endingnya... ya lu tau lah.
---
*GERIMIS DI BAWAH MAHKOTA DURI*
*1. Putri yang Tidak Bisa Mimpi*
Di Kerajaan Aetherin, mimpi adalah mata uang. Rakyat tidur di menara kristal, dan setiap mimpi yang indah dipanen saat fajar untuk dijadikan cahaya kota. Makin indah mimpinya, makin terang istana.
Putri Elara dari Aetherin adalah satu-satunya yang tidak bisa bermimpi. Tiap malam, tidurnya kosong. Gelap. Akibatnya, sayap istana tempat kamarnya berdiri selalu remang, retak, dan dingin.
Tabib bilang itu kutukan. Pendeta bilang itu aib. Raja bilang itu rahasia negara.
Umur 20 tahun, Elara dijodohkan dengan Pangeran Cael dari Kerajaan Morvath. Alasannya politis: Morvath punya tambang “Batu Ingatan”, satu-satunya kristal yang bisa bikin Elara mimpi lagi. Mahar pernikahannya: 1000 Batu Ingatan.
Hari pertunangan, Elara pertama kali lihat Cael. Tinggi, jubah perak, mata seperti danau beku. Semua orang nunduk. Elara enggak. Dia nanya, “Kenapa mau nikah sama putri cacat?”
Cael jawab pelan, “Karena aku juga cacat. Aku nggak bisa lupa.”
*2. Pangeran yang Tidak Bisa Lupa*
Cael dari Morvath kena berkah sekaligus kutukan: tiap orang yang dia sentuh, ingatannya pindah ke kepala Cael. Tawa, dosa, cinta pertama, terakhir kali nangis. Semuanya numpuk. 25 tahun hidup, kepalanya isi 40.000 nyawa.
Makanya dia pakai sarung tangan besi. Makanya dia nggak pernah salaman. Makanya dia dingin.
Malam setelah pertunangan, Elara nyelinap ke perpustakaan istana. Ketemu Cael di sana, lagi muntah. Kebanyakan ingatan. Di lantai, berserak kertas: Cael nulis ingatan orang biar otaknya nggak meledak.
Elara jongkok. Nggak nyentuh. Cuma nyodorin sapu tangan. “Kalau aku nggak bisa mimpi, kamu kebanyakan ingatan. Kita pas, ya?”
Cael ketawa. Pahit. “Pas buat tragedi.”
Sejak itu mereka ketemuan tiap malam. Nggak pegangan. Nggak sentuhan. Cuma cerita. Elara cerita tentang gelap. Cael cerita tentang berisik. Lama-lama, sayap istana Elara nggak retak lagi. Agak hangat. Karena Cael diam-diam naruh Batu Ingatan di bawah bantal Elara. Nyolong dari peti mahar.
Minggu pertama, Elara mimpi. Mimpinya: Cael buka sarung tangan, terus dunianya nggak kiamat.
*3. Mimpi yang Dibayar Nyawa*
Batu Ingatan ternyata bukan tambang. Itu *jantung*. Jantung orang Morvath. Sihir kuno: 1 nyawa = 1 Batu Ingatan = 1 mimpi untuk bangsawan.
Raja Morvath, ayah Cael, udah ngorbanin 1000 rakyat buat mahar. Dan dia bakal ngorbanin 1000 lagi pas pernikahan, biar Elara bisa mimpi selamanya. Biar Aetherin terang selamanya.
Cael tau. Makanya dia benci tahta. Makanya dia terima dijodohin, biar bisa selundupin Elara keluar pas malam pernikahan.
Rencananya: Malam sebelum ijab, mereka kabur ke Pelabuhan Kabut. Naik kapal. Hidup sebagai bukan siapa-siapa. Elara nggak peduli nggak bisa mimpi lagi. Cael nggak peduli ingatannya numpuk. Asal bareng.
Malem itu, Elara udah pake jubah lusuh. Tas kecil. Di dalamnya: 3 Batu Ingatan sisa. Jaga-jaga kalau Cael kejang lagi.
Dia nunggu di taman istana. Gerimis turun.
Cael dateng. Lari. Tanpa jubah. Tanpa sarung tangan besi. Tangannya berdarah.
“Elara, pergi sekarang,” katanya. “Ayah tau. Gerbang dijaga. Satu-satunya cara...”
Dia nunjuk Menara Mimpi. Tempat semua mimpi rakyat disimpan. Di puncaknya ada “Mahkota Duri”, alat yang bisa bakar semua Batu Ingatan sekaligus, bikin satu mimpi terakhir untuk seluruh kerajaan. Mimpi abadi. Terang selamanya.
Tapi harganya: nyawa yang pake Mahkota. Dan nyawa yang diikat sama pemakainya.
Cael udah diikat ke Elara sejak pertunangan. Sihir kuno. Calon ratu dan raja.
“Kalau aku naik ke sana, aku mati. Kamu hidup. Selamanya bisa mimpi. Aetherin terang. Morvath stop ngorbanin orang,” kata Cael. “Itu lebih bagus dari kabur.”
Elara nangis. Pertama kali. “Terus aku? Hidup selamanya tanpa kamu? Itu bukan mimpi. Itu hukuman.”
Cael senyum. Pertama kali, tulus. Dia buka tangan. “Sekali aja. Pegang aku. Biar aku tau rasanya nyentuh orang dan yang masuk cuma satu ingatan. Ingatanmu.”
Elara nggak mau. Tapi Cael maksa. Dia genggam tangan Elara.
_JDEG._
Semua ingatan 40.000 orang hilang. Ketimpa. Yang ada cuma Elara. Elara umur 7, nyoba gambar mimpi padahal nggak pernah mimpi. Elara umur 15, nangis diem-diem karena dikatain putri gagal. Elara umur 20, bilang “kita pas buat tragedi”. Elara sekarang, gemeter, minta dia jangan pergi.
Cael jatuh dengkul. Kepalanya akhirnya... sepi. Sunyi. Damai. “Oh,” bisiknya. “Pantes semua orang cari cinta. Ternyata biar berisiknya diem.”
Penjaga datang. Tombak. Obor. Raja Morvath teriak: “Khianat!”
Cael berdiri. Cium kening Elara. Sekali. Terakhir. “Aku nggak nyesel. Di kepala gue, sekarang cuma ada kamu. Kalau aku mati, aku mati di dalam mimpi yang paling indah.”
Dia lari. Ke Menara Mimpi. Elara ngejar. Gerimis jadi hujan.
*4. Mahkota untuk Satu Orang*
Di puncak menara, Cael udah pake Mahkota Duri. Darah netes dari dahinya. Di bawah, 2000 Batu Ingatan menyala. Rakyat Morvath yang udah mati. Siap dibakar.
Elara sampe. Teriak, “CAEL! TURUN!”
Cael geleng. “Kalau aku turun, ayah bakal bunuh 2000 lagi buat nikahan pengganti. Kalau aku di sini, selesai. Nggak ada lagi tumbal.”
“TERUS AKU?!” Elara naik. Tangga licin. Jatuh. Bangun. Lutut berdarah. “KAMU JANJI KABUR BARENG!”
"Gue bohong," jawab Cael. Air mata + darah + hujan. "Soalnya kalau gue jujur, lu nggak mau tunangan sama gue dari awal."
Mahkota mulai panas. Batu Ingatan retak. Langit kebelah cahaya.
Cael ngeliat Elara terakhir kali. “Elara. Lu akhirnya bisa mimpi. Tolong... mimpikan gue sesekali. Di mimpi lu, gue nggak pake sarung tangan. Di mimpi lu, kita kabur. Sampai ke laut.”
_KRAK._
Mahkota aktif. Cahaya naik ke langit. 2000 Batu Ingatan jadi debu. Nggak ada lagi tumbal selamanya.
Cael jadi abu. Kena angin. Hilang.
Hujan berhenti. Aetherin, buat pertama kalinya, terang benderang. Terlalu terang. Silau.
Elara di puncak menara. Sendiri. Tangannya genggam udara. Kosong.
*5. Kerajaan Tanpa Mimpi Buruk*
10 Tahun Kemudian.
Ratu Elara dari Aetherin dijuluki “Ratu Cahaya”. Pemerintahannya adil. Nggak ada tumbal. Nggak ada mahar nyawa. Morvath + Aetherin damai.
Tiap malam, Elara tidur. Mimpinya cuma satu. Isinya sama. Selalu.
Dia + Cael. Di Pelabuhan Kabut. Naik kapal. Cael nggak pake sarung tangan. Pegang tangannya. Nggak ada ingatan masuk. Cuma anget. Mereka ke laut. Nggak pernah sampe. Kapalnya jalan terus. Selamanya.
Pagi, pelayan nemuin Ratu di balkon. Selimutan jubah perak yang udah usang. Di tangan: 1 Batu Ingatan. Terakhir. Nggak pernah dipake.
Karena Elara tau, kalau dia pake, mimpi Cael bakal hilang. Ketimpa mimpi baru. Dan dia nggak mau. Lebih baik nggak mimpi apa-apa lagi, daripada mimpi tanpa Cael.
Dia natap langit. Siang bolong. Tapi dia bisik, “Pagi, Cael. Tadi malem kita hampir sampe ke laut.”
Gerimis turun. Padahal kemarau.
Rakyat bilang itu berkah Ratu.
Cuma Elara yang tau. Itu langit yang nangis. Karena di istana, ada ratu yang nggak bisa berhenti mimpikan orang mati.
Sakitan? Iya 😏 Maaf ya... Dah diturutin.
Mau dibikin bikin lebih miris?
Sampai jumpa lagi 👋
Babak sayang-sayangku ~~~💋
Jangan salahkan author ya kalau misalnya kalian pembaca ada yang nangis!!! jujurry ceritanya ngeri juga ya...
Oh iya^ ini bukan cerita karangan ku sendiri ya! Author nya cuma ngarang dikit ceritanya sama menulis/ngetik aja dan ditambah serta diperbaiki oleh adikku!!!
Mohon maaf bila ada kata yang typo,kalau ada.. soalnya ada beberapa yang sudah kuperbaiki! 😉