Ya sudah, kalau bawa motor jangan ngebut. Eh, kamu pacar Via?,” pertanyaan ibu membuatku ingin menghilang dari rumah itu.
“Waduh, belum, te, hehehe,” balas Wisang. Aku semakin membelalakkan mataku mendengar ucapan Wisang.
“HEH! SUDAH SUDAH! Ayo berangkat, nanti telat,” potongku saat Wisang ingin bicara sesuatu.
“Iya iya, ayoo,” ajak Wisang sambil menggandeng tanganku.
Saat perjalanan menuju sekolah, aku lebih banyak diam karena menahan malu dari ucapan ibu tadi.
“Diem bae, kenapa?,” tanya Wisang yang mata nya melirik ke arah spion.
“Aku malu! Aaa.”
“Udah di ijinin, kapan?”
“Apanya yang kapan?”
“Engga, lupain aja.”
“Aneh kamu,” ucapku sambil memukul pelan pundak Wisang. Bukannya marah, yang ada malah ketawa dia.
Di sekolah, gelagat aneh Wisang masih terlihat, tapi aku berusaha untuk biasa saja.
“Sayang,” panggilku untuk Nisa dan menyenggol pelan pundak Nisa.
“Apa sayang?,” bukannya Nisa yang menjawab, yang ada Wisang, mana pakai senyum aneh itu. Aku menoleh dan mengeluarkan raut wajah terkejut mendengar ucapan Wisang.
“Belum, Sang, sabar,” timpal Keizo.
“Iya ya, belum. Besok atau seterusnya mungkin boleh… sayang?”
“Aneh kamuu!,” balasku.
Saat istirahat, aku memilih untuk berdiam di kelas. Hari ini pulang lebih awal dari biasanya. Di tengah lamunanku, aku overthinking dengan ucapan Wisang tadi.
“Apa aku pulang sendiri aja ya?,” gumamku.
Saat pelajaran di mulai, terlihat Wisang fokus dengan guru yang menjelaskan materi di depan.
“Can, aku pulang sama ibuku aja deh,” ucapku pelan.
“Kenapa?”
“Aku takut…”
“Hah? Takut?”
“Aku takut kamu culik aku. Aku bawa handphone, nanti aku kabarin ibuku.”
“Hahahah! Bisa-bisanya kamu kepikiran aku cilik kamu. Udah bareng aku aja, aku tadi udah ijin ke ibumu. Jangan ngerepotin ibumu.”
“Aku ngerepotin kamu.”
“Engga, aku gak keberatan kok. Udah ah, sama aku aja. Aku mau ngomong sesuatu soalnya.”
“Tuh kan. Jadi takut lagi aku.”
“Apa sih, Yakk. Aneh bangett.”
“Kamu tuh, nyeremin.”
“Aku cuman nelan hati kamu. Bukan kamu.”
“Shuttt, udah udah. Gak fokus belajar aku.”
“Kamu yang mulai, aku yang salah,” ucap Wisang sambil meneruskan tulisannya.
Sepulang sekolah, aku menunggu sedikit jauh dari parkiran motor sekolah. Supaya teman-teman gak ada yang sadar. Tapi sialnya, Citra melihat itu.
“Nungguin, Wisang ta, Yaakk?,” ucap Citra membuatku terkejut. Aku tak sempat membalas perkataan Citra karena dia terlalu cepat mengendarai motornya.
Tak lama, Wisang datang dan memberiku helm yang tadi aku bawa. Aku lupa gak bawa helm yang tadi tercantol di spion motor Wisang.
“Heheh, maaf ya. Aku lupa bawa helmnya,” ucapku.
“Iya gak papa, aman. Ayo naik.”
Perjalanan kali ini sedikit canggung, entah karena apa. Sampai akhirnya, suara Wisang memecahkan keheningan perjalanan.
“Kamu paham sama semua nya kan? Setelah sekian banyak usaha yang aku keluarin buat kamu,” ucap Wisang.
“Tahu seharusnya, tapi aku ragu…”
“Kenapa? Kamu gak yakin sama aku?”
“Kalau kamu cuman penasaran? Aku sakit sendiri. Lebih baik aku gak terlalu dalam buat mikirin semua.”
“Bener juga ucapanmu. Tapi aku juga capek, masa kamu gak nanggepin semua. Apa kurang jelas?”
“Jelas kok. Aku tahu kamu ngomong apa dari semua itu.”
“Bisa dengar suara hati seseorang dong. Coba dengar suara hatiku sekarang.”
“Gak denger, aku cuman denger degup jantungmu yang kencang, kayak habis lari marathon.”
“Bener lagi. Tapi di dalamnya aku bilang, aku cinta kamu.”
“Jelas, kelihatan. Kenapa harus kata cinta?”
“Sepuitis kamu, gak mungkin kamu gak bisa bedain antara suka dan cinta.”
“Ohhh itu, aku kira kamu bikin umpamaan sendiri.”
“Ya gak lah.”
“Terus, mau kamu apa? Cuman bilang kamu cinta aku?”
“Kamu jadi pacar aku, itu yang aku… mau.”
“Ohhh.”
“Oh doang? Gak di terima gitu?”
“Tadi kata kamu, ‘besok’ jadi aku kasih jawabannya besok yaa.”
“Iya deh. Eh tapi, terima aku pas kamu udah selesai sama Vino ya. Dan pas kamu cinta sama aku.”
“Vino lagi, Vino terus.”
“Ya aku takut, kamu masih terperangkap di masa Vino.”
“Engga, aku udah bebas dari semua itu.”
“Syukurlah. Aku tunggu jawabanmu besok ya.”
“Iya, Ican.”
Malam itu terasa berbeda dari biasanya. Ucapan Wisang selalu terputar di kepalaku, dan sialnya aku salah tingkah setiap ucapan itu terdengar samar di telingaku.
Kuputuskan untuk membuka grup yang berisi lima orang itu lagi.
Girls
Via : Gaisss, aku salting bangeett.
Riri : Apah nih? Laki-laki itu lagi pasti.
Via : Wisang namanya, laki-laki itu laki-laki itu, enak banget ketikan u.
Rezka : Kenapa nihh.
Via : Tadi Wisang… aaaa.
Niyza : Stress anjeng, cerita dulu baru salting!
Ghea : Tahu ih.
Via : Dia bilang ‘aku cinta kamu’ 🥰🥰🥰🥰🥰.
Riri : Emot jamet itu singkirin dulu! Gedeg gua.
Ghea : Oh my God! Aku punya papa baruu.
Niyza : Ghe, dewasa dikit😒. Btw, jadian?
Via : Terima gak enaknya? Aku gak tanya Riri.
Rezka : Awokawokawok, udahku bilang, dia di pihak Ginar ❤️ Vino 😭😭😭. Kataku sih ambil.
Riri : Jahat anjeng. Ya udah deh gua setuju.
Ghea : Aku setuju banget mama🥰.
Niyza : 2in. Gak emak gak anak, emotnya bikin gedeg semua.
Via : Imut gak sih, Ghe? 🥰🥰🥰🥰.
Ghea : Imut bangeet🥰🥰, hehehehe.
♥ Kalau Aku Iya?
Hari ini aku berangkat sendiri. Ucapan Wisang masih menjadi lagu favorit ku yang terputar sejak kemarin.
Di parkiran motor terlihat Wisang yang duduk di atas motornya seperti biasa.
“Kamu tuh, kayak tukang parkir tahu,” ucapku.
“Pagii, gitu loh, Yak. Bukan tiba-tiba, ‘kayak tukang parkir kamu’ kek apaan.”
“Hehehe, pagi, Ican. Ngapain di sini?”
“Nunggu kamu lah.”
“Nunggu aku atau nunggu jawabanku?”
“Dua-duanya hehehe.”
“Heuh, modus kamu tuh. Ke kelas dulu aja.”
“Jawabannya di kelas?”
“Iya, Icann.”
Wisang tak menjawab, yang ada dia semangat banget turun dari motor. Dan dia menggandengku.
“Can, di sekolah. Gak boleh,” tegurku sambil melepas pelan pegangan tangannya.
Di kelas, ternyata masih sepi. Belum banyak siswa yang datang. Apalagi teman dekatku dan teman dekat Wisang.
“Gimana?”
“Kalau aku iya?”
“Aku senang. Tapi… kamu selesai dan beneran cinta sama aku?”
“Beneran.”
“Serius?”
Aku mengangguk dan tersenyum ke Wisang.
“Benar ucapanku kemarin. Hari ini dan seterusnya, aku panggil kamu sayang,” ucapnya girang, aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Wisang yang kekanak-kanakan itu.
“Tapi, kita backstreet dulu yaa? Bisa gak?”
“Tentu, aku tahu kamu pasti bilang gitu.”
“Makasih udah bolehin.”
“Tapi, kalau saling posting, gak papa kan, sayang?”
“Gak papa, Icann,” ucapku sambil menyentuh ujung hidungnya yang mancung itu.
“Eh? Jangan gitu ah. Oke oke.”
“Hahaha, merah muka kamu. Kemarin kamu juga gitu ke aku.”
“Iya hehehe, mukamu lucu soalnya waktu itu.”
“Dari dulu emang lucu, makasih.”
“That’s my girl,” ucap Wisang sambil kedua tangannya terbuka lebar. Aku yang paham maksud itu langsung refleks mengeluarkan ekspresi kaget.
“Eh iya maaf,” ucapnya sambil mendekap tubuh dengan kedua tangannya. Aku hanya sanggup tertawa melihat kelakuan Wisang saat itu.
Dua minggu sudah hubunganku dengan Wisang. Masih belum banyak yang tahu, tapi sudah banyak yang menebak-nebak, karena aku sering posting Wisang dengan lagu lucu, sebaliknya pun begitu.
Hari ini aku sengaja posting sepatuku dan Wisang yang berdekatan di sekolah. Kebetulan pelajaran selanjutnya TIK, jadi handphone kita kembali sementara. Aku posting dengan lagu kesukaanku—Saat-saat Itu-Last Child.
Banyak yang melihat, dan banyak juga yang membalas postinganku. Terutama… Vino.
Vino : Kan… gua gimana cak?
Via : Vinka mana boss?
Vino : Gak ah. Gua lagi deket sama adek kelas.
Via : Yeuu. Yaudah pepet atuh.
Vino : Gak dulu, belum selesai soalnya.
Via : Sama siapa? Vinka apa Nia?
Vino : Gak tahu juga gua.
Aku hanya memberi reaction ‘😒’. Saat aku membalas pesan dari Vino, Wisang ada di sebelahku, dan dia juga melihat pesan apa yang aku kirim.
“Aku boleh minta nomornya Vino gak?,” ucap Wisang.
“Boleh. Maaf ya.”
“Soal kamu balas pesan dia? Gak papa, cuman balas pesan, bukan perasaan.”
“Ihh, puitis.”
“Pacarku puitis, masa aku engga?”
“Hahaha, bisa gitu?,” Wisang mengangguk dan menyentuh ujung hidungku.
Satu bulan sudah berlalu.
“Pagi sayangg,” sapa Wisang saat aku sedang asik berbincang dengan Nisa pagi itu. Aku hanya tersenyum mendengar sapaan itu.
Tampak jelas raut wajah penuh kaget Nisa. Dan itu membuatku tertawa.
“Kenapa kaget gitu?,” tanyaku polos kepada Nisa.
“SEJAK KAPAN! SEJAK KAPAN ANJAY?”
“Santai, Nis. Udah satu bulan.”
“Anjir! Gila! Sembunyiin hubungan satu bulan.”
“Tapi aku serinh posting Wisang dan Wisang juga posting aku, kamu gak sadar?”
“Sadar, tapi aku kira cuman temen biasa.”
“Mana ada teman gitu? Lucu kamu tuh.”
“Ya siapa tahu kann.”
Sejak dari itu, perlahan semua kelas tahu akan hubunganku. Bahkan sekarang satu angkatan pun tahu.
♥ Kembali ke Bangku Tribun
Hari minggu ini aku sengaja untuk bangun lebih siang dari biasanya. Sehabis sholat shubuh, aku kembali tidur, dan terbangun tepat pukul sembilan. Aku terbangun karena suara notifikasi pesan masuk secara terus-menerus. Saat aku lihat dari layar, ternyata itu dari grup lima orang itu. Entah apa yang mereka bahas saat ituz sampai ramai sekali.
Girls
Rezka : Ayo nribunn! Sekolah kita ada tanding nieehh, hari minggu besok.
Niyza : Infokan tiket, Rez.
Riri : Ikut gua.
Ghea : Mauuu. Mama ikut gakk?
Rezka : Ginaarr! Bangunnn. Ayo nribunn🥰.
Via : Jauh banget anjayy. Aku harus ke Surabaya dulu.
Rezka : Engga ya, cuki. Kita tanding sama sekolah yang ada di Mojokerto. Sekolah Pelita tuh. Di GOR dekat sana, ayo ikut🥰🥰.
Via : Mauuu ih kalau deket. Wait aku chat Wisang dulu.
Riri : 😒.
Niyza : Jangan bahas Wisang di sini, di bilang Riri itu pihak Ginar ❤️ Vino 😭.
Riri : Lu diem ya, Niy.
Via : Bener juga kata Niyza.
Riri : Gua cuman bercanda kocaakkk.
Via : Iye tau ah.
Grup itu masih ramai, sengaja tidak aku buka. Aku lebih memilih menghubungi Wisang dulu.
Via : Icaann, ikut aku nribunn yukk🥰🥰.
Ican : Di mana sayang? Dukung apa juga?
Via : Sekolahku dulu ada tanding futsal sama SMP Pelita. Di GOR dekat sini. Nanti aku kirim lokasi nya. Mau gak?
Ican : Bolehh. Hari apa sayang?
Via : Hari minggu.
Ican : Boleh dehh.
Via : Pakai baju maroon ya, Can. Aku maroon kan jiwamu, hehehe🤭.
Ican : Maroon kan jiwa dan ragaku sayang 😭🤏🏻.
Sehabis menghubungi Wisang, aku kembali ke grup itu yang sampai detik ini masih ramai sekali.
Girls
Via : Rez, aku pesan tiket dua ya.
Rezka : Sipp. Tukar tiker di lokasi besok ya.
Via : Siap.
Riri : Kau nribun sama cowokmu?
Via : Iya🥰, memaroonkan jiwa cowokku. Eh btw, ada yang punya DC dua gak? Kalau punya besok minggu tolong bawain dong beb.
Riri : Ini gua ada.
Via : Okee, pinjam ya, Ri. Makasihhh 🥰🥰.
Niyza : Wisang tahu soal Vino, Nar?
Via : Tahu. Aku juga agak kepikiran sih. Tapi… aduhh bingung aku.
Riri : Gak papa lah, asal Wisang gak terlalu posesif dan tahu posisi kamu. Dan kamu juga gak sembunyiin apa-apa, itu aman.
Via : Dia gak pernah posesif sih. Kemarin aja dia minta nomor Vino.
Ghea : ANJIR. Papa baru dan papa lama bertemu.
Riri : Ghe, kataku kamu diem. Jadi posisimu udah di ketahui sama Wisang kan? Ya berdoa aja gak bakal ada apa-apa.
Via : Semoga. Tapi aku gak enak sama Wisang.
Niyza : Anggap aja Vino itu masa lalu yang gak pernah ada di sekitar mu sampai saat ini. Wisang tahu kan, Vino minta tetap kontakan tanpa asing?
Via : Tahu.
Riri : Aman. Saranku, bilang ke Wisang, kalau keberatan sama keberadaan Vino pas di lapangan nanti. Tapi kalau kamu tanya sekarang… nanti gak jadi gimana?
Rezka : Berat juga hidup lu, Nar. Mantan baik, pacar sekarang baik. Lu mau apa?
Via : Gua di tengah, cuman bisa ngango.
Rezka : Awokawokawok. Udah lah, bilang baik-baik aja ke Wisang. Tapi pas di lokasi besok.
Via : Iya deh, kucoba lah.
Hari minggu yang ditunggu akhirnya datang. Senin kemarin, aku sempat cerita ke Wisang soal keraguanku. Dan respon Wisang?
“Asal kamu bahagia, aku turutin. Udah jangan pikirin perasaanku, aku senang kok. Vino kan masa lalu kamu yang kamu benar-benar selesai kan?,” ucapan itu sedikit membuatku tenang, tapi tak sepenuhnya juga.
Pertandingan di mulai pukul dua belas persis. Perjalan mungkin membutuhkan waktu sekitar satu jam. Wisang menjemputku pukul sepuluh. Untungnya jalanan waktu itu sepi, jadi gak sampai satu jam kita tiba di GOR.
Di sana aku melepas rindu kepada teman-teman dan aku sibuk berbincang dengan teman-teman. Sedangkan Wisang? Entah dia bicara sama siapa, tapi dia asik di pojok sama dua cowok.
Saat pertandingan dimulai. Suara gemuruh dari supporter sekolah kami benar benar menggemakan seluruh GOR. Bahkan suara supporter dari sekolah sebelah hampir tidak terdengar.
Di tengah gemuruhnya itu, aku salah fokus dengan Wisang. Dia berdiri di depanku dan semangatnya melebihi aku. Aku hanya bisa tersenyum melihat itu sambil membatin…
“Maroon juga jiwa nya. Ini sekolahku dulu, kenapa dia yang lebih semangat? Tapi gak papa deh, keren cowokku,” itu batinku.
Pertandingan selesai, dan sekolahku membawa kemenangan 3-0. Rasa bangga dengan sekolahku yang dulu.
Saat semua tim supporter istirahat, aku bertemu Vinka. Dia anaknya seru, dan aku sempat dekat dengannya saat aku bersama Vino dulu.
“Ayo foto bareng,” ajak Vinka sambil menarik Vino.
Melihat itu, aku juga refleks menarik tangan Wisang. Di saat mata mereka bertemu, yang aku lihat mereka seperti bilang, “Oh ini?”
Foto telah diambil. Saat di rumah, aku memutuskan untuk memposting foto itu, dengan caption ‘double date or tribun date?”
Postingan itu di balas oleh Vinka dan Vino secara bersamaan.
Vinka : Just friend ya!
Vino : Opo iki wekk? Just friend.
Balasan mereka membuatku tertawa. Mana ada just friend yang saling rangkul saat foto? Aneh sekali mereka.
♥ Tentangmu dan Masa Lalumu
POV Wisang
Yaya : Ican, ikut aku nribunn yukk 🥰.
Pesan dari perempuan manis itu masuk. Aku tersenyum membaca pesan itu, awalnya. Tapi saat dia bilang akan mendukung sekolahnya yang dulu… perasaanku bagaimana gitu.
“Sekolahnya yang dulu? Ada Vino berarti. Dia kan atlet juga,” kalimat itu memenuhi kepalaku.
“Tapi kalau Via senang? Ya sudahlahz tidak apa. Yang penting dia senang, dia datang karena dia rindu dengan temannya, bukan Vino,” gumamku seraya menghilangkan pikiran buruk itu.
Saat di kursi tribun, rasanya seperti ini jiwaku, tapi sekolahku tidak ada yang nama nya supporter seperti ini. Bahkan pikiran buruk itupun hilang dengan sendirinya.
Selesai pertandingan. Via yang sedari tadi asyik ngobrol dengan temannya, tiba-tiba menarik tanganku.
Mataku bukan tertuju kepada Via, melainkan ke laki-laki yang berdiri di samping teman Via.
“Oh, ini Vino?,” batinku. Mataku terkunci menatap Vino. Entah kenapa rasanya cemburu itu kembali menyelimutiku. Sebisa mungkin aku tetap tersenyum menyapa Vino.
Beberapa hari lalu aku sempat menghubungi Vino, hanya sekedar untuk berkenalan dan bertanya seputar hubungan mereka dulu. Dan di sana Vino memang mengakui bahwa dia belum benar-benar selesai dengan Via, dengan alasan yang sedikit aku maklumi.
Vino : Aku belum benar-benar selesai sama Via. Semua memori kenangannya selama satu bulan itu masih terekam jelas di otakku.
Oke, aku paham. Via ini, di bilang gak peka juga iya, tapi dia juga bisa ngebuat cowok itu ngerasa di sayang. Dan cara dia memperlakukan cowok, itu benar-benar membuat cowok kebayang-bayang.
Selesai foto bareng tadi, aku menghampiri Vino yang terduduk lelah di pojok karena pertandingan tadi.
“Vin, Wisang,” ucapku sambil mengulurkan tanganku. Vino menyalami tanganku dan tersenyum. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya. Kami hanya ngobrol biasa, tidak bersangkutan dengan perasaanku.
Tetap, saat di rumah. Aku kembali menghubungi Vino.
Wisang : Vin, wakmu tenan urung mari mbe Via?
Vino : Sepurane ya, Sang. Aku ya pengin mari tekan Via.
Wisang : Saiki, carane ben wakmu mari pie, Vin? Sejujure aku ya cemburu.
Vino : Aku erti, Sang. Aku pingin ketemu mbe Via. Nek wakmu ngolehi.
Wisang : Oleh. Ayo ketemuan. Ndek cafe cidek kene.
Vino : Wakmu gak keberatan?
Wisang : Engga. Asal wakmu mari mbe dee, sepurane ya nek kesane aku mekso wakmu mari mbe Via.
Vino : Ra sah njaluk sepuro, Sang. Wakmu gak salah, sing salah aku.
Wisang : Awak dewe ibarate podo-podo wedi kelangan wedok sing wakdewe sayang.
Vino tak membalas pesan itu. Perasaanku sedikit lega karena Vino mau mengakhiri semua itu, tapi di sisi lain, aku juga kasihan dengannya. Tapi kalau aku kasihan dengannya, bagaimana denganku? Aku juga sayang dengan Via
♥ Di Tempat yang Sama
Wisang : Sabtu besok, sepulang sekolah kita mampir ke cafe ya, sayaangg.
Via : Okee.
Tumben ngajak ke cafe sepulang sekolah? Biasanya jalan-jalan, hehehe.
Sabtu yang dimaksud telah tiba. Semenjak menjalin hubungan dengan Wisang, aku tak pernah lagi membawa motor sendiri ke sekolah, aku selalu bareng Wisang.
“Tumben ke cafe, Can?,” tanyaku saat Wisang mengeluarkan motornya.
“Sesekali ngopi, biar tenang, hehehe,” jawabnya.
“Ahh iya, benar. Ngopag, ahahah.”
Perjalanan menuju cafe yang di maksud tidak begitu jauh dari sekolah. Aku kira di cafe mana, ternyata di cafe pertama kali cerita tentang Vino berjalan.
“Aku datang ke sini lagi, tapi dengan manusia berbeda,” batinku. Tak semua aku mengenang Vino di sini, tapi sedikit teringat saja saat melihat sekitar cafe.
“Kamu pesan apa sayang?,” tanya Wisang.
“Coffe latte aja.”
“Okee,” Wisang berjalan ke kasir untuk memesan sekalian membayar. Tak lama ia kembali duduk di sebelahku.
Tak seperti biasanya, dia malah sibuk dengan handphonenya. Entah apa yang ia lihat, aku tak ingin tahu. Karena menurutku itu mencari penyakit, penyakit hati maksudnya.
“Hpnya di taruh atuh, Can. Aku gak pegang hp,” ucapku sambil mengaduk kopi yang sudah ada di meja kami.
“Oh iya maaf sayang, tadi temanku chat.”
“Ya deh.”
“Jangan marah atuh sayang,” goda Wisang, tangannya hampir menyentuh pipiku, tapi aku tepis duluan. Karena aku memang tak suka kalau di pegang pipinya.
“Maaf sayangg,” ucap Wisang dengan wajah yang sok imut itu.
“Iyaa,” balasku malas.
Di sana kami tak banyak bicara ataupun cerita. Fokus kepada minuman kami masing-masing. Sampai akhirnya seseorang dengan hoodie hitam berdiri tepat di depanku. Aku mendongak menatap wajah laki-laki itu. Tak tampak jelas, tapi aku familiar dengan gaya nya. Dan yap, itu Vino.
Berulang kali aku menoleh ke arah Wisang, Wisang hanya tersenyum. Ah sial, bukannya jelasin malah senyum gak jelas.
Vino duduk di depanku dan membuat topi yang terpasang di kepalanya. Raut wajahnya seperti habis melawan beratnya dunia ini. Melihat itu, aku makin bingung. Ini kenapa? Ada apa?
“Maafin aku ya, Vi,” ucap Vino yang membuatku semakin kebingungan.
“Hah? Ini kenapa, Can?,” tanyaku kepada Wisang yang masih duduk santai menatap Vino.
“Dengerin Vino, jangan tanya ke aku,” jelas Wisang.
“Maaf, aku masih ada di sekitarmu, dan aku mengganggumu.”
“Hahh? Apa sih? Coba ulang, aku bingungg.”
“Kita udah selesai dari dulu, tapi aku belum benar-benar menganggap kita selesai. Maaf jika aku mengganggumu selama ini.”
“Belum selesai? Kamu kenapa berubah, Vin? Aku kenal kamu yang gampang dapetin cewek. Kita gak sampai tahunan, tapi kenapa kamu sesusah itu buat lupain? Giliran Nia yang tahunan, kamu gampang banget lupain.”
“Aku juga gak tahu, Vi. Yang jelas, kamu beda dari mereka. Aku dapat semua dari kamu. Meski hanya secuil kenangan kita, tapi aku selalu mengenang semua itu. Dan asal kamu tahu, aku gak pernah sekalipun dekat dengan seseorang setelah kamu.”
“Kamu… aneh, Vin. Mana diri mu yang dulu aku kenal?”
“Hilang, semua hilang bersamaan dengan hilangnya kamu dari hidup aku. Aku akan hilang dari hidupmu, kalau kamu…,” Vino tak melanjutkan ucapannya, dia hanya menatap lurus ke arah Wisang.
“Apa boleh dia membelai rambutku untuk terakhir kalinya?,” tanya Vino kepada Wisang.
“Boleh, tapi… aku dulu yang di belai,” ucap Wisang. Aku malah makin bingung mendengar jawaban Wisang. Tangan Wisang meraih tanganku dan dengan sengaja tanganku membelai rambutnya. “Silakan, untuk terakhir kalinya,” lanjut Wisang.
“Can?”
“Boleh sayang, kan terakhir,” timpal Wisang sambil tersenyum meyakinkanku. Tanganku yang masih bergetar kebingungan ini masih belum menyentuh rambut Vino. Tangan Wisang meraih tanganku untuk kedua kali nya dan menaruh di kepala Vino.
“Boleh,” ucapnya lagi.
Setelah belaian terakhir itu, Vino berdiri dari bangku nya dan bicara,
“Maaf dan terimakasih atas semuanya,” lalu dia menoleh ke arah Wisang dan tersenyum. Kemudian dia memutarkan badannya, punggungnya perlahan menghilang dari pandanganku.
“Ican! Ini kenapa? Ada apa?,” tanyaku kepada Wisang. Wisang hanya diam dan tersenyum. Melihat ekspresi Wisang yang ada aku malah kesal. Aku memilih untuk ke wastafel paling dekat. Lumayan lama, aku tak hanya mencuci tangan, aku juga mencerna semua kejadian yang barusan terjadi.
“Itu tadi cepet banget,” gumamku. Memang kejadian tadi rasanya cepat sekali. Mungkin hanya butuh waktu lima detik. Selesai mencuci tangan, aku kembali ke kursiku.
“Udah selesai?”
“Apanya?”
“Sama Vino. Udah selesai?”
“Ican! Kamu tuh ya, masih aja tanya gitu. Berapa kali aku bilang? Aku sudah selesai. Kamu dengarkan dia bilang apa? Yang belum selesai dia bukan aku. Aku juga berkali-kali sempat mengelak dari pertanyaan itu karena aku jaga perasaan kamu, aku jaga hati kamu, Ican! Tapi kenapa kamu selalu menyebut dan bertanya soal dia? Sekali lagi kamu sebut dan bertanya tentang dia, gak bakal aku jawab,” suaraku bergetar menjelaskan itu semua. Tangisku tak terbendung lagi. Entah kenapa rasanya aku ingin menangis karena kejadian tadi.
Wisang hanya menghela nafas dan mengelus rambutku. Tangisku masih keluar, tak lama hanya sebentar.
“Sudah? Nangis nya udah? Turunin nada bicara kamu, sayang. Aku percaya kamu sudah selesai sama Vino. Aku gak marah sama kamu. Aku sengaja menyuruh Vino datang, biar semua selesai detik ini juga. Diamku selama ini adalah cemburuku. Dan aku tahu kamu sadar,” ucap Wisang menenangkanku.
“Habis ini kita pulang, tapi mampir ke Indomaret dulu deh. Aku beliin es krim,” timpal Wisang.
Aku hanya sanggup mengangguk dan mengelap mataku yang masih tertetes air mata.
♥ Akhirnya, Tenang
Melihat Via menangis setelah kejadian tadi, membuatku juga ikut sedih. Bagaimana tidak? Raut wajahnya yang sedari tadi kebingungan, kini menjadi tangis yang pecah. Aku hanya bisa mengelus rambutnya, karena Via ini kurang suka dengan nama nya pelukan.
Setelah ia merasa lega, hanya satu yang aku bisa untuk mengembalikan Via yang ceria dan penuh dengan senyum yang menghiasi wajahnya. Membelikannya es krim.
Malamnya, aku menelpon Via. Sengaja, karena aku takut dia masih kebawa perasaan bingung tadi pagi. Jika aku tidak di sampingnya, setidaknya aku bisa melihat dia di layar.
Dari kejadian itu, hanya satu yang aku sadar. Vino ini… sepertinya dia benar-benar sayang dan cinta pada Via. Apalagi setelah aku melihat postingan video nya. Yang di mana video belaian tadi, ia selipkan beberapa video saat mereka masih bersama, dengan caption ‘belaian terakhir’. Dan memang Via suka membelai rambutnya saat ia berbaring di sebelah Via. Yang aneh hanya satu, kenapa yang susah melupakan Vino? Sedangkan kata Via…
“Kamu gampang dapetin cewek.”
Sedangkan Via? Vino ini bisa di bilang pacar pertama nya. Tapi dia cepat sekali melupakan Vino. Aneh. Tapi ya sudahlah, intinya sekarang Vino juga sudah selesai.
“Tugasku selesai,” gumamku saat melihat postingan Vino.