Enam bulan sejak kaki Rissa melangkah keluar dari gerbang neraka itu, langit Jakarta seolah tidak pernah benar-benar cerah bagi penghuni rumah mewah keluarga Zola. Samuel Zola kini bukan lagi sekadar pria gagah; ia telah menjadi raksasa otot yang mengerikan. Tubuhnya makin besar, dada bidangnya makin lebar, dan urat-urat di lehernya selalu menegang seolah ada sesuatu yang merayap di bawah kulitnya. Sam menjadi pecandu beban, seolah dengan mengangkat ratusan kilogram besi, ia bisa menindih rasa kosong yang kian menganga di ulu hatinya.
Namun, kejantanan yang dipuja-puja Erma itu mulai menampakkan sisi gelapnya. Sam menjadi sangat temperamental. Di kamar utama yang beraroma mawar dan kemenyan, Erma mulai sering meringis kesakitan. Keperkasaan Sam yang dulu dianggapnya nikmat, kini berubah menjadi kebuasan yang tak terkendali. Sam sering berhalusinasi melihat sosok bayi mungil yang merangkak di atas dadanya yang berbulu lebat, bayi dengan wajah biru pucat yang membisikkan kata "pembunuh" tepat di telinganya.
Malam itu, badai petir mengamuk. Erma sedang duduk di depan cermin, mengoleskan minyak berbau aneh ke perutnya. Tiba-tiba, Sam masuk dengan napas memburu. Kaus singletnya basah oleh keringat dingin. Wajah gantengnya kini tampak cekung dengan lingkaran hitam di bawah mata, meski otot tubuhnya tetap tampak prima dan keras.
"Kenapa, Mas? Kau tampak ketakutan lagi?" Erma mencoba merayu, tangannya mengelus dada bidang Sam yang naik-turun dengan cepat.
Sam menepis tangan Erma dengan kasar hingga wanita itu tersungkur. "Hentikan, Erma! Bau ini... bau mawar ini... kenapa berubah menjadi bau busuk darah?! Dan kenapa setiap kali aku menyentuhmu, kulitmu terasa seperti sisik ular?"
Erma terbelalak. Ia bangkit, wajah cantiknya mengeras. "Itu hanya perasaanmu, Mas! Itu karena kau terlalu lelah berlatih. Sini, biarkan aku menenangkanmu."
"Tidak!" Sam berteriak, suaranya parau. "Aku baru saja dari dokter. Mereka bilang jantungku membengkak secara tidak wajar. Otot-ototku... mereka bilang ini bukan hasil gym biasa. Ada sesuatu yang merusak organ dalamku dari dalam, Erma! Apa yang kau berikan padaku?!"
Erma tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat melengking di tengah gemuruh petir. "Aku memberimu apa yang kau inginkan, Sam. Kau ingin menjadi pria paling perkasa untukku, bukan? Kau ingin menjadi raja di atas ranjang dan di mataku. Aku hanya mewujudkannya. Itu harga yang harus dibayar."
Sam mencengkeram bahu Erma, namun tiba-tiba ia tersedak. Dari mulutnya yang tampan, keluar cairan hitam kental yang berbau busuk—bau yang persis sama dengan janin Rissa yang membusuk dalam rahim dulu. Sam jatuh berlutut, dadanya yang bidang seolah hendak meledak.
Di saat yang sama, sebuah ketukan tenang terdengar di pintu depan.
Erma mengerutkan kening. Siapa yang berani bertamu di tengah badai? Ia melangkah turun, meninggalkan Sam yang mengerang di lantai kamar. Saat ia membuka pintu, sosok wanita berdiri di sana. Rissa Sarasvati.
Namun, Rissa yang berdiri di sana bukan lagi wanita layu yang berwajah rusak. Kulitnya telah kembali bersih, bahkan lebih bercahaya dari sebelumnya. Matanya yang dulu redup kini memancarkan kedamaian yang otoriter. Ia mengenakan pakaian putih sederhana, berdiri tegap tanpa rasa takut sedikit pun pada Erma.
"Kau?" Erma mendesis, tangannya meraba kantong gaun tidurnya, mencari boneka jerami. "Bagaimana wajahmu bisa...?"
"Sihirmu kembali kepada tuannya, Erma," ucap Rissa tenang. Suaranya terdengar seperti lonceng di tengah badai. "Aku tidak membalasmu dengan dukun. Aku membalasmu dengan doa di setiap sujud malamku. Dan Tuhan adalah sebaik-baiknya pembalas."
Erma mencoba merapalkan mantra, namun lidahnya tiba-tiba kelu. Ia merasakan panas yang luar biasa menjalar dari perutnya menuju wajahnya. Di depan mata Rissa, kulit Erma yang mulus mulai melepuh dan menghitam, bercak-bercak yang dulu ada di wajah Rissa kini berpindah ke wajah Erma dengan kecepatan yang mengerikan.
"Apa yang kau lakukan padaku?!" Erma menjerit, memegangi wajahnya yang mulai hancur.
"Aku tidak melakukan apa-apa," sahut Rissa. "Itu adalah akumulasi dari semua kezalimanmu. Teluh itu butuh inang. Saat aku melepaskan semua rasa benci dan mengikhlaskan kepergian bayiku, teluh itu tidak punya tempat lagi di tubuhku. Ia kembali mencari darah yang menciptakannya. Yaitu darahmu."
Rissa berjalan melewati Erma yang merangkak kesakitan, menuju lantai atas, ke arah kamar Sam. Di sana, Sam tergeletak di samping ranjang. Keperkasaannya telah menjadi beban. Otot-ototnya yang besar membuatnya sulit bernapas. Ia seperti raksasa yang tercekik oleh dagingnya sendiri.
Sam menatap Rissa dengan pandangan memohon. "Rissa... tolong aku... sakit sekali..."
Rissa duduk di lantai di samping suaminya—pria yang sebentar lagi akan menjadi masa lalunya sepenuhnya. Ia tidak menyentuh Sam, ia hanya menatapnya dengan rasa iba yang mendalam.
"Mas Sam," bisik Rissa. "Ingatkah saat kau bilang rahimku adalah kuburan? Saat kau lebih memilih bermain di atas tubuh wanita yang meneluhmu daripada menjaga istrimu yang sedang mengandung?"
Sam meneteskan air mata darah. "Aku... aku tidak sadar... Erma..."
"Jangan salahkan Erma sepenuhnya, Mas. Sihir hanya bekerja pada hati yang sudah memiliki benih pengkhianatan. Kau membuka pintu itu sendiri saat kau tergoda untuk menduakan aku. Kau membiarkan egomu sebagai pria 'perkasa' menelan rasa syukurmu."
"Maafkan aku, Rissa... tolong panggilkan dokter..."
Rissa menggeleng pelan. "Dokter tidak bisa menyembuhkan hati yang sudah membusuk, Mas. Dan otot-ototmu itu? Itu bukan kekuatan. Itu adalah bengkak dari dosa-dosamu yang menumpuk. Kau ingin menjadi kuat, sekarang kau mati karena kekuatanmu sendiri."
Tiba-tiba, sebuah kejutan besar terjadi. Erma merangkak masuk ke kamar dengan wajah yang sudah tidak berbentuk lagi. Ia menarik kaki Sam. "Sam... jangan dengarkan dia! Kita harus selesaikan ritualnya! Jika kau mati, aku juga mati!"
Sam menendang Erma dengan sisa tenaganya. "Pergi kau, setan!"
Namun, sebuah rahasia besar terucap dari mulut Erma di saat-saat terakhirnya. "Kau tahu, Sam? Bayi Rissa dulu... dia tidak meninggal karena teluhku saja. Dia meninggal karena aku mencampurkan racun ke dalam suplemen protein yang kau minum, dan racun itu masuk ke tubuh Rissa setiap kali kau memaksanya melayani nafsumu yang buas setelah kau bersamaku! Kau yang membunuh anakmu sendiri melalui tubuhmu, Sam! Aku hanya menonton!"
Sam mematung. Matanya melotot seolah hendak keluar dari kelopaknya. Kebenaran itu lebih mematikan daripada racun mana pun. Ia menatap tangannya yang besar, tangan yang ia banggakan, tangan yang ternyata membawa maut bagi darah dagingnya sendiri.
"AAAGHHHRRRRR!" Sam menjerit histeris. Jantungnya yang membengkak tidak kuat lagi menahan guncangan emosi itu.
Dalam satu entakan besar, Sam memuntahkan gumpalan daging hitam dari mulutnya, dan tubuh raksasanya mendadak kaku. Pria gagah perkasa dengan dada bidang itu tewas dalam kondisi yang mengerikan—tubuhnya mendadak menyusut dan keriput, meninggalkan kulit yang menggelambir di atas tulang yang besar. Sam mati dalam kehinaan, dikelilingi oleh bau busuk yang selama ini ia banggakan sebagai aroma kejantanan.
Erma juga tidak bernapas lagi di kaki ranjang, wajahnya hancur total seolah habis terbakar api yang tak terlihat.
Rissa berdiri. Ia menatap kedua jenazah itu tanpa rasa dendam lagi. Ia mengeluarkan sepotong kain putih dari tasnya—kain bedong milik bayinya yang dulu sempat ia simpan. Ia meletakkannya di atas dada Sam yang sudah tak berdetak.
"Sekarang kalian sudah mendapatkan apa yang kalian kejar," ucap Rissa lirih. "Keperkasaan yang fana dan kecantikan yang menipu."
Rissa berjalan keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Di luar, hujan mulai mereda. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur. Rissa menghirup udara pagi yang segar, merasakan rahimnya tidak lagi perih. Ia tahu, di suatu tempat di surga, bayinya sedang tersenyum karena ibunya telah memenangkan pertempuran tanpa harus menjadi monster yang sama.
Rumah mewah itu kemudian disita karena utang-utang Sam yang menumpuk akibat gaya hidup gilanya di bawah pengaruh Erma. Tak ada yang mau membeli rumah itu karena konon setiap malam terdengar suara tangisan bayi dan suara beban besi yang jatuh berdentang di ruang gym yang kosong.
Rissa Sarasvati menghilang dari hiruk-pikuk kota. Kabar terakhir mengatakan ia mendirikan sebuah yayasan untuk wanita korban KDRT dan trauma kehilangan anak. Ia hidup dalam kedamaian, membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada dada yang bidang atau otot yang perkasa, melainkan pada hati yang mampu memaafkan tanpa harus melupakan keadilan Tuhan.
Mind blowing bagi siapa pun yang pernah mengenalnya: Rissa yang dianggap hancur, justru menjadi satu-satunya yang tetap berdiri tegak saat raksasa-raksasa zalim itu tumbang oleh kesombongan mereka sendiri. Akhir yang tragis bagi yang zalim, dan awal yang indah bagi jiwa yang tulus.
TAMAT