Setelah kesepakatan rampung, mereka semua berdiri. Adrian menjabat tangan satu per satu. Pria tua tadi menoleh lagi padaku: “Maaf, tadi saya belum sempat menanyakan nama Nyonya…”
“Zara,” jawab Adrian cepat.
“Ah Nyonya Zara, kalian sungguh serasi sekali,” katanya sambil tersenyum, lalu menatap Adrian lagi, “Tapi Adrian… bagaimana kalau kamu mencium istrimu kami ingin melihat betapa mesranya kalian? Tidak apa-apa kan?”
Aku tersentak kaget, senyumku seketika lenyap berganti kebingungan. Adrian hendak menjawab: “Begini, istriku ini agak pemalu, jadi…”
“Tidak apa-apa,kalian juga baru menikah masih pengatin baru ,” potong pria itu sambil menatapku lembut, “Boleh kan, Nyonya Zara?”
Mulutku terbuka sedikit, tapi tak satu kata pun keluar. Tubuhku kaku, gugup luar biasa. Adrian melihat keadaannya mendesak, lalu tiba-tiba dia tersenyum tipis, perlahan mendekatkan wajahnya padaku, menunduk — dia berniat mencium bibirku, bukan sekadar tangan, untuk menutupi situasi ini.
Tanganku bergetar hebat, jari-jariku meremas kain gaun sampai berkerut. Detak jantungku berpacu liar di dada. Tidak… aku tidak bisa… aku tidak mau…
Saat wajahnya sudah sangat dekat, nyaris menyentuh bibirku, refleksiku bergerak duluan. Aku mendorong dadanya sedikit dengan syok, suaraku tercekat: “Maaf!”
Tanpa menoleh lagi aku langsung berbalik dan berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan, meninggalkan gedung itu dan langsung pulang ke rumah.
Adrian terpaku sejenak, tak menyangka reaksiku secepat itu. Tangannya mengepal erat sampai urat di leher dan pergelangan tangannya menonjol, tapi dia menahan amarah itu sekuat tenaga. Dia kembali tersenyum pada tamu-tamunya: “Mohon maaf… memang begitulah istri saya, dia sangat pemalu di depan umum. Maaf atas ketidaksopanannya, nanti akan saya bicarakan dengannya.”
Mereka semua mengangguk paham, percaya begitu saja pada alasannya.
Yamal menatapku bingung saat aku melompat masuk ke dalam mobil dengan napas terengah.
“Cepat… aku mau pulang sekarang,” suaraku bergetar parau.
“Baik, Nyonya Zara.”
Aku menekan punggungku ke kursi, tubuh masih gemetar hebat. Mataku panas, air mata sudah di ujung pelupuk, tapi kupaksa tetap di sana sampai kami tiba di rumah. Begitu pintu terbuka, aku langsung berlari masuk, tak menoleh ke mana pun. Kunci pintu kamar ku putar cepat, tas kecil di tanganku ku jatuhkan begitu saja ke lantai. Aku merosot duduk bersandar di balik pintu, memeluk lutut erat-erat ke dada.
Air mata akhirnya tumpah membasahi pipi. Rasanya seperti baru saja dipermalukan di depan semua orang. Ada rasa sesak yang aneh, sulit dijelaskan dengan kata-kata. Lama aku diam di sana, sesekali terisik pelan. Baru setelah agak tenang, aku bangkit perlahan, berjalan tertatih menuju tepi tempat tidur, lalu duduk di sana dengan tubuh masih terasa lemas dan takut.
Pertemuan baru saja selesai, Adrian langsung melangkah tegas ke area parkir. Melihat Yamal sudah duduk di kursi pengemudi menunggu, dia menatap tajam sambil menunjuk pintu: “Keluar.”
Yamal tertegun sejenak, belum paham kenapa nadanya setajam ini, tapi segera turun menurut. Adrian langsung masuk, menyalakan mesin, dan menginjak gas lumayan dalam. Dia menyetir dengan wajah merah padam, urat di pelipis menonjol, tak sabar ingin segera sampai di rumah.
Begitu sampai, dia membanting pintu mobil dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya berat dan terdengar jelas sampai ke lantai atas. Tepat di depan pintu kamarku, dia berhenti sejenak, lalu berteriak keras sampai pintu bergetar pelan: “Buka pintunya!”
Suara teriakan itu memecah keheningan, membuatku meloncat kaget. Kaki gemetar hebat saat aku mencoba berdiri. Aku mundur perlahan, punggung menempel ke dinding paling jauh dari pintu. Tak sanggup melangkah mendekat, mulutku terkunci rapat, napas tertahan tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Tubuhku kaku, ketakutan melumpuhkan seluruh gerakanku.
Adrian membentak dengan suara menggelegar: “Kenapa kau melakukan itu tadi? Apakah kau sengaja ingin aku dipermalukan di depan klien penting? Kau ingin nama baikku hancur gara-gara kau? Jawab aku Zara, kenapa!”
Cengkeramannya di leher makin kuat, napasku terasa terputus-putus, mataku mulai berkunang-kunang. Baru setelah dia melihat wajahku membiru pelan, tangannya terlepas perlahan. Tapi belum sempat aku menarik napas lega, jari-jarinya langsung mencengkeram pergelangan tanganku dengan kekuatan yang sama mengerikannya, menekannya kuat ke atas kasur. Rasanya tulang di sana mau patah.
“Aku… aku tidak bisa… aku tidak mau…” suaraku tercekat di antara isak tangis, wajahku menunduk dalam tak berani menatapnya.
Adrian makin mendekat, wajahnya nyaris menempel di wajahku. “Lalu kau pikir aku senang melakukan hal seperti itu? Tentu saja tidak! Tapi bukankah sudah kukatakan padamu? Di luar sana kita harus terlihat seperti pasangan yang bahagia. Apa susahnya sekadar satu ciuman saja? Kenapa kau tidak mau?”
Aku menggeliat kesakitan, berusaha menarik tanganku yang terasa panas: “Sakit… aku benar-benar tidak bisa… kumohon jangan…”
Adrian tertawa sinis, matanya menatap tajam: “Oh, jadi harga dirimu ternyata setinggi langit ya? Padahal kau lupa siapa yang sudah membelimu? Baiklah… mari kita lihat seberapa tingginya harga dirimu itu.”
Dia melepaskan cengkeramannya, tapi tubuhnya masih menindihku berat. Aku langsung memeluk pergelangan tanganku yang merah dan bengkak, masih gemetar hebat. Dia mulai melonggarkan dasi, membuka kancing jas lalu kemejanya, memperlihatkan otot yang kaku dan padat. Aku mencoba mundur menjauh, tapi dia langsung menarik pergelangan kakiku, menekan tubuhku agar tak bisa bergerak.
“Malam ini aku akan memberimu pelajaran yang takkan pernah kau lupakan,” bisiknya dingin.
Mataku terbelalak ngeri, aku menggeleng cepat sambil menangis: “Ampun… jangan… tolong ampuni aku, maafkan aku!”
Dia tak peduli, langsung mencium leherku lalu menggigitnya keras. Aku berteriak kesakitan: “Akkkk! Sakit!” Tubuhku berontak sekuat tenaga, tapi tak berdaya melawannya.
Saat dia mengangkat wajah sebentar lalu kembali menunduk hendak merobek bagian depan gaunku, refleksiku bergerak sendiri. Tanganku melayang keras mendarat di pipinya.
PLAK!
“TIDAK!” teriakku parau.
Adrian tertegun lebar, sejenak tak menyangka. Aku segera memanfaatkan kesempatan itu, merangkak mundur secepat kilat, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhku sampai tersembunyi sepenuhnya, sambil terus terisak ketakutan di balik kain itu.
Adrian masih terpaku sejenak, pipinya memerah bekas tamparan itu. Dia menatapku tajam, matanya makin dingin tanpa perasaan.
“Berani sekali kau memukulku…” suaranya rendah, lalu dia tertawa pendek yang terdengar mengerikan, “Kau makin berani ternyata ya.”
Tawanya lenyap seketika, dia menatapku tajam seolah ingin menelan bulat-bulat: “Kau akan menyesali hal ini.”
Dia menyambar dasi dan jasnya yang tergeletak, lalu berbalik pergi begitu saja tanpa menoleh lagi, membanting pintu sampai bergetar.
Aku meringkuk makin rapat di balik selimut, memeluk lutut erat-erat. Isak tangisku pecah, rintihan sakit dan takut keluar pelan dari tenggorokan: “Hhh… sakiit… maaf… aku takut…” Bahuku terguncang hebat, air mata tak berhenti membasahi pipi, tubuhku gemetar tak berhenti.