Sudah 10 tahun berlalu dan aku masih dengan perasaan yang sama, masih tetap menyukaimu.
Aku ingin memberitahumu hal ini sejak dulu, saat aku masih berusia 16 tahun. Aku menyukaimu sejak usia itu. Tetapi kamu tidak tahukan?. Karena masa itu kamu telah bertemu dengan pujaan hatimu yang membuat aku mengurungkan niat untuk mengungkapkan perasaanku padamu.
Dan kini tepat 10 tahun aku menyukaimu. Setelah sekian lama aku tidak bertemu dan tak tahu bagaimana kabarmu kini kita bertemu lagi ditempat dimana kamu bersanding dengannya dipelaminan.
Aku memandangmu dengan hati yang aku sendiri tak tahu seperti apa. Rasa rindu akan melihat wajahmu, mendengar suaramu yang menimbulkan rasa tenang dalam hati. Tak sadar air mataku membasahi pipi, aku khawatir jika hal ini bisa membuat riasan pada wajahku rusak.
Jika saja aku bisa memutar kembali waktu, aku ingin kembali pada masa dimana aku masih berusia 16 tahun. Aku akan memaksa diriku dan memberanikan diri untuk mengatakannya padamu bahwa aku menyukaimu.
Kau ingat, saat kita bermain truth or dare bersama teman-teman saat itu? Saat mereka menanyakan siapa orang yang aku sukai? Aku akan mengatakan bahwa orang itu adalah dirimu bukan temanmu. Jujur saja aku menyesal mengapa aku berbohong pada diriku sendiri?.
Aku selalu berandai, bagaimana jika aku mengatakan hal berbeda? Apakah kita akan bersama saat ini atau mungkin hari ini orang yang menemanimu dipelaminan adalah aku?
Kata orang mencintai itu tidak harus memiliki tetapi apakah mereka tahu perasaan apa yang aku rasakan saat ini? Itu sangat menyakitkan. Memandangmu saja tidak bisa apalagi bertemu. Sekarang kamu sudah menjadi milik orang lain, aku semakin tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi sekarang aku tidak apa-apa asalkan kamu bahagia.
Aku selalu penasaran, jika aku bisa menanyakan hal ini padamu, apakah kamu merasakan hal yang sama sepertiku saat itu dimana kita masih berusia sangat muda? Apakah kamu merasakannya? Tolong jawab aku... Cintaku..
"Sayang kamu sedang baca buku apa?" suara dari seorang wanita berusia 30 tahun
"aah ini buku Novel My Love karya dari Michan" jawab seorang pria berusia 32 tahun.
"aah novel ini terkenal banget, aku mau beli ini ya! Kata orang ceritanya sedih soalnya sad ending, ya beli satu" ucap wanita itu
"hmm boleh deh aku juga ingin membacanya" jawab pria itu
Jadi orang yang kamu ceritakan saat itu adalah aku ya Mei? (batin pria itu)
Flasback
Disuatu aula sebuah gedung terdapat sebuah acara perusahaan. Aku bertemu dengan teman SMAku dia bernama Meira.
Pertama kali aku bertemu dengannya sejak lulus 9 tahun lalu, ia sangat berbeda sekali dengan dirinya saat itu, lebih cantik.
Aku sangat ingin menyapanya tetapi aku segan karena disampingnya ada seorang pria tampan, apa dia kekasihnya?. Ah aku tak peduli, aku akan menyapanya (batinku).
"Meira, apa kabar?" tanyaku padanya.
Meira terkejut saat aku menyapanya. Aku tak bisa membaca ekspresi wajahnya, membingungkan.
"ah, Afman? Hm baik kabarku baik sekali, kamu bagaimana?"
"baik juga kok, dia siapa?" tanyaku penasaran sambil menunjuk kearah pria disamping Meira yang sedari tadi mengganggu pandanganku.
"ah ini, kenalin dia temanku Ajun" ucap Meira
Teman? Benarkah? (batinku tidak percaya)
"oh temanmu, aku Afman salam kenal ya" ungkapku agak kesal sambil mengajaknya berjabat tangan.
"Ajun, salam kenal juga"
Saat tiba waktu santai, aku melihat Meira sendirian dibalkon itu tanpa ditemani temannya yang bernama Ajun itu. Karena instingku mengatakan bahwa ini kesempatanku untuk mengobrol dengannya, akupun menghampirinya.
"Meira, sedang apa disini?" tanyaku.
"eh Afman, aku hanya ingin sendiri saja, terlalu ramai didalam aku kurang suka" jawabku
"oh begitu ya"
Banyak hal yang kami bicarakan. Aku terkejut saat berbicara dengannya, membuat pandanganku terhadapnya berubah. Sebelumnya aku dan Meira tidak akrab jadi aku tidak mengenalnya lebih banyak. Dan aku baru mengetahunya saat ini ternyata dia memiliki pribadi yang positif. Aku tidak bisa akrab dengannya saat SMA karena perasaan canggung yang selalu timbul saat aku ingin dekat dengannya.
"Afman, jika kamu diberi kesempatan kembali kemasa lalu kamu ingin pergi kemasa apa?"
Tiba-tiba saja Meira bertanya seperti itu padaku yang membuatku terkejut.
"hmm masa lalu ya? Mungkin aku bakal ke masa waktu kecil kali ya, soalnya dimasa itu aku gak mikirin cicilan, terus biaya untuk pernikahan dan lain-lainnya" jawabku
"oh kamu bakal nikah?"
"hm iya, mungkin tahun depan, doain ya" ucapku
Aneh, mengapa dia terdiam saat aku membicarakan pernikahan.
"kalau kamu, mau pergi kemasa apa?" tanyaku mencairkan suasana
"a-aku? Kalau aku ingin kembali keusia 16 tahun, masa SMA"
"SMA? Kamu ga salah?" tanyaku tak percaya
"iya memangnya kenapa?"
"gak apa-apa sih, memangnya ada apa dimasa 16 tahunmu itu?" tanyaku penasaran
"dimasa itu aku dan dia masih bisa bertemu setiap hari, kalau sekarang gak bisa"
"kenapa gak bisa?"
"dia sudah pergi jauh jadi ga bisa"
"kenapa ga bisa?" Tanyaku pada Meira.
"orang dia gak tahu kalau aku suka sama dia"
"kenapa ga bilang?"
"gak bisa"
"kenapa gak bisa?"
"kami gak dekat, lalu setiap aku berbicara dengannya aku sangat canggung"
"bisa gitu ya"
"bisalah"
"trus kalau kamu bisa balik kemasa itu kamu mau bilang ga?"
"iya, aku bakal memberanikan diri untuk kasih tahu kalau aku suka dia"
"oohh aku bakalan bantuin kalau gitu, soalnya aku kan ada disana" ucapku padanya dengan bercanda
Meira hanya tersenyum saat aku berkata demikian.
"terimakasih, tapi kita harus jadi lebih dekat dulu, soalnya kita dulu gak dekat" ucap Meira
"haha siap Meira, laksanakan"
Meira hanya tersenyum tipis ketika aku membalasnya seperti itu dengan posisi tangan menghormat padanya dengan bercanda.
Saat itu aku tidak menyadarinya bahwa orang yang ia bicarakan adalah tentang diriku.
-End-