Aku berdiri di balkon depan kelasku.
"Kakak itu ganteng banget," batinku.
Suasana sekolah pagi itu sangat ramai karena tahun ajaran baru, baru saja dimulai. Aku dan anak-anak lain saling memperkenalkan diri masing-masing.
“Saya Rena, dari SMP Jelita," ucapku memperkenalkan diri di depan kelas.
Suara tepuk tangan terdengar setelah aku selesai memperkenalkan diri. Aku tersenyum dan dipersilahkan duduk kembali oleh wali kelas.
"Eh, katanya nanti kita kumpul di lapangan. Mau ada perkenalan ekskul,” ucap Yunia, teman sebangkuku.
Aku mengangguk penuh semangat. Kami adalah murid baru di SMA Tabira.
Jam pelajaran kedua, kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan. Aku duduk di barisan kedua bersama Yunia. Kami semua fokus melihat pertunjukkan ekskul dari Kakak Kelas.
Tiba giliran ekskul modelling. Oh kakaknya ekskul modelling. Aku tersenyum malu-malu melihatnya catwalk di lapangan.
"Nanti kalian bisa langsung daftar ke ekskul yang kalian suka ya,” ucap Ketua Osis.
“Ya Kak," jawab kami serempak.
Aku berjalan cepat ke arah booth modelling. Tapi…
“Kenapa harus pake hotpants sih?!" gumamku sambil memonyongkan bibir.
"Ini bukan jiwa lu sih,” ucap Hanny, teman SMPku. Dia berbeda kelas denganku.
"Tapi gue pengen! Tapi malu!” jawabku dengan suara manja.
"Ih manjanya anak dugong,” ucapnya mendelik.
Wajahku langsung datar dan memberikan gesture seolah-olah sedang meninjunya. Hanny menatap datar.
Aku memutuskan untuk mengintip saja di booth modelling.
"Oh namanya Ryan," batinku.
Aku tersenyum sendiri saat mengetahui namanya.
Kak Ryan termasuk salah satu idola di sekolahku. Dia masuk dalam jajaran teratas bersama dengan artis-artis yang ada di sekolahku. Dia memiliki alis yang tebal, rambutnya hitam dan agak sedikit bergelombang.
"Gue udah daftar Ren! Lu jadi daftar gak?” tanya Yunia.
"Gak jadi Yun,” jawabku tertawa canggung.
Yunia langsung memukul bahuku. Aku hanya tertawa kecil.
Keesokan harinya.
"Eh gue punya WA Kakak ganteng itu” ucap Yunia sumringah.
"Kakak ganteng yang mana?” tanyaku.
"Kak Ryan, Kak Gio, Kak Fendy dong,” jawabnya.
Aku membelalakkan mataku, dan melihat ponsel Yunia dengan mata berbinar.
"Gue minta ya,” ucapku dengan suara memelas.
"Iya boleh,” ucap Yunia sumringah.
"Kalo tau gampang mintanya, gue gak akan memelas jir," pikirku.
Aku langsung menyimpan nomor WA mereka. Aku terus memandangi ponselku dengan penuh senyuman.
Jam di ponsel menunjukkan pukul 15.05, bel tanda waktunya pulang sudah berbunyi sejak lima menit lalu.
“Han, bareng gak pulangnya?" tanyaku dari luar kelas Hanny.
“Lu duluan aja! Gue masih ngerjain pajangan buat kelas dulu," jawab Hanny sambil menggunting kertas warna.
Aku mengangguk dan memutuskan pulang seorang diri.
Di stasiun, aku duduk menunggu kereta sambil memainkan ponsel. Terlihat sekelebat bayangan orang. Aku melihatnya, dan langsung tertegun.
"Kak Ryan ada di depan gue," batinku.
Senyumku mengembang, ponsel di tanganku terjatuh ke lantai peron. Kak Ryan menoleh ke arahku. Dia mengangguk padaku, dan tersenyum.
Aku membalas senyumannya. Pipiku terasa memanas, jantungku berdetak cepat.
"Gue pengen ngumpet, malu," batinku.
Di kereta aku terus memandanginya. Setiap Kak Ryan melihatku, aku langsung memalingkan wajahku berpura-pura melihat ponselku. Aku bisa melihat senyum tipis Kak Ryan saat melihatku.
Kak Ryan turun lebih dulu dari pada aku.
"Berarti bisa bareng tiap hari dong," pikirku.
Aku tersenyum sendiri membayangkan momen itu. Untunglah kereta kosong.
Di rumah, aku terus melihat ponselku.
“Gue chat apa ya?" bisikku.
Aku memainkan rambutku. Berpikir.
"Ah ya, gue dan Kak Ryan satu SMP. Thank you Hanny udah ngasih info penting tadi pagi,” ucapku sambil berguling-guling di kasur.
"Halo Kak Ryan. Aku Rena. Kita satu SMP. Kakak lagi apa?" Isi pesanku pada Kak Ryan.
Aku terus memantau ponselku, “kenapa lama banget sih balesnya?"
Beberapa menit kemudian. Ting.
Aku yang awalnya ingin ke toilet langsung mengurungkan niat itu.
"Halo juga Rena. Lagi nonton berita nih hehe," jawabnya.
Aku memeluk erat bantal dan berguling-guling di kasur. Teriakanku teredam oleh bantal yang menutupi wajahku.
Jariku gemetar saat akan membalasnya kembali.
“Gue kenapa?" ucapku melihat jariku terus gemetar.
Aku menarik nafas dalam.
"Kak, aku suka sama Kakak. Tapi Kakak gak usah jawab ya," balasku. Suara detak jantungku terdengar jelas di telingaku.
"Oh ya makasih," jawabnya. Aku tersenyum membaca jawabannya.
Keesokan harinya, aku berangkat sekolah bersama Yunia dan Hanny. Di kereta kami sibuk mengobrol sambil melirik Kak Ryan yang berdiri di gerbong sebelah.
"Eh gue beli roti dulu ya,” ucap Yunia.
"Ok,” jawab kita berdua.
Kita berdua menunggu di pintu keluar stasiun.
Tiba-tiba…
Aku melihat Kak Ryan akan keluar stasiun.
Di mataku, di sekelilingnya seperti ada banyak guguran bunga sakura berwarna merah muda dengan sentuhan kabut-kabut seperti di film-film romantis saat tokoh utama pria mendatangi wanitanya.
Dia tersenyum saat melihatku.
Perutku terasa seperti ada yang berterbangan, jantungku terasa berpindah ke kaki, dan kakiku seperti lemah tidak ada tulang.
Aku membalas senyumannya.
"Kenapa rasanya aneh?"
"Kenapa di sekitar Kak Ryan ada banyak kupu-kupu?" Pikirku.
Dia terus berjalan melewatiku. Yunia sudah selesai membeli roti. Kami pun berjalan di belakang Kak Ryan dan temannya.
“Kita kagetin Kak Ryan yuk," ajak Hanny.
“Ayok," jawabku.
Kita berdua bersiap mengagetkan Kak Ryan. Tapi…
“Kenapa tangan gue gemeteran?" tanya Hanny.
“Tangan gue juga gemeteran," jawabku.
Kita berdua saling pandang.
“Jantung gue deg-degan," ucap Hanny.
“Sama," jawabku.
“Kita aneh," ucap Hanny.
Kita berdua diam membeku. Saling pandang.
“Dasar bocah aneh," ucap Yunia sinis.
Kita berdua nyengir.
Kita berdua melihat tangan masing-masing yang masih gemetar. Bahkan kita saling memegang dada untuk mengecek detak jantung yang terasa aneh ini.
Di sekolah. Saat jam istirahat, aku dan Hanny keluar dari ruang TU. Kami berjalan melewati aula, dan kami berpapasan dengan Kak Ryan dan Kak Gio. Jantungku langsung berdetak cepat, tubuhku terasa aneh setiap melihat Kak Ryan.
"Kenapa gue selalu malu dan deg-degan kalo ketemu Kak Ryan?" batinku.
Aneh.
Sepulang sekolah, aku membantu Mama memasak untuk menyiapkan makan malam.
“Mah, masa Hanny tiap ketemu Kakak kelas selalu deg-degan, terus kaya ada yang terbang-terbang di perut, pas kakak kelas itu senyum langsung berasa terbang gitu. Aneh ya Mah si Hanny,” jelasku sambil memotong sayuran dengan sangat berantakan.
"Itu namanya jatuh cinta,” ucap Mama tersenyum sambil melihatku.
"Oh gitu ya Mah,” jawabku tersenyum malu.
"Besok kasih tau Hanny ah,” ucapku.
Mama hanya tersenyum sambil melihatku. Entah apa yang dipikirkannya.
Hari semakin malam. Di kamarku, aku tiduran sambil memainkan ponsel.
"Halo Kak, aku Rena," isi pesanku pada Kak Ryan.
"Ya halo Rena," balasnya.
"Kak, aku suka sama Kakak. Tapi, aku maunya jadi adik kakak aja. Boleh gak jadi adik kakak?" tanyaku.
"Boleh kok," balasnya.
"Makasih Kak," balasku.
"Sama-sama," balasnya.
Aku langsung menaruh ponselku di meja samping.
"Gue gak mau ngerusak cinta pertama gue. Kalo gue jadian dan nantinya putus, gue dan Kak Ryan bakalan jadi musuh. Tapi kalo kakak adik kan lebih long lasting. Gue yakin ini bener," gumamku.
Keesokan harinya di sekolah. Aku cemburu melihat interaksi Kak Ryan dengan anak perempuan lain. Tapi semua itu sirna saat aku melihat senyum dan tawa Kak Ryan. Kebiasaan Kak Ryan yang sering aku perhatikan, ia sangat sering mengacak-ngacak rambutnya dengan tangan kanannya saat berinteraksi dengan orang yang baru ia kenal.
“Hhmm Kak Ryan jadi imut kalo gugup," gumamku.
Setiap hari ada saja anak perempuan yang mendekati Kak Ryan. Dia ramah dan terbuka pada siapa saja, hanya saja aku terlalu malu untuk selalu mendekatinya.
Setelah pengakuan itu. Aku selalu menahan diri untuk tidak berinteraksi dengan Kak Ryan. Setiap aku bertemu Kak Ryan, aku akan langsung putar balik untuk menghindarinya. Pernah suatu kali tidak sengaja berpapasan, aku langsung menghindari kontak mata dengannya.
"Maaf Kak, aku gak mau ngerusak cerita indah cinta pertamaku," batinku.
Sepulang sekolah aku dan Kak Ryan selalu naik kereta yang sama. Aku sudah berada di dalam gerbong dan berdiri di dekat pintu saat Kak Ryan berjalan di peron. Mata kami tanpa sengaja saling pandang. Aku tersenyum dan dia pun membalas senyumanku sembari mengangguk.
“Manis banget cinta pertama gue," gumamku.
"Kalo Kakak jodohku, ayolah mendekat,” gumamku.