Rumah kami tidak pernah benar-benar ramai. Sejak awal, kami hidup sederhana—aku, suamiku, dan anak laki-laki kami satu-satunya, Raka. Waktu Raka kecil, rumah ini penuh suara: tawa, tangis, dan panggilan “Ibu” yang tak pernah lelah keluar dari mulut mungilnya. Ia dulu suka memelukku dari belakang saat aku memasak, mencuri potongan tempe goreng, lalu lari sambil tertawa.
“Bu, kalau aku besar nanti, aku mau jadi orang hebat,” katanya suatu sore.
Aku tertawa, mengusap rambutnya. “Jadi orang baik dulu, Nak. Nanti hebatnya ikut.”
Waktu itu aku tidak tahu, bahwa kalimat sederhana itu suatu hari akan menjadi doa yang tak pernah benar-benar terjawab.
---
Raka mulai berubah sejak masuk SMA.
Perubahan itu tidak terjadi tiba-tiba. Awalnya hanya hal kecil—lebih sering di kamar, lebih banyak diam. Aku pikir itu wajar. Anak remaja, kataku pada diri sendiri. Mereka memang sedang mencari jati diri.
Tapi lama-lama, diam itu menjadi dinding.
Ia mengunci pintu kamar hampir sepanjang hari. Keluar hanya saat lapar, mandi, atau pergi ke gym. Tangannya hampir tak pernah lepas dari ponsel. Tatapannya… kosong, tapi juga tajam. Seolah dunia di luar layar tidak lagi penting.
Aku mencoba mendekat.
“Raka, sekolah gimana hari ini?”
Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh dari layar.
“Teman-temanmu baik?”
Ia menghela napas panjang, seperti aku mengganggu sesuatu yang sangat penting.
“Iya, Bu. Biasa aja,” jawabnya singkat, datar.
Aku tersenyum, walau hatiku sedikit mencubit. “Ya sudah, makan dulu ya. Ibu sudah masak.”
Ia mengangguk lagi. Tidak ada senyum, tidak ada cerita.
Hari demi hari, percakapan kami semakin pendek. Semakin dingin.
---
Suamiku jarang di rumah. Ia bekerja sampai larut malam. Ketika pulang, Raka sudah tidur. Ketika Raka bangun, ayahnya sudah pergi lagi.
Mereka seperti dua garis yang tidak pernah bertemu.
Aku pernah mencoba bicara dengan suamiku.
“Mas, Raka sekarang beda. Dia makin tertutup. Aku takut…”
Suamiku hanya mengangguk, lelah. “Nanti juga berubah sendiri. Anak laki-laki memang begitu.”
“Tapi dia jadi kasar, Mas…”
“Namanya juga remaja. Jangan terlalu dipikirkan.”
Aku diam. Mungkin benar, mungkin tidak. Tapi hatiku tidak pernah merasa tenang.
Karena aku yang melihatnya setiap hari.
Aku yang merasakan jaraknya.
---
Suatu malam, aku mengetuk pintu kamarnya.
“Raka, Ibu masuk ya.”
Tidak ada jawaban. Aku membuka pintu perlahan.
Ia sedang duduk di kasur, ponsel di tangan. Lampu kamar redup.
“Ibu cuma mau ngobrol sebentar,” kataku pelan.
Ia tidak menoleh.
“Apaan sih, Bu? Aku lagi capek,” jawabnya ketus.
Hatiku seperti ditarik.
“Ibu cuma kangen ngobrol sama kamu…”
Ia menatapku. Tatapan itu… bukan lagi tatapan anak kecilku. Ada sinis, ada lelah, ada sesuatu yang membuatku tidak dikenali.
“Ngobrol apa sih? Gak penting banget,” katanya dengan nada tinggi.
Aku terdiam.
Untuk sesaat, aku tidak tahu harus berkata apa.
“Ya sudah… maaf ya, Nak,” kataku pelan, menutup pintu.
Di luar kamar, aku berdiri cukup lama.
Lalu tanpa sadar, air mataku jatuh.
---
Sejak itu, aku lebih sering diam.
Aku tetap memasak, mencuci, merapikan rumah. Menunggu. Selalu menunggu.
Kadang aku duduk di ruang tamu sendirian, menatap pintu kamar Raka yang tertutup.
Aku rindu suara langkah kecilnya.
Rindu ia memanggilku tanpa alasan.
Rindu ia bertanya hal-hal sepele.
Sekarang, rumah ini terasa… kosong.
Padahal kami masih bertiga.
---
Suatu hari, aku jatuh sakit.
Awalnya hanya pusing biasa. Lalu demam. Tubuhku lemah.
Aku tetap berusaha bangun, memasak untuk Raka.
Ketika ia keluar kamar, aku mencoba tersenyum.
“Makanannya di meja ya, Nak…”
Ia hanya mengangguk.
“Bu lagi kurang enak badan,” kataku pelan.
Ia berhenti sebentar. Aku berharap ia akan bertanya lebih.
Tapi ia hanya berkata, “Oh,” lalu duduk makan.
Hanya itu.
Aku kembali ke kamar dengan langkah pelan.
Di dalam, aku menangis.
Bukan karena sakitku.
Tapi karena sesuatu di dalam hatiku terasa… hancur.
---
Hari-hari berikutnya semakin berat.
Aku semakin sering sakit. Tapi aku tetap berusaha seperti biasa.
Aku masih berharap—suatu hari, Raka akan berubah.
Suatu hari, ia akan kembali.
Suatu hari, ia akan memelukku lagi.
Aku menunggu hari itu.
Tanpa tahu, waktuku ternyata tidak sepanjang harapanku.
---
Malam itu hujan turun deras.
Suamiku belum pulang. Raka di kamar seperti biasa.
Aku duduk di ruang tamu, memeluk diri sendiri. Napasku terasa berat.
Aku ingin memanggil Raka.
Ingin sekali.
Tapi aku takut.
Takut ia kesal lagi.
Takut tatapan itu.
Akhirnya aku hanya berbisik, hampir tanpa suara, “Raka…”
Tak ada yang mendengar.
Aku tersenyum pahit.
Air mataku jatuh lagi.
---
Pagi harinya, rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Raka keluar kamar seperti biasa.
“Ibu, sarapan—” kalimatnya terhenti.
Meja kosong.
Dapur sepi.
Ia melangkah ke kamar.
“Ibu?”
Tidak ada jawaban.
Pintu sedikit terbuka.
Ia mendorongnya perlahan.
Dan di sanalah… aku terbaring.
Diam.
Tidak lagi bernapas.
---
Dunia Raka berhenti.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ponsel di tangannya jatuh ke lantai.
“Ibu…?” suaranya bergetar.
Ia mendekat. Mengguncang bahuku.
“Ibu… bangun, Bu… jangan bercanda…”
Tidak ada jawaban.
Tangannya mulai gemetar.
“Ibu… maafin Raka… Bu…”
Air mata yang selama ini tidak pernah jatuh… akhirnya mengalir.
Ia memeluk tubuhku yang sudah dingin.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia menangis… seperti anak kecil lagi.
---
Hari itu, rumah kami kembali ramai.
Tetangga datang. Keluarga berdatangan.
Suamiku terduduk lemas.
Raka hanya diam di sudut ruangan.
Matanya kosong, tapi basah.
Ia melihat semua orang menangis.
Dan tiba-tiba ia sadar…
Satu-satunya orang yang selalu menunggunya… sudah tidak ada.
---
Setelah pemakaman, rumah kembali sunyi.
Lebih sunyi dari sebelumnya.
Raka duduk di ruang tamu.
Tidak ada suara TV.
Tidak ada suara dari dapur.
Tidak ada suara yang memanggil namanya.
Ia menatap pintu kamarnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin masuk ke sana.
Ia berjalan ke dapur.
Membuka tudung saji.
Kosong.
Tidak ada makanan hangat.
Tidak ada catatan kecil bertuliskan, “Makan ya, Nak.”
Dadanya terasa sesak.
---
Malam itu, Raka duduk di kamar ibunya.
Ia membuka lemari.
Di dalamnya, rapi tersusun pakaian.
Di sudut, ada sebuah buku kecil.
Ia mengambilnya.
Buku harian.
Tangannya gemetar saat membuka halaman pertama.
Tulisan itu… tulisan ibunya.
---
“Raka sekarang sudah besar. Ibu bangga… tapi juga sedih. Kita jarang ngobrol. Ibu kangen Raka yang dulu.”
Halaman berikutnya.
“Raka hari ini marah lagi. Mungkin Ibu salah cara. Tapi Ibu cuma ingin dekat denganmu, Nak.”
Halaman berikutnya lagi.
“Ibu sakit hari ini. Raka bilang ‘oh’ saja. Ibu tidak marah. Ibu cuma sedih… mungkin Ibu kurang penting sekarang.”
Air mata Raka jatuh ke halaman buku.
Ia membaca lagi.
---
“Ibu tidak butuh kamu jadi orang paling sukses, Nak. Ibu cuma ingin kamu jadi anak yang sholeh. Yang ingat Allah… dan ingat orang tuanya.”
Tulisan itu membuat dadanya seperti diremas.
Ia terisak.
“Ibu… maafin aku… Bu…”
---
Sejak hari itu, Raka berubah.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Ia mulai rajin sholat.
Ia sering duduk lama di kamar ibunya, membaca buku harian itu berulang-ulang.
Ia mulai membantu ayahnya.
Ia mencoba menjadi anak yang dulu diinginkan ibunya.
Tapi setiap malam, satu hal yang selalu menghantuinya—
Ia tidak pernah sempat mengatakan, “Aku sayang Ibu.”
---
Di suatu malam yang sunyi, Raka berdiri di depan makam ibunya.
Angin berhembus pelan.
Ia menatap nisan itu lama.
“Ibu… Raka janji… Raka akan jadi anak yang Ibu mau…”
Suaranya pecah.
“Bukan cuma sukses… tapi juga sholeh…”
Air matanya jatuh lagi.
“Maafin Raka ya, Bu… Raka telat…”
Ia berlutut.
Menangis.
Dalam diam.
---
Karena pada akhirnya…
yang paling menyakitkan bukan kehilangan.
Tapi penyesalan…
yang datang ketika semuanya sudah tidak bisa diperbaiki lagi.