Tepat pukul sembilan malam, aku terbangun tiba-tiba karena perut terasa kosong dan lapar yang mulai menusuk. Sambil mengucek mata yang masih berat, aku bergumam pelan: “Jam berapa ya sekarang?” Segera meraih ponsel di samping tempat tidur, lalu menghela napas panjang: “Ternyata aku tidur sampai selama ini.”
Belum sempat pikiran tenang, tiba-tiba terdengar hujan turun sangat deras, disusul gemuruh guntur dari kejauhan. Suaranya tak terlalu memekakkan telinga, tapi hatiku langsung berdebar kencang—aku memang sejak kecil takut sekali mendengar suara guntur. Perlahan aku turun dari tempat tidur, membuka pintu kamar, berniat turun ke lantai bawah. Tapi baru melangkah beberapa langkah, tiba-tiba semua lampu di rumah padam seketika, menyelimuti semuanya dalam kegelapan total.
Jantungku berdegup kencang ketakutan. Untung masih ada ponsel, jadi segera aku menyalakan lampu senternya. Dalam cahaya yang terbatas itu, suasana berubah drastis—rumah yang tadi terlihat megah dan indah kini terasa sunyi, dingin, bahkan agak menegangkan. Sadar bahwa aku sendirian di tempat seluas ini membuatku makin gelisah dan bingung.
Aku melangkah pelan sampai ke pintu utama yang besar dan berat, lalu membukanya sedikit. Di teras depan terlihat para penjaga berdiri berjaga dengan sigap. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi berotot dan wajahnya tegas, segera menghampiri dan membungkuk hormat:
“Mohon maaf, Nyonya Zara. Sekretaris Tuan sudah berpesan tadi kalau Tuan Adrian tidak akan pulang malam ini. Kalau Nyonya butuh apa saja, boleh bilang saja pada saya.”
Suaraku terbata dan agak gemetar karena takut saat menjawab: “Terima kasih… sebenarnya di dalam gelap sekali. Apakah ada lilin atau lampu cadangan? Aku merasa agak…” Ucapanku terhenti, dalam hati aku mengakui jujur: Tentu saja takut. Sendirian di kegelapan rumah sebesar ini terasa sangat mengerikan.
Penjaga itu mengangguk mengerti, lalu berkata: “Maaf Nyonya, sejauh saya tahu tidak ada persediaan seperti itu di sini, soalnya rumah ini jarang ditempati Tuan. Kalau Nyonya setuju, saya bisa segera keluar membelinya.” Ia sempat berjalan ke arah kendaraan, lalu kembali dengan wajah menyesal: “Sekali lagi maaf. Semua mobil sedang dipakai, dan sinyal juga hilang sama sekali. Tempat ini jauh dari pemukiman, hujan pun deras begini—perjalanan pasti lama dan berbahaya. Tapi kalau Nyonya tetap mau, saya tetap berangkat.”
Belum sempat ia melangkah, terdengar guntur bergemuruh lebih keras: “DUAARRR!!” Seolah langit mau pecah. Rasa takut meledak seketika, dan aku langsung berteriak menghentikannya: “Tidak usah! Jangan pergi!”
Pria itu berhenti, lalu mengulurkan ponselnya padaku: “Baiklah Nyonya. Kalau begitu pakai saja ini buat penerangan sementara.”
Aku hanya menggeleng pelan dan menolak sopan: “Tidak apa-apa, terima kasih banyak.” Lalu membalikkan badan, menutup rapat pintu itu, dan bersandar di belakangnya sambil menarik napas panjang berusaha menenangkan diri. Dengan cahaya ponsel yang mulai redup, aku berjalan pelan ke ruang tengah, lalu duduk bersandar di sudut sambil memeluk lutut erat-erat.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Buat apa punya rumah sebesar dan semewah ini kalau yang kurasakan cuma kesepian dan takut? Lebih baik kembali ke rumah rumah sakit , tempat ada kehangatan ibu dan adik. Rindu pun menyergap hatiku: Apakah mereka sudah makan? Sedang apa ayah di rumah sakit? Apakah ibu masih marah padaku? Mengapa semua pergi begitu saja setelah upacara itu? Rasa hampa, sedih, dan takut bercampur jadi satu, membuatku hampir menangis terisak.
Namun belum sempat air mata jatuh, terdengar ketukan tegas di pintu disusul suara yang sudah sangat kukenal: “Buka pintu.” Jantungku berdegup kencang—itu suara Adrian. Segera aku berdiri dan membukanya, mendapatinya berdiri di sana, masih mengenakan jas yang sama seperti tadi siang. Wajahku sudah luntur riasannya, dan aku masih memakai gaun pengantin itu sejak pagi.
Dengan nada tegas dan tatapan tajam yang tak berubah, ia bertanya: “Kenapa duduk di sini? Apa yang terjadi?”
Hatiku bergetar mendengar suaranya, takut ia marah, jadi aku hanya menunduk diam tak bisa menjawab. Adrian melangkah masuk, menutup pintu, lalu lewat di depanku—namun tiba-tiba berhenti dan membalikkan badan: “Kenapa cuma diam saja? Apa kau mau tidur di lantai sampai pagi?”
Aku segera mengikuti langkahnya menaiki tangga ke lantai dua. Sampai di depan kamarku, ia berhenti lagi dan berkata dengan nada dingin: “Masuk dan tidur di kamarmu sendiri.”
Saat ia hendak melanjutkan berjalan, rasa panik datang lagi: baterai ponselku hampir habis, sebentar lagi mati total, dan guntur mulai terdengar makin keras. Tepat saat itu, “DUAARRR!!” Suara guntur meledak sangat dekat, membuatku terlonjak kaget dan berteriak tanpa sadar: “Ahh!” Jantung terasa mau melompat keluar dari dada.
Seketika aku teringat Adrian ada di situ. Bagaimana kalau ia marah? Mungkin mengusirku keluar, atau memarahi habis-habisan karena mengganggunya. Kalau diusir, ke mana aku harus pergi? Pikiran buruk itu membuatku makin menunduk, tangan gemetar menahan tangis.
Namun Adrain hanya diam sesaat, seolah mengamati reaksiku. Ia jelas melihat betapa ketakutannya aku, dan melihat layar ponselku yang sudah gelap total. Tanpa banyak bicara lagi, ia berbalik dan berjalan kembali ke depan pintu kamarku, membukanya lebar-lebar lalu melangkah masuk.
Aku mengangkat wajah dengan tatapan bingung, tetap berdiri ragu di ambang pintu. Adrian berhenti di tengah ruangan, lalu menoleh dan berkata—nadanya lebih datar tapi tidak lagi setajam tadi: “Kenapa masih berdiri di situ? Cepat masuk sebelum saya berubah pikiran.”
Dengan hati-hati dan penuh keraguan, aku melangkah masuk. Ingat Zara, ini cuma perjanjian satu tahun saja. Apakah ia akan melakukan hal yang tidak sepantasnya? Namun rasa curigaku sedikit berkurang saat melihat ia menyalakan lampu ponselnya sendiri, lalu meletakkannya di meja kecil sebagai penerangan. Setelah itu ia duduk santai di kursi empuk di samping tempat tidur, melonggarkan dasinya dan membuka sedikit kancing kemejanya, memperlihatkan bahu dan dadanya yang terlihat kokoh.
Ia bersandar tenang, menyandarkan satu siku di sandaran kursi, tangan menopang dagu, matanya tetap menatap lurus ke arahku.
“Naik ke tempat tidur dan berbaringlah,” perintahnya dengan suara rendah tapi terdengar meyakinkan. “Tenang saja, saya tidak akan menyentuhmu. Saya akan tetap duduk di sini sampai kau tertidur.”
Mendengar itu, rasa cemas di hatiku sedikit mereda. Aku melangkah pelan, naik ke tempat tidur, lalu menarik selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuh—hanya wajah yang terlihat, tetap mengawasi gerak-geriknya. Tapi tatapan Ardian yang terus memandangku membuatku masih gelisah: Bagaimana kalau aku tertidur lelap, lalu ia berubah pikiran dan melanggar janjinya?
Seolah bisa membaca pikiranku, Adrian kembali bicara dengan nada tegas tapi tetap sama: “Segeralah tidur, atau saya benar-benar akan pergi dan membiarkanmu sendirian di sini.”
Aku segera mengangguk pelan dan menjawab lirih: “Baiklah.” Lalu mencoba memejamkan mata dan memaksakan diri untuk percaya padanya. Perlahan, ketegangan di tubuh mulai mengendur seiring kehadirannya yang tetap diam di tempat.
Saat aku mulai terlelap dalam tidur yang masih gelisah, Adrian tetap duduk di situ—tatapannya tak berubah, masih mengamati wajahku. Dalam hatinya ia bergumam pelan: Awalnya aku sama sekali tidak peduli dengan gadis ini, apa pun yang terjadi padanya bukan urusanku. Tapi saat melihatnya menjerit ketakutan dan hampir menangis tadi, rasanya seolah melihat diriku sendiri saat masih kecil, lima tahun yang lalu. Entah kenapa, hatiku terasa bergetar dan tiba-tiba ingin melindunginya.
Ia menarik napas panjang, lalu bangkit perlahan dan melangkah mendekati sisi tempat tidurku. Saat melihatku yang sudah terlelap, ia menyadari selimutku tergeser memperlihatkan bahuku, dan ia mengerutkan kening: Kenapa dia masih memakai gaun itu sejak pagi? Pelayan-pelayanku benar-benar lalai. Sudahlah, besok pagi akan kuberikan uang dan perintah agar dia pergi sendiri membeli semua kebutuhan dan pakaiannya.
Setelah memastikan aku tidur tenang, Adrian mengambil ponselnya dari meja, melangkah keluar kamar dengan langkah ringan, menutup pintu pelan-pelan, lalu kembali menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat.