Hujan turun sangat deras di hari pemakaman Ibu. Dunia seakan akan menangis bersama Linda. Ia berusaha menutupi rasa sedih bercampur marah nya itu. Sedih karena ia menjadi yatim piatu sekarang. Marah karena Ibu meninggal di hari ketiga sebelum ulang tahun nya.
“Apa yang harus kulakukan besok, dan nanti?”, Linda menatap hujan yang sangat lebat di luar.
Kenangan-kenangan indah dan tak ter-lupakan bersama ibu perlahan-lahan kembali di benak nya. Ia mengingat kata-kata Ibu untuk tidak menangisi kepergian nya. Linda tersenyum seolah tak ada apapun yang terjadi di tempo hari. Hatinya menjadi ikhlas atas kepergian ibunya. Ia meraba permukaan kaca jendela yang dingin.
“Lagi pula aku punya sahabat yang mau menerima-ku.”
Esok nya, wajah ceria terukir di wajah Linda. Ia menjadi lebih ramah dari sebelumnya. Ia amat menekan keras hatinya agar selalu berpikiran positif. Tapi sayangnya Linda adalah anak yang tak disukai di sekolah, keramahan nya membuat orang orang berprasangka buruk. Mereka berpikir jika Linda sedang mencari perhatian. Hebat nya, ia sudah terbiasa dengan hawa negatif di sekitarnya.
Di kelas, Linda hanya mengamati murid yang masuk ke dalam kelas. Ia menunggu kedatangan sahabat-sahabat nya. Namun saat bel masuk tiba, mereka masih belum datang. Kebetulan sekali Wali Kelas masuk pada pelajaran pertama, Linda menanyakan tentang sahabat nya.
“Bu, mengapa Sarah dan Kayla tak masuk hari ini?”
“Ibu tak dapat surat izin dari mereka.”
“Oh, terima kasih Bu.”
Dengan tenang Linda kembali ke kursi nya. Ia segera mengambil telepon genggam dari dalam tas nya.
“Kenapa kalian tak masuk? Padahal aku membutuhkan kalian.” ketik Linda dan mengirimnya pada Sarah dan Kayla.
Selama pelajaran, Linda berharap kedua sahabatnya membalas pesan nya itu. Ternyata sampai bel istirahat tiba, pesan singkat itu belum juga dibalas. Ia mulai khawatir, bisa saja sahabatnya terkena musibah dan di sekolah tidak ada yang mengetahui nya. Saat istirahat berlangsung, Linda merasa kesepian. Ia tak punya teman selain kedua sahabatnya itu.
Di tengah lamunan nya, Mia dan Maya mendatangi Linda. Tak biasa nya si
kembar itu mau berbicara dengan Linda.
Mia melipat tangan nya ke depan dada, “Hey Linda, lagi gak punya teman ya?”
“Kasihan ya di tinggal teman nya bolos, kenapa gak ikut aja?” Kata Maya.
Linda memukul meja nya, “Gak usah asal ngomong deh, Sarah dan Kayla bukan tukang bolos seperti kalian.”
Seisi kelas menatap mereka. Mia dan Maya terkejut melihat Linda seperti itu.
“Berisik amat sih.”
“Heh, jawab tuh yang baik dong.”
“Nggak pake mukul meja bisa kali.”
Linda mengalihkan wajahnya yang merah padam, lalu ia segera keluar dari kelas.
Di kamar mandi, Linda mencuci mukanya yang panas. Ia membasuh wajahnya hingga amarahnya hilang. Setelah itu ia berdiri sesaat di depan kaca. Tetes-tetes air keluar dari matanya, dan Linda dengan cepat mengusap nya. Ia tak mau terlihat cengeng di depan orang. Ia menenangkan dirinya, dan kembali ke kelas dengan tenang.
Ketika memasuki kelas, semua mata tertuju pada Linda. Ia berjalan ke arah kursi nya tanpa memerhatikan mereka. Linda merasa aneh karena kelas jadi hening karena kedatangan nya.
“Kok, pada diam ya? Apakah aku salah masuk kelas?” Pikir Linda.
Linda memandang sekitar nya. Sudah jelas kelas yang ia masuki benar. Tetapi ia merasa sangat tak nyaman. Banyak anak yang berbisik dan menatap tajam Linda. Beruntung sekali bel masuk kelas berbunyi, sehingga kelas jadi riuh untuk kembali ke tempat duduk masing masing.
Sepulang dari sekolah, Linda menghempas-kan diri ke ranjang. Dia mengingat jelas kejadian hari ini. Bahkan saat pulang pun banyak siswi yang mengejek nya.
“Kenapa mereka seperti itu sih?”
Linda teringat sesuatu, ia lupa untuk menghubungi Sarah dan Kayla. Ia pun segera menghubungi mereka.
“Maaf nomor yang anda tuju…”
“Ada apa ya? Aku akan ke rumah mereka.”
Linda segera berganti pakaian untuk pergi ke rumah Sarah dan Kayla. Tetapi baru saja keluar dari rumah, hujan turun perlahan hingga lebat.
“Yah, hujan lagi, gak jadi ke rumah mereka deh.”
Linda kembali ke kamarnya, ia sangat kecewa karena tak jadi ke rumah mereka. Ia juga sangat khawatir dengan sahabat-sahabat nya.
“Kenapa sih kalian gak ngasih kabar?”
Linda terbaring di ranjang nya dan menutupi matanya dengan tangan. Tanpa sengaja, ia pun tertidur hingga esok pagi.
Linda terbangun dari tidurnya, sungguh berat kepalanya untuk bangun dari ranjang. Ia memegang kepalanya yang amat pusing itu. Perutnya terasa sangat lapar.
“Semalam aku tak makan malam ya?” Pikirnya.
Dengan santai Linda berjalan ke dapur dan mengoles dua potong roti dengan selai coklat. Ia memakan nya dengan perlahan, lalu ia menengok ke jam dinding yang ada di dapur.
“Hah, sudah jam tujuh?”
Linda menaruh roti yang baru di gigit nya di piring, lalu bergegas pergi mandi. Setelah itu ia menaruh rotinya ke tempat bekal untuk membawanya ke sekolah. Ia mengunci rumah nya, lalu berlari ke sekolah nya.
“Aduh kok bisa bangun kesiangan ya?” Pikirnya.
Akhirnya Linda sampai di depan gerbang sekolahnya, beruntung sekali gerbang belum di tutup. Ia pun berjalan dengan santai memasuki sekolah. Di Koridor ia melihat Sarah yang sedang menatap nya dari jauh.
“Ah, Sarah!” Seru Linda.
Sarah pergi ke arah lain, Linda mengejar nya. Akan tetapi saat ia mencarinya, tetap saja tidak ketemu. Linda pasrah dan kembali ke kelas nya.
Sampai di kelas, Linda sudah di sambut oleh Mia dan Maya.
“Hei, kesiangan ya?” Kata Mia.
“Tumben nih anak yang sok rajin ini kesiangan.”
Linda mengabaikan nya dan meneruskan jalan nya ke kursi nya. Mia dan Maya mendatangi nya.
Maya mendorong pundak Linda,“Berani nya kamu mengabaikan kita.”
Mia menarik Maya yang sudah kesal itu, “Sudah May, biarin aja, dia emang gitu orang nya.”
Selama pelajaran, Linda tidak konsentrasi karena lapar. Ia hanya bisa menunggu bel istirahat tiba lebih cepat. Sebelum nya ia telah memerhatikan tempat duduk Sarah. Ia tetap tidak masuk hari ini, begitu juga dengan Kayla.
“Mungkin yang tadi ku lihat hanya perasaan ku saja.” Pikir Linda.
Linda langsung mengeluarkan kotak bekalnya ketika bel istirahat tiba. Ia memakan sarapan nya itu dengan lahap. Karena sedikit terburu-buru, pipi Linda terkena selai coklat yang ada di roti. Ia segera menghabiskan sarapan nya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan nya.
Mia dan Maya mendekati tempat duduk Linda. Maya memasukkan sesuatu kedalam tas Linda.
“May, bukan nya ini berlebihan ya?” Tanya Mia.
“Ah, ngapain sih ngsihanin dia?” Bentak Maya.
“Ya maap, tapi aku gak mau tanggung jawab loh.”
“Terserah lah.”
Linda kembali ke kelas, saat di kamar mandi ia memiliki firasat buruk. Ia pun segera kembali ke tempat duduk nya dan memeriksa tempat pensil nya.
“Fiuhh, ku kira anak laki-laki ada yang mengambil alat tulisku.” Gumam nya.
Terdengar suara teriak-kan dari anak yang ada di belakang Linda.
“Aduh, gimana ini? Uang buat bayar SPP ku hilang.” Kata Emy.
“Tadi kamu merasa mengeluarkan nya nggak?” Tanya Linda.
“Eh, iya tapi aku nggak tau kemana.”
“Mungkin jatuh.”
Maya mulai angkat bicara, “Di ambil sama dia kali, kan kayak maling.”
Linda menatap sinis Maya, “Bicara jangan pake asal dong.”
Emy menengahkan mereka, “Sudah-sudah mungkin SPP nya jatuh, aku memang ceroboh sekali.”
“Emy, gak usah baik gitu dong, emang fakta nya dia yang ngambil.”
Maya dengan paksa menarik tas Linda dan membuka nya. Lalu ia menemukan uang dengan nominal yang cukup untuk membayar SPP. Linda terkejut melihatnya, ia merasa tak mungkin jika ia yang mengambil uang SPP nya.
“Lihat kan? Siapa yang ngambil uang nya?” Tanya Maya.
Maya memberinya pada Emy, Ia hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Mungkin ini tak sengaja jatuh ke tas Linda.” Emy tersenyum.
Linda merasa sangat berterima kasih pada Emy yang sudah membelanya. Maya terdiam dan keluar meninggalkan kelas.
“Oh iya Linda.” Panggil Emy.
“Iya?” Sahut Linda.
“Aku membela bukan bukan berarti aku baik padamu.” Kata Emy.
Linda hanya bisa melihat Emy yang melangkahkan kakinya keluar.
“Apa lagi sih salahku? Jelas ini ulah Maya.” Pikir Linda.
Hari sudah sore, waktunya pulang sekolah. Di tengah jalan yang sepi, Linda disambut oleh, Emy, Maya, Mia dan beberapa anak yang lain.
“Hei, yang udah di tungguin lama banget.” Kata Mia.
“Tau nih, padahal mau ngasih ini.” Kata Emy sambil memberi sepotong roti isi selai.
“Sebagai apa ini?” Senyum Linda mengembang.
“Tanda minta maaf.” Kata Maya.
Tanpa basa-basi lagi Linda langsung memakan roti isi itu. Beberapa saat setelah habis, kulit Linda terasa panas dan gatal. Wajahnya mulai membengkak.
“Ugh, kau memberi ku selai kacang?” Tanya Linda.
“Sepertinya iya, hihihi.” Kata Emy.
Linda terbatuk batuk sambil menggaruki lengan nya yang gatal.
“Jangan di garuk, mending mandi lumpur aja.” Kata Maya.
Maya menjatuhkan Linda ke lumpur, sehingga bajunya kotor karena lumpur dan Linda mulai menangis.
“Sepertinya ada yang kurang deh.” Kata Emy.
“Oh iya.” Kata Maya yang menumpahkan soda ke rambut Linda.
Emy menjambaki rambut Linda, “Makanya jangan jadi maling dong, hahaha.”
“Biasanya kau dapat pertolongan dari Sarah dan Kayla kan? Aku tahu mereka hebat, tapi lihatlah kau itu nggak ada apa-apanya.” Kata Mia
Mereka pun pergi meninggalkan Linda sendirian.
Linda hanya bisa menangis karena tubuhnya yang semakin gatal. Ia pulang dengan keadaan baju yang sangat kotor.
“Kenapa sih semuanya yang buruk terjadi sekarang?” Pikir Linda.
Perlahan hujan turun membasahi tubuh Linda yang kotor. Ia pun merasa kedinginan.
“Aku merasa, aku sedang mimpi buruk saat ini.” Pikirnya.
Sesampai di rumah, Linda segera membersihkan dirinya. Setelah itu ia meminum obat alergi dan menggunakan salep dari dokter. Setelah itu ia menangis dengan keras di kasurnya.
“Jika ini mimpi buruk tolong bangun lah!”
Linda menangis sekencang-kencang nya, untuk melepaskan seluruh kesedihan nya.
Setelah merasa tenang, Linda membuka laptop nya untuk mendapat tugas yang di kirim guru lewat e-mail. Saat membuka Inbox , ada dua orang yang mengirim pesan pada Linda. Pesan pertama yang ia lihat dari StarDust, Linda tidak tahu siapa pemilik akun itu. Isi pesan nya hanya menyuruh Linda untuk membuka sebuah URL. Saat ia membukanya, ternyata itu adalah sebuah video youtube yang berdurasi empat menitan. Linda memulainya, sungguh terkejut ia saat melihat video itu. Video itu adalah kejadian saat Linda di bully di tengah jalan.
Air mata Linda menetes lagi, “Siapa yang mengabadikan nya?” Pikirnya.
Linda melihat lihat komentarnya.
“Hahah, jadi dekil deh.”
“Sadis!”
“Kok pada gitu sih temen temen nya.”
“Paling cuma akting.”
“Wkwkwk Akting nya bisaan.”
“Walaupun akting, semoga gak ada yang niru :)”
Hati Linda merasa amat sangat tertusuk. Sungguh semua ini hanya kebohongan belaka. Semua yang terjadi di sana tidak seperti pada nyata nya. Linda kembali melihat siapa yang mengirim alamat URL itu. Akun StarDust itu mengirim pesan singkat lagi.
“Sekarang kamu terkenal Linda.”
Linda sangat marah dengan mereka, ia pun menangis dengan keras. Video tersebut berlanjut dengan video selanjutnya. Video yang selanjutnya hanya berupa audio musik klasik yang berjudul Gloomy Sunday. Di awal lagu, nada nya indah sehingga membuat hati Linda sedikit tenang. Tetapi saat otak Linda mencerna Lirik bahasa inggris itu, ia pun menangis histeris. Kesedihan yang ia rasakan sama seperti yang ada di lirik lagu itu. Lagu itu sampai bait terakhir, dan akhirnya selesai.
Linda tertunduk diam, ia merenungi sesuatu. Aneh nya, is malah tertawa. Entah apa yang membuat nya kerasukan seperti itu. Lagu yang baru Linda dengar telah menyihir nya untuk menjadi gila.
“Hahah, jika aku sedang bermimpi, kenapa aku tak membangunkan diri saja?” Kata nya.
Linda mengambil tali tambang yang ada di lemari nya. Kemudian ia mengambil kursi untuk memasang nya pada kayu di langit-langit. Lalu ia membuat bulatan cincin sebesar kepalanya.
“Selamat tinggal dunia mimpi.”
Saat memasuki kepalanya ke tambang, ia melihat ada sebuah kotak kado berwarna ungu dengan pita putih. Linda kembali berpikir jika besok adalah hari ulang tahun nya.
Linda pun membatalkan niat bunuh dirinya itu. Tetapi sebelum menarik kepalanya, kursi yang ia pijak terjatuh. Jeratan kuat di leher Linda membuatnya tidak bisa bernapas. Rasa sakit di lehernya sungguh tak terbayang.
Linda mencoba membuka tali yang menjerat nya dengan erat, tetapi ukuran tali di lehernya sangat pas dan tak bisa dibuka lagi. Rasa perih yang membakar tenggorokan nya membuat ia putus asa.
Ia berusaha berteriak meminta tolong, tetapi suaranya tertahan karena tali yang melingkar di lehernya. Matanya melotot ke arah langit-langit, tubuhnya terasa dingin.
“Mungkin ini adalah kematianku, aku ceroboh sekali.” Pikirnya.
Air mata terakhirnya menetes ke lantai. Akhirnya Linda menghembus-kan napas terakhirnya setelah rasa sakit yang telah ia lalui. Badan nya masih tergantung di langit-langit.
…
Dua orang anak perempuan sedang asyik berbincang-bincang sesuatu. Padahal hari telah larut, sudah waktunya segala aktivitas terhenti untuk istirahat. Mereka adalah Sarah dan Kayla.
“Maaf banget Kay, aku gak sengaja ninggalin kado di meja nya.” Kata Sarah.
“Nggak apalah, paling tidak dia sadar kalau kita sudah tahu bahwa besok hari ulang tahun nya.”
“Maksudmu lima menit lagi? Sekarang kan jam sebelas lewat lima lima.”
“Ya, ingat rencana kita kan? Untuk membuat kejutan saat ia tidur.”
Sarah tersenyum, “Iya lah, masa aku lupa.”
“Beruntung kita dapat kunci cadangan nya.”
Di rumah Linda, Sarah dan Kayla mengeluarkan kue yang mereka bawa. Mereka memasang lilin berbentuk angka satu dan lima yang menandakan umurnya. Mereka menghias ruang tamu dengan balon, kado, dan sebuah kanvas bertulis ‘Selamat Ulang Tahun Sahabatku Linda.’
“Sar, apa kau sudah siap untuk membangunkan nya?” Tanya Kayla.
“Sebentar Kay, aku cari sendok dulu, kamu bawa kue ke kamarnya ya.”
“Okay.”
Dengan perlahan Kayla membawa kue ulang tahun itu ke kamar Linda. Baru sampai depan pintu kamar tiba-tiba “PRAKK.” Kue tersebut jatuh dan hancur di lantai, Kayla tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Ada apa sih Kay? Kok di jatohin?” Tanya Sarah.
Kayla tak bisa berkata kata saat melihat apa yang dilihatnya. Sarah menengok ke arah kamar Linda, ia ikut terkejut. Kayla segera mengambil telepon genggam nya untuk memanggil ambulans.
Mia berjalan tergesa-gesa mendatangi Emy dan Maya, “Kalian dengar tidak? Katanya tiga hari yang lalu ibunya Linda meninggal.”
Mata Emy melebar, “Seriusan? Kemarin kok rasanya dia biasa saja.”
“Mungkin juga kabarnya baru sampai ke dia sekarang.” Kata Maya.
“Yah gimana nih, kita udah ngejahilin dia, ternyata dia malah jadi berduka.” Kata Mia.
“Nanti kalau dia masuk, kita minta maaf saja!” Seru Emy.
“Nanti aku hapus deh video nya, jadi kasihan.” Kata Maya.
Saat itu Sarah dan Kayla masuk dengan wajah geram, mereka mendatangi Emy, Mia, dan Maya.
“Eh, apa benar ibunya Linda meninggal?” Tanya Emy.
“Sekarang dia gak punya orang tua dong?” Tanya Maya.
“Terus gimana kabarnya sekarang?” Tanya Mia.
Sarah tersenyum, dan balik bertanya.
“Kalian tahu hari ini hari apa?”
Mereka bertiga menggeleng kepalanya.
Kayla juga ikut tersenyum,
“Hari ini adalah hari kematian nya, dan kematian kalian!”