Empat tahun. Waktu yang tak sebentar untuk menumbuhkan rasa, menyimpan harapan, dan membangun angan-angan yang terasa begitu nyata. Selama empat tahun lamanya, Kirana mencurahkan seluruh isi hatinya untuk Gala, pemuda yang berasal dari kota dan dikenalnya pertama kali lewat dunia maya. Awalnya hanya obrolan biasa, sampai takdir mempertemukan mereka secara langsung pada hari peresmian tempat wisata baru di desa tempat tinggal Kirana. Hari itu, di antara keramaian dan sorak-sorai warga, pandangan mereka bertemu, dan dari situlah benih cinta itu tumbuh dan bersemi.
Bagi Kirana, Gala adalah segalanya. Pemuda itu selalu bersikap manis, tutur katanya lembut, dan perbuatannya selalu membuat hati Kirana berdebar bahagia. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti janji manis yang tak akan pernah dipungkiri.
"Kira, tahu nggak? Sejak aku pertama kali melihatmu, aku merasa hidupku baru benar-benar berwarna. Kamu adalah rumah bagiku, tempat aku pulang dan merasa tenang," ucap Gala suatu hari, sambil memegang lembut tangan Kirana, tatapannya terlihat begitu tulus.
Kirana tersenyum bahagia, matanya berbinar menatap kekasihnya. "Aku juga merasa begitu, Gala. Kamu adalah hal terindah yang pernah Tuhan berikan padaku. Aku nggak pernah membayangkan bisa sebahagia ini bersamamu."
"Aku janji, aku akan menjagamu selamanya. Tak akan ada satu pun orang yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Kamu satu-satunya, sekarang dan selamanya," tambah Gala, lalu mengecup lembut kening Kirana.
Kata-kata itu selalu menjadi penawar hati Kirana. Bahkan ketika banyak pemuda lain yang datang mendekat dan menyatakan rasa cinta mereka, Kirana menolak semuanya dengan tegas. Baginya, tak ada yang lain selain Gala. Cintanya begitu tulus, kesetiaannya tak tergoyahkan, seolah ia rela mempertaruhkan segalanya hanya untuk memeluk cinta yang ia yakini itu abadi.
Namun, sayang sekali. Di balik senyum manis dan janji-janji indah itu, tersimpan sebuah rahasia kelam yang selama ini berusaha Gala sembunyikan rapat-rapat. Selain Kirana, ada wanita lain yang juga menjadi bagian dari hidupnya, bernama Vania. Seorang gadis cantik keturunan Tionghoa yang tinggal satu kota dengannya. Bersama Vania, Gala juga menunjukkan kasih sayang yang sama, berbagi cerita yang sama, bahkan menanamkan harapan yang sama seperti yang ia berikan pada Kirana. Ia pandai membagi waktu, pandai menyembunyikan jejak, dan pandai meyakinkan keduanya bahwa merekalah satu-satunya cinta dalam hidupnya.
Namun, seberapa rapat pun seseorang menyimpan rahasia, pasti akan ada saatnya kebenaran itu terungkap. Berita itu sampai juga ke telinga Kirana. Awalnya ia tak percaya, berusaha mengabaikan semua kabar yang datang, meyakinkan diri bahwa Gala takkan mungkin mengkhianatinya. Tapi bukti demi bukti bermunculan, sampai akhirnya Kirana tak bisa lagi menutup mata dan hatinya. Dan yang paling menyakitkan dari semuanya, kabar yang membuat dunianya runtuh seketika: Vania sedang mengandung buah hati dari Gala.
Hari itu, Kirana memutuskan untuk menemui Gala, ingin mendengar semuanya langsung dari mulut orang yang paling ia cintai. Wajah Gala pucat pasi, tak mampu lagi menyangkal apa yang sudah terjadi.
"Kenapa, Gala? Kenapa kamu lakukan ini padaku? Selama ini aku sudah memberikan seluruh hatiku, seluruh waktuku, dan seluruh kesetiaanku untukmu. Apa yang kurang dariku sampai kamu tega berbuat seperti ini?" tanya Kirana dengan suara yang bergetar, air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Gala menunduk dalam, tak berani menatap mata kekasihnya yang sedang hancur berkeping-keping. "Maafkan aku, Kira... Aku salah. Aku memang nggak bisa menahan diri, dan aku juga bingung dengan perasaanku. Aku sayang kamu, aku benar-benar sayang kamu... tapi aku juga terikat dengan Vania. Dan sekarang... keadaan sudah begini, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi."
"Kamu bilang aku satu-satunya? Kamu bilang aku rumah tempatmu pulang? Itu semua bohong, kan? Hanya kata-kata manis yang kamu ucapkan untuk menipu hatiku yang terlalu percaya ini," ujar Kirana sambil tersenyum pahit, senyum yang menyimpan luka yang begitu dalam.
"Aku minta maaf... Aku tahu aku sudah menghancurkan segalanya. Aku nggak berharap kamu memaafkanku, tapi aku harap kamu bisa melupakan aku dan melanjutkan hidupmu dengan baik," kata Gala dengan nada lirih, seolah ia pun merasa bersalah, namun rasa bersalah itu takkan mampu mengembalikan apa yang sudah hilang.
Hati Kirana terasa hancur berkeping-keping. Cinta yang ia bangun selama empat tahun lamanya lenyap seketika, digantikan oleh rasa kecewa, sakit hati, dan pengkhianatan yang terasa begitu menusuk di dasar jiwa. Ia sadar, tak ada lagi alasan baginya untuk bertahan di tempat yang hanya memberinya luka. Maka, dengan sisa kekuatan yang masih ada, Kirana memutuskan untuk pergi. Ia merantau ke kota yang jauh, berharap dengan berpindah tempat, ia bisa meninggalkan semua kenangan pahit itu dan memulai lembaran baru dalam hidupnya.
Namun, nasib baik seolah tak pernah sekalipun berpihak pada Kirana. Di kota yang baru itu, ia berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan, berusaha bangkit dari keterpurukan. Namun, takdir kembali memainkan peran yang kejam. Suatu hari, saat ia menaiki bus untuk pergi ke tempat tujuannya, sebuah kecelakaan terjadi secara tiba-tiba. Bus yang ditumpanginya terlibat tabrakan hebat.
Di antara kepanikan dan jeritan penumpang, nyawa Kirana melayang pergi. Ia meninggal dunia seketika, membawa serta semua luka, semua harapan yang tak sempat terwujud, dan semua cinta yang pernah ia berikan dengan tulus namun berakhir dengan pengkhianatan.
Empat tahun cinta, berakhir dengan air mata dan kepergian yang tak akan pernah kembali. Kisah mereka menjadi bukti bahwa tak semua janji manis berakhir bahagia, dan tak semua kesetiaan akan dibalas dengan ketulusan yang sama.