Halo. Nama saya Penulis X.
Ini bukan nama asli. Nama asli saya sudah hilang di revisi ke-7.
Saya ingin bercerita tentang surat. Bukan surat biasa. Tapi surat dari Area Terlarang 404.
Isinya cuma satu kalimat:
"Karya Anda memiliki masalah."
Tidak ada keterangan masalahnya apa. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada nomor WhatsApp yang bisa dihubungi.
Saya putuskan masuk ke Area Terlarang. Bukan karena berani. Tapi karena saya sudah revisi 12 kali dan masih dapat surat yang sama.
Saya ganti judul. Surat baru datang: "Karya Anda memiliki masalah."
Saya ganti nama tokoh. "Karya Anda memiliki masalah."
Saya hapus bab 1-3. "Karya Anda memiliki masalah."
Saya tambah bab tentang nasi goreng. "Karya Anda memiliki masalah."
Saya ganti genre dari horor jadi romantis. "Karya Anda memiliki masalah."
Pada titik ini saya sadar. Mungkin bukan karya saya yang bermasalah. Mungkin sistemnya.
---
Setelah 3 bulan terjebak, saya bertemu dengan makhluk. Wujudnya seperti formulir revisi yang hidup.
"Kamu siapa?"
"Saya Asisten Editor Spesies 404. Tugas saya meneruskan pesan dari atasan."
"Atasan kamu siapa?"
"Editor Spesies 404. Tugasnya memberi instruksi revisi."
"Instruksinya apa?"
Dia diam sebentar.
"Saya tidak tahu. Saya hanya asisten."
---
Saya minta ketua Editor.
Tiga hari kemudian datang seseorang berwujud laptop dengan mata.
"Saya Editor Spesies 404. Ada yang bisa saya bantu?"
"Masalah karya saya apa?"
Dia buka laptop. Mengetik. Mengecek.
Lima menit kemudian:
"Maaf, saya tidak punya wewenang memberi tahu."
"Lho?"
"Saya hanya bertugas memberi tahu bahwa ada masalah. Tapi masalahnya apa, wewenang atasan saya."
"Atasan kamu siapa?"
Dia tutup laptop.
"Raja 404."
Lalu menghilang.
---
Perjalanan ke pusat Area Terlarang memakan waktu 40 hari.
Saya melewati Hutan Formulir (semua isinya "Isi sesuai format" tapi formatnya tidak pernah dikasih).
Saya melewati Danau Email Otomatis. Airnya asin. Kata orang, itu karena air mata penulis yang tidak pernah mendapat balasan jelas.
Akhirnya saya sampai di singgasana kosong.
Tapi ada suara.
"Apa yang kamu cari, Penulis X?"
"Masalah karya saya apa?"
Diam.
Lalu suara itu menjawab:
"Kami juga tidak tahu."
---
Saya marah.
"Kok tidak tahu? Lalu kenapa suruh revisi 17 kali?"
"Karena kami harus bilang ada masalah. Itu tugas kami."
"Tapi tidak tahu masalahnya apa?"
"Betul. Kami hanya tahu ada masalah. Tapi masalahnya apa, kami serahkan pada penulis untuk mencari tahu."
"ITU GILA."
"Itu sistem."
Saya sadar sesuatu.
Mereka tidak jahat. Mereka hanya: tidak kompeten, tidak tahu diri, tidak mau bertanggung jawab.
Tapi mereka punya kuasa.
Itu yang paling menakutkan.
---
Saya keluar dari Area Terlarang. Bukan karena menang. Tapi karena capek.
Saya buka warung kopi di pinggir Hambalangverse.
Setiap hari penulis datang bercerita:
"Saya dapat surat lagi."
"Katanya karya saya bermasalah."
"Mereka suruh revisi tapi gak jelas revisi apanya."
Saya buatkan kopi hitam pahit. Lalu saya bilang:
"Santai saja. Mereka juga tidak tahu apa yang mereka mau."
Mereka kaget. "Kok kamu tahu?"
Saya tersenyum.
"Saya pernah sampai ke singgasana Raja 404."
"Terus?"
"Dia bilang: kami juga tidak tahu."
Semua penulis terdiam.
Lalu satu per satu mereka pesan kopi lagi.
Kopi hitam pahit.
Seperti nasib mereka.
TAMAT
---
Ini Analogi Sederhananya:
Editor: "Buatlah segitiga."
Penulis: Buat segitiga sama sisi.
Editor: "Bukan gitu."
Penulis: Buat segitiga siku-siku.
Editor: "Bukan."
Penulis: Buat segitiga sembarang.
Editor: "Maksud saya segitiga, tapi yang... beda."
Penulis: "Beda gimana?"
Editor: "Yang lebih... segitiga."
💀
(Naskah ini telah melalui 0 kali revisi. Karena penulis sudah pensiun dan tidak peduli lagi.)