Kenalin, gue Aiden. Di dunia bawah tanah, nama gue bukan sekadar nama—tapi tanda bahaya. Gue adalah pembunuh bayaran kelas atas yang kehadirannya ditakuti semua orang. Kalau target udah masuk radar gue, anggap aja urusan mereka di dunia ini udah selesai.
"Woy, tangkap dia!" teriak seseorang yang sambil berlari ke arah nya.
brak...
"Sudah 5 tahun ya" ujar seorang pria yang tampangnya misterius.
"Gue sampe muak tau gak nyariin lo" lanjut nya.
"Tebas gue sekali aja. Inget, gue benci sakit" ujar Aiden si pemeran utama.
---
(di kamar)
"Hah! Hah! Gue... gue nggak mati? Leher gue utuh?" ujar Aiden yang tersentak dan langsung memegangi leher nya yang masih utuh.
(Aiden pun menatap sekeliling nya.)
"Gue... gue di rumah? Ini kamar gue?" ucap Aiden terkejut.
"woi kak, di panggil ibu tuh, molor terus kerjaan Lo" ujar Alora yang tiba tiba masuk ke kamar.
"Alora?" ujar Aiden dengan nada sedikit terkejut.
"Loh, kenapa muka lo gitu? Serem banget. Lo sehat kan, Kak?" Ucap Alexa.
(Aiden langsung melompat dari kasur dan memeluk Alora dengan sangat erat. Tenaganya yang besar membuat Alora sesak napas.)
"Aduhh! Kak! Lepasin! Lo kenapa sih?!" Kata Alexa yang kesal.
"Lo hidup... lo beneran di sini. Gue nggak bakal biarin siapa pun nyentuh lo lagi." Ujar Aiden.
---
(di dapur)
"I-ibu...?" Ujar Aiden.
"Eh, Aiden. Sudah bangun? Sini makan, Sayang. Habis mimpi buruk ya kata Alora tadi?"
(Memeluk Ibunya lama sekali)
"Ibu sehat kan? Nggak ada yang sakit?" Tanya Aiden paada ibunya.
"Ibu sehat, Nak. Kamu ini kenapa sih? Kayak nggak ketemu sepuluh tahun aja." Jawab ibu sambil tertawa kecil.
(ayah masuk ke rumah, meletakkan barang)
"Wah, jagoan Ayah kenapa melow gini? Tadi di depan Ayah liat kamu pelukan sama Ibu lama banget." Ucap ayah.
(Aiden menatap Ayah)
"Ayah... selamat datang di rumah." Ucap Aiden dengan perasaan yang masih campur aduk.
---
(saat duduk di meja makan)
"Nak, kata Ibu tadi kamu nangis gara-gara mimpi buruk ya?" ujar ayah sambil mencuci tangannya.
"Yaelah, masa jagoan Ayah cengeng sih" lanjut nya.
"kan kak Aiden emang cengeng yah" sahut Alora dengan nada mengejek.
"hahahaha" kata kata Alora membuat ayah tertawa
"ayahh, Alora, sudah sudah berhenti menggodanya dan makan lah" ujar ibu.
"baik Bu" ujar ayah
"anak ini makan dengan lahap ya? apa masakan ibu hari ini beneran seenak itu ya" ujar ibu.
"iya Bu, ini benaran enak banget loh Bu" jawab Aiden.
---
(di malam hari saat hendak tidur di kamarnya)
"kami berempat berkumpul kembali rasanya masih kayak lagi mimpi ya" ujar Aiden dalam hati.
---
"Aiden, Alora bangun, bukannya hari ini kalian mulai kembali bersekolah sayang, jangan sampai telat ya" ujar ibu yang berteriak dari dapur selayaknya mamak mamak.
---
(sesampainya disekolah, saat masuk kelas kelas itu tampak kosong)
"Wah, udah lama banget gue nggak ke sini. Coba deh gue cari mana bangku gue dulu" batin Aiden dengan perasaan yang excited.
(setelah dia menemukan tempat duduk nya, Aiden pun duduk di kursi dan dalam seperkian menit, kelas itu sudah di penuhi dengan anak remaja)
"baiklah anak anak, kelas akan dimulai. duduk lah di tempat kalian masing-masing" ujar guru yang masuk mengajar di kelas itu.
---
kringggg~~~
(bunyi bel pulang sekolah yang di tunggu anak anak sudah berbunyi nyaring di setiap sudut sekolah)
"Woy Aiden, berburu jangkrik yuk di belakang sekolah!" ujar seorang anak yang bernama Elvano.
"Eh, jangan ege. Mending yang lain aja. Kasihan jangkriknya, ntar bisa MATI kelaparan kalau kita lupa ngasih makan nya" ujar teman di sebelah Elvano yang bernama Oletha.
"MATI? KEMATIAN?" sontak tubuh Aiden seperti terkena sengatan listrik.
"Eh, hari ini... hari ini tanggal berapa?" tanya Aiden pada kedua temannya sambil menggebrak meja.
“Gilaa..tenaga lo gede bener, Den. Hari ini 15 Januari. Kenapa?" Jawab Ilona.
"15 Januari... Jam 16:30. Persimpangan jalan. Mobil SUV Ayah."
(Tanpa bicara lagi, Aiden lari keluar sekolah.)
"Weh ege, gila Lo ya" teriak Rian yang melihat Aiden tiba tiba berlari.
---
"Bener, ini dia. Sore ini Ayah sama Ibu bakal pergi naik mobil terus kecelakaan. Gara-gara itu gue dan Aloraa nggak bakal bisa ketemu mereka lagi selamanya" ujar Aiden dalam hati sambil berlari kencang pulang kerumahnya untuk menemui kedua orang tuanya.
---
(Aiden sampai di depan rumah. Ia membanting pintu depan hingga menimbulkan suara keras.)
"Ayah?! Ibu?! Kalian di mana?!" teriak Aiden panik karena tidak melihat keberadaan orang tuanya.
"Apaan sih, Kak? Berisik banget tau nggak, gue lagi tidur juga!" ujar Alexa dengan nada kesal.
"Ra! Ayah sama Ibu mana?! Kenapa rumah sepi kayak gini?!" tanya Aiden dengan nada gelisah.
"Ya mereka udah pergi lah. Baru aja berangkat sekitar 5 menit yang lalu." jawab Alexa.
"Pergi ke mana?! Jawab yang bener!" tanya Aiden lagi.
"Ya ampun, lo lupa? Kan kemarin Ayah sama Ibu udah bilang mau ikut ngumpul bareng warga. Katanya mau ada acara bareng-bareng di luar sana." ujar Alora.
"nggakk, ayah, ibuu, apa gw udah terlambat? ga mungkin, gw ga boleh kehilangan ayah dan ibu untuk yang kedua kalinya" Aiden pun berlari keluar rumah menuju tempat kedua orang tua nya dan warga desa lain nya berkumpul untuk pergi ke kota.
"Lo kenapa sih, Kak? Aneh banget, sumpah. Kesambet ya?" ucap Alora dengan nada kebingungan.
"Jangan ke mana-mana, Ra! Gue harus kejar mereka sekarang!" kata Aiden sambil berlari kencang keluar rumah menuju tempat yang ayah dan ibu nya bilang kemarin.
---
Di depan warung yang lumayan jauh dari rumah mereka,Aiden melihat ayahnya ada di mobil dan ibunya sedang membeli sesuatu di warung tersebut.
"AYAH! IBUU! MATIIN MESINNYA SEKARANG!" Teriak Aiden pada ayah nya sambil berlari sekencang mungkin.
"Aiden? Kamu kenapa lari-lari?" Tanya ayah kebingungan.
"Hah…hahh…Aku nggak izinin kalian pergi. Ayo kita pulang.” Ujar Aiden.
"Ayah, aku mohon... jangan pergi. kita pulang. Plis, Yah." ucap Aiden sambil gemetaran memegang tangan ayah nya.
"Kamu kenapa, Nak? ayah sama ibu udah ada janji sama warga ikut acara itu, nggak enak kalau kita batal tiba-tiba." tanya ibu.
"Aku nggak bisa jelasin, tapi tolong ikut aku balik ke rumah sekarang." ucap Aiden memelas.
"yah, mending kita turutin dulu Aiden. Dia sampai gemeteran begini, kayaknya dia beneran ketakutan." ucap ibu yang khawatir dengan Aiden.
“oke bu, ayah telfon mereka dulu ya kalau kita ga bisa datang” Jawab ayah.
---
(diruang tamu)
"Kamu harus punya alasan yang bagus buat kejadian tadi, Aiden." Tanya ayah dengan ekspresi yang serius.
"Astaga... yah, lihat ini. Ada berita kecelakaan besar di jalur persimpangan yang mau kita lewati tadi." ujar ibu terkejut.
"Hah? Jalur yang tadi kita mau pergi itu, bu?" tanya ayah dengan ekspresi terkejut.
"Iya. Kejadiannya pas di jam kita seharusnya lewat sana. Ada mobil pribadi warna hitam, persis di depan iring-iringan mobil warga desa kita. Mobil itu dihantam truk rem blong dari lawan arah... hancur parah" jawab ibu.
"Ya Allah... terus warga desa kita gimana, bu?" tanya ayah lagi.
"Warga desa kita selamat semua, yah. Mereka berhenti tepat di belakang kecelakaan itu. Tapi kalau kemarin kita jadi berangkat... posisi mobil kita kan harusnya paling depan setelah mobil warga lain. Bisa jadi kita yang kena hantam truk itu." jawab ibu.
"kalau kemarin Aiden nggak maksa kita pulang, mungkin kita sudah... Ibu nggak bisa bayangin." lanjut ibu.
"Aiden... Nak, kalau tadi kamu nggak maksa kita balik, mungkin kita udah... Kamu bener-bener udah nyelamatin nyawa Ayah sama Ibu, Nak." ucap ibu yang masih sedikit terkejut dan menangis.
"Yang penting Ayah sama Ibu ada di sini sekarang. Jangan pergi ke mana-mana dulu ya..." ujar Aiden menenangkan ibu nya.
“Berhasil... kali ini aku benar-benar berhasil mengubah takdir mereka.” batin Aiden.
---
(di dalam kamar)
"Kalau gue bisa ngerubah takdir Ayah sama Ibu... berarti gue bisa ngerubah hal lain juga kan?" batin Aiden.
(Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Dia membuka laci mejanya dengan terburu-buru, mencari sebuah buku catatan. Di sana, ada daftar kejadian buruk yang menimpa teman-temannya dan dirinya sendiri di masa depan.)
"Besok... besok itu hari di mana sekolah kebakaran karena korsleting di lab." ucap Aiden.
"Tapi kenapa gue dikasih kesempatan ini?apa semua tindakan gue yang bisa merubah masa depan ini boleh di lakukan? tapi gue nggak mungkin cuma diem aja liat orang lain kena sial kalau gue tahu apa yang bakal terjadi kan." lanjutnya.
(Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk pelan. )
"Kak... lo oke?Lo aneh banget sejak pulang sekolah kemarin. Kayak... bukan lo yang biasanya. Lo sebenernya tahu sesuatu ya?" tanya Alora pada Aiden.
"Gue oke kok, cuma lagi sayang banget sama kalian aja. Udah, sana lo tidur kek atau bantuin Ibu." jawab Aiden.
(Alexa pun keluar kamar dan pergi membantu ibunya)
"Oke... satu per satu. Gue bakal beresin semuanya." Ucap Aiden yang sudah membulatkan tekad nya untuk merubah takdir orang orang terdekat nya.
---
(Keesokan harinya, Aiden berangkat sekolah dengan jantung yang berdegup kencang. Berdasarkan ingatannya, korsleting di laboratorium kimia akan memicu kebakaran besar tepat saat jam istirahat kedua.)
"Jam 12:15. Korsletingnya mulai dari stop kontak pojok kanan lab." batin Aiden.
(Aiden sampai di depan pintu laboratorium. Dia melihat Bu Rika, guru kimia, baru saja keluar dan hendak mengunci pintu.)
"Bu! Bu rika, tunggu sebentar!" ujar Aiden menghentikan bu Rika yang hendak pergi.
"Eh, Aiden? Ada apa? Ibu baru aja mau ke ruang guru, ini kan jam istirahat." tanya Bu Rika.
"Itu... Anu, Bu! Saya tadi lihat ada asap tipis keluar dari pojok kanan lab. Sepertinya ada kabel yang terbakar." jelas Aiden.
"Asap? Ah, tadi ibu sudah cek semuanya aman. Mungkin cuma perasaan kamu aja kali." ujar bu rika yang rada kebingungan.
"Beneran, bu! Saya tadi lewat ada lihat dijendela dari luar. Tolong dicek dulu, bu. Takutnya korsleting listrik karena tadi malam hujan deras, mungkin ada atap yang bocor kena kabel." ujar Aiden dengan sedikit alasan.
(Bu Rika pun berfikir sebentar dan kembali masuk ke lab. bener aja, di pojok lab tepat nya di tumpukan sebuah stopkontak membuat percikan api kecil)
"Astagfirullah! Kamu benar! Minggir dulu! biar ibu matikan aliran listrik nya" ucap bu rika panik.
"Untung kamu lapor, Aiden. Kalau telat sedikit saja, kabel di plafon itu bisa terbakar dan seluruh sekolah bisa habis." ucap bu rika yang merasa lega karena percikan api nya telah padam.
"Syukurlah, bu. Saya cuma kebetulan lewat tadi.Saya izin pergi ya bu, mau beli jajan" ucap Aiden.
"eh iya, hati hati ya" ucap bu rika.
---
(Aiden pun pergi menjumpai teman teman nya)
"Woi, Aiden! Ada apaan? Kok bu rika sampai manggil tukang listrik?" tanya Elvano.
"Nggak ada apa-apa. Cuma mau mastiin besok kita nggak libur gara-gara sekolah kebakaran." jawab Aiden.
"Lo gila ege, baru aja bel, Lo udah langsung lari keluar bilang mau ketemu bu rika" ucap Oletha yang tadi sempat Shock karena Aiden buru buru keluar kelas.
"Lo yang gila, udah ah mending ke kantin dulu beli jajan, gue udah lapar nih" ucap Aiden mengalihkan pembicaraan.
"ayo lah, kami disini udah lama banget nungguin Lo, perut gue juga udah minta di kasih makan " ucap Elvano.
“gass lah, gue juga ga sabar mau makan masakan mpok” ujar Oletha.
"Oke, dua takdir sudah berubah." batin Aiden yang juga merasa lega karena kejadian tadi.
---
(Setelah kenyang makan di kantin, Aiden berjalan sendirian menuju taman belakang sekolah. Tiba-tiba, hidungnya terasa panas. Saat ia menyeka dengan tangan, ada bercak merah pekat.)
"Mimisan? Padahal gue nggak capek-capek amat," gumam Aiden heran.
"Itu bukan karena capek, Den. Itu bunga bunga dari waktu yang kamu curi." Ujar seorang pria yang tak lain dan tak bukan merupakan pak zafran si satpam sekolah.
(Aiden tersentak. Di bangku taman, pak zafran, satpam sekolah yang biasanya cuma diam di pos. Tapi kali ini, tatapannya tajam menembus mata Aiden.)
"Maksud Bapak apa?" tanya Aiden, jantungnya mulai berdegup kencang.
"Sudah dua kejadian besar kamu ubah dalam beberapa hari ini. Ayah-Ibumu, lalu laboratorium sekolah," Pak Zafran berdiri. Setiap kali kamu mengubah takdir, tubuhmu akan membayar harganya. Alam semesta itu selalu minta ganti yang seimbang." Ucap pak zafran.
"Tapi saya cuma mau menyelamatkan mereka, Pak! Apa itu salah?" Aiden protes, suaranya bergetar.
"Tidak salah, tapi berbahaya. Kamu tidak sendirian di sini," Pak Zafran menunjuk ke arah perpustakaan.
(Di sana, berdiri Alexa Abigail, ketua OSIS yang dikenal paling jenius sekaligus paling pendiam. Alexa berjalan mendekat dengan buku catatan tebal di pelukannya.)
"Alexa? Lo juga...?" tanya Aiden tak percaya.
"Gue udah di sini lebih lama dari lo, Den," jawab Alexa datar.
"Gue udah ratusan kali nyoba nyelamatin orang-orang, tapi akhirnya gue sadar; setiap satu nyawa selamat, ada nyawa lain yang bakal jadi tumbal. Lo nyelamatin lab sekolah tadi, tapi lo tahu nggak kalau sore ini kakaknya Reno bakal jatuh dari motor karena remnya blong tiba-tiba?" Ujar Alexa.
(Aiden terdiam kaku. Kepalanya terasa pening.)
"Dengarkan, Aiden," lanjut Alexa serius.
"Lusa jam 12 siang di jembatan layang. Itu titik puncak garis waktu yang baru. Lo harus milih: biarkan takdir berjalan apa adanya, atau lo yang jadi 'tumbal' supaya nggak ada orang asing yang jadi korban ganti rugi semesta."
"Maksudnya gue harus mati?" tanya Aiden pelan.
"Bukan mati. Tapi lo bakal hilang dari ingatan semua orang. Ayah, Ibu, dan Alora bakal hidup bahagia, tapi mereka nggak akan pernah kenal siapa itu Aiden. Lo bakal jadi hantu di tengah-tengah mereka selamanya," jelas Alora.
(Aiden tidak mau menyerah begitu saja. Dia kembali mencari Alexa di perpustakaan, tempat yang paling sepi di sekolah. Dia yakin pasti ada celah untuk mengakali hukum "tukar guling" itu.)
"Xa, kasih tahu gue. Pasti ada cara buat curang kan? Nggak mungkin pilihannya cuma gue yang hilang atau mereka yang mati!" Ujar Aiden.
"Lo nggak bisa curang sama semesta, Den. Semakin lo coba ngakalin, semakin besar bayaran yang diminta." Jawab Alexa tanpa melihat Aiden sedikitpun.
"Gue nggak peduli! Kalau gue harus hilang, oke. Tapi gimana caranya supaya nggak ada orang lain yang jadi tumbal? Gimana caranya supaya nggak ada 'mobil hitam' lain atau 'kakak Reno' yang kena?" Kata Aiden yang sudah kehilangan harapan untuk hidup Bahagia selamanya dengan orang tuanya.
"Cuma ada satu cara. Tapi ini gila. Lo harus bikin kejadian di mana lo 'seolah-olah' mati di depan garis takdir itu, tapi lo sebenarnya 'lompat' keluar dari garis waktu." Ujar Alexa menatap Aiden.
"Maksudnya? Gue harus pura-pura mati?" Kata Aiden kebingungan.
"Bukan pura-pura. Lo harus ada di titik kecelakaan itu tepat di detiknya, tapi lo harus dorong target aslinya keluar. Kalau lo berhasil melakukannya di detik yang sangat presisi, semesta bakal bingung karena 'tumbal' yang diminta nggak ada di tempatnya saat itu juga. Tapi risikonya..." Alexa berhenti bicara sejenak.
"Risikonya apa?" Tanya Aiden.
"Lo bakal terjebak di ruang hampa .Yang kayak kemarin gue bilang Lo nggak mati, tapi lo nggak hidup. Lo bakal liat Ayah, Ibu, dan Alora hidup bahagia, tapi mereka nggak akan pernah bisa liat atau denger suara lo lagi. Selamanya." Jelas Alexa.
(Terdiam, membayangkan dirinya menjadi hantu yang hanya bisa menonton keluarganya dari jauh)
"Jadi... mereka selamat, tapi gue jadi penonton doang?" Tanya Aiden lagi.
"Itu harga buat ngerusak keseimbangan tanpa numbalin orang lain. Besok jam 12 siang di jembatan layang. Itu titik kumpul takdir yang baru. Pilih, Den. Tetap ada tapi kehilangan mereka, atau mereka ada tapi lo hilang?" Ujar Alexa.
(Aiden menatap foto keluarganya di wallpaper HP-nya. Dia tersenyum pahit.)
"Gue pilih mereka." Jawab Aiden.
(Malam harinya di rumah, Aiden menatap Ayah, Ibu, dan Alora yang sedang tertawa menonton TV. Ia teringat kehidupan lamanya yang hancur berantakan. Ia membulatkan tekad.)
---
(Besoknya, pukul 11:58 di persimpangan jalan.)
"Ini saatnya. Maafin Aiden, Yah, Bu, Lex... Aiden cuma mau kalian panjang umur." Batin Aiden.
(Tiba-tiba, mobil Ayah berhenti mendadak karena ban bocor tepat di tempat truk itu menghantam. Ayah dan Ibu turun untuk mengecek. Mereka berdiri tepat di jalur maut truk yang sedang meluncur tak terkendali itu.)
"Aduh, kok bisa bocor di sini sih?" Ujar ayah.
"Hati-hati, Yah, mobilnya ramai banget!" Ucap ibu
(Aiden lari sekuat tenaga. Dia melihat truk itu semakin dekat.)
"AYAH! IBU! AWAS!"
(Aiden mendorong kedua orang tuanya keluar dari Lokasi hantaman truk . Di detik yang sama, truk itu menghantam posisi Aiden. Tapi, bukannya tubuh yang hancur, Aiden justru merasa tubuhnya menguap menjadi butiran cahaya. Bahkan di rumah mereka, kamar Aiden tiba-tiba kosong, berubah jadi gudang. Foto di dinding hanya menyisakan Ayah, Ibu, dan Alora.)
BRAAKKK!
(Ayah dan Ibu gemetar di aspal. Mereka selamat. Mereka menoleh ke arah truk, tapi tidak menemukan siapa pun. Tidak ada Aiden.)
"Tadi... siapa yang nolong kita, Yah?" tanya Ibu sambil menangis linglung.
"Nggak tahu, Bu... Ayah nggak ingat. Tapi rasanya... ada seseorang yang sangat sayang sama kita." Jawab ayah.
(Di sudut jembatan, Aiden berdiri transparan. Ia tersenyum melihat mereka selamat. Meskipun mereka tak lagi mengenalnya, bagi Aiden, itu adalah akhir yang paling sempurna.)
---
Satu Tahun Kemudian.
(Rumah Aiden tetap hangat. Ayah, Ibu, dan Alora sedang merayakan ulang tahun Alora. Mereka tertawa, makan bersama, dan hidup dengan sangat bahagia.)
(Di sudut ruangan, bersandar di tembok dekat foto keluarga, berdiri seorang remaja laki-laki yang badannya terlihat agak transparan. Itu Aiden.)
"Selamat ulang tahun, ra. Lo makin tinggi ya." Ucap aiden sambil tersenyum di sudut ruangan.
(Aiden mencoba menyentuh bahu Ibunya, tapi tangannya menembus tubuh Ibu seperti udara. Ibu hanya merasa sedikit merinding.)
"Kok tiba-tiba dingin ya? Kayak ada angin lewat." Ujar ibunya.
"Mungkin jendela lupa ditutup, Bu." Jawab alora.
(Aiden berjalan ke arah kalender. Tanggal 15 Januari. Tidak ada lingkaran merah, tidak ada air mata. Keluarganya selamat, meskipun namanya sudah terhapus dari ingatan dunia. Baginya, melihat mereka tertawa sudah lebih dari cukup sebagai bayaran atas keberadaannya.)
"Gue sayang kalian. Selamanya." Aiden berbisik pelan sebelum bayangannya hilang semua.
(Aiden pun benar-benar menghilang, menjadi penjaga tak terlihat yang tak pernah ada dalam sejarah, namun berhasil menuliskan masa depan yang indah untuk orang-orang yang ia cintai.)