Anindya Dwi Putri adalah definisi dari keindahan yang murni. Gadis itu bekerja di sebuah studio kuku ternama di pusat kota. Setiap kali jemari lentiknya bergerak lincah mempercantik kuku para pelanggan, pujian demi pujian selalu mengalir untuk wajahnya. Anindya menyukai pekerjaan itu, atau lebih tepatnya, ia kecanduan pada tatapan kagum orang-orang yang memuja paras naturalnya.
Namun, kepuasan itu retak pada suatu sore.
Seorang gadis berpenampilan sederhana masuk ke studio. Gadis itu tidak mengenakan riasan tebal, juga tidak memakai lensa kontak. Namun, ia memiliki sepasang mata yang bulat sempurna dengan bola mata hitam jernih yang memikat. Seketika, perhatian seisi ruangan teralih.
"Apa mata bulat seperti itu sedang tren sekarang?" tanya seorang pelanggan yang sedang menikmati fasilitas pedicure dari Anindya.
Pelanggan di sebelahnya menyahut, "Iya, betul! Kau tahu, seluruh klinik operasi plastik sedang penuh karena permintaan perempuan yang ingin mengubah kelopak mata mereka. Sekarang, cantik saja tidak cukup kalau biasa-biasa saja. Cantik itu butuh polesan teknologi."
Mendengar itu, jemari Anindya mendadak kaku. Kalimat itu menghantam dadanya dengan telak. Cantik itu butuh polesan. Pikiran itu mulai meracuni otaknya. Ia merasa kecantikan alaminya mendadak usang dan tertinggal zaman.
Beberapa minggu kemudian, Anindya kembali bekerja. Langkah kakinya terdengar lebih percaya diri. Sepasang matanya kini tampak lebih besar, lebih tegas—hasil magis dari pisau bedah seorang dokter kecantikan ternama.
"Anin, kau terlihat sangat berbeda hari ini. Cantik sekali!" puji rekan kerjanya dengan mata berbinar. Namun, binar itu meredup dalam hitungan detik. "Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Anindya cepat, ada nada cemas yang tertahan.
"Sepertinya lemak di bagian pipimu agak terlalu tebal, ya? Jadi matamu yang baru ini agak kurang seimbang dengan bentuk wajahmu."
Kalimat kasual itu menjadi benih obsesi berikutnya. Anindya menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Benar. Pipinya terlalu penuh. Ia harus menyingkirkannya.
Tidak butuh waktu lama bagi Anindya untuk kembali mengunjungi klinik. Kali ini, ia membiarkan dokter mengikis rahang dan menyedot lemak di pipinya.
Ketika ia berjalan di trotoar beberapa waktu kemudian, wajahnya sudah setirus model papan atas. Setiap pria yang berpapasan dengannya pasti menoleh, memberikan tatapan memuja. Anindya tersenyum bangga. Ia merasa telah menaklukkan dunia.
Sampai akhirnya, ia berdiri di depan sebuah toko elektronik yang memajang televisi besar.
Di layar itu, seorang model internasional sedang melenggang di atas runway. Tubuhnya begitu ramping, dengan pinggang sekecil jam pasir, mengenakan gaun dari jenama mewah.
"Tubuhnya luar biasa indah. Bagaikan bidadari yang turun dari surga," bisik seorang pejalan kaki di sebelah Anindya dengan nada takjub.
Anindya menunduk, menatap perutnya sendiri. Ada rasa mual yang mendadak muncul akibat rasa tidak puas yang kembali membakar jiwanya. Apa aku harus mengecilkan perut dan membentuk pinggang seperti itu? batinnya gelisah.
Hari itu juga, ia kembali memesan slot operasi.
Hampir dua bulan Anindya menghilang dari dunia sosialnya. Ia mengambil cuti panjang, mengasingkan diri di balik dinding rumah sakit dan perban yang membungkus tubuhnya.
Momen pembuktian itu tiba di acara pernikahan salah satu sahabat lamanya. Ketika Anindya melangkah masuk ke dalam gedung pertemuan, atmosfer di sekitarnya seolah membeku. Ia mengenakan gaun cokelat ketat yang memeluk lekuk tubuh barunya dengan sempurna—hasil mahakarya silikon dan jahitan bedah. Wajahnya blasteran sempurna; mata besar, hidung lancip, bibir penuh yang merekah, dan lesung pipi buatan yang simetris.
"Wah, Anin sekaranga makin pangling, ya? Cantik sekali," bisik tamu-tamu di sudut ruangan. Anindya menegakkan kepalanya, menikmati puncak kemenangan yang sudah lama ia idamkan.
Namun, kejayaan itu hanya bertahan beberapa menit.
"Eh, lihat! Itu Angel, kan? Gila, body goals banget!" seru seorang pria di dekat meja prasmanan.
Atensi seisi ruangan mendadak bergeser layaknya ombak. Seorang wanita dengan gaun merah menyala berpotongan dada rendah melangkah masuk. Pinggangnya luar biasa ramping, namun bagian pinggul ke bawah terbentuk begitu besar dan penuh, menciptakan siluet ekstrem yang langsung memicu gairah dan kekaguman para pria di sana.
Anindya mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. Matanya menatap Angel dengan kilatan amarah dan rasa iri yang membakar.
"Seharusnya malam ini menjadi panggungku. Bukan dia!" jerit batinnya egois.
Keesokan paginya, tanpa berpikir panjang, Anindya kembali mendatangi rumah sakit yang sudah seperti rumah kedua baginya. Ia membawa foto Angel, menuntut sang dokter untuk merombak bagian bawah tubuhnya agar menjadi lebih ekstrem, lebih memikat, dan tidak tertandingi.
Bulan-bulan berlalu di atas meja operasi.
Ketika akhirnya ia keluar dari rumah sakit, Anindya Dwi Putri yang dulu—gadis manis dengan senyum tulus dan kecantikan natural yang menenangkan—telah mati total. Yang tersisa kini adalah sebuah manekin hidup dengan proporsi tubuh dan wajah yang dikonstruksi oleh baja, silikon, dan benang operasi.
Saat berjalan di pusat perbelanjaan, semua mata tertuju padanya. Sesuai dugaannya, orang-orang memperhatikannya tanpa berkedip. Anindya berjalan dengan dagu terangkat, merasa telah mencapai puncak kesempurnaan.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia melewati sebuah restoran kaca. Di seberang sana, seorang pria menatapnya. Bukan dengan tatapan memuja, bukan pula dengan tatapan gairah. Pria itu menatapnya dengan dahi berkerut dalam, memancarkan rasa ngeri dan jijik yang amat sangat, seolah-olah sedang melihat monster karnaval yang aneh.
Anindya tersentak. Ia perlahan menoleh ke samping, menghadap langsung pada pantulan dirinya di dinding kaca restoran yang jernih.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Anindya benar-benar "melihat" dirinya sendiri.
Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya dengan brutal. Sepasang matanya yang terlalu besar menatap nanar pada bentuk hidungnya yang terlalu runcing hingga tampak menyerupai paruh burung. Bibirnya tebal bengkak tanpa tekstur alami. Dan tubuhnya... pinggangnya yang sekecil tiang berpadu kontras secara ekstrem dengan pinggulnya yang terlampau besar, membuat proporsi tubuhnya tampak cacat dan menakutkan, seperti karakter kartun yang dipaksa hidup di dunia nyata. Tidak ada keanggunan. Yang ada hanyalah keanehan yang mengerikan.
Napas Anindya memburu. Ia menyentuh pipinya yang kaku tanpa rasa.
"Aku... aku bukan Anindya Dwi Putri yang dulu," bisiknya lirih, suaranya bergetar hebat. "Ini bukan diriku... Ini bukan diriku!"
Dengan air mata yang mulai merusak riasan tebalnya, Anindya membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin. Ia menghiraukan tatapan bingung orang-orang di sepanjang jalan. Ia terus berlari hingga tiba di rumahnya, lalu langsung mengunci pintu rapat-rapat.
Di dalam kamar yang sepi, Anindya langsung berhadapan dengan cermin riasnya yang besar. Ia menatap pantulan monster asing di dalam kaca itu dengan napas tersengal-sengal. Rasa benci yang amat sangat mendadak membuncah di dadanya.
Pranggg!
Dengan histeris, Anindya melempar botol parfumnya ke arah cermin hingga kaca tersebut hancur berkeping-keping. Belum puas, ia berjalan mengitari rumah. Ia mencopot cermin di kamar mandi, menurunkan cermin di ruang tamu, dan menyembunyikan semua benda yang bisa memantulkan bayangan dirinya ke dalam gudang gelap.
Anindya luruh di lantai kamarnya yang kini berantakan. Ia memeluk lututnya sendiri, menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian.
Kini, tidak ada lagi cermin di rumahnya. Namun, ia tahu ia tidak akan pernah bisa lari dari kenyataan. Setiap kali ia menyentuh wajahnya yang kaku atau melihat lekuk tubuhnya saat berganti pakaian, penyesalan itu akan selalu ada. Anindya telah menghancurkan karya terindah Tuhan yang pernah ada pada dirinya, demi mengejar candu pujian manusia yang tidak akan pernah ada habisnya.