Di sebuah desa yang tak pernah muncul dalam peta digital, terselip di antara kabut abadi pegunungan Meratus, terdapat sebuah jam raksasa yang tertanam di alun-alun desa. Jam itu tidak memiliki jarum menit atau jam—hanya satu jarum panjang berwarna merah darah yang berdetak setiap sepuluh tahun sekali.
Namanya adalah Desa Hening. Dan hari ini, jarum itu baru saja berdetak.
Bagian 1: Detak yang Terlupakan
Seno, seorang pemuda yang baru saja kembali dari kota besar, berdiri terpaku di depan menara jam itu. Ayahnya, sang kepala desa, berdiri di sampingnya dengan wajah sepucat kapas.
"Kenapa semua orang mengunci pintu, Pak?" tanya Seno, suaranya gemetar. Di kota, jam hanyalah pengingat jadwal rapat. Di sini, jam adalah hukum.
"Karena saat jarum itu bergerak, 'Tamu' akan datang," bisik ayahnya tanpa menoleh. "Dan Tamu itu tidak mencari penginapan. Dia mencari jawaban."
Setiap seratus tahun, atau tepatnya setiap sepuluh kali detakan, satu orang di desa itu akan menghilang. Bukan diculik, melainkan dihapus. Kenangan tentang orang itu akan lenyap dari ingatan semua orang, kecuali satu orang yang dipilih sebagai "Penjaga Luka".
Tahun ini, beban itu jatuh ke pundak Seno.
Bagian 2: Kotak di Bawah Lantai
Malam itu, Seno tidak bisa tidur. Di bawah tempat tidurnya, ia mendengar suara ketukan ritmis. Tok... tok... tok...
Ia membongkar papan lantai kayunya dan menemukan sebuah kotak besi tua yang digembok rapat. Di atasnya tertempel secarik kertas kusam dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali: tulisan tangannya sendiri.
Seno, jika kau membaca ini, berarti kau sudah melupakanku. Jangan percaya pada suara lonceng kedua.
Seno berkeringat dingin. Seumur hidupnya, ia merasa sebagai anak tunggal. Namun, isi kotak itu menceritakan hal lain. Ada foto-foto dirinya bersama seorang gadis yang wajahnya sengaja disobek. Ada sepasang sepatu kecil, dan sebuah kalung perak dengan inisial "A".
Siapa "A"? Mengapa seluruh desa bertingkah seolah dia tidak pernah ada?
Bagian 3: Tamu Tanpa Wajah
Tepat tengah malam, lonceng menara berbunyi untuk kedua kalinya—suatu kejadian yang menurut legenda tidak boleh terjadi. Kabut di luar jendela tiba-tiba berubah menjadi hitam pekat.
Pintu rumah Seno terbuka tanpa suara. Seorang pria tinggi dengan jubah yang seolah terbuat dari asap masuk ke dalam ruangan. Wajahnya datar, tanpa mata, tanpa mulut, namun Seno bisa mendengar suaranya di dalam kepala.
"Seno... kau menyimpan sesuatu yang seharusnya sudah musnah," suara itu bergema, dingin dan hampa.
"Siapa 'A'?" teriak Seno, menggenggam kalung perak itu erat-erat.
Tamu itu berhenti melangkah. "Dia adalah harga yang dibayar desa ini agar waktu tetap berjalan. Jika kau menolak melupakannya, maka waktu di dunia luar akan berhenti. Pilihannya: satu orang kembali, atau seluruh dunia membeku."
Bagian 4: Labirin Ingatan
Tamu itu menyentuh dahi Seno. Seketika, dunia di sekitarnya runtuh. Seno tidak lagi di kamarnya, melainkan di sebuah padang rumput yang tak berujung, dipenuhi dengan jutaan pintu.
"Carilah dia," tantang sang Tamu. "Jika kau bisa memanggil namanya sebelum fajar, dia akan kembali. Tapi ingat, setiap pintu yang kau buka akan mengambil satu ingatan berhargamu sebagai bayaran."
Seno mulai berlari.
Pintu pertama: Ia membuka pintu dan melihat dirinya saat lulus kuliah. Ia masuk, dan ingatan itu menguap. Ia lupa bagaimana rasanya bangga, tapi ia melihat bayangan gadis itu di kejauhan.
Pintu kedua: Ia melihat ibunya yang sudah tiada sedang memasak. Ia masuk, dan rasa sayang pada ibunya hilang. Hatinya mulai terasa kosong.
Pintu ketiga, keempat, hingga kesepuluh. Seno kehilangan kemampuan untuk merasa bahagia, sedih, bahkan takut. Ia menjadi kosong, hanya tersisa satu misi: menemukan "A".
Bagian 5: Nama yang Terlarang
Di ujung labirin, ia menemukan sebuah pintu kecil yang terbuat dari kaca retak. Di dalamnya, seorang gadis duduk membelakanginya, memandang jam raksasa yang berhenti berdetak.
"Aku tahu siapa kamu," bisik Seno, suaranya parau. Ia tidak lagi ingat wajah ibunya, tidak ingat rumahnya, bahkan tidak ingat namanya sendiri. Tapi ia ingat rasa hangat di tangan gadis ini saat mereka kecil.
Gadis itu menoleh. Wajahnya cantik, namun transparan seolah terbuat dari air mata. "Kau tidak seharusnya di sini, Kak. Jika aku kembali, desa akan hancur."
"Aku tidak peduli pada desa yang hidup di atas kebohongan," jawab Seno.
Ia menggenggam tangan gadis itu. Pikirannya berputar. Nama itu... nama itu ada di ujung lidahnya. Nama yang selama ini disembunyikan oleh takdir.
"Namamu adalah... Alina."
Epilog: Detik yang Berbeda
Matahari terbit di Desa Hening. Penduduk desa keluar dari rumah dengan bingung. Menara jam itu retak. Jarum merahnya jatuh dan hancur menjadi debu.
Di alun-alun, Seno berdiri sendirian. Ia tidak ingat mengapa ia ada di sana. Ia tidak ingat siapa ayahnya yang kini menatapnya dengan penuh kebencian. Ia bahkan tidak ingat namanya sendiri.
Namun, di sampingnya, berdiri seorang gadis yang memegang kalung perak berinisial "A". Gadis itu tersenyum, meski air mata mengalir di pipinya.
"Kita bebas sekarang," kata gadis itu.
Seno menatapnya, merasa asing namun anehnya merasa lengkap. "Siapa kamu?" tanya Seno.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah jalan setapak menuju keluar desa—jalan yang selama ini tertutup kabut, kini terlihat jelas untuk pertama kalinya dalam seribu tahun.
Namun, di kejauhan, di puncak gunung yang paling tinggi, sebuah lonceng baru mulai terbentuk dari kegelapan. Ternyata, kebebasan selalu memiliki harga yang lebih mahal dari yang mereka bayangkan.
Sebab, ketika waktu tidak lagi diatur oleh jam, ia akan diatur oleh sesuatu yang jauh lebih lapar.