Namaku Rian, 34 tahun. Aku sudah menikah lima tahun dengan Sari, istriku yang lembut dan penyayang. Pernikahan kami berjalan biasa saja — nyaman, tapi tidak lagi membara seperti dulu. Yang membuat hidupku berubah total adalah adik iparku, Lia.Lia berusia 22 tahun. Dia adalah maut yang berjalan.Pertama kali aku melihatnya setelah dia dewasa, aku langsung tahu ada bahaya. Lia cantik luar biasa. Tubuhnya ramping tapi berlekuk sempurna: payudara 34D yang kencang dan penuh, pinggang kecil, pinggul lebar, kulit putih mulus seperti susu, rambut hitam panjang bergelombang, dan mata yang selalu terlihat nakal sekaligus polos. Senyumnya manis, tapi di balik senyum itu ada sesuatu yang gelap dan menggoda.Sejak Lia sering menginap di rumah kami (karena kosannya jauh dari kampus), aku mulai merasa tersiksa. Setiap pagi dia keluar kamar pakai daster tipis pendek, payudaranya bergoyang pelan, paha mulusnya terlihat jelas. Setiap sore dia duduk di sofa dengan kaki disilang, roknya naik sedikit, memperlihatkan garis celana dalam. Aku sering pura-pura sibuk di laptop, tapi sebenarnya kontolku sudah tegang di balik celana.Aku tahu ini salah. Dia adik ipar. Darah daging istriku. Tapi nafsuku lebih kuat dari akal sehat. Setiap malam aku berbaring di samping Sari, tapi yang ada di pikiranku adalah tubuh Lia.Malam itu Sari pergi ke rumah orang tuanya karena ibunya sakit. Rumah hanya aku dan Lia. Dia bilang mau menginap karena takut sendirian. Aku setuju, tapi dalam hati aku sudah gelisah sejak sore.Malam harinya, Lia keluar dari kamar mandi pakai daster tipis putih yang pendek sekali. Rambutnya masih basah, wangi sabun mandi vanila langsung menyebar. Dia duduk di sofa ruang tamu sambil nonton TV, kakinya disilang santai.Aku duduk di sebelahnya, berusaha menjaga jarak. Tapi Lia malah mendekat. Paha kami bersentuhan.“Kak Rian… Kakak kok diam saja?” tanyanya sambil tersenyum manis, matanya menatapku dalam.Aku menelan ludah. “Lia… kamu sudah besar ya sekarang. Dulu kecil suka ikut aku main, sekarang… sudah cantik sekali.”Dia tertawa kecil, lalu tiba-tiba condong ke depan untuk ambil remote di meja. Dasternya naik tinggi. Aku melihat jelas — dia tidak pakai celana dalam. Memeknya mulus, bibirnya sedikit terbuka, sudah agak basah mengkilap.Kontolku langsung mengeras keras.Lia pura-pura tidak sadar, tapi dia sengaja duduk lebih dekat lagi. Pinggulnya hampir menempel di pahaku. Aku tidak tahan lagi. Tanganku naik pelan ke paha Lia, mengusap dari bawah ke atas dengan pelan.Lia menoleh. Matanya sudah gelap, tapi ada sedikit keraguan. “Kak… ini salah… aku adik ipar Kakak…”Tapi dia tidak menjauhkan tanganku. Malah dia membuka kakinya sedikit lebih lebar.Aku berbisik serak di telinganya, “Lia… kamu tahu dari dulu aku ingin kamu. Kamu adalah maut buat aku. Setiap hari aku lihat kamu, setiap malam aku bayangin tubuhmu. Aku sudah gila.”Lia menggigit bibir bawahnya. Nafasnya mulai tersengal. “Kak… kalau aku maut… Kakak berani mati malam ini?”Dia tiba-tiba naik ke pangkuanku. Dasternya terangkat, memeknya langsung menempel di kontolku yang sudah keras di balik celana pendek. Dia menggesek pinggulnya pelan, basahnya sudah terasa menembus kain.Aku cium bibirnya ganas. Lidah kami saling menari liar, basah dan panas. Tanganku meremas payudaranya yang montok dari luar daster, lalu aku tarik daster itu ke atas sampai leher. Payudara Lia terbebas — besar, kencang, puting coklat muda sudah keras menantang.Aku hisap puting kirinya dalam-dalam. Lidahku muter pelan di sekitar areola, gigit kecil, lalu tarik kuat. Lia melengkung, tangannya pegang kepalaku erat.“Ahh… Kak… enak… hisap lebih kuat… hhh… gigit putingku lagi… ahhh… aku sudah basah banget Kak…”Aku hisap bergantian lama sekali, lidahku main-main di kedua putingnya sambil tangan meremas payudara yang satu. Lia menggelinjang di pangkuanku, memeknya semakin basah menggesek kontolku.Aku lepas daster sepenuhnya. Lia sekarang telanjang di pangkuanku. Aku geser celana pendekku, kontolku loncat keluar. Lia pegang dengan tangan gemetar, lalu masukkan sendiri ke memeknya pelan-pelan.“Ahhh… Kak… gede banget… hhh… pelan dulu… isi aku… dalem sekali… nyentuh rahimku… ahh… penuh sekali…”Lia mulai goyang pinggulnya pelan, naik-turun. Memeknya sangat sempit dan panas, nyedot kontolku kuat. Aku remas pinggulnya, membantu gerakannya sambil sesekali mendongkrak dari bawah.“Gerak lebih cepat, Lia… ahh… memek adik ipar enak sekali… nyedot kontol kakak terus… bilang kamu suka diginiin kakak ipar…”Lia semakin liar. Payudaranya bergoyang-goyang berat di depan mukaku. Aku hisap putingnya bergantian sambil dia goyang semakin cepat.“Kak… ahhh… lebih keras… entot aku… hhh… aku mau keluar… Kak… aku keluar… ahhhhh!!”Tubuh Lia menegang hebat. Memeknya berdenyut kuat, cairannya muncrat hangat membasahi kontolku dan paha kami. Orgasmenya sangat intens — badannya gemetar lama, napasnya tersengal-sengal, matanya berkaca-kaca karena kenikmatan yang terlalu kuat.Aku tidak tahan lagi. Aku angkat pinggulnya dan sodok dari bawah dengan kuat dan cepat. Beberapa detik kemudian aku keluar di dalamnya dengan desahan panjang. Cairan panas memenuhi rahimnya sampai meluap keluar, netes ke sofa.Kami berpelukan, keringat bercampur. Lia cium leherku pelan, bisik dengan suara lemah tapi puas.“Kak… aku tahu ini salah… tapi… aku sudah lama mau Kakak. Mulai sekarang… setiap Kak Sari tidak di rumah… aku mau jadi maut Kakak setiap malam.”Aku elus rambutnya, masih terengah-engah. “Kamu memang maut, Lia. Dan aku sudah mati malam ini.”Sejak malam itu, Lia benar-benar menjadi maut bagiku.Setiap kali Sari pergi ke rumah orang tuanya atau ke salon, Lia datang ke rumah. Begitu pintu tertutup, dia langsung telanjang dan meminta aku entot dia di sofa, di meja makan, di kamar mandi, atau di kasur pernikahanku sendiri.Dia suka dipeluk dari belakang sambil aku sodok pelan tapi dalam. Dia suka rambutnya ditarik sambil aku entot keras dari belakang. Dia suka diminta memohon sebelum aku masukkan kontolku.Dan setiap kali dia orgasme, dia selalu jerit nama aku dengan suara yang membuat aku semakin gila: “Kak Rian… ahhh… lebih dalam… hhh… aku keluar lagi… Kak… aku mati… ahhhhh!!”Aku tahu ini dosa besar.
Aku tahu aku sudah selingkuh dengan adik ipar sendiri.
Tapi Lia adalah maut. Dan aku sudah terlalu dalam untuk mundur.Sekarang, setiap kali melihat Lia tersenyum manis di depan Sari, aku hanya bisa diam. Karena di balik senyum itu, aku tahu malam nanti dia akan datang lagi — telanjang, basah, dan siap menjadi maut bagiku.Aku sudah tidak bisa lepas.
Lia adalah maut.
Dan aku rela mati setiap malam di pelukannya.