Mateo adalah personifikasi dari dewa laut yang menginjakkan kaki di bumi. Tubuhnya adalah pahatan otot yang sempurna, hasil dari bertahun-tahun melakukan ginga di bawah terik matahari. Kulitnya berwarna tembaga matang, berkilau oleh keringat setiap kali ia melompat dan berputar dalam lingkaran Capoeira. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas, hidung bangir, dan mata cokelat gelap yang mampu meruntuhkan pertahanan wanita mana pun. Ia adalah pria miskin yang hanya memiliki sehelai celana katun kasar dan sebuah berimbau, namun saat ia bergerak, ia lebih gagah dari jenderal mana pun di Kekaisaran Brasil.
Di sisi lain kastil megah Fazenda das Rosas, hiduplah Isabella de Alcântara. Kecantikannya adalah kutukan bagi setiap pria yang memandangnya. Rambutnya hitam legam tergerai hingga pinggang, kontras dengan kulitnya yang putih porselen. Tubuhnya lekuk sempurna, dibalut gaun-gaun sutra mahal yang menyesakkan napas. Matanya hijau zamrud, selalu tampak sayu seolah merindukan sesuatu yang dilarang. Isabella adalah putri tunggal Kolonel Sebastião, penguasa tanah yang tangannya berlumuran darah para budak dan buruh tani.
Cinta mereka lahir di sebuah pasar budak yang riuh. Isabella, yang muak dengan dinding rumahnya, melihat Mateo sedang melakukan atraksi Capoeira untuk mendapatkan kepingan koin. Saat Mateo melakukan tendangan meia-lua yang indah, mata mereka bertemu. Di sana, di antara debu dan teriakan pedagang, dua kasta yang berbeda itu melebur menjadi satu detak jantung yang sama.
Namun, bayangan gelap selalu mengikuti cahaya. Di balik pilar marmer rumah Isabella, berdiri Gustavo—seorang perwira militer yang dingin, licik, dan haus kekuasaan. Gustavo adalah tunangan yang dipilihkan Kolonel Sebastião untuk Isabella. Ia adalah pria yang tampan dengan cara yang kejam; matanya tajam seperti belati dan ia selalu mengenakan seragam yang kaku, kontras dengan kebebasan yang terpancar dari Mateo.
"Kau melihat pria itu lagi, bukan?" suara Gustavo berdesis di belakang Isabella saat mereka berdiri di balkon suatu sore. "Si tikus pelabuhan yang menari seperti monyet itu."
Isabella berbalik, wajahnya pucat. "Dia memiliki nama, Gustavo. Namanya Mateo."
Gustavo tertawa, tawa yang kering dan mengerikan. "Di mataku, dia hanya seonggok daging yang menunggu untuk dicambuk. Dan jika kau tidak menjaga matamu, Isabella, aku sendiri yang akan memastikan daging itu tercabik."
Pertemuan rahasia dilakukan di bawah pohon beringin tua di tepi tebing yang menghadap laut. Di sana, Mateo akan memeluk Isabella, dan untuk sejenak, mereka lupa bahwa dunia ingin menghancurkan mereka.
"Mateo," bisik Isabella di dada bidang pria itu, mencium aroma laut dan kebebasan yang melekat pada tubuh Mateo. "Ayahku akan membunuhmu jika dia tahu. Gustavo sudah mulai curiga."
Mateo memegang wajah Isabella dengan tangannya yang kasar namun lembut. "Aku tidak takut pada peluru atau cambuk, Bella. Aku hanya takut hidup di dunia di mana aku tidak bisa melihat matamu. Capoeira mengajarkanku untuk menghindar dari tendangan, tapi ia tidak mengajariku cara menghindar dari cinta sebesar ini."
Malam itu, mereka berencana untuk lari. Sebuah kapal akan berangkat menuju Rio de Janeiro pada tengah malam. Mateo telah mengumpulkan setiap koin yang ia miliki. Ia menunggu di dermaga tua, hatinya berdegup kencang seirama dengan deburan ombak.
Namun, pengkhianatan memiliki telinga yang panjang. Seorang pelayan di rumah Isabella telah membocorkan rencana itu demi sekantung emas dari Gustavo.
Saat Isabella mencoba menyelinap keluar lewat pintu belakang, tangan besi Gustavo mencengkeram lengannya. Kolonel Sebastião berdiri di sana dengan obor di tangan, wajahnya merah padam oleh murka.
"Kau mempermalukan nama de Alcântara demi seorang budak tak bertuan?" teriak sang Kolonel.
"Dia bukan budak! Dia pria yang lebih terhormat dari kalian semua!" balas Isabella dengan berani, meski air mata mulai mengalir.
Gustavo tersenyum licik. "Bawa dia ke dermaga. Biarkan dia melihat bagaimana pahlawannya mati."
Mateo dikepung oleh sepuluh tentara bersenjata di dermaga yang sunyi. Ia tidak lari. Ia berdiri tegak, dadanya yang bidang membusung, menantang maut. Saat Isabella diseret ke sana, Mateo tersenyum pahit.
"Lepaskan dia, Gustavo!" teriak Mateo. "Ini urusan antara pria!"
Gustavo melepaskan pedangnya. "Kau ingin menjadi pria? Mari kita lihat seberapa hebat tarianmu melawan baja."
Mateo bergerak. Ia melakukan Capoeira dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Tubuhnya yang gagah melesat, tendangannya hampir mengenai rahang Gustavo. Namun, Gustavo bukanlah lawan yang adil. Saat Mateo berada di udara dalam gerakan aú, Gustavo memberi isyarat pada anak buahnya.
Sebuah tembakan senapan meletus.
Peluru itu menembus paha Mateo. Pria itu jatuh berlutut di atas pasir yang basah. Darah merah segar merembes ke celana putihnya. Isabella menjerit histeris, mencoba berlari namun ditahan oleh ayahnya.
"Jangan menembaknya lagi!" teriak Gustavo. "Aku ingin dia merasakannya."
Gustavo mendekati Mateo yang sedang meringis menahan sakit namun tetap mencoba berdiri dengan sisa kekuatannya. Gustavo mengangkat pedangnya dan dengan kejam menebas punggung Mateo yang lebar dan indah itu. Garis merah panjang membelah kulit tembaga Mateo.
"Lihat ini, Isabella!" seru Gustavo. "Lihat bagaimana pangeranmu memohon nyawa!"
Mateo mendongak, matanya yang indah menatap Isabella untuk terakhir kalinya. "Aku... tidak... memohon," bisiknya dengan suara parau yang penuh wibawa.
Mateo mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya. Ia melompat dengan satu kaki yang sehat, melakukan gerakan martelo tepat ke wajah Gustavo hingga perwira itu tersungkur dan hidungnya hancur. Namun di saat yang sama, Kolonel Sebastião yang kehilangan kesabaran mengangkat pistolnya.
Duar!
Peluru itu tepat mengenai jantung Mateo.
Waktu seolah berhenti. Tubuh gagah itu terhuyung sebentar, lalu jatuh terlentang di atas pasir. Matanya tetap terbuka, menatap langit Bahia yang penuh bintang, seolah mencari satu bintang yang paling terang untuk dititipkan pesan cinta.
Isabella berhasil melepaskan diri dari ayahnya. Ia berlari dan jatuh di samping tubuh Mateo yang sudah mulai mendingin. Ia merangkul kepala Mateo, membiarkan gaun sutranya yang mahal berlumuran darah kental yang hangat.
"Mateo... jangan tinggalkan aku... kumohon..." tangis Isabella pecah, suara yang mampu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Mateo tidak menjawab. Cahaya di matanya telah padam. Pria paling tampan dan pemberani yang pernah dikenal tanah Brasil itu telah pergi, dibunuh oleh kesombongan dan kasta.
Gustavo berdiri sambil mengusap darah di wajahnya. "Seret wanita itu pulang! Biarkan anjing-anjing memakan bangkai pria ini!"
Namun Isabella tidak bergerak. Ia mencium bibir Mateo yang mulai membiru. Dalam kegelapan malam itu, Isabella mengambil belati kecil yang terselip di sepatu boot Gustavo saat pria itu mendekat untuk menyeretnya.
Tanpa ragu, Isabella menghujamkan belati itu ke jantungnya sendiri tepat di atas tubuh Mateo.
"Jika dunia tidak membiarkan kita bersama... maka biarlah kematian yang menyatukan kita," bisik Isabella pelan sebelum napasnya berhenti.
Darah biru ningrat dan darah merah rakyat jelata itu mengalir menjadi satu, meresap ke dalam pasir Bahia. Mereka ditemukan keesokan harinya dalam posisi berpelukan—sebuah potret kematian yang sangat indah sekaligus sangat menyakitkan.
Gustavo dan sang Kolonel mendapatkan kemenangan mereka, namun mereka harus hidup dalam bayang-bayang kutukan itu selamanya. Di Bahia, hingga hari ini, jika angin laut berhembus kencang di dermaga tua, orang-orang akan mendengar suara berimbau yang samar dan bayangan sepasang kekasih yang sedang menari ginga di atas awan, di tempat di mana tidak ada lagi perbedaan kasta, hanya ada cinta yang abadi dan tak terpecahkan.
Semua terdiam, menyadari bahwa terkadang, satu-satunya cara untuk memenangkan cinta yang murni di dunia yang kotor adalah dengan membawanya pergi ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh tangan manusia.
---