Matahari sore merayap lesu di balik dinding kaca gedung pencakar langit Jakarta, membiaskan cahaya keemasan yang jatuh tepat di meja kerja Effendi Chairil. Di usianya yang menginjak 40 tahun, Fendi—begitu ia biasa disapa—tampak seperti puncak kesempurnaan pria. Paras tampan, rahang kokoh, tatapan dalam, alis tajam, mata cerah dan setelan jasnya melekat sempurna pada tubuh atletisnya.
Namun, di balik kegemilangan itu, Fendi hanyalah seorang "buruh" di singgasana istana emas.
Selama sepuluh tahun, ia memimpin Norwey Group, perusahaan raksasa milik keluarga istrinya. Ia membangunnya dari ambang kebangkrutan hingga menjadi imperium perhiasan dan properti nomor satu. Tapi bagi Cantika Norwey Skandinavy, Fendi hanyalah aset.
"Kau ingat dari mana asalmu, Mas Fendi?" Suara Cantika terdengar tajam saat mereka duduk di ruang makan rumah mereka yang mewah, dingin dan terlalu luas. "Dari rumah petak dengan tujuh saudara yang kelaparan. Ayahku memungutmu, menyekolahkanmu, dan menjadikanku istrimu meski aku tak mau. Tugasmu hanya dua: urus perusahaanku dan jangan menuntut apa pun dariku."
Cantika adalah definisi kecantikan yang membeku. Sebagai sosialita papan atas, harinya dihabiskan untuk pameran perhiasan dan pesta amal. Ia penganut child-free. Baginya, kehamilan adalah perusak estetika tubuh dan penghambat karier.
"Aku hanya ingin kita makan malam bersama sesekali tanpa kau sibuk dengan ponselmu, Can," lirih Fendi dengan tatapan tulus penuh kasih.
Cantika tertawa sinis. "Makan malam tidak menghasilkan berlian, Mas. Dan ingat, jangan pernah bicara soal anak lagi. Aku tidak akan membiarkan perutku buncit dan kulitku rusak hanya untuk bayi yang akan menangis sepanjang malam."
Fendi terdiam. Ia merindukan rumah yang hangat, bau masakan yang mengepul, dan suara tawa anak kecil—hal yang tak pernah ia dapatkan sejak meninggalkan keluarganya di kampung demi membalas budi pada mendiang ayah Cantika.
Kebahagiaan Fendi justru datang dari arah yang tak terduga. Namanya Adibah Istiqomah, seorang gadis yatim piatu berusia 22 tahun yang bekerja sebagai ART paruh waktu. Adibah datang setiap pagi saat Cantika sudah pergi ke butik, dan pulang sebelum Cantika kembali.
Adibah adalah antitesis dari Cantika. Ia sederhana, memakai gamis katun murah, namun matanya memancarkan ketulusan.
"Bapak belum makan siang?" tanya Adibah suatu hari saat melihat Fendi pulang lebih awal karena sakit kepala hebat.
"Nanti saja, Dibah. Saya tidak selera."
Tanpa banyak bicara, Adibah pergi ke dapur. Tak lama, ia kembali dengan semangkuk sayur bening bayam dan sambal terasi. "Ibu saya dulu bilang, kalau kepala pusing, perut jangan dibiarkan kosong. Ini masakan kampung, Pak. Mungkin Bapak bosan dengan steak."
Fendi menyuap sayur itu, dan air matanya hampir jatuh. Rasanya persis seperti masakan ibunya. Di rumah semegah istana ini, hanya ART paruh waktu inilah yang menyadari wajahnya yang pucat.
Kehangatan itu tumbuh menjadi cinta yang terlarang. Fendi merasa menjadi manusia di depan Adibah, bukan sekadar mesin pencetak uang. Hingga akhirnya, dalam keputusasaan karena merasa tak pernah dicintai oleh Cantika, Fendi menikahi Adibah secara siri di sebuah langgar kecil di pinggiran kota.
Rahasia itu meledak tiga bulan kemudian. Cantika menemukan surat nikah siri itu di dalam laci ruang kerja Fendi secara tidak sengaja.
Prahara besar pecah. Cantika tidak menangis karena patah hati—ia tidak punya hati—ia marah karena harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pria yang ia anggap "peliharaan".
"Kau menikahi ART ini?!" teriak Cantika sambil melemparkan foto Adibah ke wajah Fendi. "Kau lebih memilih gadis pelayan ini daripada aku? Aku bisa membelikanmu dunia, Fendi!"
Fendi berdiri tegak. "Kau bisa memberiku dunia, Can. Tapi kau tidak pernah memberiku rumah. Aku ingin bercerai."
"Cerai?" Cantika tersenyum licik, senyum yang lebih dingin dari es Skandinavia. "Silakan. Tapi ingat perjanjian pranikah kita. Jika kau berkhianat, kau akan pergi dari sini dengan pakaian yang melekat di badan saja. Aku akan memecatmu secara tidak hormat dari perusahaan. Aku akan memastikan tidak ada perusahaan di negeri ini yang akan mempekerjakanmu. Aku akan membuatmu dan istri miskinmu itu kembali membusuk di jalanan!"
Fendi menarik napas panjang. "Aku terima. Aku lebih baik makan nasi garam bersama Adibah daripada makan emas dalam penjara ini."
Fendi benar-benar kehilangan segalanya. Dalam semalam, ia yang semula CEO yang disegani, menjadi pengangguran. Mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil. Fendi mencoba melamar pekerjaan, namun tangan dingin Cantika bekerja cepat. Namanya di-blacklist.
Dilema menghantam saat Adibah jatuh pingsan. Saat diperiksa ke puskesmas, dokter memberikan kabar yang membuat jantung Fendi berhenti. "Selamat, Pak. Istri Anda hamil enam minggu."
Bahagia dan perih bercampur. Bagaimana ia menghidupi anak ini? Listrik kontrakan sudah menunggak, dan Adibah butuh asupan yang bergizi.
Di saat itulah, mobil mewah Cantika berhenti di depan gang sempit mereka. Cantika turun dengan kacamata hitam, memandang jijik pada lingkungan sekitar.
"Aku punya tawaran," ujar Cantika tanpa basa-basi saat masuk ke rumah petak itu.
Fendi melindungi Adibah yang gemetar di belakangnya. "Apa lagi, Cantika? Kami sudah tidak punya apa-apa." Kaos oblong belel yang dipakai Fendi ditatap lekat-lekat oleh Cantika.
Cantika melepas kacamatanya. Matanya yang tajam menatap perut Adibah. "Aku sudah melihat catatan medis istrimu di puskesmas. Aku punya akses ke mana saja, kau tahu itu."
Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar yang mengerikan. "Aku tidak ingin kau kembali. Aku juga tidak butuh cintamu. Tapi, baru-baru ini aku menyadari bahwa aku butuh ahli waris untuk Norwey Group. Aku butuh anak untuk meneruskan nama besarku, tapi aku tetap tidak sudi mengandung."
"Maksudmu?" suara Fendi bergetar.
"Biarkan Adibah melahirkan anak itu. Saat bayi itu lahir, serahkan padaku. Secara hukum, dia akan menjadi anakku, anak sah Cantika Norwey. Dia akan hidup bergelimang harta, menjadi pangeran di imperiumku. Sebagai gantinya, aku akan mengembalikan posisimu sebagai CEO, memberimu saham 20%, dan membiarkanmu tetap menikah dengan Adibah secara sembunyi-sembunyi di rumah lain. Kau akan punya uang untuk menghidupi seluruh keluargamu di kampung."
Adibah terisak hebat. "Tidak, Mas... ini anak kita..."
"Jika kau menolak," ancam Cantika, "aku akan menuntutmu atas kasus perzinahan dan pernikahan ilegal. Aku akan memenjarakanmu sekarang juga, dan membiarkan istrimu ini melahirkan di dalam sel. Pilih: anak itu hidup seperti raja bersamaku, atau kalian semua mati perlahan di kubangan?"
Fendi dan Adibah diam seribu bahasa.
Bulan-bulan berikutnya adalah neraka yang sunyi. Fendi terpaksa menerima syarat itu demi keselamatan Adibah. Adibah dengan dana dari Cantika dipindahkan ke sebuah vila tersembunyi, dirawat oleh dokter terbaik, namun setiap malam ia menangis membelai perutnya.
"Maafkan bapak, Nak... bapak tidak berdaya," bisik Fendi di kaki Adibah.
Hari kelahiran itu tiba. Di sebuah rumah sakit eksklusif yang seluruh lantainya telah disewa Cantika. Saat suara tangis bayi laki-laki itu pecah, Cantika langsung berdiri di depan pintu ruang persalinan.
Suster keluar membawa bayi merah yang tampan, sangat mirip dengan Fendi.
"Berikan padaku," perintah Cantika.
Adibah, yang masih lemas dan bersimbah keringat, mengulurkan tangannya yang gemetar. "Tolong... biarkan saya menyusuinya sekali saja... sekali saja Nyonya Cantika!"
Cantika mengabaikannya. Ia menggendong bayi itu dengan kaku. "Mulai hari ini, namanya adalah Arkan Norwey. Dia tidak punya ibu bernama Adibah dan Ayahnya dianggap telah meninggal dunia."
Fendi menangis, Adibah menjerit. Pria itu hanya bisa memeluk Adibah yang histeris. Mereka melihat Cantika berjalan menjauh menyusuri lorong rumah sakit yang dingin, membawa pergi jantung hati mereka.
Satu Tahun Kemudian...
Fendi dengan kerja kerasnya kembali menjadi CEO hebat di perusahaan saingan Cantika. Kekayaannya melimpah. Adibah tinggal di rumah mewah yang dibelikan Fendi, namun wanita itu seperti raga tanpa jiwa. Ia selalu menatap ke jendela setiap kali melihat anak kecil lewat.
Setiap bulan, Cantika mengizinkan Fendi "mengunjungi" anaknya di kediaman Norwey, namun hanya sebagai "paman".
Suatu sore, Fendi datang dan melihat Cantika sedang duduk di taman. Arkan, bayi satu tahun itu, sedang merangkak di rumput. Cantika hanya melihatnya dari jauh, sibuk dengan tabletnya.
Arkan terjatuh dan mulai menangis. Cantika tampak risih. "Suster! Bawa dia masuk! Arkan berisik!"
Fendi berlari memeluk anaknya. Saat Arkan mendekap leher Fendi, bayi itu menggumamkan kata kecil, "Pa... pa..."
Hati Fendi hancur berkeping-keping. Di saat yang sama, sebuah mobil ambulans tiba-tiba masuk ke halaman rumah. Cantika jatuh pingsan dari kursinya.
Di rumah sakit, kejutan terakhir menghantam mereka semua. Cantika didiagnosis menderita kanker rahim stadium lanjut. Ironis bagi seorang wanita yang begitu memuja kecantikan tubuhnya dan menolak hamil, justru rahimnya yang kini menggerogoti nyawanya.
Dalam keadaan sekarat, Cantika memanggil Fendi dan Adibah. Wajahnya pucat pasi, tak ada lagi keangkuhan di sana.
"Aku... aku selalu berpikir bisa memiliki segalanya dengan uang," bisik Cantika dengan napas tersengal. "Tapi saat Arkan menangis... aku merasa sangat asing. Dia tidak pernah menatapku seperti dia menatapmu, Mas Fendi."
Cantika menoleh ke arah Adibah yang berdiri di sudut ruangan. "Kau... wanita paruh waktu... kau menang. Tubuhku utuh, tapi jiwaku kosong. Bawalah Arkan... bawa dia pergi."
Cantika mengeluarkan sepucuk surat wasiat. "Aku sudah mengubah semuanya. Arkan tetap ahli waris tunggal, tapi kau, Fendi, adalah wali resminya. Dan kau, Adibah... maafkan aku."
Malam itu, Cantika menghembuskan napas terakhirnya di tengah kemewahan yang ia puja.
Fendi dan Adibah pulang membawa Arkan. Di dalam mobil, di bawah rintik hujan Jakarta, Adibah memeluk erat anaknya yang sempat "dipinjamkan" pada takdir yang kejam. Fendi menggenggam tangan Adibah, menyadari bahwa meski mereka kini kembali kaya raya, harta yang paling berharga bukanlah saham atau perhiasan, melainkan kehangatan napas seorang anak yang kini kembali ke pelukan ibu kandungnya.
Mereka tidak lagi menjadi paruh waktu bagi siapapun. Mereka kini utuh. Namun luka di hati Adibah dan penyesalan di jiwa Fendi akan menjadi pengingat selamanya: bahwa ada hal-hal yang tidak akan pernah bisa dibeli, bahkan oleh emas paling murni di dunia sekalipun.