Sejak kecil hidup aku tidak pernah benar-benar terasa bebas.
Ada banyak hal yang ingin kulakukan pergi, bermain, mengenal dunia lebih luas tapi selalu ada suara yang lebih dulu menahan langkahku.
"Jangan kesana."Lebih baik di rumah saja."Tidak usah terlalu banyak keluar."
Aku tumbuh dengan kalimat kalimat itu, sampai akhirnya aku terbiasa diam. Bahkan ketika hatiku ingin bertanya, aku menahannya sendiri. Lama kelamaan, aku tidak tahu lagi mana keinginanku dan mana yang hanya mengikuti perintah.
Aku pikir itu adalah bentuk cinta. Aku pikir menuruti semua aturan berarti aku sedang melakukan hal yang benar.
Tapi semakin aku tumbuh, aku mulai merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri aku.
Ruang untuk mengenal dunia.
Ruang untuk mengenal diriku sendiri.
Setelah lulus sekolah, aku mulai memasuki dunia yang lebih nyata dunia pekerjaan.
Aku mengirim banyak lamaran, dari satu lowongan ke lowongan lainnya. Layar ponselku menjadi saksi harapan harapan kecil yang terus ku kirim setiap hari.
Dan akhirnya Tuhan menjawab doaku.
Beberapa panggilan interview datang, online dan juga offline.
Untuk pertama kalinya, aku merasa mungkin... Aku bisa memulai hidupku sendiri. Tapi setiap kali kesempatan itu datang, selalu ada hal lain yang membuat langkahku berhenti.
Pertanyaan pertanyaan itu kembali muncul.
"Mau kemana?"Sama siapa?"kenapa harus kerja disana?."
Kadang jawabanku tidak cukup, kadang penjelasan aku tidak pernah selesai.
Dan tanpa aku sadari, beberapa kesempatan itu terlewat begitu saja.
"Aku harus banyak berdoa katanya," katanya.
Aku mengangguk. Aku percaya doa itu penting.
Tapi di dalam hatiku, aku tahu sesuatu yang lain juga penting usaha yang benar-benar sampai pada titik kesempatan.
Aku sudah berusaha, aku sudah melamar, aku sudah mencoba.
Tapi kenapa setiap kali pintu itu terbuka, justru aku tidak bisa melangkah masuk?
Suatu hari, ketika aku mulai merasa lelah menjelaskan semuanya, aku hanya bisa tersenyum pahit.
"Aku harus yang cari kerja," katanya lagi.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di telingaku, rasanya seperti luka kecil yang terus di ulang di tempat yang sama.
Aku ingin menjawab banyak hal, tapi akhirnya aku memilih diam.
Kenapa setiap kali aku mencoba untuk menjelaskan, ujungnya selalu sama.
Tidak berubah.
Di luar rumah, aku juga tidak benar benar bebas.
Setiap ingin berteman, selalu ada pertanyaan yang harus aku hadapi.
Setiap ingin pergi, selalu ada alasan yang harus aku buktikan.
Bahkan teman temanku pun kadang bertanya dengan ragu.
"Kamu boleh keluar ga nanti?"Nggak di marahi?"
Aku hanya tersenyum.
Karena menjelaskan terlalu panjang sudah terlalu melelahkan.
Aku pernah punya teman.
Aku pernah mencoba dekat dengan dunia luar.
Tapi selalu ada batas yang tidak terlihat, yang membuat aku merasa seperti tidak sepenuhnya boleh menjadi diriku sendiri.
Sekarang aku berdiri di antara dua hal yang saling bertentangan.
Aku ingin mandiri.
Aku ingin bekerja.
Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa berjalan dengan kakiku sendiri.
Tapi di saat yang sama, aku masih berada di dunia yang penuh larangan dan pertanyaan.
Aku bukan orang yang membenci.
Aku bukan orang yang ingin melawan.
Aku hanya seseorang yang terlalu lama di pendam dalam aturan, sampai lupa bagaimana rasanya benar-benar bebas.
Aku lelah.
Tapi aku masih bertahan.
Karena di dalam lelah itu, masih ada satu hal kecil yang belum mati.
Harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, aku bisa melangkah tanpa harus berhenti di tengah jalan lagi.