Namaku Andi, 28 tahun, bekerja sebagai sopir pribadi Pak Budi, seorang pejabat tinggi di dinas pemerintahan Kota X. Gaji lumayan, mobil dinas mewah, dan rumah besar dengan kolam renang di pinggir kota yang tenang. Tapi yang paling menggoda bukan gaji atau fasilitas itu. Melainkan istrinya, Bu Rina.
Bu Rina berusia 42 tahun, tapi tubuhnya seperti perempuan 30-an. Kulitnya putih mulus bak susu, rambut hitam panjang bergelombang yang sering diikat sederhana. Payudaranya montok ukuran D-cup, selalu terlihat menonjol di balik kebaya atau blouse satin yang dia pakai sehari-hari. Pinggulnya lebar, pantatnya bulat kencang yang bergoyang pelan saat berjalan. Wajahnya cantik dengan mata sipit yang penuh nafsu tersembunyi, bibir tebal merah alami, dan senyum manja yang bisa bikin kontolku langsung tegang.
Pak Budi sering dinas ke Jakarta atau luar negeri. Katanya rapat penting, proyek nasional, tapi aku tahu dia lebih sibuk dengan sekretaris mudanya. Bu Rina ditinggal sendirian di rumah mewah itu di Kota X bersama pembantu dan aku. Awalnya aku cuma sopir biasa, tapi lama-lama Bu Rina mulai sering ngobrol sama aku. Mulai dari cuaca, lalu ke keluhan suaminya yang jarang pulang, sampai akhirnya obrolan yang semakin genit.
Malam itu, hari Senin, Pak Budi baru saja berangkat ke Bandara Juanda untuk dinas seminggu penuh. Rumah sepi di kawasan elite Kota X. Jam 9 malam, HP-ku berdering. Bu Rina.
"Mas Andi, tolong ke kamar utama ya. AC-nya rusak lagi, panas sekali."
Aku langsung naik ke lantai dua. Begitu masuk kamar master yang luas dengan tempat tidur king-size dan lampu temaram, Bu Rina sudah berdiri di depan cermin. Dia pakai daster tipis warna merah maroon, tanpa bra. Putingnya jelas menonjol di balik kain satin yang hampir tembus pandang. Bawahannya? Tak ada celana dalam. Aku bisa lihat bayangan memeknya yang rapi dari balik kain.
"Bu... AC-nya mana yang bermasalah?" tanyaku pura-pura profesional, tapi mata tak bisa lepas dari lekuk tubuhnya.
Bu Rina mendekat, aroma parfum mahalnya langsung menusuk hidungku. "AC-nya sih nggak rusak, Mas. Tapi aku yang panas..." katanya sambil tersenyum nakal. Tangan kanannya langsung meraba selangkanganku. Jari-jarinya menggosok pelan kontolku yang sudah mulai mengeras di balik celana jeans.
"Bu Rina... ini nggak boleh," kataku lemah, tapi tubuhku tak menolak.
"Sst... suami saya jarang kasih aku yang enak-enak. Sudah hampir tiga bulan kontolnya nggak masuk memekku. Kamu mau bantu aku malam ini, Mas? Aku janji, rahasia kita berdua." Suaranya lembut, tapi penuh hasrat. Matanya berkaca-kaca karena lama menahan nafsu di Kota X yang sepi ini.
Aku tak tahan lagi. Tanganku langsung memeluk pinggang rampingnya, menarik tubuhnya ke dadaku. Bibir kami bertemu dalam ciuman rakus. Lidahku menyelusup masuk, menari dengan lidahnya yang panas dan basah. Bu Rina mendesah di dalam mulutku, "Mmm... enak, Mas..."
Tangan kananku merayap ke payudaranya, meremas lembut dulu, lalu lebih keras. Putingnya sudah keras seperti batu. Aku cubit pelan, Bu Rina menggelinjang. "Ahh... iya, remas lebih keras... aku suka kasar sedikit."
Aku dorong tubuhnya ke kasur. Dasternya kusingkap ke atas, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sempurna. Payudara montok itu bergoyang saat dia berbaring. Perutnya rata, pinggul lebar, dan memeknya sudah basah mengkilap. Bulu halusnya dicukur rapi membentuk strip tipis, bibir memeknya tebal dan merah jambu, klitorisnya sudah menonjol minta dijilat.
Aku berlutut di antara pahanya yang terbuka lebar. Aroma memeknya manis bercampur parfum. Lidahku langsung menyentuh bibir memeknya, menjilat dari bawah ke atas pelan-pelan. Bu Rina menggeliat hebat, tangannya memegang kepalaku. "Aduhh... Mas Andi... jilatlah lebih dalam... ahh... enak sekali!"
Aku masukkan lidahku ke dalam lubang memeknya yang sempit dan panas, mengecap cairan kentalnya yang asin-manis. Dua jariku ikut bermain, menggosok klitorisnya dengan gerakan melingkar. Bu Rina semakin liar, pinggulnya naik-turun menyambut jilatanku. "Lebih cepat, Mas! Aku mau keluar... ahhh!"
Tak sampai lima menit, tubuhnya kejang. Memeknya berdenyut-denyut, menyemprotkan cairan bening ke wajahku. "Aku keluar... ya Tuhan... enak banget!"
Aku bangkit, melepas celana dan baju. Kontolku sudah ngaceng maksimal, panjang sekitar 18 cm, tebal, dengan kepala merah mengkilap. Bu Rina memandangnya dengan mata lapar. "Kontolmu besar sekali, Mas. Lebih gede dari suamiku."
Dia bangun, duduk di tepi kasur, lalu langsung menyambut kontolku dengan mulutnya yang hangat. Bibir tebalnya melingkari kepala kontol, lidahnya berputar-putar di lubang kecilnya sambil mengisap pelan. Tangan kirinya meremas bola-bolaku, tangan kanannya mengocok batang kontol yang tak masuk mulut. "Mmm... enak... aku suka rasa kontol muda..."
Aku pegang kepalanya, pelan-pelan mendorong kontol lebih dalam ke tenggorokannya. Bu Rina tak mual, malah semakin rakus. Suara isapan basah "slurp slurp" memenuhi kamar mewah di rumah elite Kota X.
Tak tahan lama, aku tarik kontol keluar. "Sekarang giliran aku yang ngentot Bu."
Aku suruh dia posisi doggy style. Pantat bulatnya terangkat sempurna di depanku. Aku gesek-gesek dulu kepala kontol di celah memeknya yang licin, lalu dorong masuk perlahan. "Oohhh... penuh... kontolmu ngisi memekku semua, Mas! Ahh... pelan dulu..."
Aku mulai hentak pelan, masuk-keluar dengan ritme sedang. Tangan kiriku meremas payudaranya dari bawah, tangan kanan menampar pantatnya pelan. Suara "plok plok plok" semakin keras seiring aku percepat. Bu Rina goyangkan pantatnya ke belakang, menyambut setiap tusukan dalam. "Lebih kencang, Mas! Ngentot aku seperti pelacur... ahh... enak!"
Keringat kami bercampur. Aku tarik rambutnya pelan, membuat punggungnya melengkung. Kontolku menghantam dasar memeknya berulang kali. Bu Rina sudah orgasme kedua kalinya, memeknya menyempit kuat menyedot kontolku. "Aku keluar lagi... jangan berhenti!"
Aku balik posisinya jadi missionary. Kaki Bu Rina kulingkarkan di pinggangku. Aku tusuk dalam-dalam sambil cium bibirnya rakus. Payudaranya bergoyang hebat di depan wajahku. Aku hisap putingnya bergantian, gigit pelan. Bu Rina menjerit nikmat, "Ya... gigit putingku... ahh... aku milikmu malam ini!"
Setelah hampir 20 menit ngentot tanpa henti, aku rasakan sperma naik. "Bu... aku mau keluar..."
"Keluar di dalam aja, Mas... aku mau rasain panasnya sperma muda di rahimku!" jeritnya.
Aku hentakkan kontolku sekuat tenaga beberapa kali terakhir, lalu suntikkan sperma panasku dalam-dalam ke memeknya. Jet demi jet menyembur, memenuhi rahim Bu Rina. Tubuhnya kejang lagi, orgasme ketiganya menyusul. Kami berdua ambruk ke kasur, napas tersengal, tubuh basah keringat di kamar yang sejuk itu.
Malam itu belum berakhir. Setelah istirahat 15 menit, minum air, Bu Rina sudah merangkak lagi ke pangkuanku. "Masih mau kan, Mas? Aku belum puas."
Kali ini dia yang naik ke atas, cowgirl style. Memeknya yang masih penuh campuran sperma dan cairannya sendiri melahap kontolku lagi. Dia goyang pinggulnya naik-turun dengan liar, payudaranya bergoyang-goyang indah di depanku. Aku remas keduanya, cubit putingnya. "Ride kontolku lebih cepat, Bu!"
Bu Rina semakin ganas, pantatnya berdebam-debam keras ke pangkal pahaku. "Ahh... kontolmu enak... lebih dalam... aku mau jadi pelacurmu setiap suami pergi!"
Kami ganti posisi lagi: standing doggy di depan cermin kamar. Aku berdiri di belakangnya, memegang pinggulnya sambil ngentot dari belakang. Kami bisa lihat pantulan tubuh kami di cermin – wajah Bu Rina penuh kenikmatan, payudaranya bergoyang, kontolku masuk-keluar memeknya yang merah membengkak di rumah mewah Kota X.
Hampir tengah malam, kami lakukan ronde ketiga di kamar mandi. Di bawah guyuran air shower hangat, aku angkat satu kaki Bu Rina, lalu sodok kontolku lagi. Air bercampur cairan kami mengalir ke lantai. Bu Rina berpegangan di dinding, desahannya bergema. "Ngentot aku di sini... ahh... aku suka basah-basahan!"
Akhirnya, setelah hampir dua jam penuh aksi, kami berdua ambruk di kasur lagi. Bu Rina memelukku erat, kepalanya di dada. "Besok malam lagi ya, Mas Andi. Bahkan kalau suami pulang, kita cari cara. Aku sudah ketagihan kontolmu di Kota X ini."
Sejak malam itu, hubungan terlarang kami berlanjut hampir setiap hari. Kadang di mobil dinas saat antar-jemput di jalan-jalan Kota X, Bu Rina hisap kontolku di kursi belakang sambil aku nyetir pelan di jalan sepi malam hari. Kadang di ruang kerja Pak Budi saat dia dinas, aku ngentot Bu Rina di meja kerjanya yang mewah. Bahkan suatu sore, saat pembantu libur, kami lakukan di kolam renang belakang rumah – tubuh basah, kontolku masuk dari belakang sambil dia berpegangan di tepi kolam, air bergoyang mengikuti hentakan kami.
Bu Rina yang di depan umum terlihat sebagai istri pejabat alim di Kota X, berkebaya sopan, tersenyum manis di acara resmi pemerintahan, ternyata di balik pintu tertutup adalah perempuan liar yang haus seks. Dia suka aku panggil dia "pelacurku", suka diminta posisi kasar, suka ditampar pantatnya sampai merah.
Suatu malam, Pak Budi hampir pulang lebih cepat dari jadwal. Bu Rina panik tapi juga excited. "Cepat, Mas. Kita lakukan sekali lagi sebelum dia tiba di Kota X."
Kami ngentot cepat di garasi, Bu Rina berdiri membungkuk di kap mobil dinas, aku ngentot dari belakang dengan cepat. Spermaku kutembakkan ke dalam memeknya lagi, lalu dia buru-buru rapihkan diri. Saat Pak Budi turun dari taksi di depan rumah, Bu Rina sudah duduk manis di ruang tamu, memeknya masih meneteskan sisa spermaku yang hangat.
Aku tersenyum dalam hati. Istri pejabat ini sekarang milikku setiap kali suaminya lengah di Kota X.
Hubungan kami terus berlanjut selama berbulan-bulan. Bu Rina bahkan mulai beli lingerie seksi khusus untuk aku – bra transparan, thong kecil, stokking hitam. Dia suka bilang, "Suamiku kasih aku uang dan status di Kota X, tapi hanya kamu yang bisa bikin memekku basah dan puas."
Suatu hari, saat Pak Budi dinas ke luar negeri dua minggu, Bu Rina ajak aku tidur di kamar utama setiap malam. Kami eksplorasi banyak posisi baru: 69 sambil saling jilat, anal (dia bilang pertama kali tapi ternyata suka), bahkan main dengan mainan seks yang dia beli online dan dikirim ke alamat rahasia di Kota X.
Malam terakhir sebelum Pak Budi pulang, Bu Rina bilang sambil memelukku setelah orgasme hebat, "Aku cinta suamiku, tapi aku butuh kamu, Mas Andi. Jangan pernah berhenti ngentot aku ya di Kota X ini..."
Aku cuma tersenyum dan cium keningnya. Rahasia terlarang ini akan terus berlanjut, selama Pak Budi sibuk dengan jabatannya, dan Bu Rina sibuk dengan nafsunya yang tak terpuaskan di balik kehidupan mewah di Kota X.