Langit Papua Selatan selalu tampak lebih luas dari tempat lain—biru yang dalam, hutan yang tak berujung, dan sunyi yang terasa hidup. Di sanalah Daniel, seorang guru kontrak, ditugaskan ke sebuah kampung bernama Yowid—kampung kecil di tepian sungai berlumpur, dikelilingi hutan sagu dan pohon-pohon tinggi yang seperti menjaga rahasia lama.
Perjalanan ke sana tidak mudah. Dari Merauke, ia harus menempuh berjam-jam perjalanan menggunakan perahu ces, menyusuri sungai yang airnya coklat pekat. Sepanjang jalan, ia melihat buaya berjemur di tepian dan burung-burung besar terbang rendah, seakan mengawasinya.
Saat tiba, ia disambut sederhana. Anak-anak tanpa alas kaki berlarian, mama-mama membawa noken di kepala, dan bapak-bapak duduk melingkar sambil mengunyah pinang.
Namun satu hal yang langsung terasa berbeda—
Tidak ada suara tifa.
Padahal, di banyak kampung Papua, tifa adalah jantung kehidupan—alat musik tradisional yang selalu berbunyi saat ada acara, perayaan, atau bahkan sekadar berkumpul.
“Kenapa tidak ada tifa?” tanya Daniel.
Warga saling pandang. Tidak ada yang menjawab.
Hanya seorang tua, kulitnya keriput seperti kulit kayu, berbisik pelan:
“Karena… tifa di sini… tidak selalu dimainkan manusia.”
---
Malam pertama, Daniel tidur di rumah panggung kecil. Atap rumbia, dinding papan, dan suara hutan yang tidak pernah benar-benar diam.
Sekitar tengah malam, ia terbangun.
Bunyi itu.
Dum… dum… dum…
Tifa.
Pelan. Jauh. Seperti berasal dari dalam hutan.
Daniel duduk tegak. Jantungnya berdebar.
“Siapa yang main tifa malam-malam begini?” gumamnya.
Ia membuka jendela sedikit. Hanya gelap. Pekat. Tidak ada cahaya bulan.
Tapi suara itu terus ada.
Dum… dum… dum…
Berirama. Seperti panggilan.
Tiba-tiba—
Seorang anak berdiri di bawah rumahnya.
“Guru…”
Daniel kaget.
“Itu kamu, siapa?” tanyanya.
Anak itu tidak menjawab. Hanya menunjuk ke arah hutan.
“Tifa… panggil…”
Suaranya datar. Kosong.
Daniel menelan ludah. “Sudah malam. Pulang sana.”
Anak itu tidak bergerak.
“Kalau tifa bunyi… harus ikut…”
Lalu perlahan… anak itu berjalan mundur ke arah hutan.
Tanpa suara langkah.
---
Keesokan harinya, Daniel bertanya pada kepala kampung.
Wajah pria itu langsung berubah tegang.
“Kalau dengar tifa malam… jangan pernah keluar,” katanya tegas.
“Itu siapa yang main?”
Kepala kampung menggeleng pelan.
“Itu bukan untuk kita.”
---
Hari-hari berikutnya, suara tifa itu selalu datang.
Setiap malam.
Semakin dekat.
Dum… dum… dum…
Kadang Daniel merasa iramanya berubah… seperti menyebut namanya.
Dan… iel… Dan… iel…
Ia mulai sulit tidur. Wajahnya pucat. Murid-muridnya memperhatikan dengan diam.
Suatu siang, seorang anak menggambar sesuatu di papan.
Lingkaran… dengan sosok-sosok kecil di sekelilingnya.
“Mereka apa?” tanya Daniel.
Anak itu menatapnya lama.
“Orang yang ikut tifa… tidak pulang lagi.”
---
Malam ketujuh, hujan turun deras.
Hutan menjadi lebih gelap dari biasanya.
Daniel mencoba menutup telinga dengan bantal.
Namun suara itu—
Lebih keras dari sebelumnya.
DUM! DUM! DUM!
Dekat. Sangat dekat.
Tiba-tiba—
Tok… tok…
Ada yang mengetuk pintu.
“Guru… buka…”
Suara anak kecil.
Daniel membeku.
“Guru… kita latihan tifa… semua sudah tunggu…”
Tangannya gemetar.
Ia ingat pesan kepala kampung.
Jangan keluar.
Namun suara itu berubah.
Menjadi banyak.
Puluhan suara anak-anak.
“Guru… ayo…”
“Guru… cepat…”
“Guru… kita mulai…”
Daniel berdiri perlahan.
Kakinya seperti ditarik.
Tangannya membuka pintu sedikit.
Dan di sana—
Anak-anak.
Puluhan.
Berdiri dalam hujan.
Namun mata mereka…
Kosong.
Dan di tangan mereka…
Tifa kecil.
Mereka memukulnya perlahan.
Dum… dum… dum…
Serempak.
Senyum mereka terlalu lebar.
“Guru… ikut…”
Salah satu anak maju.
Itu muridnya.
Yang sudah seminggu tidak masuk.
“Katanya… kalau sudah dengar… berarti sudah dipilih…”
Daniel mundur.
“Dipilih untuk apa?”
Anak itu tersenyum lebih lebar.
“Jadi pemain tifa… selamanya…”
Tiba-tiba—
Dari balik anak-anak itu…
Muncul sosok tinggi.
Tubuhnya kurus panjang.
Kulitnya gelap seperti bayangan.
Dan di dadanya tergantung—
Tifa besar.
Ia tidak punya wajah.
Hanya lubang hitam tempat mata seharusnya ada.
Makhluk itu mengangkat tangannya.
Semua anak berhenti.
Sunyi.
Lalu—
DUMMMMM!!
Satu pukulan keras mengguncang udara.
Daniel menjerit.
Kakinya terasa terseret keluar.
Tanah seperti hidup, menariknya mendekat.
“JANGAN KELUAR!”
Suara keras memecah semuanya.
Seorang bapak menarik Daniel dari belakang, menutup pintu dengan keras.
Anak-anak di luar langsung hilang.
Suara tifa berhenti.
Hujan pun… tiba-tiba reda.
---
Pagi harinya, Daniel ditemukan pingsan.
Di tangannya…
Ada bekas lumpur.
Dan goresan kecil… seperti sidik jari anak-anak.
Kepala kampung berkata pelan:
“Kamu sudah hampir diambil.”
“Apa itu?” tanya Daniel lemah.
Pria tua itu menatap hutan.
“Itu penjaga lama. Roh yang tidak pernah meninggalkan tanah ini.”
“Kenapa pakai tifa?”
“Karena tifa itu panggilan pulang… tapi tidak semua pulang ke manusia.”
---
Beberapa hari kemudian, Daniel memutuskan pergi.
Ia tidak kuat lagi.
Namun saat perahu mulai menjauh dari kampung…
Ia mendengar sesuatu.
Pelan.
Dari arah hutan.
Dum… dum… dum…
Ia menoleh.
Dan di antara pohon-pohon sagu…
Ia melihat mereka.
Anak-anak itu.
Berdiri diam.
Menatapnya.
Salah satu dari mereka… mengangkat tangan.
Dan tersenyum.
Seolah berkata—
“Nanti kamu kembali…”
Sejak hari itu, Daniel tidak pernah lagi menyentuh alat musik.
Karena setiap kali ia mendengar suara ritme…
Sekecil apa pun…
Ia selalu teringat—
Bahwa di hutan Papua Selatan…
Masih ada tifa yang dimainkan…
oleh sesuatu yang tidak pernah benar-benar hidup.